'Kami sudah bercerai, Bu. Sudah sah.'
Rindu mengucapkannya tanpa menunduk. Ia ingin Ani mendengar dari mulutnya, bukan membaca kesimpulan dari selembar kertas. Namun, setelah kalimat itu keluar, keberaniannya seakan ikut meninggalkan tubuh.
Ani tidak bergerak. Tangannya masih terulur, terhenti di antara mereka.
'Sudah?'
'Iya.'
'Kapan?'
Rindu menyebut waktu putusan itu. Ia menjelaskan bahwa perjalanan terakhir ke Jakarta bukan untuk menghadiri sidang lagi, melainkan mengambil akta. Kata-katanya terbata, tetapi ia tidak mengubah urutan agar tampak lebih ringan.
Ani menarik tangan ke pangkuan. Matanya dipenuhi air.
'Jadi, selama Ibu bertanya tentang dia...'
'Aku sudah tahu kami tidak lagi suami istri.'
Air mata Ani jatuh sebelum Rindu sempat meneruskan. Ia segera meletakkan map di kursi dan mendekat.
'Bu, maaf.'
Ani mengangkat telapak, meminta sebentar. Rindu berhenti, berlutut di dekat ranjang agar wajah mereka tidak berjauhan. Ia melihat ibunya mengusap pipi dengan ujung jari, lalu menatap tangannya sendiri.
'Ibu menangis bukan karena kamu mempermalukan Ibu,' kata Ani akhirnya.
Rindu terisak.
'Aku tidak tahu harus memberitahu bagaimana.'
'Seperti tadi. Dengan mengatakan yang sebenarnya.'
'Aku takut kondisi Ibu memburuk karena mendengar ini.'
'Ri, Ibu sakit. Bukan berarti Ibu berhenti menjadi ibumu.'
Kalimat itu membuat pertahanan Rindu runtuh. Ia menundukkan kepala di tepi ranjang, menangis dengan bahu bergetar. Selama ini ia selalu mencari tempat jauh dari Ani untuk membiarkan air matanya keluar. Kini tangan ibunya justru bergerak pelan di rambutnya.
'Maaf aku menyembunyikannya.'
'Ibu sedih kamu menjalani sidang tanpa bisa pulang lalu bercerita kepada Ibu.'
'Aku punya Pak Hadi. Pak Ridwan dan Mbak Sarah juga membantu.'
'Ibu bersyukur mereka ada.'
Rindu mengangkat wajah. Ani mengambil tisu, lalu memberikannya sebelum mengusap air matanya sendiri.
'Siapa yang memutuskan tetap berpisah?'
'Aku, Bu.'
Ani menatapnya lebih lama.
'Setelah tuduhan itu dijelaskan?'
'Iya. Aku sudah terlalu terluka. Saat itu aku tidak bisa membayangkan pulang dan hidup seperti sebelumnya.'
'Rendra tidak menahan?'
'Dia ingin memperbaiki hubungan. Tetapi aku tetap memilih cerai.'
Ani memejamkan mata, kemudian mengembuskan napas perlahan. Rindu menunggu, takut penjelasannya akan berubah menjadi alasan yang dianggap kurang kuat.
'Kalau itu keputusanmu setelah semua yang kamu alami, Ibu tidak akan menyuruhmu menghapusnya supaya kelihatan baik di mata orang.'
Rindu meraih tangan Ani.
'Benar, Bu?'
'Ibu boleh sedih kehilangan gambaran keluarga yang selama ini Ibu pikir masih ada. Tetapi kesedihan Ibu bukan perintah supaya kamu kembali.'
Rindu menekan tangan itu ke pipinya. Kehangatan yang diterimanya membuat ia kembali menangis, kali ini tanpa berusaha menyembunyikan suara.
Ani membiarkannya sebentar, lalu menunjuk kursi.
'Duduk yang benar. Lututmu nanti sakit.'
Rindu bangkit dan duduk. Ia mengambil map, membuka penutupnya, lalu memperlihatkan dokumen yang selama ini seperti batu di dalam tas.
Ani membaca namanya, nama Rendra, dan keterangan di bawahnya. Ia tidak memeriksa setiap baris. Setelah beberapa saat, ia mengembalikan kertas itu kepada Rindu.
'Simpan baik-baik.'
Rindu memasukkannya kembali.
'Jangan kamu bawa sebagai sesuatu yang harus kamu malu-malui,' kata Ani. 'Itu bagian dari hidupmu. Bukan seluruh dirimu.'
Rindu memandangi bekas lipatan kertas itu.
'Aku takut Ibu bertanya kenapa aku tidak bertahan sedikit lagi.'
'Apa orang-orang sudah menanyakannya?'
'Belum tentu dengan kalimat itu. Tapi aku sering membayangkannya.'
Ani menggeleng pelan. 'Ibu tidak tahu semua yang kamu lewati. Jangan kamu tambahkan suara Ibu ke dalam bayangan orang yang menyalahkanmu.'
Rindu mengusap pipinya. Ia selama ini menyiapkan jawaban untuk kemarahan yang ternyata tidak diberikan ibunya. Ketika Ani memintanya mengambil minum, ia berdiri dengan kaki masih lemah, tetapi tidak lagi merasa harus menyembunyikan wajah. Ia kembali membawa gelas, lalu menunggu sampai ibunya cukup tenang untuk minum.
***
Sesudah percakapan itu, Rindu membantu Ani minum dan membenahi bantalnya. Tidak ada perubahan ajaib pada keadaan kamar. Ibunya masih harus menjalani perawatan, dan pernikahan Rindu tetap telah berakhir. Namun, ia tidak lagi merasa harus menjaga setiap benda agar kebohongannya tidak terbuka.
Ani mengamati ketika map dimasukkan ke tas.
'Apakah Ibu perlu bicara dengan Rendra?'
Rindu berhenti.
'Belum, Bu. Aku ingin Ibu tidak menelepon untuk meminta kami kembali.'
'Ibu bertanya untuk mendengar penjelasannya, bukan memaksamu.'
'Aku mengerti. Tapi boleh beri aku waktu dulu?'
Ani menyandarkan kepala.
'Boleh.'
Rindu menatapnya, hampir tidak percaya permintaan itu diterima tanpa syarat.
'Dan kalau nanti Ibu bicara dengannya, Ibu tidak akan mengatakan kamu meminta sesuatu yang tidak kamu minta,' lanjut Ani.
'Terima kasih, Bu.'
'Ada hal lain yang perlu Ibu tahu sekarang?'
Rindu memikirkan semua yang telah diceritakannya sedikit demi sedikit. Uang yang ditolak, permintaan maaf, bantuan tanpa nama, rumah yang sudah bukan milik mereka. Ia tidak mengetahui rahasia yang belum pernah disampaikan orang lain, tetapi yang diketahuinya tidak ingin lagi ditutup hanya demi tampak kuat.
'Untuk urusan kami, yang paling besar itu, Bu.'
'Kalau nanti ada yang belum kamu ceritakan, jangan tunggu sampai Ibu menebaknya dari wajahmu.'
'Aku akan mencoba.'
Ani tersenyum lelah. 'Jawaban itu lebih jujur daripada selalu bilang bisa.'
Rindu merapikan tisu bekas. Tangannya tidak lagi gemetar seperti sebelum percakapan. Ketika Ani hendak beristirahat, ia duduk tanpa mencari kesibukan tambahan, membiarkan keheningan menjadi sesuatu yang mereka bagi.
Menjelang sore, Rindu keluar untuk makan. Ia membuka ponsel dan mendapati pesan Zavin yang menanyakan keadaan Ani serta rencana kunjungannya sendiri.
'Saya ingin ke Singapura beberapa hari lagi. Kalau ibumu berkenan, saya ingin menjenguk.'
Rindu membaca pesan itu sebelum membalas bahwa ia akan menanyakan kepada Ani. Ia tidak merasa berhak menjanjikan waktu ibunya hanya karena lelaki itu sudah sering membantu.
Ketika kembali ke kamar, ia menyampaikan rencana tersebut.
'Pak Zavin ingin datang menjenguk. Boleh, Bu?'
Ani memandangnya dengan perhatian yang berbeda.
'Dia sudah tahu tentang perceraianmu?'
'Dia tahu kami berpisah. Dia juga sudah tahu persoalannya waktu di Jakarta.'
'Dia pernah meminta sesuatu darimu?'
Rindu menggeleng. 'Tidak, Bu.'
Ani menatapnya sebentar lagi, lalu merapikan selimut.
'Kalau mau menjenguk, boleh. Tapi jangan menganggap setiap orang baik harus kamu balas dengan sesuatu yang tidak ingin kamu berikan.'
Rindu terdiam. Ani tidak menyebut perasaan atau pilihan pasangan, tetapi kalimat itu terasa lebih jauh daripada urusan kunjungan.
'Iya, Bu.'
Ia membalas pesan Zavin bahwa Ani bersedia dijenguk. Beberapa saat kemudian, lelaki itu mengirimkan perkiraan hari kedatangannya.
'Saya rencanakan lima hari lagi, Ri. Mendekati harinya saya pastikan kembali.'
Rindu menuliskan tanggal itu, kemudian menyerahkan ponselnya kepada Ani agar ibunya bisa membaca sendiri.