'Aku tetap tinggal di hotel, Bu,' jawab Rendra.
Wina menatapnya dengan wajah yang perlahan mengeras.
'Setelah Ibu boleh pulang pun kamu masih memilih pergi?'
'Aku akan mengantar dan memastikan keperluan Ibu sudah siap. Aku juga akan datang menjenguk.'
'Itu rumahmu.'
'Aku tahu. Tapi untuk sekarang aku tidak akan tinggal di sana.'
Hesti memalingkan wajah, seolah jawaban itu sudah lama diduganya. Namun, Wina masih menunggu Rendra menarik kembali ucapannya.
'Kamu ingin Ibu memohon lagi?'
'Jangan begitu, Bu. Aku tidak meminta Ibu memohon.'
'Lalu apa yang kamu minta?'
Rendra terdiam. Ada banyak jawaban yang bisa dikeluarkannya, tetapi semuanya akan membawa mereka pada perdebatan yang tidak patut dipanjangkan di ruang perawatan.
'Besok kita urus kepulangan Ibu dulu.'
Wina membuang pandangan ke arah jendela. Rendra tetap tinggal sampai keperluan malam ibunya dipastikan, kemudian kembali ke hotel. Ia tidak membawa koper keluar dari kamar, tidak pula memindahkan pakaian ke dalam tas untuk pulang.
Keputusannya bukan ancaman agar Wina menuruti sesuatu.
Justru karena itulah ia harus menjalankannya tanpa menunggu ibunya menyerah.
***
Keesokan siangnya, sesudah Doni memastikan Wina boleh pulang dan penjelasan perawatan lanjutan diberikan, Rendra membantu mengurus kepulangan ibunya. Hesti membawa tas pakaian, sedangkan Rendra memastikan barang yang perlu dibawa tidak tertinggal.
Kendaraan yang dipesannya sudah menunggu.
Wina menatap mobil itu, lalu melihat putranya.
'Jadi mobilmu benar-benar sudah dijual?'
'Iya, Bu.'
Wina tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia dibantu masuk dan duduk dengan nyaman sebelum Hesti menyusul. Sepanjang perjalanan, ketiganya lebih banyak diam.
Rendra memperhatikan jalan yang biasa dilaluinya dari kursi yang berbeda. Ia tidak lagi memegang kemudi, dan bunyi kendaraan di luar terasa lebih jelas karena tidak ada percakapan yang menutupinya.
Ketika mereka tiba, Bi Darmi sudah menunggu di depan rumah. Wajah wanita itu berubah lega melihat Wina turun.
'Syukurlah Ibu sudah pulang.'
Wina memberikan jawaban singkat, lebih sibuk memandangi rumah yang ditinggalkannya sejak hari perceraian Rendra. Tidak ada yang berubah banyak. Pot tanaman masih di tempat semula, pintu masih berwarna sama, dan langkahnya masih disambut seperti seorang pemilik.
Hanya putranya yang berdiri di belakang tanpa koper.
Rendra membantu memastikan Wina nyaman beristirahat. Ia menyerahkan penjelasan keperluan sehari-hari kepada Hesti dan Bi Darmi, lalu meminta kakaknya tetap mendampingi ibunya sesuai kebutuhan.
'Jangan semuanya diserahkan kepada Bibi,' katanya.
'Aku tahu,' jawab Hesti ketus.
Bi Darmi menunduk dan membawa tas pakaian ke kamar. Rendra tidak mengikutinya. Ia berdiri di ruang tengah, menatap tempat yang pernah dipenuhi perdebatan tentang kehidupan orang lain.
Wina memanggilnya sebelum ia memesan kendaraan untuk pergi.
'Duduk sebentar, Ren.'
***
Rendra mengambil tempat di hadapan ibunya. Hesti tetap berada di ruangan, duduk dengan kedua tangan terlipat.
'Ibu tidak suka keluarga ini jadi begini,' kata Wina.
'Aku juga tidak, Bu.'
'Dulu kamu tidak pernah membantah seperti sekarang.'
'Dulu aku terlalu sering membiarkan sesuatu yang sebenarnya salah.'
Wina menatapnya tajam.
'Kamu selalu bicara seolah Ibu tidak pernah melakukan hal baik.'
'Aku tidak mengatakan itu.'
'Tapi setiap kali bicara, ujungnya Ibu dan Hesti yang salah.'
Rendra menahan napas. Ia tidak ingin menghitung seluruh kebaikan Wina lalu menjadikannya alasan untuk menghapus semua yang menyakitkan.
'Ibu tetap ibuku. Aku menyayangi Ibu. Itu tidak berarti yang terjadi kepada Rindu boleh dianggap tidak ada.'
Hesti mendengus.
'Baru juga Ibu pulang, sudah menyebut dia lagi.'
'Karena Ibu bertanya kenapa keluarga ini berubah.'
Wina mengusap ujung lengan bajunya, lalu berbicara dengan nada lebih dingin.
'Rindu juga keras kepala. Kalau dia mau mendengar, semuanya tidak akan sampai sejauh ini.'
'Dia sudah menjelaskan. Aku yang tidak mendengar.'
'Dan sekarang kamu ingin Ibu mengatakan apa?'
Rendra menatap wajah ibunya.
'Mengakui bahwa yang dilakukan kepada Rindu itu salah. Meminta maaf bukan karena ingin aku kembali tinggal di sini, tetapi karena Ibu memang menyakitinya.'
Wina langsung menggeleng.
'Ibu tidak akan merendahkan diri di hadapannya.'
Kalimat itu membuat ruangan menjadi sunyi.
Rendra menunggu, berharap mungkin Wina akan memperbaiki ucapannya sendiri. Namun, ibunya justru menegakkan punggung, mempertahankan sesuatu yang dianggapnya harga diri.
'Ibu sudah sakit seperti ini. Apa dia datang menjenguk?'
'Rindu tidak tahu Ibu dirawat.'
'Kalau peduli kepada keluarga ini, seharusnya dia mencari tahu.'
Rendra memejam sebentar. Bahkan ketidaktahuan Rindu bisa diubah menjadi kesalahan lain.
'Aku tidak akan meminta dia datang hanya supaya Ibu merasa pantas dimaafkan.'
'Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,' kata Wina.
Rendra berdiri perlahan.
'Aku akan menghubungi lagi untuk menanyakan keadaan Ibu.'
Wina tidak menjawab. Hesti menatapnya dengan kemarahan yang belum mereda sejak pencopotan kemarin. Rendra berpamitan kepada Bi Darmi, lalu keluar tanpa mengambil satu pun barang untuk dibawa kembali ke rumah.
***
Sore itu, Rendra kembali ke kamar hotel. Ia meletakkan tas di meja, membuka jendela sedikit, lalu duduk di tepi ranjang. Ponselnya tidak dipakai untuk meminta Rindu mendengar pertengkaran yang baru terjadi.
Ia hanya memastikan pesan tentang jadwal perawatan Wina telah diterima Hesti, kemudian memeriksa pekerjaan yang menunggu. Permohonan kepada bank masih belum diputuskan. Sisa gaji masih harus dibayar. Kesulitan itu tidak lenyap hanya karena ia telah mengatakan tidak kepada ibunya.
Pada sore yang sama di Singapura, Rindu sedang merapikan barang di samping tempat tidur Ani ketika ponselnya berdering. Nama Hadi Handoko muncul di layar.
Ia memberi tahu ibunya bahwa ada panggilan yang perlu dijawab, lalu melangkah ke luar kamar.
'Selamat sore, Pak.'
'Selamat sore, Bu Rindu. Saya ingin membicarakan kelanjutan urusan akta cerai Anda.'
Rindu berhenti di dekat jendela. Suasana rumah sakit tetap bergerak di sekelilingnya, tetapi kata-kata itu membuatnya merasa seperti kembali duduk di ruang pengadilan.
'Sudah ada kabar, Pak?'
'Ada keperluan yang sebaiknya kita urus bersama di Jakarta. Saya akan menjelaskan jadwalnya agar Anda bisa menyesuaikan dengan pendampingan ibu Anda.'
Rindu menoleh ke pintu kamar Ani.
Ia masih menyembunyikan perpisahan yang sudah sah itu dari ibunya, tetapi pengurusan berkasnya tidak bisa selamanya ditunda.
Di seberang, Hadi menunggu sebentar sebelum bertanya.
'Apakah Anda bisa kembali ke Jakarta dalam beberapa hari ini?'