'Jangan menutup telepon dulu,' desak Hesti. 'Kamu mau membicarakan jabatanku untuk apa?'
'Karena ada perubahan tanggung jawab yang harus kusampaikan.'
'Perubahan atau kamu ingin menyingkirkan aku?'
Rendra menarik napas. Ia tahu setiap penjelasan di telepon akan berubah menjadi perdebatan tanpa ujung.
'Aku akan menjelaskan di kantor. Kita perlu melihat pekerjaan yang harus diserahkan, bukan hanya saling meninggikan suara.'
Hesti tidak langsung menjawab. Kemudian terdengar tawanya yang pendek dan sinis.
'Baik. Aku datang. Jangan sampai kamu menyesali keputusanmu.'
Panggilan berakhir.
Rendra menatap dokumen di meja, lalu memeriksanya sekali lagi. Ia mencoret kalimat yang terdengar seperti luapan kekesalan dan mempertahankan bagian yang berkaitan dengan tugas, wewenang, serta pekerjaan yang harus dialihkan. Hak pembayaran yang masih tercatat tidak dihapus hanya karena hubungan mereka buruk.
Malam itu ia menemui Wina sebelum kembali ke hotel. Ia tidak meminta izin kepada ibunya untuk mengambil keputusan pekerjaan. Ia hanya memastikan kebutuhan perawatan telah dipenuhi dan menyepakati giliran menemani esok hari.
***
Keesokan paginya, Hesti masuk ke ruangan Rendra tanpa mengetuk. Wajahnya telah menyimpan kemarahan bahkan sebelum melihat dokumen di atas meja.
'Jadi ini?' tanyanya, menunjuk kertas tersebut.
'Duduk dulu, Kak.'
'Aku lebih suka berdiri.'
'Baik.'
Rendra menggeser dokumen agar dapat dibaca, lalu menjelaskan dengan suara yang dipaksakan tetap tenang.
'Mulai hari ini Kakak tidak lagi memegang posisi yang dahulu diserahkan dari Rindu. Tanggung jawab itu akan kuambil alih sementara, lalu diatur kembali sesuai kebutuhan perusahaan.'
Hesti membeku.
Ia telah menduga hal itu, tetapi mendengar kalimatnya diucapkan secara resmi tetap membuat wajahnya panas.
'Kamu mencopotku?'
'Iya.'
'Karena Rindu?'
'Karena pekerjaan yang tidak ditangani sebagaimana mestinya.'
'Jangan bohong!'
Hesti memukul meja dengan telapak tangan. Bunyi itu membuat Rendra terdiam sesaat, tetapi ia tidak ikut berdiri atau membalas.
'Kakak tahu aku berkali-kali harus mengambil alih tugas yang seharusnya sudah dibereskan. Ini bukan kejadian kemarin saja.'
'Kamu memang pemimpin perusahaan. Memangnya salah kalau kamu ikut mengurus?'
'Ikut mengurus berbeda dengan selalu menutupi pekerjaan yang ditinggalkan.'
Hesti mengambil dokumen dan membacanya dengan cepat. Matanya bergerak dari satu bagian ke bagian lain, berhenti ketika melihat bahwa ia harus menyerahkan kembali urusan yang masih berada dalam tanggung jawabnya.
'Jadi setelah aku membantu keluarga ini, kamu memperlakukanku seperti orang yang tidak berguna?'
'Aku tidak mengatakan hidup Kakak tidak berguna.'
'Tapi kamu mencabut pekerjaanku!'
'Aku mencabut tanggung jawab jabatan ini karena aku tidak bisa mempertahankannya dengan alasan keluarga.'
Hesti tertawa getir.
'Kalau yang duduk di sini masih Rindu, kamu tidak akan melakukan ini.'
Rendra merasakan nama itu menghantamnya lagi.
'Dulu aku justru meminta Rindu melepaskan pekerjaannya supaya Kakak mendapat kesempatan.'
'Dan sekarang kamu ingin mengembalikannya kepada dia?'
'Rindu tidak sedang meminta pekerjaan ini. Dia juga tidak tahu pembicaraan kita.'
'Jangan memakai itu untuk membuatku merasa bersalah.'
Rendra menatap kakaknya, merasa lelah sampai ke tulang.
'Aku tidak bisa terus menunda keputusan hanya karena Kakak akan marah.'
Hesti melemparkan kertas kembali ke meja. Ia menunjuk bagian pembayaran yang masih tercatat.
'Ini juga mau kamu hilangkan?'
'Tidak. Yang memang menjadi hak Kakak tetap dicatat dan diselesaikan sesuai kemampuan serta kewajiban perusahaan. Pencopotan ini bukan alasan menghapusnya.'
'Jadi kamu masih berutang kepadaku.'
'Iya. Dan itu tidak membuat keputusan jabatan ini berubah.'
Hesti menarik kursi dengan kasar, akhirnya duduk juga. Untuk beberapa saat ia memandang sekeliling ruangan, seolah baru menyadari tempat yang selama ini dianggap pasti memihaknya ternyata bisa menolak.
Rendra menunggu. Ia tidak membutuhkan Hesti menandatangani dengan senyum atau mengucapkan terima kasih karena telah diberi kesempatan.
'Apa yang harus kuserahkan?' tanya Hesti dengan suara dingin.
Sebelum Rendra menjawab, Hesti menambahkan, 'Kamu sudah memberi tahu semua orang?'
'Belum. Mereka akan diberi tahu tentang perubahan tanggung jawab, bukan pertengkaran kita.'
'Mereka tetap akan membicarakanku.'
'Aku tidak bisa mengatur pikiran mereka. Tapi aku tidak akan menjadikan urusan pribadi Kakak bahan pengumuman.'
Hesti menatap pintu. Untuk sesaat Rendra melihat ketakutan di balik sikap angkuhnya, ketakutan kehilangan tempat yang selama ini memberinya alasan merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ia tidak mengejeknya, tetapi juga tidak menawarkan kembali jabatan itu hanya supaya kakaknya berhenti terlihat terluka.
'Barang pribadiku?'
'Tetap milik Kakak. Yang kita bicarakan di sini pekerjaan perusahaan.'
Rendra menunjukkan daftar pekerjaan dan berkas yang terkait. Mereka membicarakannya satu per satu, lebih banyak dengan bantahan daripada persetujuan. Namun, pembicaraan itu tetap berlangsung.
Ketika Hesti berdiri untuk pergi, dokumen keputusan sudah berada di tangannya.
'Aku akan memberi tahu Ibu.'
'Silakan. Aku juga akan menjelaskannya langsung.'
Hesti keluar sambil membanting pintu. Rendra tidak mengejarnya untuk meminta kakaknya memahami. Ia hanya merapikan kertas yang bergeser, lalu menarik kursi mendekat ke meja.
Kursi Hesti tidak lagi dipertahankan karena rasa takut.
***
Sore hari, Rendra tiba di rumah sakit dan langsung disambut tatapan tajam Wina. Hesti duduk di samping ranjang dengan wajah yang jelas telah selesai menceritakan versinya.
'Kamu mencopot kakakmu saat keluarga sedang begini?' tanya Wina.
'Aku mengambil keputusan pekerjaan, Bu.'
'Dia kakakmu.'
'Aku tahu.'
'Berarti kamu juga harus tahu mempermalukannya sama saja mempermalukan Ibu.'
Rendra berdiri di sisi ranjang. Ia ingin mengatakan bahwa para karyawan juga mempunyai keluarga, bahwa keputusan selalu ditunda sampai yang menanggung akibatnya justru orang lain. Namun, Doni datang sebelum percakapan berubah semakin keras.
Setelah memeriksa Wina dan mendengarkan keluhannya, Doni menjelaskan bahwa kondisinya cukup membaik untuk direncanakan pulang esok hari, dengan perawatan lanjutan sesuai arahan yang akan diberikan.
Hesti segera menegakkan tubuh.
'Besok sudah boleh pulang, Dok?'
'Jika keadaan tetap seperti sekarang. Saya akan memeriksa kembali sebelum kepulangan dipastikan.'
Wina tampak lega. Rumah berarti kamar sendiri, barang-barang sendiri, dan tempat yang selama ini membuatnya merasa masih mempunyai kendali.
Rendra menanyakan keperluan yang harus disiapkan. Ia mendengarkan, mencatat, dan tidak menganggap rencana pulang sebagai tanda bahwa ibunya sudah boleh kembali melakukan semua hal seperti biasa.
Sesudah Doni pergi, Wina memandang putranya.
'Kamu dengar. Besok kita pulang.'
Rendra menutup buku catatannya.
'Aku akan menyiapkan kendaraan dan mengantar Ibu.'
'Pulang bersama, Ren,' tekan Wina. 'Jangan hanya mengantar.'