'Aku datang pagi, Bu.'
Rindu mengirimkan jawaban itu sebelum sempat mencari alasan. Ia menyimpan dokumen dari Jakarta, mematikan lampu meja, lalu berbaring. Tidurnya beberapa kali terputus, tetapi ketika alarm berbunyi keesokan pagi, ia bangun tanpa menundanya.
Ani sudah terjaga saat ia tiba di rumah sakit. Rindu meletakkan tas dan hendak memeriksa gelas ketika ibunya menunjuk kursi.
'Duduk.'
Rindu menurut. Tangannya diletakkan di pangkuan agar tidak kembali mencari pekerjaan kecil.
'Ibu tidak ingin marah-marah,' kata Ani.
'Aku tahu.'
'Belum apa-apa kamu sudah seperti menunggu dimarahi.'
Rindu mencoba tersenyum, tetapi gagal. Ia menatap sisi ranjang, tempat selimut menutupi kaki ibunya.
'Sejak kita di sini, Rendra tidak pernah datang,' lanjut Ani. 'Waktu Ibu bertanya, kamu bilang dia sibuk.'
'Iya.'
'Tapi orang sesibuk apa pun biasanya punya kabar. Ibu bukan meminta dia duduk di sini setiap hari. Ibu hanya heran kenapa kamu yang selalu menjawab untuk dia.'
Rindu merapatkan kedua tangan.
'Aku tidak ingin Ibu menunggu kunjungannya.'
'Kenapa?'
'Karena sekarang aku tidak sedang membuat rencana bersama dia.'
Ani menatapnya tajam. Bukan marah, melainkan mencoba memahami kalimat yang sengaja tidak sampai ke ujungnya.
'Berarti bukan sekadar dia tidak sempat datang.'
'Bukan.'
'Dan kamu tahu itu waktu mengatakan dia sibuk?'
Rindu menunduk. 'Iya, Bu.'
Ani menarik napas panjang. Rindu ingin segera meminta maaf, tetapi ibunya mengangkat tangan sedikit.
'Biarkan Ibu memahami dulu.'
Rindu diam. Di luar kamar, suara langkah bergerak menjauh. Untuk beberapa saat, tidak ada benda yang bisa dirapikannya atau telepon yang dapat dipakai menyelamatkan percakapan.
'Apa dia masih menuduh kamu?' tanya Ani.
'Waktu kami bertemu kemarin, tidak. Dia meminta maaf.'
'Tapi ada hal lain?'
Rindu mengusap telapak tangannya pada rok.
'Ada hal yang belum kuceritakan. Aku tidak mau Ibu mendengarnya sebagai pertengkaran lewat telepon.'
'Siapa yang akan menelepon?'
'Bukan begitu. Aku hanya ingin aku sendiri yang menjelaskan.'
Ani meraih gelas. Rindu membantu mendekatkannya, lalu menunggu ibunya minum.
'Jadi jangan lagi menyebut sibuk sebagai alasan,' kata Ani setelah meletakkan gelas. 'Ibu bisa menerima kamu belum sanggup bicara. Yang sulit adalah ketika Ibu harus terus menebak mana ucapanmu yang benar.'
Kalimat itu membuat mata Rindu panas.
'Aku tidak akan memakai alasan itu lagi.'
'Kamu juga tidak perlu mencari alasan baru,' kata Ani.
Rindu memandang ibunya dengan wajah memerah. 'Aku tidak berniat begitu.'
'Ibu tahu kamu takut. Tetapi tadi kamu hampir menjadikan perjalanan dan pekerjaan sebagai jawaban lagi.'
Rindu membuka tangan yang sejak tadi terkepal. Bekas tekanan kukunya tampak di telapak.
'Kalau aku berhenti bicara, beri aku waktu mencari kata-kata, Bu. Jangan mengira aku tidak ingin Ibu tahu.'
'Ibu bisa memberi waktu. Yang Ibu minta hanya kamu tidak memakai waktu itu untuk menyembunyikan hal yang sama.'
Ani memandangnya, kemudian mengusap punggung tangannya dengan gerakan pelan.
'Ibu tidak ingin kamu mempertahankan sesuatu hanya supaya Ibu tidak sedih.'
Rindu menggigit bibir. Ia hampir mengatakan bahwa sesuatu itu sudah tidak lagi dipertahankan secara hukum. Namun, Ani memejamkan mata sejenak setelah percakapan panjang tersebut, dan Rindu memilih berhenti sebelum ucapannya pecah menjadi tangis yang sulit dimengerti.
Ia tidak menganggap jeda itu sebagai pembebasan. Kali ini, ibunya telah mengatakan dengan jelas bahwa kebohongannya diketahui.
***
Pada sore yang sama di Jakarta, Rendra datang ke rumah keluarganya membawa keperluan Wina. Bi Darmi membukakan pintu, lalu mengambil sebagian barang agar ia bisa masuk.
Wina duduk di ruang tengah. Hesti berada tak jauh darinya, dengan ponsel di tangan.
'Kamu bisa tinggal makan,' kata Wina.
'Aku tidak lama, Bu. Masih ada pekerjaan yang harus kubawa ke hotel.'
Hesti mengangkat wajah.
'Hotel terus. Uang habis buat kamar, tetapi urusan di rumah selalu dihitung.'
Rendra meletakkan tasnya. 'Aku tetap menghitung karena memang tidak bisa mengeluarkan uang tanpa melihat yang tersisa.'
'Kamu masih berharap Rindu kembali ke hotel itu?'
Rendra menoleh. Ia tidak pernah menceritakan pertemuan di depan hotel kepada Hesti, tetapi kakaknya sudah mengetahui tempat tinggalnya sejak lama.
'Jangan menjadikan Rindu alasan untuk setiap keputusan yang tidak Kakak sukai.'
'Kalau bukan karena dia, kamu tidak akan seperti ini.'
'Keputusan perusahaan karena pekerjaan yang tidak dijalankan. Aku tinggal di hotel karena aku memilih tidak tinggal di sini. Dua hal itu tidak perlu Kakak bebankan kepadanya.'
Wina menggeser posisi duduknya.
'Sudah, jangan bertengkar. Kalau kamu memang masih ingin memperbaiki hubungan, kenapa tidak bicara dengan ibunya? Orang tua biasanya bisa menasihati anak.'
Rendra memandang Wina. Dahulu kalimat seperti itu mungkin akan terdengar sebagai jalan keluar.
'Rindu meminta aku tidak memakai ibunya untuk membujuk.'
'Memakai? Ibu hanya bilang bicara baik-baik.'
'Tetapi tujuannya tetap membuat beliau membujuk Rindu.'
Hesti mendengus.
'Kalau semua larangannya kamu ikuti, sampai kapan kamu menunggu?'
Rendra mengambil gelas yang disediakan Bi Darmi. Tangannya berhenti sesaat sebelum mengangkatnya.
'Aku tidak sedang mencari cara supaya kata tidak berubah menjadi iya lewat orang lain.'
Wina terdiam, tetapi wajahnya tidak melunak. Rendra tidak meminta restu atas jawaban itu. Ia menanyakan kebutuhan ibunya yang belum tersedia, memeriksa barang yang dibawa, lalu berpamitan ketika urusannya di rumah sudah cukup.
Di pintu, Hesti masih mencoba memanggil.
'Ren, kamu pikir sikap seperti itu akan membuat dia terharu?'
Rendra berhenti tanpa berbalik penuh.
'Aku tidak sedang menunjukkannya kepada dia.'
Ia melangkah keluar dan membuka aplikasi kendaraan pesanan. Menunggu di halaman rumah sendiri terasa canggung, tetapi ia tetap tidak memiliki mobil yang bisa dipakai pergi begitu saja.
***
Keesokan harinya di Singapura, Rindu mendampingi Ani seperti biasa. Namun, ia tidak lagi mengisi setiap keheningan dengan cerita makanan atau barang yang harus dibeli. Ketika Ani menanyakan apakah ada kabar dari Rendra, ia menjawab tidak ada tanpa menambahkan alasan.
Sore menjelang, Ani menatap tas yang diletakkan di kursi.
'Berkas yang kamu ambil di Jakarta itu ada hubungannya dengan masalah kalian?'
Rindu membeku. Pertanyaan tersebut seharusnya sudah ia perkirakan sejak pertama kali menyebut nama Hadi.
'Iya, Bu.'
Ani menunggu, lalu bertanya lebih pelan, 'Kamu menyimpannya di sini?'
'Di hotel.'
'Mengapa tidak kamu bawa saat ingin bercerita?'
Rindu memandang tangan ibunya. Ia telah memakai keadaan Ani sebagai alasan menunda, padahal yang paling ditakutkannya adalah menyaksikan mata itu terluka.
'Aku bisa membawanya besok.'
'Ibu tidak meminta membaca berkas seperti orang asing. Ibu ingin mendengar dari kamu.'
Rindu meraih tasnya, bukan untuk pergi, melainkan memindahkannya dari kursi agar bisa duduk lebih dekat.
'Aku akan membawanya, Bu. Dan aku akan bicara.'
Ani menatapnya lama, lalu merapikan ujung selimut.
'Besok jangan mulai dengan mengatakan semuanya baik-baik saja.'