'Tidak, Bu. Aku tidak akan mengatakan begitu.'
Rindu menjawab sambil tetap duduk dekat ranjang. Ia tidak ingin janji kali ini hanya menjadi kalimat yang ditinggalkan di ambang pintu.
Ani meraih tangannya.
'Ibu mendengarnya.'
'Iya.'
Mereka tidak meneruskan pembicaraan tentang berkas malam itu. Rindu membantu keperluan Ani, menunggu sampai ibunya hendak beristirahat, lalu berpamitan. Di luar kamar, ia berdiri sejenak dan menoleh pada pintu yang baru ditutup.
Menunda sampai besok masih terasa seperti kelemahan. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda: ia telah menyebut bahwa berkas itu berhubungan dengan pernikahannya. Ia tidak bisa kembali menjadikannya urusan biasa tanpa menambah kebohongan.
Di hotel, Rindu mengeluarkan map dari tempat penyimpanan. Ia meletakkan akta di meja, membaca namanya, lalu nama Rendra. Tiga tahun yang pernah terasa begitu dekat kini dipisahkan oleh keterangan yang tidak bisa dihapus dengan permintaan maaf.
Ia teringat Ani menanyakan apakah Rendra sudah makan ketika dahulu berkunjung. Ibunya selalu berusaha memberi tempat bagi lelaki itu, bahkan saat Rindu sedang berselisih dengannya. Kini Rindu harus menjelaskan bahwa kursi yang ditanyakan Ani tidak akan terisi hanya karena pekerjaan Rendra menjadi lebih ringan.
Ponsel diletakkan di samping map. Nama Rendra tidak muncul. Ia bersyukur karena tidak perlu menjawab, sekaligus merasa pedih menyadari betapa terbiasanya ia dulu menunggu nama itu.
Rindu membuka percakapan lama, tetapi tidak mengetik. Ia tidak memerlukan izin Rendra untuk memberitahu ibunya sendiri.
Sebagai gantinya, ia menuliskan beberapa hal yang ingin disampaikan kepada Ani. Setelah membaca kembali, ia menghapus semuanya. Kalimat-kalimat itu terdengar seperti penjelasan yang disusun agar tidak menyakiti siapa pun, padahal rasa sakit tidak mungkin dihindari seluruhnya.
Ia memasukkan akta ke map, lalu meletakkannya di dalam tas yang akan dibawa pagi hari.
***
Pagi berikutnya, Rindu tiba setelah memastikan dirinya sudah makan. Ia tidak membawa makanan tambahan, tidak membeli barang yang bisa menjadi alasan untuk sibuk. Tasnya terasa lebih berat daripada biasanya.
Ani memperhatikan ketika ia masuk.
'Kamu membawa berkasnya?'
'Iya, Bu.'
'Letakkan dulu. Duduk di sini.'
Rindu menaruh tas di kursi lain, lalu mendekati ranjang. Ia mencoba memandang wajah ibunya tanpa terlebih dahulu mencari tanda bahwa percakapan ini harus ditunda lagi.
'Aku mau menjelaskan kenapa Rendra tidak datang.'
Ani merapatkan selimut di pangkuannya.
'Ibu dengar.'
'Dia bukan sekadar sibuk. Aku dan Rendra sedang berpisah, Bu.'
Kalimat itu keluar lebih pelan daripada yang direncanakannya, tetapi cukup jelas untuk mengubah wajah Ani.
'Berpisah?'
'Iya.'
Rindu menahan napas. Seolah dengan menahannya, ia bisa menahan juga akibat kata yang sudah keluar.
'Kalian tidak tinggal bersama?'
'Tidak.'
'Sejak kamu meninggalkan rumah itu?'
Rindu mengangguk sekali.
Ani menarik tangannya dari atas selimut dan meletakkannya di sisi tubuh. Gerakan kecil itu membuat Rindu panik.
'Bu, jangan mengira Ibu yang menyebabkan—'
'Ibu belum mengatakan apa-apa.'
'Maaf. Aku takut Ibu berpikir karena aku harus merawat Ibu.'
Ani menatapnya. Matanya mulai basah, tetapi suaranya tetap terdengar.
'Apa kamu berpikir Ibu hanya akan menyalahkan diri sendiri kalau mendengar kebenaran?'
'Aku tidak tahu harus mulai dari mana.'
'Mulai dari apa yang kamu rasakan.'
Rindu menunduk. Air mata menetes ke punggung tangannya.
'Aku capek, Bu. Waktu itu aku harus memikirkan biaya Ibu, rumah, tuduhan yang tidak bisa kuhentikan. Setiap kali aku bicara, rasanya aku harus lebih dulu membuktikan kalau aku bukan orang jahat.'
Ani mengulurkan tangan. Rindu menyambutnya, kali ini tanpa meminta maaf karena menangis.
'Aku tidak kuat terus begitu.'
'Kenapa kamu tidak mengatakan kepada Ibu?'
'Karena Ibu sedang sakit.'
'Dan kamu sedang terluka.'
Rindu terisak. Kalimat itu tidak membenarkan semua hal yang disembunyikannya, tetapi membuat ia tidak lagi merasa harus menjelaskan rasa sakit seperti sebuah kesalahan.
Ani mengusap jarinya.
'Yang dulu kamu ceritakan tentang surat itu, masih ada kelanjutannya?'
'Ada, Bu.'
'Rendra tetap menyalahkan kamu?'
'Waktu kami bertemu di Jakarta kemarin, dia sudah meminta maaf. Dia tahu tuduhannya tentang uang itu salah.'
'Dia mengajakmu kembali?'
'Iya.'
'Kamu menjawab apa?'
'Aku menolak pembicaraan itu. Aku belum bisa.'
Ani memejamkan mata sebentar. Rindu hampir meminta percakapan dihentikan, tetapi ibunya lebih dulu membuka mata dan menatapnya.
'Jangan menjawab berdasarkan apa yang menurutmu ingin Ibu dengar.'
'Itu jawabanku sendiri, Bu.'
'Baik.'
Jawaban singkat itu membuat Rindu kembali menangis. Ani tidak mengatakan semuanya akan segera baik. Ia hanya membiarkan putrinya menggenggam tangannya sampai tangis itu mereda.
'Ibu kecewa?' tanya Rindu akhirnya.
'Ibu sedih kamu merasa harus menghadapi ini sendiri.'
'Bukan karena aku menolak dia?'
Ani menggeleng pelan. 'Ibu tidak berada di sana ketika kalian berbicara. Ibu tidak akan menyuruhmu mengganti jawaban hanya karena Ibu baru mendengarnya hari ini.'
Rindu menatapnya, seperti takut kehilangan kalimat itu jika ia berkedip.
'Aku dulu selalu ingin rumah tanggaku terlihat baik di depan Ibu.'
'Rumah tanggamu bukan pertunjukan untuk membuat Ibu bangga.'
Rindu mengusap hidungnya dengan tisu. Di luar kamar terdengar percakapan yang tidak jelas, tetapi ia tidak lagi menoleh untuk mencari jalan keluar dari pembicaraan mereka.
'Aku masih harus menjelaskan sesuatu,' katanya.
'Ibu masih di sini.'
Rindu mengangguk pelan. Untuk saat itu, ia membiarkan jawaban tersebut menemaninya tanpa menambahkan janji lain.
***
Menjelang siang, setelah memberi Ani waktu beristirahat, Rindu duduk di kursi dekat jendela kamar. Map masih berada di dalam tas. Ia belum mengeluarkannya, dan hal itu terus mengganggu pikirannya.
Pengakuan bahwa mereka berpisah memang benar. Namun, kebenaran yang belum utuh dapat membuat Ani berharap pada keadaan yang sudah berbeda.
Ibunya bergerak, lalu memanggil.
'Ri.'
Rindu segera mendekat.
'Mau minum, Bu?'
'Nanti. Ibu ingin bertanya.'
Rindu duduk kembali.
'Rendra sudah tahu kamu akan bercerita kepada Ibu?'
'Aku tidak memberitahunya.'
'Kamu takut dia melarang?'
'Tidak. Aku tidak perlu meminta izinnya.'
Ani memperhatikan jawaban itu. Kemudian pandangannya beralih ke tas di kursi.
'Berkas yang kamu ambil kemarin.'
Rindu merasakan telapak tangannya kembali dingin.
'Iya.'
'Kalau kalian hanya tinggal terpisah sambil menenangkan diri, mengapa kamu perlu datang kepada pengacara?'
Rindu membuka mulut, tetapi tidak langsung bersuara. Ia tidak bisa lagi berlindung di balik perbedaan antara belum bercerita dan berbohong.
Ani mengulurkan tangan ke arahnya, bukan ke tas.
'Ibu ingin mendengar dari kamu sebelum melihat kertasnya.'
Rindu meraih map dan meletakkannya di pangkuan. Penutupnya belum dibuka. Ia mengusap sudut yang sedikit terlipat, persis seperti saat Hadi memeriksanya di Jakarta.
'Bu, berpisah yang kumaksud bukan cuma tinggal di tempat berbeda.'
Ani menatap map, kemudian wajah putrinya.
'Jadi, sejauh apa kamu dan Rendra sudah berpisah, Ri?'