Pengingat itu muncul lagi ketika Rindu mematikan alarm keesokan paginya. Ia bangun, bersiap, lalu mengirimkan pesan singkat kepada Hadi sebelum meninggalkan hotel. Map dibawa di tas tangan, bukan dimasukkan ke koper.
Hadi sudah menunggu ketika ia tiba.
'Selamat pagi, Bu Rindu. Perjalanannya lancar?'
'Lancar, Pak.'
Rindu mengikuti langkahnya melewati pintu masuk. Ia tidak mencari Rendra di antara orang-orang yang datang. Namun, setiap suara laki-laki di belakangnya membuat jemarinya mengencang pada tali tas.
Urusan yang mereka lakukan pagi itu tidak berlangsung sepanjang yang ia takutkan. Ada waktu menunggu, pemeriksaan berkas, lalu penjelasan yang didengarkannya dengan saksama. Hadi membiarkannya memeriksa dokumen yang diterima sebelum menyimpannya.
'Pastikan nama dan data Anda benar.'
Rindu membaca perlahan. Nama itu masih namanya, tetapi kini berdampingan dengan keterangan yang membuat tiga tahun hidupnya tampak begitu ringkas.
'Sudah, Pak.'
'Simpan baik-baik.'
Ia memasukkan akta cerai ke map. Tidak ada bunyi yang berbeda ketika penutupnya dirapatkan. Orang-orang di sekitarnya tetap mengurus keperluan masing-masing. Rindu menarik napas dan berdiri.
Di depan gedung, Rendra terlihat dekat sisi tangga. Sebuah map berada di tangan kirinya. Ia tidak mendekat sebelum mata mereka bertemu.
'Ri.'
Rindu berhenti. Hadi menoleh kepadanya, menunggu keputusan.
'Saya tunggu di sebelah sana jika Anda memerlukan bantuan,' katanya.
Rindu mengucapkan terima kasih. Setelah Hadi berjarak beberapa langkah, ia kembali memandang Rendra.
'Kamu mengurus berkas juga?'
'Iya. Tadi aku melihatmu masuk, tapi aku tidak mau mengganggu.'
'Kamu sudah mendapat punyamu?'
Rendra sedikit mengangkat map. 'Sudah.'
Untuk sesaat, mereka berdiri dengan dokumen masing-masing seperti dua orang yang kebetulan datang ke tempat sama. Rindu merasakan udara panas menyentuh tengkuknya.
'Aku mau pergi, Ren.'
'Boleh aku bicara sebentar? Kalau kamu tidak mau, aku tidak akan menahan.'
Rindu melihat arah Hadi, kemudian kembali kepada Rendra.
'Sebentar.'
Rendra membuka tasnya dan mengambil amplop yang ujungnya mulai kusut. Ia tidak langsung menyodorkannya ke tangan Rindu.
'Ini sisa uang dari kartu yang dulu kuserahkan untuk Ibu Ani.'
Wajah Rindu menegang.
'Kak Hesti sudah mengembalikan kartunya,' lanjut Rendra. 'Uang ini yang masih tersisa. Aku ingin memberikannya kepadamu.'
Ia mengulurkan amplop. Rindu tidak menerimanya.
'Simpan saja.'
'Ri, ini memang seharusnya untuk ibumu.'
'Waktu Ibu membutuhkannya, aku justru dituduh memakai uangmu.'
'Aku tahu. Aku salah.'
'Kamu tahu sekarang.'
Rendra menurunkan tangan sedikit. 'Iya. Terlambat.'
Rindu menatap amplop itu. Dulu ia menghitung kebutuhan Ani sambil berharap penjelasannya dipercaya. Sekarang ia tidak ingin menghitung apa yang tersisa setelah orang lain diberi kesempatan menggunakan uang tersebut.
'Aku tidak mau menerimanya, Ren.'
'Tidak ada syarat apa pun.'
'Aku tidak bilang ada syarat. Aku bilang tidak mau.'
Rendra terdiam, lalu memasukkan kembali amplop itu ke tas. Gerakannya lambat, tetapi ia tidak mencoba menyelipkannya ke map Rindu atau memaksa tangannya terbuka.
'Baik.'
***
Mereka bergeser ke bagian depan gedung yang lebih teduh agar tidak menghalangi orang lewat. Hadi masih terlihat di dekat pintu. Rindu sengaja tidak menjauh.
'Aku juga ingin meminta maaf langsung,' kata Rendra.
'Pesanmu sudah kubaca.'
'Aku tahu membaca pesan tidak sama dengan mendengar aku mengakui apa yang kulakukan.'
Rindu menunggu. Di belakang Rendra, kendaraan berhenti sebentar lalu berjalan lagi.
'Aku menuduhmu tanpa mau memeriksa. Saat kamu menjelaskan tentang Ibu Ani, aku lebih percaya pada kemarahanku sendiri. Aku membuatmu merasa harus membuktikan sesuatu yang seharusnya kudengarkan.'
'Kamu bukan cuma tidak mendengarkan.'
'Iya.'
'Kamu membuatku takut bicara. Setiap kali aku ingin menjelaskan, aku sudah membayangkan kalimat apa lagi yang akan kamu pakai untuk menyerangku.'
Rendra menunduk sesaat, lalu memaksakan diri menatapnya kembali.
'Aku tidak punya alasan yang bisa membuat itu pantas.'
Rindu menggenggam map lebih erat. Ia telah membayangkan permintaan maaf ini berkali-kali. Dalam bayangannya, mungkin ada kelegaan besar atau kemarahan yang meledak. Kenyataannya, ia hanya lelah.
'Kalau kamu berharap setelah ini aku bisa bersikap seperti dulu, aku belum bisa.'
'Aku tidak meminta kamu langsung melupakan.'
'Lalu apa yang kamu minta?'
Pertanyaan itu membuat Rendra berhenti. Ia dapat saja memilih jawaban paling aman, tetapi kedatangannya dengan amplop itu tidak sepenuhnya bebas dari harapan.
'Aku masih ingin ada kesempatan untuk kita.'
Rindu menggeleng.
'Ren, jangan.'
'Aku tahu pernikahan kita sudah berakhir. Aku tidak menganggap kita masih suami istri hanya karena aku menginginkannya.'
'Tetapi kamu tetap mengajakku kembali ketika aku sudah meminta waktu.'
Rendra menarik napas. 'Kamu benar.'
'Aku datang untuk mengambil akta. Bukan untuk memulai pembicaraan tentang kembali bersama.'
'Baik.'
Rindu menatap wajahnya, memastikan kata itu bukan awal dari bujukan berikutnya.
'Aku tidak menerima uangnya. Aku juga tidak menerima ajakanmu. Itu jawabanku hari ini.'
Rendra merapatkan pegangan pada tali tasnya.
'Aku mendengarnya.'
'Jangan meminta Pak Hadi membicarakan ini denganku.'
'Aku tidak akan melakukannya.'
'Dan jangan menghubungi Ibu untuk meminta beliau membujukku.'
Rendra tampak hendak bertanya sesuatu, tetapi mengurungkannya. 'Aku tidak akan membawa ibumu ke dalam permintaanku.'
Rindu tidak menjelaskan apa yang diketahui Ani. Batas yang baru diucapkannya sudah cukup; ia tidak perlu membuka seluruh keadaan hanya agar penolakannya diterima.
Ponselnya bergetar. Nama Sarah muncul bersama pesan tentang makan siang. Rindu tidak langsung membukanya.
'Aku harus pergi.'
Rendra mundur setengah langkah. 'Semoga urusan perawatan Ibu Ani dimudahkan.'
'Terima kasih.'
Rindu berjalan menuju Hadi tanpa menoleh. Lututnya terasa lemah, tetapi ia tidak ingin duduk di tempat yang sama dan memperpanjang percakapan.
'Anda ingin saya menunggu sampai kendaraan datang?' tanya Hadi.
'Boleh, Pak.'
Ia memesan kendaraan, kemudian membalas Sarah bahwa dirinya akan datang. Ketika kendaraan tiba, Hadi membuka ruang agar ia bisa masuk dengan leluasa.
Dari kursinya, Rindu sempat melihat Rendra masih berdiri di bagian teduh. Amplop itu tidak lagi terlihat.
Rendra tidak mengangkat tangan untuk menghentikannya.
Kendaraan mulai bergerak. Rindu menyebutkan alamat rumah Ridwan, lalu menekan map di pangkuannya ketika jalan berbelok.
Ponselnya berdering sebelum gedung pengadilan hilang dari pandangan. Sarah menelepon.
'Mbak, mau langsung makan begitu sampai?'
Rindu menelan rasa sesak yang belum turun.
'Boleh, Mbak. Tapi kalau saya diam sebentar nanti, jangan tersinggung, ya.'