"Rindu! Heh, Rindu!" Seseorang menjentikan jari di depan wajahnya hingga membuat Rindu terjaga dari lamunan. Wanita itu lantas menyeka kedua matanya yang basah seraya berdiri membawa tubuhnya berhadapan dengan kakak ipar. Hesti.
"Kak Hesti?" tanyanya heran. Rindu melihat ke arah belakang Hesti kemudian menoleh kanan dan kiri. Namun tak menemukan sesiapapun yang ia harapkan tertangkap pandangan. "Kak Hesti ke sini sendirian?"
Hesti mengangguk. "Sendiri. Kenapa? Kamu mengharapkan suamimu datang?" Kemudian dia terkekeh renyah seperti menertawakan wajah kecewa Rindu. "Rendra tidak akan ke sini. Masih banyak hal yang lebih penting dari pada datang menemuimu."
Rindu menepis semua ucapan menganggapnya angin lalu. Sudah biasa Hesti bersikap begitu padanya. Tidak tahu ada dendam apa antar ibu dan anak itu pada keluarganya. "Kak Hesti ingin menjenguk ibu? Sebentar lagi mungkin ibuku bangun," tawarnya basa-basi.
"Tidak perlu. Aku sibuk," jawabnya ketus. "Hari ini jadwalku ke salon. Gara-gara kamu, aku harus jauh-jauh datang ke sini." Hesti memilih duduk di kursi tunggu seraya merogoh tas mewah miliknya.
Sang adik ipar hanya menarik napas mendengar hal itu meluncur mulus dari mulut Hesti. "Kak Hesti mau aku belikan sarapan? Pagi-pagi sudah datang ke sini pasti belum sempat sarapan, 'kan?"
Hesti menghentikan kegiatannya dan menengadah menatap Rindu yang masih setia berdiri di hadapannya. "Tidak salah? Kamu menawariku makan-makanan rumah sakit?" liriknya sinis.
"Tidak ada yang salah dari makanan rumah sakit, 'kan, Kak? Yang penting higienis." Rindu mencoba membela diri. Memang tidak ada yang salah dari makanan rumah sakit, bukan? Hanya wanita di depannya saja yang seleranya terlalu tinggi.
"Sudahlah. Kamu mana tahu makanan yang berkelas dan tidak," ujar Hesti merendahkan. Dia kembali melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti tadi. "Ini. Rendra menitipkan kartu untukmu." Hesti menyodorkan benda pipih yang Rindu kenali kalau itu memang milik suaminya.
Matanya yang berbinar menyorotkan harapan melihat kartu itu di depannya. Artinya Rendra berhasil meyakinkan Wina untuk memberikanya uang yang akan digunakan membayar biaya operasi. "Ini ... untuk biaya operasi ibu, 'kan, Kak?"
Hesti hanya menjawab dengan gumaman. Dia menarik cepat tangannya ketika Rindu akan mengambil kartu hingga membuatnya bingung. "Ada apa, Kak?"
"Kamu ingin kartu ini?" Rindu mengangguk lemah. "Ada syarat dari Rendra yang harus kamu lakukan kalau ingin menggunakan uang ini."
Rindu tertegun setelah mendengar ucapan Hesti. Perasaannya mendadak menjadi tidak enak. Pikiran buruk mulai menguasai diri. Silih berganti datang dan pergi memenuhi benaknya. "Syarat? Syarat apa maksudnya, Kak?"
Kembali Hesti merogoh tas untuk mengambil selembar kertas yang segera ia sodorkan pada Rindu. "Kamu harus tanda tangani surat ini," tuturnya dengan seringai licik yang tak terlihat.
Tanpa banyak tanya lagi Rindu mengambil kertas itu cepat dan membacanya. Kedua matanya mendelik hampir keluar padahal yang ia baca baru judul dari kertas yang ia pegang. "Surat cerai?!" pekiknya tak percaya.
"Benarkah? Jadi syarat dari Rendra adalah perceraian?" tanya Hesti dengan wajah pura-pura terkejut. Dia lantas berdiri dari duduknya dan melihat kertas yang Rindu pegang dengan gemetar. "Aku kira Rendra bilang akan menikah lagi hanya bercanda," gumamnya semakin menambah bara.
Pendengaran yang menangkap jelas ucapan Hesti itu lantas membuat Rindu menoleh cepat. "Rendra ingin menikah lagi?" Kedua matanya mulai memanas mengumpulkan buliran kristal di kelopaknya.
Jujur saja hal itu sangat sulit dipercaya. Pagi tadi mereka masih saling menelepon. Memang Wina terdengar melarang Rendra untuk datang ke rumah sakit, tapi surat cerai? Di telepon tadi Rendra sama sekali tidak menyinggung tentang surat apapun atau bahasan yang menjurus pada keinginan untuk menikah lagi.
Hesti menampilkan wajah prihatin. "Iya. Tadi pagi aku dengar sendiri. Mungkin hari ini mereka akan membicarakan pernikahan. Maka dari itu Rendra tidak bisa datang langsung ke sini, Ri," jelasnya menambah bara pada relung hati yang baru tersulut api.
Rindu mengambil ponsel miliknya di saku celana. Dengan tergesa dan tidak sabaran mencari room chat atas nama suaminya. Dia mengetikkan banyak kata di sana dengan jemari yang gemetar. Air matanya yang sedari tadi berdesakan minta dilepaskan kini meluncur begitu saja mengiringi kata per kata yang ia tulis di layar gawainya.
"Baiklah, Ri. Aku pergi dulu. Sebentar lagi salonnya akan buka." Hesti menyelipkan kartu yang ia pegang ke telapak tangan Rindu. Terlihat jelas perbedaan air muka adik iparnya dari saat awal menatap benda tipis itu. Hal itu sukses membuat Hesti tertawa puas dalam hati.
Bunyi notifikasi ponsel mengalihkan pandangan Rindu dari kartu yang semula ia anggap sebagai harapan kini berubah menjadi kehancuran. Ternyata Rendra langsung membalas pesan darinya. Segera ia membuka chat room karena begitu penasaran jawaban yang Rendra kirimkan padanya.
"Iya, benar. Aku ingin bercerai darimu."
Wanita itu tercekat bukan main. Dunianya seakan berhenti berputar. Detik berikutnya Rindu terduduk begitu saja di kursi tunggu hingga menimbulkan derit berisik dari kursi dan lantai yang bergesekan. Dia masih tak bisa mempercayai apa yang baru saja dibacanya.
Merasa belum puas dengan jawaban yang ia dapat, Rindu mencoba menelepon Rendra detik itu juga. Dia sama sekali tidak memercayai isi pesan itu sebelum mendengar langsung suara Rendra. Benar. Berulang kali Rindu meyakinkan diri bahwa semua isi pesan dari suaminya adalah salah. Semuanya keliru.
"Hallo, Ren? Aku mau bertanya--" Rindu menjauhkan ponselnya karena suara bising dari sebrang sana menyakiti telinga. Sepertinya Rendra sedang berada di luar. Berarti benar apa yang Hesti katakan?
Wanita itu menggeleng cepat tidak mau menerima pikiran yang baru saja mendarat dalam benaknya. "Ren? Aku ingin bertanya tentang surat yang dibawa oleh Kak Hesti. Apa itu benar darimu?!"
Di sebrang sana Rendra malah memanggil-manggil Rindu karena suasana yang memang sangat ramai. Terdengar suara klakson bersahutan dan suara bising knalpot kendaraan.
"Hallo, Ren! Kamu mendengarku?!" Tidak peduli sedang berada di mana. Rindu menaikkan nada suaranya berharap Rendra bisa mendengar.
"Ya, aku masih di sini. Kenapa menelepon, Ri? Ada masalah?"
"Surat yang kamu titipkan pada Kak Hesti, apa benar itu darimu?!" tanyanya ulang. Rindu memainkan ujung atasan yang ia kenakan benar-benar merasa takut akan jawaban Rendra di sebrang sana.
"Iya, benar. Aku menitipkannya pada Kak Hesti. Dia sudah memberikanya padamu, 'kan? Aku sedang sibuk, Ri. Nanti aku kabari lagi."
Rindu semakin merasa sesak karena jawaban itu. Meski panggilan telah terputus, namun tangannya masih setia memegangi ponsel yang diletakkan di telinganya. Hingga perlahan tangannya lemas tak berdaya. Benda pipih miliknya terjatuh begitu saja ke lantai tanpa Rindu acuhkan. Bulir bening yang tadi sempat diseka kini kembali luruh membasahi wajah lelahnya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa pernikahan mereka seharga nominal untuk operasi jantung ibunya?
Rindu segera bangkit dari duduknya. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia memilih pergi sebelum ibunya bangun nanti. Pulang adalah jalan yang harus ditempuh untuk meluruskan semua hal yang terjadi.
Bersambung...