'Bantuan dari yayasan itu?' tanya Doni.
'Iya, Dok. Saya sudah mendapat penjelasan dari rumah sakit. Biaya yang saya tanyakan sudah ditanggung, tetapi nama donaturnya tidak diberikan.'
Di seberang terdengar jeda singkat. Rindu merapatkan ponsel ke telinga, menunggu Doni meneruskan.
'Kalau pembiayaannya sudah dikonfirmasi, kamu bisa lebih tenang menemani ibumu.'
'Saya lega, Dok. Tetapi saya ingin tahu siapa yang membantu kami.'
'Kadang orang memang tidak ingin disebut namanya.'
'Dokter tahu orangnya?'
'Yang penting bantuan itu sampai kepada orang yang membutuhkan.'
Rindu menatap kaca di hadapannya. Bayangan wajahnya tampak samar di antara pantulan lorong dan cahaya dari luar.
'Dok, itu belum menjawab pertanyaan saya.'
Doni menghela napas, cukup pelan tetapi tetap terdengar.
'Saya tidak bisa memberikan nama kepada kamu sekarang.'
'Bukan tidak tahu?'
'Ri, bagaimana keadaan ibumu setelah kamu kembali dari Jakarta?'
Pergantian pertanyaan itu begitu jelas sehingga Rindu kehilangan kata-kata sesaat. Ia menjawab keadaan Ani dengan singkat, kemudian kembali pada hal yang membawanya menelepon.
'Dokter, saya bukan ingin mengganggu orang itu. Saya hanya takut menerima sesuatu yang tidak saya pahami.'
'Saya mengerti.'
'Kalau nanti ada yang diharapkan dari saya?'
'Sejauh yang disampaikan mengenai bantuan ini, tidak ada permintaan seperti itu kepadamu. Kamu bisa memastikan urusan pembiayaannya melalui rumah sakit.'
'Tapi kalau bukan urusan pembiayaan? Kalau ada hal lain yang tidak pernah dikatakan kepada saya?'
Doni tidak segera menjawab. Rindu menggigit bagian dalam bibirnya, menyesal pertanyaannya terdengar begitu curiga. Namun, ia sudah terlalu sering mengetahui maksud orang lain setelah keputusan diambil atas namanya.
'Saya tidak ingin kamu menolak pertolongan yang dibutuhkan ibumu hanya karena nama pemberinya belum kamu ketahui,' kata Doni akhirnya.
'Saya tidak sedang menolak.'
'Baik.'
'Saya tetap ingin pertanyaan saya disampaikan. Kalau orang itu bersedia, saya ingin mengucapkan terima kasih langsung.'
'Saya akan mengingat permintaanmu.'
Rindu menunduk. Ia tidak memperoleh janji bahwa namanya akan diberi tahu, tidak juga kepastian kapan pertanyaannya dijawab.
'Terima kasih, Dok.'
'Tetap jaga dirimu juga, Ri.'
Panggilan berakhir. Rindu tetap berdiri di dekat jendela, menatap daftar panggilan yang kini mencatat nama Doni paling atas.
Dokter itu mengenal persoalannya sejak sebelum ia meninggalkan Jakarta. Kepercayaannya kepada Doni tidak lenyap karena satu percakapan, tetapi ada bagian yang kini terasa ditutup rapat dari hadapannya.
Rindu mengetik pesan singkat agar permintaannya tidak hanya tertinggal dalam ingatan.
'Kalau memungkinkan, mohon sampaikan bahwa saya ingin mengetahui kepada siapa saya berterima kasih, Dok.'
Ia mengirimkannya, lalu memasukkan ponsel ke tas.
***
Ani menoleh ketika Rindu kembali. Di meja kecil ada gelas yang telah bergeser lebih dekat ke tepi. Rindu merapikannya sebelum duduk.
'Dokter Doni bilang apa?'
Rindu tidak bisa menghindari pertanyaan itu. Sebelum menelepon, ia sendiri sudah memberitahu Ani ke mana ia pergi.
'Beliau tidak memberikan nama.'
'Karena tidak tahu?'
'Beliau bilang tidak bisa memberikan nama sekarang.'
Ani memikirkan jawaban tersebut.
'Barangkali memang diminta begitu.'
'Mungkin.'
'Kamu masih khawatir?'
'Aku tidak suka tidak tahu apa yang sedang terjadi pada hidup kita.'
Ani memandangnya. Rindu baru menyadari betapa aneh kalimat itu terdengar keluar dari mulutnya sendiri, sementara ia menyimpan selembar akta di kamar hotel.
'Ada hal yang sudah kamu tahu, tapi belum bisa kamu ceritakan juga,' kata Ani.
Rindu menatap lantai.
'Iya.'
'Ibu bukan membandingkan bantuan itu dengan urusanmu. Ibu hanya ingin kamu mengerti rasanya menunggu penjelasan.'
'Aku mengerti, Bu.'
'Belum tentu. Kadang orang baru merasa mengerti kalau dia yang menunggu.'
Rindu tidak membantah. Ia meraih tangan ibunya, tetapi Ani sedang membetulkan selimut sehingga genggamannya hanya mengenai ujung kain. Rindu menarik tangannya kembali.
Ani melihat gerakan itu dan mengulurkan telapak.
'Sini.'
Rindu menyambutnya. Sentuhan tersebut membuat air matanya jatuh satu-satu tanpa isak.
'Aku takut membuat Ibu sedih.'
'Waktu kamu menangis begini, menurutmu Ibu tidak sedih?'
'Maaf.'
'Jangan minta maaf karena menangis.'
Rindu mengusap pipinya dengan tisu. Ani menunggu, tidak mengulang pertanyaan tentang Rendra, tetapi keheningan kali ini tidak lagi memberi tempat yang nyaman untuk bersembunyi.
Setelah lebih tenang, Rindu menjelaskan bahwa uang untuk kebutuhan sehari-hari tetap harus diatur. Bantuan perawatan tidak membuat biaya hotel, makan, dan perjalanan mereka lenyap.
'Kalau bisa dihemat, kita hemat,' kata Ani. 'Tapi jangan memotong sesuatu yang kamu perlukan untuk tetap kuat menemani Ibu.'
'Aku akan membuat catatan yang lebih jelas.'
'Dan sesudah mencatat, tidur. Jangan menatap angka sampai pagi.'
Rindu tersenyum samar. 'Ibu tahu saja.'
'Wajahmu yang memberi tahu.'
Rindu menarik kursinya sedikit lebih dekat.
'Kalau nanti orangnya tetap tidak mau disebut, menurut Ibu aku harus bagaimana?'
'Ibu tidak bisa menentukan itu untukmu. Tapi rasa terima kasih tidak harus berubah menjadi ketakutan setiap kali kamu menerima bantuan.'
'Aku cuma tidak ingin keputusan hidupku diambil karena orang lain merasa sudah banyak memberi.'
Ani memegang tangannya lebih erat. 'Kalau ada keputusan yang harus kamu ambil, bicarakan dengan Ibu. Jangan menanggungnya sampai kamu merasa tidak punya pilihan.'
Rindu memandang tangan mereka. Ia ingin mempercayai tawaran itu sebelum persoalan berikutnya datang, bukan setelah semuanya terlanjur terjadi.
***
Keesokan malamnya, setelah sehari mendampingi Ani tanpa kabar baru tentang donatur, Rindu kembali ke hotel. Ia membentangkan beberapa bukti pembayaran di meja, memisahkan biaya perawatan dari pengeluaran pribadinya.
Sekarang ada jumlah yang tidak lagi harus segera disediakan. Rindu memberi tanda pada bagian itu, lalu menghitung ulang uang yang masih dimiliki. Kelegaan akhirnya datang, kecil tetapi nyata: ia tidak perlu memilih antara membayar keperluan Ani dan membeli tiket pulang hanya berdasarkan ketakutan semalam.
Namun, ia tetap menaruh rincian bantuan dalam map tersendiri. Ia ingin tahu apa saja yang diterima, sekalipun orang yang memberikannya memilih tidak muncul.
Ponselnya menyala. Zavin menanyakan apakah ia sudah kembali beristirahat.
'Sudah, Pak. Saya sedang merapikan catatan pengeluaran.'
'Jangan terlalu malam. Ibumu bagaimana?'
'Masih dalam perawatan. Beliau banyak bertanya sekarang.'
'Tentang apa?'
Rindu memandangi pertanyaan itu. Ia tidak ingin menjadikan Zavin tempat untuk membicarakan Rendra ketika Ani sendiri belum mendapat penjelasan utuh.
'Tentang hal yang seharusnya saya ceritakan sejak lama.'
Balasan Zavin tidak langsung datang.
'Kalau kamu sudah siap bercerita kepada beliau, semoga percakapannya membuat kalian saling memahami.'
Rindu membaca kalimat itu sekali, lalu membalas terima kasih. Ia tidak meneruskan percakapan tentang biaya.
Saat hendak menutup map, selembar dokumen dari Jakarta terlihat di antara barang yang belum dibereskan. Rindu memindahkannya, kemudian berhenti dengan tangan masih di atas kertas.
Ponselnya kembali menyala, kali ini dari Ani.
'Besok datang agak pagi, Ri. Ibu ingin bicara tanpa kamu sibuk merapikan barang.'