'Saya perlu memastikan Ibu bisa ditinggal sebentar, Pak. Kalau memungkinkan, saya berangkat besok.'
Rindu menjawab sambil tetap menatap pintu kamar Ani. Di balik kaca kecilnya, ibunya terlihat sedang menarik selimut sampai ke pinggang. Gerakan sederhana itu membuat keinginan untuk mengatakan bisa terasa seperti sebuah kesalahan.
'Jangan memaksakan jadwal sebelum Anda berbicara dengan pihak rumah sakit,' kata Hadi. 'Saya akan menyesuaikan waktu pertemuan kita. Yang penting, Anda membawa berkas yang sudah saya sebutkan.'
'Apakah saya harus bertemu Rendra?'
Pertanyaan itu akhirnya keluar. Rindu menurunkan suara, meskipun tak seorang pun berdiri cukup dekat untuk mendengarnya.
'Saya tidak mengatur pertemuan pribadi dengan beliau. Kepentingan Anda adalah mengambil dokumen Anda sendiri.'
'Kalau ternyata kami bertemu di sana?'
'Anda tidak berkewajiban membicarakan apa pun di luar urusan yang ingin Anda bicarakan.'
Rindu mengusap sudut map yang dibawanya sejak keluar kamar. Di dalamnya ada catatan pemeriksaan Ani, bukan berkas perceraiannya. Namun, kedua urusan itu seperti saling berebut tempat di tangannya.
'Saya akan menghubungi Bapak lagi setelah mendapat kepastian.'
'Baik, Bu Rindu. Saya kirimkan daftar berkas agar tidak ada yang tertinggal.'
Panggilan berakhir. Rindu belum segera kembali ke kamar. Ia membuka pesan Hadi, membaca daftar singkat itu, lalu menutup layar ketika bayangan wajahnya sendiri muncul di permukaan ponsel.
Dahulu ia membayangkan dokumen pernikahan sebagai sesuatu yang disimpan sampai tua. Sekarang ada dokumen lain yang harus diambil, sementara perempuan yang paling berhak mendengar kabarnya masih menunggu di balik pintu.
Rindu masuk dan menaruh ponsel di meja.
'Dari siapa, Ri?'
'Pak Hadi, Bu. Ada berkas di Jakarta yang perlu aku urus.'
Ani memandangnya lebih lama.
'Pengacara yang waktu itu?'
'Iya.'
'Berkas apa?'
Rindu menarik kursi. Ia tidak ingin menjawab sambil berdiri, seolah pertanyaan ibunya hanya sesuatu yang bisa dilewati.
'Dokumen pribadi yang belum kuambil. Aku perlu datang sebentar.'
Ani merapikan ujung selimut dengan kedua tangan. Rindu hampir berharap ibunya akan melarang. Larangan itu akan memberi alasan untuk menunda tanpa harus mengakui bahwa ia sendiri takut pulang.
'Berapa lama?' tanya Ani.
'Dua malam, kalau semuanya sesuai rencana. Tapi aku belum membeli tiket. Aku mau bicara dengan dokter dulu.'
'Ibu bukan melarang kamu mengurus keperluanmu.'
'Aku tahu.'
'Jangan bilang tahu kalau wajahmu seperti anak yang baru memecahkan gelas.'
Rindu tersenyum tipis, kemudian menunduk. Ani mengulurkan tangan. Ia menyambutnya dengan kedua telapak, merasakan jari ibunya yang lebih kurus daripada sebelum mereka berangkat.
'Aku khawatir kalau Ibu butuh sesuatu.'
'Kalau Ibu butuh kamu, Ibu akan menelepon.'
'Kalau aku sedang di pesawat?'
'Berarti Ibu minta bantuan orang di sini sampai kamu bisa dihubungi lagi.'
Jawaban itu terdengar praktis. Justru karena itulah tenggorokan Rindu terasa sempit. Ani sedang berusaha membuat kepergiannya mudah, sedangkan ia bahkan belum sanggup menjelaskan alasan sebenarnya.
***
Menjelang petang, Rindu mendapat kesempatan berbicara dengan Dokter Adrian di luar kamar. Ia menjelaskan rencana pergi, perkiraan kepulangan, serta kekhawatirannya tanpa menyebut urusan perceraian.
'Apakah ada pemeriksaan yang mengharuskan saya berada di sini besok atau lusa, Dok?'
'Kita akan mengatur komunikasi sesuai kebutuhan perawatan ibu Anda. Pastikan nomor Anda aktif setelah perjalanan dan beri tahu petugas waktu Anda tidak bisa menerima panggilan.'
'Saya tidak mau kepergian saya menghambat apa pun.'
'Karena itu jadwalnya perlu dicatat. Bila ada perubahan kondisi atau rencana, kami akan menghubungi Anda.'
Rindu meminta penjelasan sekali lagi tentang siapa yang bisa dihubunginya dari Jakarta. Ia mencatat nomor yang diberikan, memastikan tim perawatan mengetahui perkiraan waktu penerbangannya, lalu kembali menemui Ani.
Tidak ada janji bahwa semuanya akan berjalan tanpa perubahan. Namun, setidaknya ia tidak lagi merencanakan perjalanan dengan mengandalkan harapan saja.
Di kamar, Ani menunjuk tas kecil di kursi.
'Kamu sudah bawa pakaian untuk pulang?'
'Masih di hotel. Nanti aku mengambilnya.'
'Jangan bawa terlalu banyak. Kamu sendiri yang bilang cuma sebentar.'
'Aku juga harus mengambil map.'
Ani tidak langsung menjawab. Matanya beralih ke ponsel Rindu ketika pesan Hadi masuk lagi.
'Rendra tahu kamu pulang?'
'Belum.'
'Kamu tidak memberitahunya?'
Rindu menahan gerakan tangan yang hendak memasukkan ponsel ke saku.
'Aku akan mengurus jadwalku dulu, Bu.'
Ani menghela napas pendek. 'Kalian ini kalau sedang punya masalah, sama-sama pandai membuat orang lain menunggu.'
Rindu menerima kalimat itu tanpa membela diri. Ada bagian dari keadaan mereka yang tidak mungkin dipahami Ani selama ia sendiri hanya memberikan potongan-potongan kecil.
'Aku tidak ingin Ibu memikirkan urusanku sekarang.'
'Memikirkan anak tidak perlu menunggu badan sehat.'
'Aku tahu. Nanti aku cerita.'
Janji itu membuat Ani terdiam. Rindu menyadari ia tidak boleh terus memperpanjang arti nanti, tetapi malam ini belum ada keberanian yang cukup untuk memenuhi kata tersebut.
Ia membantu menata barang yang biasa diperlukan Ani agar mudah dijangkau. Ponsel diletakkan di sisi yang paling dekat. Pengisi dayanya diperiksa. Pakaian dipisahkan menurut kebutuhan, lalu Rindu berhenti ketika ibunya menahan pergelangannya.
'Kalau kamu memindahkan semuanya, Ibu malah tidak tahu letaknya.'
'Maaf.'
'Tunjukkan saja. Jangan membuat kamar ini seperti koper.'
Mereka memeriksa barang bersama. Ani mengulangi letak beberapa benda dengan nada sengaja dibuat serius, sampai Rindu tertawa kecil. Tawa itu singkat, tetapi cukup untuk membuat persiapan tidak seluruhnya terasa seperti perpisahan.
Setelah memastikan jadwal yang mungkin, Rindu memesan penerbangan dan kamar hotel di Jakarta. Ia memilih hotel yang pernah ditempatinya karena sudah mengenal lokasinya. Dua malam. Tidak lebih, kecuali urusan yang tak terduga menahannya.
Hadi menerima pesan konfirmasi keberangkatannya dan menawarkan pertemuan pada sore berikutnya untuk memeriksa kelengkapan dokumen.
Rindu menuliskan persetujuan. Kemudian ia membuka percakapan dengan Rendra.
Pesan terakhir lelaki itu masih sama. Ia mengerti. Rindu membaca dua kata tersebut, lalu keluar tanpa mengetik kabar perjalanan.
'Ada yang belum beres?' tanya Ani.
'Tinggal menyiapkan barang di hotel.'
'Kalau begitu pergi sekarang. Jangan terlalu malam.'
Rindu berdiri, tetapi Ani memanggil sebelum ia mencapai pintu.
'Ri.'
'Iya, Bu?'
'Pulang ke Jakarta bukan berarti kamu harus mengerjakan semuanya sendirian.'
Rindu menggenggam tali tasnya. Ia ingin menjawab bahwa justru itulah hal yang sedang dipelajarinya, tetapi hanya berkata, 'Kalau perlu bantuan, aku akan minta.'
Di luar kamar, ia mengirimkan jadwal penerbangan kepada Hadi. Balasan datang sebelum ia mencapai lift.
'Saya tunggu besok sore. Bawa juga dokumen asli yang Anda simpan terpisah.'
Rindu menekan tombol lift, kemudian membuka daftar barang di ponselnya. Di baris paling atas, ia menambahkan map yang selama ini enggan disentuh.