Rindu menghabiskan makan malam yang dibawakan Sarah, kemudian mencuci tangan dan memeriksa koper. Persetujuan penjemputan kepada Zavin tidak diubahnya. Sebelum tidur, ia memastikan dokumen perjalanan mudah dijangkau dan memasang alarm lebih awal.
Pagi berikutnya, pesan Zavin datang ketika ia baru menutup koper.
'Saya sudah di bawah. Tidak perlu terburu-buru.'
Rindu membalas bahwa ia akan turun setelah memeriksa kamar. Ia mengecek meja, kamar mandi, serta sisi tempat tidur. Map berisi akta tetap disimpan di tas tangan.
Di lobi, ia mengurus kepulangan dari hotel, lalu berjalan menuju pintu depan. Zavin berdiri dekat kendaraannya. Lelaki itu mengenakan pakaian sederhana yang rapi, dengan ponsel tersimpan begitu melihat Rindu.
'Sudah semua?'
'Sudah, Pak. Maaf menunggu.'
'Saya datang sedikit lebih awal. Boleh saya bantu kopernya?'
Rindu menyerahkan pegangan koper. 'Terima kasih.'
Zavin mengangkatnya ke bagasi. Ketika ia menutup pintu belakang, Rindu melihat Rendra keluar dari pintu hotel dengan tas kerja di bahu.
Keduanya saling mengenali pada saat yang hampir bersamaan.
'Ri?'
Rindu berhenti di samping kendaraan.
'Aku mau ke bandara.'
Rendra memandang Zavin, lalu koper yang baru saja dimasukkan. Rahangnya mengeras. Untuk satu detik, Rindu kembali merasakan ketegangan lama, seolah ia harus segera menyiapkan pembelaan sebelum sebuah tuduhan datang.
Zavin berdiri tegak, tetapi tidak menyela.
'Pak Zavin mengantarku,' kata Rindu.
Rendra menggenggam ponselnya. Ia sedang menunggu kendaraan pesanan untuk pergi bekerja. Tujuan yang tertera di layar tiba-tiba terasa jauh dan tidak penting.
'Aku lihat.'
Dua kata itu membuat Rindu menunggu. Ia tidak menunduk atau menjauhkan diri dari Zavin.
Rendra memandangnya lagi. Di hadapannya bukan adegan yang berhak dihentikan. Perempuan itu telah mengatakan tidak sehari sebelumnya, dengan dokumen perpisahan berada di tangannya.
'Semoga perjalanannya lancar,' katanya akhirnya.
'Terima kasih.'
Zavin membuka pintu penumpang, lalu menoleh kepada Rendra.
'Kami berangkat dulu.'
Rendra mengangguk singkat. 'Hati-hati di jalan.'
Rindu masuk ke kendaraan. Ia sempat melihat Rendra memindahkan tas ke bahu lain, tetapi tidak mendekat untuk menahan pintu.
Setelah kendaraan bergerak, Zavin tidak langsung bertanya tentang pertemuan tadi. Ia menunggu sampai mereka keluar dari halaman hotel.
'AC-nya terlalu dingin?'
'Tidak, Pak. Sudah cukup.'
Rindu meletakkan tas di pangkuan. Jemarinya masih kaku pada tali tas, meskipun Rendra tidak mengucapkan satu pun tuduhan.
Di belakang mereka, Rendra tetap berdiri sampai ponselnya bergetar. Kendaraan pesanannya sudah dekat. Ia memasukkan ponsel ke saku, menarik napas, lalu berjalan ke tempat penjemputan.
***
Di dalam kendaraan menuju kantor, Rendra membuka percakapan dengan Rindu. Ia mengetik satu kalimat, bertanya sejak kapan Zavin mengetahui jadwal kepulangannya.
Kalimat itu dibiarkan beberapa detik sebelum dihapus.
Ia tidak sedang menanyakan keselamatan perjalanan. Ia sedang mencari celah untuk memperoleh penjelasan yang tidak lagi menjadi haknya.
Ponsel kembali bergetar. Pesan dari Hesti menanyakan urusan pekerjaannya dengan nada yang belum berubah sejak keputusan Rendra disampaikan.
Rendra menjawab singkat bahwa hak yang masih harus dibayarkan tetap dicatat, tetapi posisi itu tidak akan dikembalikan hanya karena mereka bersaudara.
Sesudah mengirimkannya, ia menutup percakapan tersebut. Persoalan kantor, bank, dan keluarganya masih menunggu. Cemburu tidak bisa dipakai sebagai alasan untuk mengabaikan semuanya.
Di dalam tas, amplop yang ditolak Rindu terselip di tempat semula. Ia memeriksa keberadaannya tanpa membuka, lalu merapatkan ritsleting.
Kendaraan berhenti karena lalu lintas. Rendra memandang mobil-mobil di depan, membayangkan Rindu menempuh jalan berbeda dengan seseorang yang bisa membuat keberangkatannya lebih mudah.
Rasa sakit itu ada. Namun, pagi ini ia tidak mengubahnya menjadi kesalahan Rindu.
Sementara itu, Rindu baru melepaskan pegangan tas setelah Zavin mengajaknya memastikan terminal tujuan.
'Yang ini, Pak.'
'Baik. Kamu sudah mengabari ibumu?'
'Tadi sebelum turun. Nanti saya menelepon lagi setelah sampai.'
'Beliau pasti senang kamu kembali.'
'Saya juga ingin cepat sampai.'
Zavin melirik sebentar, lalu kembali memperhatikan jalan.
'Urusan di Jakarta sudah tidak ada yang tertinggal?'
'Dokumennya sudah saya dapatkan.'
Ia tidak menjelaskan isi map. Zavin tidak meminta diperlihatkan.
'Kalau kamu ingin beristirahat selama perjalanan, silakan.'
'Saya tidak mengantuk.'
'Kalau begitu kita bisa diam saja.'
Rindu tersenyum kecil. 'Bapak selalu memberi pilihan untuk diam.'
'Kadang orang hanya memerlukan perjalanan yang tidak penuh pertanyaan.'
Kalimat itu membuat Rindu menoleh. Ia tidak menemukan tuntutan tersembunyi pada wajah Zavin, tetapi ia juga tidak ingin menerima setiap kebaikan tanpa pernah memikirkan batasnya.
'Pak, saya berterima kasih sudah diantar.'
'Sama-sama.'
'Saya mungkin belum pandai menerima bantuan tanpa merasa merepotkan.'
'Kamu boleh menolak tawaran saya kapan pun. Termasuk kalau lain kali ingin pergi sendiri.'
'Baik.'
Rindu menyandarkan punggung. Percakapan berhenti di sana, bukan karena salah seorang tersinggung. Untuk sisa perjalanan, ia memperhatikan papan penunjuk jalan dan sesekali menjawab pertanyaan sederhana mengenai penerbangan.
***
Di bandara, Zavin membantu menurunkan koper. Rindu merapikan tas di bahunya, lalu menerima kembali pegangan koper tanpa membiarkan lelaki itu mengambil alih seluruh barangnya.
'Sampai sini saja, Pak. Saya bisa meneruskan.'
'Saya tunggu sebentar sampai kamu memastikan tidak ada yang tertinggal.'
Rindu memeriksa ponsel, dokumen perjalanan, dan dompetnya. Semuanya ada.
'Lengkap.'
'Semoga lancar. Kabari setelah sampai kalau kamu sempat.'
'Iya, Pak.'
Zavin tidak memperpanjang perpisahan. Ia kembali ke kendaraannya setelah Rindu berjalan menuju pintu masuk. Rindu menoleh sekali dan mengangkat tangan, lalu meneruskan langkah.
Setelah melewati urusan keberangkatan, ia duduk di ruang tunggu dan menghubungi Ani.
'Aku sudah menunggu pesawat, Bu.'
'Sudah makan?'
Rindu tertawa pelan. 'Sudah.'
'Bukan cuma kopi?'
'Aku makan, Bu. Nanti setelah sampai langsung ke rumah sakit.'
'Kalau lelah, simpan koper dulu.'
'Aku ingin melihat Ibu.'
Ani terdiam sebentar, kemudian bertanya, 'Di Jakarta kamu sempat bertemu Rendra?'
Rindu menatap tas di pangkuannya. Map di dalamnya tidak terlihat, tetapi ia tahu persis di bagian mana dokumen itu tersimpan.
'Sempat, Bu.'
'Dia bilang apa?'
Pengumuman penerbangan terdengar dari pengeras suara. Rindu menunggu sampai suara itu mereda, sementara ibunya tetap berada di seberang.
'Ada yang perlu aku ceritakan setelah sampai.'
'Soal kalian?'
Rindu menutup mata sejenak.
'Iya, Bu. Soal aku dan Rendra.'
'Kalau begitu Ibu tunggu.'
Panggilan berakhir ketika antrean mulai terbentuk. Rindu berdiri, menarik koper, lalu mengikuti barisan dengan ponsel masih tergenggam di tangan.