Pertanyaan tentang biaya itu masih berada di layar ponsel ketika Rindu kembali ke kamar. Ia menguncinya sebelum mengambil pakaian yang diminta Ani, tetapi ibunya sempat melihat angka-angka pada halaman sebelumnya.
'Uangnya cukup, Ri?'
Rindu meletakkan pakaian di kursi. Ia ingin menjawab cukup secepat biasanya, lalu teringat pembicaraan mereka sore tadi.
'Aku sedang menghitung lagi, Bu.'
'Kalau ada yang perlu dihemat, bilang.'
'Ibu tidak perlu mengurangi apa pun yang diberikan tim perawatan.'
'Ibu sedang bicara tentang kamu. Jangan sampai kamu berhenti makan karena takut mengeluarkan uang.'
Rindu duduk di sisi ranjang.
'Aku tidak akan begitu.'
Ani menatapnya sampai ia terpaksa menambahkan, 'Tadi aku memang terlambat makan. Tapi sudah kumakan.'
'Besok jangan terlambat.'
'Iya.'
Rindu membantu merapikan pakaian dan menunggu sampai Ani kembali beristirahat. Kekhawatiran tentang uang tidak dibicarakannya lagi malam itu, bukan karena sudah hilang, melainkan karena ia belum punya keterangan yang benar untuk diberikan.
Keesokan paginya, ia datang dengan daftar pengeluaran di ponsel. Setelah memastikan Ani tidak memerlukan bantuannya, Rindu pergi ke bagian administrasi yang biasa menangani urusan pembayaran. Ia menunjukkan keterangan perawatan ibunya dan meminta rincian kewajiban yang masih tercatat.
Ada waktu menunggu sementara data diperiksa. Rindu berdiri dekat meja, berulang kali merapatkan tas yang terasa terlalu berat meskipun hanya berisi keperluan sehari-hari.
Penjelasan yang diterimanya tidak sesuai dengan perkiraannya. Biaya perawatan yang sedang ditanyakannya telah masuk dalam bantuan donatur melalui yayasan. Untuk rincian yang ia pegang saat itu, tidak ada pembayaran yang diminta darinya.
Rindu memeriksa kembali nama Ani di lembar tersebut. Ia bertanya ulang, memastikan tidak terjadi kekeliruan pasien, lalu meminta keterangan tentang cakupan bantuan. Jawabannya membuat ia lega sekaligus kehilangan pegangan: bantuan memang tercatat untuk Ani, tetapi nama pemberinya tidak disampaikan.
Ia kembali ke kamar dengan rincian di tangan. Ani sedang memandang pintu, seperti mengetahui sejak tadi bahwa anaknya akan pulang membawa sesuatu.
'Bagaimana?'
'Ada biaya yang sudah ditanggung bantuan yayasan, Bu. Aku sedang memastikan rinciannya.'
'Yang pernah disebut Dokter Doni?'
'Sepertinya masih bantuan yang sama. Aku mau memastikan kepada beliau.'
Ani mengembuskan napas.
'Syukurlah.'
Rindu duduk, tetapi lembar itu belum dimasukkan ke tas.
'Iya. Aku cuma belum tahu siapa yang membantu.'
'Memang harus tahu sekarang?'
'Aku ingin berterima kasih. Dan tahu apakah ada sesuatu yang perlu kulakukan.'
Ani mengangkat tangan, menyentuh sisi lembar yang dipegang Rindu.
'Tanyakan baik-baik. Jangan karena takut berutang budi, kamu malah memikul semua hal sendirian.'
'Aku tidak menolak bantuannya, Bu.'
'Tapi wajahmu seperti orang baru mendapat masalah lagi.'
Rindu menatap tulisan di hadapannya. Uang yang tadi malam terasa hampir habis tiba-tiba memperoleh sedikit ruang. Namun, ruang itu diberikan oleh seseorang yang bahkan tidak bisa ia panggil namanya.
***
Siang itu, Rindu menemui Dokter Adrian setelah pemeriksaan Ani. Ia menunggu sampai mereka berada di luar kamar sebelum mengangkat urusan biaya.
'Dok, saya sudah ke bagian administrasi. Mereka mengatakan biaya perawatan Ibu yang sekarang ditanggung donatur.'
'Ya. Informasi bantuan untuk ibu Anda sudah dikonfirmasi.'
'Saya takut salah memahami. Ini bukan berarti saya boleh mengabaikan semua urusan pembayaran berikutnya, kan?'
'Tetap periksa setiap keterangan yang diberikan. Kalau ada perubahan atau kebutuhan di luar rincian bantuan, bagian terkait akan menjelaskannya kepada Anda.'
Rindu memperlihatkan lembar yang diterimanya. Adrian membacanya sebentar.
'Untuk keterangan yang ini, Anda bisa mengacu pada penjelasan administrasi.'
'Apakah Dokter tahu siapa donaturnya?'
'Saya tidak mempunyai nama yang bisa saya sampaikan kepada Anda.'
'Apakah saya bisa menghubungi yayasannya melalui rumah sakit?'
'Permintaan Anda untuk menyampaikan terima kasih bisa diteruskan melalui jalur bantuan yang menangani pembiayaannya.'
Rindu menelan pertanyaan berikutnya. Ia tidak ingin terdengar menuduh orang yang justru membantu ibunya.
'Maaf kalau saya terlalu banyak bertanya.'
'Tidak perlu meminta maaf karena ingin memahami urusan ibu Anda.'
'Sejauh ini saya selalu menghitung berapa lama uang kami cukup. Sekarang saya diberi tahu tidak perlu membayar bagian ini, tapi saya tidak tahu kepada siapa harus berterima kasih.'
Adrian melipat kembali lembar itu tanpa mengubah isinya.
'Anda boleh merasa lega sambil tetap meminta penjelasan.'
Kalimat tersebut tidak memberinya nama, tetapi membuat Rindu berhenti memperlakukan kelegaannya sendiri sebagai sesuatu yang memalukan.
Ia kembali menemui Ani. Ibunya sedang memeriksa foto yang dikirim Sarah, memperbesar wajah Rindu di layar.
'Kamu tersenyum di sini.'
'Mbak Sarah membuatku tertawa.'
'Senyumnya berbeda dari sekarang.'
Rindu meletakkan rincian biaya di dalam tas.
'Nama Ibu di lembar itu benar?' tanya Ani tiba-tiba.
'Benar, Bu. Tadi sudah kuperiksa.'
'Ibu cuma memastikan. Kamu tadi kelihatan takut salah menerima.'
'Aku memang takut. Rasanya terlalu besar kalau ada orang menanggung semuanya tanpa pernah menemuiku.'
'Jangan bilang semuanya kalau kamu baru memeriksa sebagian.'
Rindu terdiam, lalu tersenyum malu. 'Iya. Yang sudah dijelaskan itu dulu.'
Ani mengembalikan perhatian pada layar ponsel. Teguran kecil tersebut membuat Rindu ingin membacanya sekali lagi nanti. Ia perlu membedakan bantuan yang sungguh tercatat dengan harapan yang muncul karena ia sudah terlalu lelah menghitung.
'Kalau Ibu terus memeriksa wajahku, nanti aku bingung harus memasang wajah bagaimana.'
'Pasang wajahmu sendiri. Jangan wajah orang yang selalu bilang tidak apa-apa.'
Rindu duduk lebih dekat dan ikut melihat foto. Rumah lama tampak di belakang mereka, tetapi ibunya justru menunjuk makanan di meja.
'Kelihatannya enak.'
'Iya. Mereka baik sekali, Bu.'
'Sampaikan lagi terima kasih Ibu.'
'Nanti kusampaikan.'
Percakapan beralih ke kunjungan itu, sementara rincian biaya tetap berada di tas. Rindu tidak menganggap kebaikan Ridwan dan Sarah sebagai petunjuk tentang donatur. Ada banyak orang yang menolong dengan cara berbeda; ia tidak ingin menghubungkan semuanya hanya karena dirinya sedang kebingungan.
Pagi berikutnya, setelah satu malam memikirkan penjelasan rumah sakit, Rindu membuka kembali pesan lama dari Doni. Bantuan yayasan bukan kabar yang baru ia dengar hari ini. Lelaki itu pernah menyebutnya sebelum keberangkatan mereka, ketika Rindu masih terlalu sibuk menyelamatkan ibunya untuk menanyakan seluruh rinciannya.
Ia mengirim pesan, menanyakan kapan Doni bisa menerima panggilan singkat.
Balasan datang menjelang siang.
'Saya ada waktu sebentar sekarang, Ri. Ada perubahan kondisi Ibu Ani?'
Rindu segera menjawab bahwa pertanyaannya bukan mengenai keadaan darurat. Ia keluar kamar, berhenti di dekat jendela yang sama tempat ia menerima panggilan Hadi, lalu menekan nomor Doni.
Ketika suara dokter itu terdengar, Rindu tidak mengawali dengan basa-basi.
'Dok, saya ingin bertanya tentang orang yang membayar perawatan Ibu.'