Map itu ditemukan Rindu di bagian paling bawah tasnya di hotel. Ia mengeluarkannya dengan hati-hati, lalu mencocokkan isinya dengan daftar dari Hadi. Beberapa lembar sempat menempel karena terlalu lama terjepit. Rindu memisahkannya tanpa membaca lebih dari yang diperlukan.
Ponsel berdering ketika ia memasukkan dokumen ke tas tangan. Ani hanya ingin memastikan ia sudah sampai.
'Sudah, Bu. Besok sebelum ke bandara aku mampir.'
'Tidak usah membawa sarapan untuk Ibu.'
'Aku tahu. Makan Ibu dari rumah sakit.'
'Yang Ibu maksud, kamu jangan sibuk mengurus Ibu sampai lupa makan sendiri.'
'Iya, Bu.'
Sesudah panggilan itu, Rindu meletakkan sepotong roti di dekat map. Ia makan sambil memeriksa jadwal, kemudian menutup tas sebelum keinginan membatalkan perjalanan kembali muncul.
Pagi berikutnya, ia datang ke rumah sakit dengan koper kecil. Ani menatap koper tersebut, lalu menunjuk kursi.
'Duduk dulu. Kamu terlihat lebih tegang daripada orang yang akan diperiksa.'
'Aku cuma takut ada barang tertinggal.'
'Dokumen?'
'Ada.'
'Ponsel?'
'Ada.'
'Uang?'
Rindu menepuk tasnya. 'Ada, Bu.'
'Kalau begitu jangan mencari alasan untuk membongkar koper lagi.'
Ia duduk. Selama beberapa menit mereka membicarakan hal-hal kecil, termasuk pakaian yang Ani ingin dipakai setelah kondisinya cukup baik untuk pulang. Rindu tidak menjanjikan tanggal. Ia hanya berjanji akan menyimpan pakaian itu di tempat yang mudah ditemukan.
Sebelum pergi, ia memastikan kembali bahwa jadwal perjalanannya sudah diketahui tim perawatan. Kepada Ani, ia menunjukkan pesan berisi nomor yang bisa dihubungi.
'Aku menelepon setelah mendarat.'
'Dan setelah urusanmu besok.'
'Iya.'
Ani meraih tangannya. 'Jangan bertengkar.'
Rindu tidak bertanya dengan siapa. Ia mencium tangan ibunya, lalu berjalan keluar sambil menarik koper. Baru ketika pintu lift tertutup, ia membiarkan bahunya turun.
***
Jakarta menyambutnya dengan udara panas dan suara kendaraan yang terasa terlalu dekat. Seusai mengambil barang, Rindu menghubungi Ani dari tempat yang tidak terlalu ramai.
'Aku sudah sampai, Bu.'
'Langsung makan dulu.'
'Aku mau ke hotel, setelah itu bertemu Pak Hadi.'
'Jangan sampai makan menjadi rencana yang terus dipindahkan.'
Rindu tersenyum. 'Aku pesan makanan di hotel.'
Ia menepati janji itu. Setelah menitipkan koper di kamar, ia makan, mengganti pakaian, lalu memesan kendaraan untuk menemui Hadi. Map diletakkan di pangkuannya sepanjang perjalanan.
Saat melewati sebuah persimpangan yang dikenalnya, ia hampir menyebut arah ke rumah lama. Bibirnya sudah terbuka sebelum ia ingat rumah itu kini ditempati Ridwan dan Sarah.
Alamat tujuan di layar ponsel tidak berubah. Rindu membiarkan kendaraan melaju.
Hadi menyambutnya dengan pertanyaan tentang perjalanan dan kondisi Ani. Setelah itu, percakapan segera beralih pada berkas. Sikapnya yang tenang membuat Rindu bersyukur. Ia tidak perlu menjelaskan wajah lelahnya atau berpura-pura senang kembali ke kota ini.
'Ini yang asli, Pak.'
'Baik. Anda simpan kembali setelah saya cocokkan.'
Rindu memperhatikan Hadi memeriksa lembar demi lembar. Ada bagian yang perlu ditanyakan, ada salinan yang disisihkan, tetapi tak satu pun mengubah kenyataan bahwa ia datang sebagai perempuan yang pernikahannya sudah berakhir.
'Besok kita bertemu di sana sesuai waktu yang sudah saya kirim,' kata Hadi.
'Apakah ada hal lain yang harus saya siapkan?'
'Untuk keperluan dokumen Anda, ini cukup. Bila ada penjelasan tambahan yang dibutuhkan, kita tanyakan langsung.'
Rindu menutup map.
'Pak, kalau Rendra ingin bicara, saya boleh langsung pergi?'
Hadi mengangkat pandangan. 'Tentu. Anda boleh menetapkan batas percakapan.'
'Saya takut terlihat seperti sengaja membuat masalah.'
'Menolak percakapan pribadi bukan berarti membuat masalah.'
Rindu mengusap bagian map yang terlipat. Ia pernah terbiasa mengukur setiap penolakan berdasarkan reaksi Rendra. Kini ia harus belajar bahwa wajah kecewa lelaki itu tidak selalu menjadi sesuatu yang wajib diperbaikinya.
'Saya hanya ingin mengambil berkas dan kembali ke Ibu.'
'Pegang tujuan itu. Anda tidak perlu memberi keputusan lain besok.'
Sebelum berpisah, Rindu mengulang waktu pertemuan agar tidak keliru. Hadi menunggu sampai ia menyimpan dokumen dengan benar, lalu mengantarnya ke pintu.
Di luar, Rindu membuka percakapan dengan Sarah. Ia mengetik kabar bahwa dirinya berada di Jakarta selama dua malam dan ingin menyampaikan terima kasih sekali lagi atas bantuan mereka dahulu.
Balasan belum masuk ketika kendaraan pesanannya tiba. Ia memasukkan ponsel ke tas tanpa menganggap diam itu sebagai penolakan.
***
Pada sore yang sama, Rendra menerima penjelasan Dina mengenai jadwal pengambilan dokumennya sendiri. Ia berdiri dekat meja kerja, dengan berkas perusahaan masih terbuka.
'Besok saya datang,' katanya.
'Baik. Jangan tertukar dengan berkas permohonan bank. Itu urusan berbeda dan belum ada keputusan.'
'Saya tidak mencampurkannya.'
Dina menatap tumpukan di meja. 'Saya mengingatkan karena Anda sedang mengerjakan terlalu banyak hal sekaligus.'
Rendra menutup berkas perusahaan. 'Untuk yang besok, saya ingin mengurus sendiri.'
'Silakan. Saya pastikan informasi yang Anda perlukan sudah dikirim.'
Ia sempat ingin bertanya apakah Rindu juga akan datang. Pertanyaan itu berhenti sebelum keluar. Dina sedang membantu urusannya, bukan menjadi jalan untuk mencari jadwal perempuan yang telah meminta waktu.
Setelah Dina pergi, Rendra mengambil tas pribadinya. Amplop sisa uang dari Hesti masih berada di bagian dalam, terpisah dari kebutuhan kerja.
Ia membuka lipatannya, memeriksa isinya, lalu menutup kembali. Uang itu sangat sedikit dibanding jumlah yang semula disiapkan untuk Ani. Bahkan jika seluruhnya dikembalikan, tuduhan yang pernah ia lemparkan tetap tidak bisa ditarik seperti lembaran uang dari sebuah dompet.
Ponselnya menampilkan nama Rindu ketika ia membuka percakapan lama.
Ia tidak mengetik permintaan bertemu. Sebagai gantinya, ia memasukkan amplop ke saku dalam tas yang akan dibawa besok. Jika ada kesempatan yang memang diperbolehkan, ia ingin menyerahkannya. Jika tidak, uang itu tetap harus disimpan.
Malamnya, Rindu kembali ke hotel tanpa melihat Rendra. Ia menelepon Ani, memeriksa jadwal pagi, lalu meletakkan map di atas meja kecil dekat pintu.
Pesan Sarah akhirnya muncul.
'Mbak Rindu, besok setelah urusan berkas, mampir makan bersama kami, ya. Mas Ridwan juga ingin mendengar kabar Ibu Ani.'
Rindu membaca pesan itu dua kali. Kembali ke rumah yang telah dijualnya bukan hal yang ia persiapkan ketika membeli tiket.
Ia mengetik, 'Saya kabari setelah dari pengadilan, Mbak.'
Sesudah mengirimkannya, Rindu memasang alarm. Di bawah jam yang dipilihnya, ia menambahkan satu pengingat pendek.
Bertemu Pak Hadi di depan pengadilan.