Ani membaca pesan tentang rencana kedatangan Zavin, lalu mengembalikan ponsel kepada Rindu.
'Catat saja dulu. Kalau ada pemeriksaan, beri tahu dia.'
'Iya, Bu.'
'Dan kamu tidak perlu menyiapkan macam-macam untuk menerima tamu di rumah sakit.'
'Aku tidak menyiapkan apa-apa.'
'Wajahmu sudah seperti memikirkan apa yang harus dibeli.'
Rindu tersenyum malu. Ia memang sempat memikirkan sesuatu untuk dibawa sebagai tanda terima kasih, meskipun belum tahu apa. Setelah ucapan Ani, ia hanya membalas pesan Zavin bahwa waktunya akan disesuaikan dengan keadaan ibunya.
Malam itu, sebelum pulang ke hotel, Rindu memasukkan map ke tas tanpa menyembunyikannya di bawah barang lain. Ani melihat, tetapi tidak bertanya lagi. Pengakuan mereka siang tadi belum membuat semua luka ringan; setidaknya, dokumen itu tidak lagi memisahkan mereka dalam diam.
Keesokan paginya, Rindu datang dan mendapati Ani sedang memegang ponsel. Ia sempat menegang sebelum ibunya menunjukkan foto dari Sarah.
'Ibu belum menelepon Rendra,' kata Ani, seolah memahami yang baru lewat di wajah putrinya.
'Aku tidak bermaksud memeriksa Ibu.'
'Tapi kamu takut.'
Rindu duduk. 'Iya.'
'Ibu sudah mengatakan akan memberimu waktu.'
'Terima kasih.'
Ani menaruh ponsel di meja. 'Kalau kamu merasa bersalah karena Ibu ikut sedih, jangan menggantinya dengan keputusan terburu-buru.'
'Aku belum memikirkan keputusan baru.'
'Bagus. Pikirkan makan siangmu dulu.'
Rindu tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan untuk merapikan ujung lengan baju Ani. Kali ini, gerakan itu tidak dimaksudkan untuk menghindari pertanyaan.
***
Pada hari yang sama di Jakarta, Rendra duduk di ruang kerjanya dengan ponsel di tangan. Ia membuka kontak Ridwan, orang yang pernah melihat sendiri bagaimana buruknya keadaan ketika tuduhan terhadap Rindu dibawa ke hadapan orang lain.
Ia tidak ingin kembali meminta Ridwan membenarkan dirinya.
Pesan pertama yang diketik terlalu panjang. Rendra menghapus bagian yang menjelaskan penyesalannya, menyisakan permintaan singkat agar Ridwan berkenan meneruskan keinginannya bertemu kepada Zavin.
Ia menambahkan bahwa nomor Zavin tidak perlu diberikan tanpa persetujuan pemiliknya. Kemudian ia mengirim pesan dan meletakkan ponsel jauh dari tangannya.
Pekerjaan di meja tidak hilang karena ia sedang menunggu. Rendra memeriksa catatan kewajiban yang belum terbayar, membandingkannya dengan uang yang masih tersedia, lalu menandai bagian yang harus dibicarakan lagi. Permohonan kepada bank belum memberikan kelegaan yang bisa dianggap pasti.
Saat ponselnya berbunyi, ia langsung menoleh. Ridwan menelepon.
'Anda ingin bertemu untuk urusan apa, Pak Rendra?'
'Saya ingin meminta maaf atas perbuatan saya kepada beliau.'
'Tentang Rindu?'
'Tentang pukulan dan tuduhan saya. Rindu memang ada dalam persoalannya, tetapi saya tidak meminta Bapak mempertemukan saya dengan Rindu.'
Ridwan terdiam sebentar.
'Saya tidak ingin membantu membuat tekanan baru untuk Mbak Rindu.'
'Saya mengerti.'
'Kalau Pak Zavin tidak bersedia?'
'Saya akan menerima.'
Rendra mengucapkannya dengan susah payah. Ia telah terlalu sering menganggap penolakannya sendiri boleh keras, sementara penolakan orang lain harus dinegosiasikan.
'Baik. Saya bisa meneruskan pesan Anda. Keputusannya tetap pada beliau.'
'Bapak tidak perlu mengatakan saya sedang terdesak atau meminta beliau mengasihani saya,' tambah Rendra.
Ridwan terdiam sebentar. 'Saya hanya akan menyampaikan yang Anda minta.'
'Baik.'
'Pak Rendra, saya pernah melihat Mbak Rindu harus menjelaskan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dia buktikan. Jangan pertemuan ini membuat dia kembali berada dalam keadaan itu.'
Rendra menekan telapak tangannya ke meja.
'Saya tidak akan meminta penjelasan tentang kedekatan mereka.'
Mengatakannya kepada Ridwan membuat batas itu terdengar lebih nyata. Ia tidak bisa kelak berdalih datang untuk meminta maaf, lalu menghabiskan waktu menanyakan apa yang dilakukan Zavin bersama Rindu. Orang yang dituju berhak mendengar maksud yang jujur.
'Kalau nanti saya tidak mendapat balasan hari ini, saya akan menunggu,' katanya.
'Itu lebih baik daripada mengirim pesan berkali-kali.'
Rendra menatap layar komputernya yang masih menampilkan pekerjaan tertunda. Ada hal yang bisa ia kerjakan sekarang tanpa harus menuntut jawaban dari orang lain.
'Terima kasih, Pak.'
'Tidak perlu mengirim penjelasan tentang rumah tangga Anda kepada saya. Itu bukan sesuatu yang bisa saya putuskan.'
'Baik.'
Setelah panggilan berakhir, Rendra menatap meja. Tidak ada yang menenangkan dirinya dengan mengatakan niat baik pasti diterima. Ia harus menunggu tanpa menjadikan penantian itu bukti bahwa orang lain sedang menghukumnya.
Ia mengambil amplop kecil dari tas hanya untuk memastikan benda itu masih tersimpan. Uang yang ditolak Rindu dikembalikan ke tempatnya. Ia tidak akan membawa amplop tersebut sebagai alasan menemui Zavin.
Ketika hari kerja berakhir tanpa balasan baru, Rendra kembali ke hotel menggunakan kendaraan pesanan. Di depan pintu masuk, ia teringat Zavin mengangkat koper Rindu beberapa hari sebelumnya. Ingatan itu datang begitu cepat sehingga ia sempat berhenti sebelum melangkah.
Ia tidak sedang mencari Zavin untuk menanyakan perjalanan tersebut. Rendra mengingatkan dirinya sendiri, lalu masuk ke lobi.
***
Keesokan sorenya, balasan dari Zavin tiba. Ridwan sudah meneruskan pesan Rendra dan, setelah mendapat persetujuan Zavin, memberikan cara untuk menghubunginya. Rendra hanya mengirimkan namanya dan bertanya kapan mereka bisa bertemu.
'Saya bisa besok pagi. Pertemuan singkat saja.'
Rendra membaca kalimat itu, kemudian menawarkan ruang duduk hotel tempatnya menginap. Tempatnya terbuka, dan ia tidak perlu mengundang lelaki itu masuk ke wilayah pribadi.
Zavin menyetujui jam yang disebutkan.
Rendra sempat mengetik bahwa ia masih mencintai Rindu. Kalimat tersebut dihapus sebelum terkirim. Perasaan itu bukan jawaban untuk pukulan yang pernah diberikannya.
Ia meletakkan ponsel dan membuka jendela sedikit. Suara jalan masuk bersama udara yang hangat. Besok ia akan duduk di hadapan lelaki yang pernah dianggap sebagai penyebab kehancuran rumah tangganya, padahal ia sendiri telah membantu menghancurkannya jauh sebelum memahami keadaan.
Di Singapura, pada sore yang sama, Rindu sedang menemani Ani makan. Ibunya berhenti sebentar dan menatap wajahnya.
'Kamu tidur lebih baik semalam?'
'Lumayan.'
'Tidak memikirkan apa yang Ibu katakan terus-menerus?'
'Masih.'
'Bagian mana?'
'Bahwa aku tidak harus kembali hanya karena Ibu sedih.'
Ani meletakkan sendok. 'Ibu mengatakannya supaya kamu percaya. Bukan supaya kamu merasa perlu menguji apakah Ibu akan berubah pikiran besok.'
Rindu menunduk, lalu tersenyum tipis.
'Aku sedang belajar percaya, Bu.'
Ani menepuk tangannya sebelum kembali makan. Rindu tidak menceritakan rencana apa pun tentang Rendra karena ia memang tidak mengetahui pertemuan yang sedang diatur di Jakarta.
Malamnya, Rendra memeriksa sekali lagi waktu yang disepakati. Pesan tambahan dari Zavin muncul ketika ia hendak meletakkan ponsel.
'Saya datang untuk mendengar permintaan maaf Anda. Bukan untuk membicarakan siapa yang harus menjauhi Rindu.'
Rendra duduk tegak. Kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang masih sulit diakuinya: sebagian kecil dirinya sempat berharap pertemuan tersebut dapat mengembalikan tempatnya.
Ia membaca pesan itu sampai tidak ada lagi alasan untuk berpura-pura salah memahami.