Suara berisik memenuhi ruangan. Rindu menapaki tangga tergesa berharap suaminya sudah pulang ke kediaman mereka. Nihil. Tidak ada siapapun di rumah kecuali para asisten. Wanita yang berpenampilan berantakan itu memasuki kamar hendak mandi sekaligus mengguyur kepala guna mendinginkan otak.
Kedua matanya melebar terkejut bukan main kala melihat lemari besar yang biasa menampung pakaiannya kini kosong melompong menyisakan gantungan baju dan beberapa pakaian suaminya yang tak sengaja tercampur di bagian lemarinya.
Rindu mundur sedikit akibat syok yang melanda. Bathrobe mandi masih melekat di tubuh begitu pula handuk kecil yang melilit rambut basahnya. Niatnya ingin berganti baju tapi malah diberi kejutan sedemikian menggelegar yang mampu menyebabkannya hampir hilang akal.
Sebenarnya apa yang terjadi pada rumah tangganya sekarang? Rindu sama sekali tidak memahami. Semua kebahagiaannya seketika jungkir balik tergantikan masalah bertubi yang tidak bisa ia tahan kedatangannya sama sekali.
Hidup memang bukan hanya diisi oleh bahagia, namun masalah yang menyambangi hidupnya sekarang begitu tiba-tiba dan tak bisa diprediksi. Ke mana pakaian sekarang?
Rindu memanggil asisten rumah tangga, Bi Darmi--perempuan paruh baya yang telah mengabdi sejak belasan tahun lalu di rumah ini.
"Bi, semua pakaianku dipindah ke mana? Oleh siapa? Kenapa tidak ada selemari?" berondong Rindu yang berusaha mati-matian agar tak menyemburkan amarahnya pada orang yang salah.
"I-itu ... anu, Non. Itu ...." Bi Darmi kelimpungan menjawab pertanyaan bertubi dari majikannya. Apa yang harus dijawab? Dia sendiri takut semuanya akan menambah mendidih suasana.
"Anu apa, Bi? Tolong bicara yang jelas," desaknya tak sabar lagi. Emosinya sudah di ubun-ubun sekarang.
"Ehm." Bi Darmi menunjuk pojok ruangan tepat di belakang pintu yang terbuka. Di mana 2 koper besar milik rindu terongok begitu saja di sana. "Anu, Non. Den Rendra minta Bibi bereskan semua pakaian Non Rindu. Tidak tahu ada apa, tapi--"
"Rendra!" pekik Rindu hingga Bi Darmi terperanjat memegangi jantungnya. Wanita yang baru saja meletupkan emosi itu menuju tas miliknya yang tergeletak di atas peraduan.
Mencari ponsel guna meminta penjelasan maksud dari pengusirannya secara halus namun teramat menyakitkan. Dia melempar ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping karena sang suami tak bisa dihubungi. Tatapan tajam yang membuat ngeri siapapun yang menatap tertuju pada koper miliknya. Rindu menyeret salah satu koper dan membukanya. Mencari pakaian ganti di sana.
"Ya ampun. Kenapa kamu mencari pakaian di koper? Dalam lemarimu memangnya tidak ada baju?" Lagi-lagi si tukang adu domba muncul tanpa diundang. Hesti melenggang masuk begitu juga tanpa permisi. Seluruh langkah dan gerak-geriknya menguarkan aura negatif yang kentara. Bi Darmi dan Rindu serentak menoleh, namun si adik ipar hanya melirik sedetik.
Bi Darmi menyingkir ke samping membuka jalan agar sang majikan leluasa melenggang membawa kertas yang ia sembunyikan di belakang punggungnya. Begitu yang dapat Bi Darmi tangkap.
"Kamu mau pergi dari rumah ini?" tanya Hesti pura-pura lugu. Padahal segala yang terjadi merupakan salah satu usaha dari kelicikannya.
"Tentu saja," jawab Rindu tegas. "Sudah tidak dianggap bahkan tak dihargai, untuk apa masih tinggal di sini?" Ucapan itu terlontar dari sepotong hati yang terluka.
"Maafkan adikku, ya? Dia memang kadang keterlaluan. Aku juga diminta datang ke sini untuk memastikan apakah Bi Darmi sudah menyelesaikan tugas darinya atau belum. Tak kusangka ternyata tugasnya ...." Hesti sengaja menggantungkan ucapan guna melemparkan bensin dalam api yang sudah membara. Tatapannya prihatin tapi tersenyum lebar dalam hatinya.
Rindu hanya bisa diam membisu membiarkan ucapan Hesti terus masuk ke dalam hati yang terdalam. Tak mau terlalu sakit, wanita itu memutuskan masuk ke dalam kamar mandi gegas berganti pakaian.
Hesti menatap Bi Darmi yang masih setia menunggui 2 majikan yang sangat berbeda aura itu di dekat pintu. "Bibi ke luar saja."
"Baik, Non. Bibi permisi," pamitnya sopan. Setelah itu memutar badan meski ragu. Dia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Rindu. Bukan tanpa alasan. Kertas yang sejak tadi Hesti pegang erat-erat melambai-lambai mengundang kecurigaan.
Tak buang waktu, Hesti mencari tas milik Rindu yang kebetulan terlihat terbuka di samping kopernya. Benar saja surat cerai yang tadi diberikan di rumah sakit ada di sana. Kini otak liciknya bergerak cepat untuk meminta kedua tangannya menukar kedua surat itu dengan untaian harapan semoga Rindu tidak membaca judul surat. Sebagai antisipasi, Hesti melipat seperempat kertas agar tidak terlihat.
Mendengar suara derap langkah dari dalam kamar mandi, Hesti segera melipat sembarang surat cerai di tangan dan menyembunyikannya di kolong kasur. Dia merogoh tas guna mengambil ponsel dan pura-pura bertukar kata dengan adiknya.
Mendengar derit pintu yang dibuka, Hesti segera memasang wajah serius berakting paripurna. Membelakangi arah datang Rindu pura-pura tak melihat. "Kalian akan pulang malam karena mau langsung fitting baju, Ren? Apa itu tidak terlalu cepat?" Suaranya sengaja dikeraskan.
Tentu saja Rindu seketika mematung tak jauh dari tempat Hesti berdiri. Handuk yang ia genggam seketika terjatuh dari telapaknya yang melemah ketika menangkap kabar menyakitkan lainnya.
"Iya. Nanti aku akan bantu carikan cincin pernikahan untuk kalian. Berlian mewah?" tanya Hesti entah pada siapa berpura-pura kaget atas dialog yang dia bangun sendiri.
Hujaman pisau yang telah tertancap semakin diperdalam mendengar sandiwara di hadapannya. Kedua tangannya mengepal hingga gemetar. Hubungan mereka masih suami istri lantas Rendra malah mempersiapkan pernikahan bahkan saat dirinya mati-matian mempertahankan kendati ditawarkan uang pengobatan untuk menyelamatkan hidup ibunya.
Dadanya kembang-kempis bergemuruhkan api membara ketika si jago merah melahap habis istana cinta yang telah berdiri bertahun lamanya dalam sanubari. Rindu yang tidak terima cepat mengambil surat cerai yang tadi Hesti berikan. Tak urung bergerak melangkah lebar ke meja kerja yang telah lama tak ia gunakan.
Keributan yang terdengar di punggung membuat Hesti menoleh dan memasang senyum senang tika menangkap Rindu menandatangani surat gugatan cerai yang telah ia tukar dengan surat cerai tadi.
"Ri ... hmm ... ka-kamu mendengar percakapanku dengan Rendra, ya?" tanya Hesti sok lugu. "Maaf, ya, Ri. Aku sama sekali nggak bisa membantah Rendra. Tahu sendiri adikku punya kedudukan tinggi di perusahaan maupun di rumah. Aku nggak berdaya."
"Bukan masalah, Kak." Rindu berucap singkat. Sudah tak ada gairah meladeni apapun tentang Rendra apalagi obrolan mereka. Pria gila itu memberinya uang menukarnya dengan perpisahan? Maka baiklah.
Emosi yang tak berpegang pada logika mendorongnya untuk berbuat impulsif. Harga diri yang merasa telah direndahkan serendah-rendahnya tak urung membawa Rindu dalam kubangan amarah luar biasa membara.
Dengan diiringi gebrakan, ia menyimpan pulpen yang baru selesai digunakan untuk membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang tak disadari kalau format tulisannya telah berbeda. Rindu menyeka bulir bening yang hampir terjun bebas mengalir dari pelupuk. Tak membiarkannya lemah lantaran masih mengingat kalau sang ibu hanya punya dirinya satu-satunya yang harus mengurus segala masalah.
"Bilang padanya aku sudah tanda tangan." Rindu meningalkan surat itu begitu saja di atas meja kerjanya. Kemudian kembali merogoh tas mengambil kartu yang tadi pagi Hesti berikan. Tatapannya buram. Sorot matanya disesaki kecewa dan hancur bersamaan yang teramat. Menyodorkan kartu pada Hesti, Rindu berkata, "Aku tidak membutuhkan uang untuk membeli harga diriku."
Bersambung...