'Saya mengerti. Saya tidak akan meminta Anda menjauhinya.'
Rendra mengirim jawaban itu sebelum keberaniannya berkurang. Sesudahnya, ia membalik ponsel dan duduk lama di tepi ranjang. Mengetik janji tersebut jauh lebih mudah daripada menerima kemungkinan yang terkandung di dalamnya.
Pagi berikutnya, ia turun lebih awal ke ruang duduk hotel. Ia memilih meja yang tidak terlalu dekat dengan pintu, tetapi tetap berada di tempat terbuka. Tas kerjanya diletakkan di samping kursi.
Zavin datang pada waktu yang disepakati. Rendra berdiri. Ia sempat hendak mengulurkan tangan, lalu menurunkannya ketika melihat lelaki itu hanya memberi sapaan singkat.
'Selamat pagi.'
'Terima kasih sudah datang.'
Zavin duduk. Rendra mengikutinya, menggeser kursi tanpa menimbulkan suara keras. Ada beberapa kalimat pembuka yang telah dipikirkan semalam, tetapi semuanya terasa tidak pantas digunakan untuk memperlunak sesuatu yang ia lakukan dengan tangannya sendiri.
'Saya ingin meminta maaf karena pernah memukul Anda.'
Zavin menatapnya tanpa tersenyum.
'Saya tidak punya pembenaran untuk itu,' lanjut Rendra. 'Saya juga menuduh Anda dan Rindu tanpa mau mendengarkan penjelasan.'
'Anda sudah mengetahui keadaan sebenarnya sekarang?'
'Tentang rumah dan bantuan Anda kepada Rindu, saya sudah mendengar penjelasan yang seharusnya saya dengarkan sejak awal.'
'Seharusnya mengetahui atau tidak mengetahui pun tidak membuat Anda berhak memukul.'
Rendra menelan ludah.
'Benar.'
Zavin menyandarkan punggung. Sikapnya tidak menunjukkan kemarahan yang meledak, tetapi jarak di antara mereka terasa lebih dingin daripada suara keras.
'Anda meminta maaf karena merasa bersalah, atau karena ingin Rindu tahu Anda sudah berubah?'
Pertanyaan itu membuat Rendra diam. Ia bisa menjawab cepat, tetapi jawaban cepat akan terdengar seperti kalimat yang disiapkan untuk memperoleh nilai baik.
'Saya ingin memperbaiki yang saya lakukan. Saya juga masih berharap Rindu memberi kesempatan. Saya tidak akan berpura-pura harapan itu tidak ada.'
'Jangan menjadikan saya bagian dari pembuktian Anda kepadanya.'
'Saya tidak meminta Anda menyampaikan pertemuan ini.'
'Dan jangan memakai nama saya untuk mengatakan saya sudah merestui keinginan Anda.'
Rendra mengangkat wajah.
'Saya tidak akan mengatakan begitu.'
Rendra menggeser gelasnya agar tidak berada tepat di antara mereka.
'Waktu itu saya membuat Anda harus menghadapi kemarahan yang tidak seharusnya saya arahkan kepada siapa pun.'
'Bukan hanya saya yang menanggungnya,' jawab Zavin.
'Saya tahu Rindu juga.'
'Kalau Anda benar-benar tahu, jangan minta dia membuktikan bahwa Anda sudah dimaafkan. Dia bisa mendengar permintaan maaf dan tetap tidak ingin kembali.'
Rendra merapatkan bibir. Kalimat tersebut mengingatkannya pada penolakan di depan pengadilan.
'Dia sudah mengatakan itu kepada saya.'
'Kalau begitu dengarkan. Jangan menunggu orang lain mengucapkannya supaya perkataannya terasa lebih sah.'
Rendra menunduk sebentar, kemudian mengangkat wajah lagi. 'Anda benar.'
Zavin mengamati wajahnya, seolah menilai apakah jawaban itu dapat dipercaya atau hanya bagian dari usaha menutup percakapan dengan baik.
'Saya mendengar permintaan maaf Anda,' katanya. 'Tetapi saya tidak berkewajiban langsung merasa nyaman di dekat Anda.'
'Saya mengerti.'
'Baik.'
Minuman di meja belum disentuh Rendra. Ia meraih gelas, kemudian meletakkannya lagi. Tangannya tidak tenang, dan ia tidak ingin menjadikan gerakan itu alasan untuk mengalihkan pandangan.
'Saya tahu Anda membantu Rindu ketika saya justru menyakitinya.'
Zavin tidak membalas.
'Saya masih menyayanginya,' kata Rendra.
'Saya tidak datang untuk menilai seberapa besar perasaan Anda.'
'Saya tahu. Saya hanya...'
Rendra berhenti. Ia hampir mengatakan bahwa Zavin tidak memahami tiga tahun mereka bersama. Namun, kalimat itu akan mengubah usia pernikahan menjadi hak untuk menentukan masa depan perempuan yang telah pergi.
Zavin menunggu sampai ia menutup mulut.
'Rindu bukan sesuatu yang kita rundingkan di meja ini.'
'Iya.'
'Kalau dia memilih Anda, itu pilihannya. Tetapi kalau dia memilih saya, saya tidak akan mundur hanya karena Anda pernah menjadi suaminya.'
Kalimat itu disampaikan dengan tenang. Justru ketenangan tersebut membuat Rendra merasa sesuatu menekan dadanya.
'Anda serius dengannya?'
'Saya tidak perlu menjelaskan perasaan saya kepada Anda sebelum menyampaikannya kepada Rindu.'
Rendra menatap meja. Ia mendengar batas yang jelas, dan tahu ia tidak mempunyai alasan untuk melewatinya.
'Yang saya minta dari Anda,' lanjut Zavin, 'jangan mengulang tuduhan hanya karena Anda tidak menyukai keputusan yang mungkin dia ambil.'
Rendra mengangguk sekali.
'Saya tidak akan mengulangi perbuatan itu.'
'Pegang perkataan Anda.'
Zavin melirik waktu, lalu berdiri. Pertemuan itu tidak ditutup dengan jabat tangan yang memulihkan semuanya. Rendra ikut berdiri dan memberi jalan ketika lelaki itu hendak pergi.
'Terima kasih sudah mendengar,' katanya.
Zavin hanya menundukkan kepala sedikit. Setelah itu ia berjalan menuju pintu, meninggalkan Rendra di sisi meja dengan minuman yang hampir tidak disentuh.
***
Rendra tetap berada di ruang duduk beberapa menit setelah Zavin pergi. Ia membuka percakapan dengan Rindu, memandangi pesan terakhir mereka, lalu menutupnya kembali.
Ia tidak akan mengirim laporan tentang permintaan maafnya. Jika sikap itu baru mempunyai arti ketika disaksikan Rindu, berarti ia belum memahami apa yang barusan dikatakannya.
Ponselnya bergetar. Hesti mengirim pesan tentang kebutuhan di rumah, disusul keluhan mengenai pekerjaan yang belum dikembalikan kepadanya. Rendra membaca tanpa menjawab dengan kemarahan yang dibawanya dari meja pertemuan.
Ia menuliskan bahwa kebutuhan Wina akan diperiksa seperti biasa. Mengenai jabatan, keputusannya tidak berubah.
Setelah itu, Rendra memesan kendaraan menuju kantor. Ia masih harus bekerja dengan uang yang terbatas, utang yang belum ringan, dan keluarga yang belum bersedia mengakui seluruh kesalahannya.
Ketika kendaraan datang, ia berjalan keluar. Di pintu hotel yang sama, beberapa hari lalu ia melihat Rindu berangkat bersama Zavin. Kini ia mengetahui bahwa lelaki itu tidak akan menyingkir hanya untuk membuat penyesalannya terasa lebih mudah.
***
Sore harinya di Singapura, Rindu menemani Ani setelah pemeriksaan. Ibunya meminta tas kecil yang berisi barang pribadi, lalu mengeluarkan sisir.
'Bantu Ibu sebentar.'
Rindu berdiri di sisi ranjang dan menyisir rambut Ani perlahan. Ia memastikan tidak menarik bagian yang kusut.
'Kalau Pak Zavin datang, jangan kamu sibuk menyuruhnya ini-itu,' kata Ani.
'Aku tidak pernah begitu, Bu.'
'Ibu tahu. Maksud Ibu, jangan pula merasa kamu harus mengurus semua kebutuhannya karena dia datang menjenguk.'
Rindu tertawa kecil. 'Jadi aku harus bagaimana?'
'Terima sebagai tamu. Kamu tidak perlu membayar setiap kebaikan saat itu juga.'
Rindu berhenti sebentar, kemudian meneruskan gerakan sisir. Ia masih memikirkan biaya perawatan yang ditanggung seseorang tanpa nama, tetapi tidak menghubungkannya dengan kunjungan Zavin.
Setelah rambut Ani rapi, ia menunjukkan hasilnya melalui layar ponsel. Ibunya tersenyum puas, lalu meminta ponsel dikembalikan ke meja.
Pesan Zavin masuk beberapa saat kemudian.
'Ri, saya akan memastikan jadwal perjalanan besok. Apakah rencana menjenguk lusa masih memungkinkan?'
Rindu menunjukkan pesan itu kepada Ani.
'Boleh,' jawab ibunya. 'Asal kamu tidak mengira Ibu perlu didandani lagi dari pagi.'