Barisan di depan Rindu bergerak maju. Ia menyimpan ponsel, menyiapkan dokumen perjalanan, lalu mengikuti penumpang lain menuju pesawat. Ucapan Ani masih terdengar di kepalanya, lebih jelas daripada pengumuman yang baru saja selesai.
Ibu tunggu.
Ia sudah meminta ibunya menunggu terlalu banyak hal. Kabar pemeriksaan, kesempatan pulang, kepastian biaya. Sekarang, bahkan cerita tentang kehidupan putrinya sendiri harus menunggu kesiapan yang tidak kunjung dimiliki Rindu.
Setelah duduk, ia menyelipkan tas di tempat yang aman. Tangannya sempat menyentuh sudut map. Dokumen itu akan sampai di Singapura bersamanya, seberapa pun ia ingin meninggalkannya di Jakarta.
Rindu memandang keluar sebelum pesawat berangkat. Ia tidak menangis. Namun, ketika teringat Rendra yang berdiri di depan hotel tanpa menahannya, dadanya terasa sesak. Sikap lelaki itu pagi tadi tidak menghapus masa lalu, tetapi membuat kemarahannya kehilangan sasaran untuk hari ini.
Ia tidak harus membenci setiap saat untuk tetap memilih jarak. Rindu mengulang pengertian itu dalam hati, lalu memejamkan mata.
Beberapa jam kemudian, setelah mendarat di Singapura, ia mengabari Ani dan Zavin. Pesannya kepada Zavin singkat, berisi kabar bahwa perjalanan lancar dan ucapan terima kasih atas antarannya.
Balasan lelaki itu datang saat ia menunggu koper.
'Syukurlah. Temui ibumu dulu, Ri. Jangan lupa istirahat.'
Rindu memasukkan ponsel ke tas. Ia mengambil barang, menuju hotel untuk menitipkan koper, lalu berangkat ke rumah sakit. Map tetap dibawanya karena ia belum ingin meninggalkan dokumen penting di kamar.
***
Ani sedang duduk bersandar ketika Rindu masuk. Wajah ibunya langsung berubah, dan Rindu mempercepat langkah mendekati ranjang.
'Bu.'
'Kamu benar-benar langsung datang?'
'Kopernya sudah kutaruh di hotel.'
Ia mencium tangan Ani, kemudian memeluknya dengan hati-hati. Aroma pakaian rumah sakit yang akrab membuat perjalanannya ke Jakarta terasa seperti sesuatu yang terjadi jauh lebih lama daripada dua malam.
Ani menepuk punggungnya.
'Sudah. Ibu tidak ke mana-mana.'
'Aku tahu.'
'Tapi kamu memeluk seperti baru pulang setahun.'
Rindu melepas pelukan dan tertawa pelan. Ia menarik kursi, menaruh tas di dekat kakinya, lalu mengamati wajah ibunya.
'Selama aku pergi, ada yang membuat Ibu tidak nyaman?'
'Ada.'
'Apa?'
'Anak Ibu terus menelepon untuk menanyakan hal yang sama.'
Rindu menunduk sambil tersenyum. Ani menyentuh pipinya sebentar sebelum menarik tangan kembali ke selimut.
'Kamu lebih kurus, Ri.'
'Cuma lelah perjalanan.'
'Makan dulu kalau belum.'
'Nanti setelah duduk sebentar.'
Ani tidak segera menegur. Ia memperhatikan putrinya membuka botol minum, meneguk sedikit, kemudian merapikan benda-benda yang sebenarnya sudah tertata.
'Yang di Jakarta tadi bagaimana?'
Jari Rindu berhenti pada tutup botol.
'Dokumennya sudah kuambil.'
'Bukan itu yang Ibu maksud.'
'Iya.'
'Kamu bilang mau bercerita tentang Rendra.'
Rindu meletakkan botol. Janjinya tidak menghilang hanya karena Ani menyambutnya dengan pelukan.
'Kami bertemu waktu mengurus berkas, Bu. Dia meminta maaf.'
'Tentang tuduhannya?'
'Iya. Tentang uang untuk Ibu juga.'
Ani mengerutkan dahi. Rindu menarik napas sebelum meneruskan.
'Dia sudah tahu aku tidak memakai uang itu. Dia mengakui pernah menuduhku tanpa mendengarkan.'
'Lalu kamu bagaimana?'
'Aku mendengar. Tapi aku belum bisa kembali seperti dulu.'
Ani menatapnya, tidak lagi tersenyum.
'Masih sakit hati?'
Rindu mengangguk sekali. Air mata yang tidak keluar selama penerbangan mendadak memenuhi matanya.
'Aku takut kalau aku memaksakan diri bersikap baik, semua orang menganggap tidak pernah terjadi apa-apa.'
'Ibu tidak meminta kamu berpura-pura.'
'Aku tahu. Aku cuma belum bisa menjelaskan semuanya sekaligus.'
Ani merapatkan bibir. Di wajahnya ada kekecewaan kecil yang lebih menyakitkan daripada teguran.
'Kamu sudah mengatakan akan bercerita.'
'Dan aku tidak mau bilang kami baik-baik saja lagi. Kami memang sedang punya masalah, Bu. Bukan cuma karena pekerjaan atau jadwal yang tidak cocok.'
Ruangan terasa lebih sunyi setelah kalimat itu. Rindu bisa mendengar bunyi roda dari lorong.
'Apa yang kamu butuhkan dari Ibu?' tanya Ani.
'Jangan telepon dia dulu untuk membicarakan aku.'
'Kenapa?'
'Karena aku belum siap kalau pembicaraan kami diteruskan melalui Ibu. Aku ingin bicara sendiri.'
Ani memandang tangannya yang terlipat di atas selimut. Kemudian ia mengangkat wajah.
'Ibu bisa menunggu kamu menjelaskan. Tetapi jangan menyuruh Ibu percaya bahwa diam berarti semuanya masih baik.'
'Aku tidak akan bilang begitu lagi.'
'Rendra menawarkan uang lagi?' tanya Ani.
'Ada sisa uang yang dia bawa.'
'Kamu menerimanya?'
'Tidak.'
Ani memandang tas putrinya, lalu kembali menatap Rindu. 'Karena marah?'
'Karena aku tidak sanggup menerima uang itu sambil mengingat bagaimana aku pernah dituduh menghabiskannya. Mungkin terdengar tidak masuk akal.'
'Ibu sedang bertanya, bukan menghakimi.'
Rindu meremas tisu yang belum dipakainya. 'Aku sudah menolak di hadapannya. Dia tidak memaksaku.'
'Kalau begitu, jangan sekarang kamu menyiksa diri karena membayangkan Ibu akan menyalahkan keputusanmu.'
Rindu mengangkat wajah. Ia baru menyadari bahwa sejak pulang, penolakan kemarin juga disimpannya sebagai sesuatu yang harus dibela.
Ani tidak memeluknya kali ini. Ia hanya menggeser tangan, memberi tempat di tepi ranjang agar Rindu bisa menggenggamnya. Rindu menyambut tangan itu, menahan tangis sampai napasnya kembali teratur.
***
Menjelang malam, setelah Ani beristirahat, Rindu keluar sebentar untuk makan. Ia memilih sesuatu yang sederhana dan duduk jauh dari arus orang yang berlalu-lalang. Ponselnya diletakkan di samping nampan.
Ia membuka catatan pengeluaran.
Dua kali perjalanan udara, biaya menginap, kendaraan, makan, dan kebutuhan kecil Ani tercatat berderet. Sebagian pembayaran perawatan yang lebih awal juga masih tersimpan dalam riwayat transaksinya. Rindu memeriksa saldo, lalu kembali ke catatan, berharap ada angka yang salah dimasukkan.
Angkanya tidak berubah.
Uang hasil penjualan rumah bukan persediaan tanpa dasar. Setiap kali ia mengambil sedikit untuk kebutuhan hari itu, jumlah yang tersisa berkurang tanpa menunggu kondisi Ani membaik.
Dulu Doni pernah menyebut bantuan melalui yayasan. Namun, Rindu tidak mengetahui sampai mana bantuan itu menanggung kebutuhan Ani sekarang. Ia tidak berani menghitung sesuatu yang belum dipastikan sebagai uang yang tersedia.
Rindu membuka pesan lama, mencari keterangan yang pernah diterimanya. Ia membaca perlahan, tetapi tetap tidak menemukan jawaban untuk kekhawatiran malam ini.
Ponselnya berdering. Ani menelepon dari kamar.
'Kamu makan atau pergi membeli makanannya ke Jakarta?'
Rindu tersentak, lalu melihat makanan yang belum disentuh.
'Aku makan sekarang, Bu.'
'Kalau sudah, kembali. Ibu mau minta tolong mengambilkan pakaian.'
'Iya.'
Ia menutup catatan, menghabiskan beberapa suap, lalu memaksa diri tidak membuka saldo lagi. Sebelum berdiri, ia menulis satu pertanyaan di ponsel agar esok tidak menghindarinya.
Biaya yang masih harus kubayar sekarang apa saja?
Rindu menyimpan ponsel dan membawa pertanyaan itu kembali ke kamar Ani.