'Tentu tidak, Mbak. Datang saja. Tidak ada kewajiban bercerita supaya boleh makan di sini.'
Jawaban Sarah membuat Rindu memejamkan mata sebentar.
'Terima kasih. Saya sudah di jalan.'
'Kami tunggu.'
Setelah panggilan berakhir, Rindu memasukkan map ke dalam tas. Ia tidak ingin dokumen itu menjadi benda pertama yang dilihat Ridwan dan Sarah ketika menyambutnya.
Rumah itu tampak sama dari luar. Namun, sebuah tanaman di dekat pintu telah dipindahkan, dan alas kaki yang tersusun bukan lagi miliknya atau milik Ani. Perubahan kecil itu membantu Rindu mengingat bahwa ia datang sebagai tamu.
Sarah membuka pintu sebelum ia sempat mengetuk lagi.
'Mbak Rindu.'
Mereka bersalaman. Sarah tidak bertanya mengapa matanya tampak letih. Ia hanya mengajaknya masuk dan menunjukkan tempat untuk meletakkan tas.
Ridwan bangkit dari kursi.
'Bagaimana kabar Ibu Ani?'
'Masih menjalani perawatan, Pak. Tim dokter masih memantau beliau.'
'Semoga ada kabar baik.'
'Amin.'
Rindu hampir berjalan menuju sisi ruangan yang dahulu biasa dipakainya untuk menyimpan barang. Ia berhenti, lalu meletakkan tas di tempat yang ditunjukkan Sarah.
'Mbak mau mencuci tangan dulu?'
'Iya.'
Letak tempat mencuci tangan belum berubah. Rindu mengenali suara air yang mengenai permukaannya, bahkan sudut keran yang dulu sering diperiksa Ani. Ia membasuh tangan lebih lama dari yang diperlukan.
Ketika kembali, makanan sudah ditata. Sarah memintanya duduk, sedangkan Ridwan menggeser mangkuk agar lebih mudah dijangkau.
'Ambil sesuai selera, Mbak,' kata Sarah. 'Kalau kurang cocok, bilang saja.'
'Ini sudah banyak sekali.'
'Kami juga makan. Jangan merasa harus menghabiskan semuanya karena sungkan.'
Rindu tersenyum dan mengambil nasi. Untuk beberapa menit, percakapan hanya berkisar pada perjalanan dan waktu penerbangan kembali. Tidak ada yang menyebut pengadilan.
Justru karena tidak didesak, ia akhirnya membuka suara.
'Tadi saya bertemu Rendra.'
Tangan Sarah berhenti sebentar di dekat gelas, kemudian bergerak lagi.
'Pertemuannya tidak membuat Mbak kesulitan?'
'Dia meminta bicara. Saya mengizinkan sebentar.'
Ridwan meletakkan sendok. 'Kalau Mbak tidak ingin meneruskan cerita, tidak apa-apa.'
'Dia meminta maaf. Menawarkan uang yang tersisa dari kartu untuk Ibu.'
Rindu memandang piringnya.
'Saya tidak menerimanya.'
Sarah tidak segera menyahut. Ia menunggu sampai Rindu mengangkat wajah.
'Mbak ingin kami memberi pendapat, atau cukup mendengar?'
Pertanyaan itu begitu sederhana sehingga Rindu sempat kehilangan jawaban.
'Mendengar dulu, Mbak.'
'Baik.'
Rindu mengembuskan napas. 'Saya takut orang akan menganggap saya terlalu keras. Seolah meminta maaf berarti orang yang disakiti harus segera merasa lebih baik.'
Ridwan menyandarkan punggungnya. 'Kami tidak akan menentukan seberapa cepat Mbak harus merasa baik.'
'Saya juga tidak mau terus marah.'
'Tidak menerima ajakan hari ini belum tentu sama dengan memelihara kemarahan,' kata Sarah. 'Tetapi saya tidak akan menafsirkan perasaan Mbak menggantikan Mbak sendiri.'
Rindu menyentuh ujung sendoknya. Ia kembali makan, kali ini bisa merasakan hangat lauk yang tadi hanya ditelannya.
***
Seusai makan, mereka berpindah ke ruang duduk. Sarah membawa air minum, sedangkan Ridwan menanyakan apakah Rindu perlu bantuan kendaraan untuk urusannya selama di Jakarta.
'Besok saya langsung ke bandara, Pak. Saya bisa memesan kendaraan.'
'Kalau ada kesulitan, kabari.'
'Iya. Terima kasih.'
Rindu melirik ke arah bagian rumah yang dulu menjadi kamar Ani. Sarah mengikuti pandangannya, tetapi tidak menawarkan kunjungan ke seluruh ruangan.
'Ada barang yang masih ingin Mbak tanyakan?' katanya.
'Tidak. Saya hanya teringat Ibu biasa memanggil dari sana.'
Sarah menaruh gelas di meja. 'Mbak boleh rindu tanpa harus meminta maaf kepada kami.'
Rindu tertawa kecil, lalu mengusap sudut matanya sebelum air mata sempat jatuh.
'Maaf, saya malah—'
'Nah, itu meminta maaf lagi.'
Kali ini Rindu benar-benar tertawa. Ridwan membiarkan keduanya berbicara, kemudian menawarkan agar mereka mengambil foto bersama untuk dikirim kepada Ani.
Rindu meminta persetujuan ibunya melalui pesan lebih dulu, sekaligus memberi kabar bahwa ia sedang bertamu. Balasan Ani datang tak lama kemudian, meminta salam disampaikan kepada pemilik rumah.
Mereka berfoto tanpa memperlihatkan dokumen di tas Rindu. Ketika melihat hasilnya, Rindu menyadari ia berdiri dekat Sarah, bukan sendirian di depan rumah yang pernah menjadi miliknya.
Menjelang sore, ia berpamitan. Sarah membawakan sedikit makanan untuk dimakan di hotel, bukan untuk dibawa kepada Ani.
'Jangan sampai nanti malam Mbak hanya makan biskuit.'
'Ibu juga mengatakan hal seperti itu.'
'Berarti saya punya teman.'
Rindu menerima bungkusan tersebut. Di ambang pintu, ia mengucapkan terima kasih sekali lagi, kali ini tidak hanya untuk makan siang.
Kendaraan yang membawanya kembali ke hotel melewati ruas jalan padat. Rindu membuka ponsel untuk mengabari Ani bahwa ia akan menelepon setelah sampai. Sebuah pesan dari Zavin masuk lebih dulu.
'Ri, bagaimana keadaan ibu kamu hari ini?'
Rindu menjawab bahwa kondisi Ani masih dalam pemantauan, lalu menjelaskan bahwa dirinya sedang di Jakarta mengurus dokumen dan akan kembali esok hari.
Panggilan Zavin masuk setelah ia tiba di kamar hotel. Rindu meletakkan bungkusan makanan sebelum mengangkatnya.
'Saya baru membaca kabarmu,' kata Zavin. 'Kamu sudah sampai penginapan?'
'Sudah, Pak.'
'Saya juga sedang di Jakarta. Besok penerbanganmu jam berapa?'
Rindu menyebutkan jadwalnya.
'Kalau kamu berkenan, saya bisa mengantarmu ke bandara.'
'Tidak merepotkan?'
'Saya menawarkan karena ada waktu. Tetapi kalau kamu lebih nyaman berangkat sendiri, tidak apa-apa.'
Rindu duduk di tepi tempat tidur. Ia memandang koper, lalu mengingat pesan Ani agar meminta bantuan ketika diperlukan.
'Saya mau, Pak. Terima kasih.'
'Kirimkan alamat dan waktu kamu ingin berangkat. Kita sisakan waktu yang cukup di jalan.'
Rindu mengirim alamat hotel. Ia tidak menambahkan penjelasan tentang Rendra karena tidak ingin setiap pilihan kecilnya selalu berputar mengelilingi lelaki itu.
'Saya hanya mengantar sampai bandara,' kata Zavin, memastikan. 'Besok saya masih ada keperluan di Jakarta.'
'Baik, Pak.'
Setelah panggilan berakhir, Rindu menelepon Ani. Ia bercerita tentang makan bersama Ridwan dan Sarah, tentang foto, serta jadwal kepulangannya. Saat ditanya urusan dokumen, ia menjawab sudah mendapat yang diperlukan.
Kemudian ia memindahkan akta cerai ke bagian tas yang aman dan menutupnya.
Pesan Zavin muncul ketika ia hendak membuka makanan.
'Saya jemput besok pagi di pintu depan hotel. Kabari kalau waktunya berubah.'
Rindu membalas persetujuan, lalu menaruh ponsel di samping piring. Kali ini, makan malamnya tidak perlu menunggu urusan lain.