Keesokan paginya, Rendra membawa keadaan yang sebenarnya itu ke hadapan pihak bank. Ia datang bersama Dina menggunakan kendaraan pesanan, dengan map berisi catatan perusahaan diletakkan di pangkuan sepanjang perjalanan.
Di ruang pertemuan, Ratih, petugas bank yang menerima mereka, mempersilakan keduanya duduk. Perempuan itu telah membaca sebagian keterangan yang disampaikan sebelumnya, tetapi tetap meminta Rendra menjelaskan sendiri tujuan kedatangannya.
'Saya ingin mengajukan keringanan atas tunggakan perusahaan,' kata Rendra. 'Kemampuan pembayaran kami menurun, dan saya tidak ingin terus memberikan janji tanpa dasar.'
Ratih membuka dokumen di depannya.
'Apakah ada dana baru yang akan masuk dalam waktu dekat?'
Rendra terdiam sebentar. Nama Pranoto hampir muncul dari kebiasaan lama, sebagai kemungkinan yang dulu diperlakukan seperti kepastian. Ia menahan diri.
'Janji bantuan yang sebelumnya kami harapkan sudah tidak berlaku.'
'Jadi angka itu tidak bisa dimasukkan sebagai sumber pembayaran.'
'Benar.'
Dina menambahkan penjelasan tentang berkas yang mereka bawa, lalu kembali memberi ruang kepada Rendra untuk menjawab. Ia tidak mengambil alih seolah kliennya hanya perlu hadir dan menandatangani.
Ratih menanyakan penggunaan dana yang baru diterima dari penjualan barang pribadi.
'Sebagian tunggakan gaji sudah dibayarkan,' jawab Rendra. 'Belum seluruhnya.'
'Bagaimana rencana pembayaran kewajiban lainnya?'
'Itu yang ingin saya bicarakan. Saya memerlukan susunan yang sesuai kemampuan perusahaan, bukan sekadar menunda dengan tanggal yang tidak bisa dipenuhi.'
Ratih menatapnya beberapa saat.
'Kami bisa menerima permohonan dan menelaah dokumennya. Tetapi saya tidak bisa menjanjikan persetujuan hari ini.'
Rendra mengeratkan tangannya di bawah meja.
'Apakah selama ditelaah semua kewajiban berhenti?'
'Tidak. Pengajuan ini tidak menghapus tunggakan. Ketentuan yang sedang berlaku tetap perlu diperhatikan sampai ada keputusan yang jelas.'
Dina mengangguk kecil, lalu meminta penjelasan tentang kelengkapan yang masih diperlukan. Rendra mencatat, sesekali bertanya ketika menemukan istilah yang tidak ingin dipahaminya hanya setengah.
Ia merasa kecil duduk di ruangan itu. Dulu ia lebih suka datang membawa rencana yang terlihat menjanjikan, bukan mengakui bahwa perusahaan keluarganya kesulitan membayar. Namun, Ratih tidak memperlakukannya sebagai seseorang yang perlu dipermalukan. Ia hanya tidak membiarkan rasa kasihan menggantikan keterangan yang dibutuhkan.
'Siapa yang bertanggung jawab memastikan informasi dan keputusan perusahaan tidak saling bertentangan?' tanya Ratih.
'Saya.'
'Berarti kami memerlukan penjelasan yang konsisten dari Anda. Jangan sampai satu bagian menjanjikan pembayaran sementara catatannya menunjukkan hal lain.'
Rendra mengingat percakapan-percakapan di rumah, ketika harapan Wina dan Hesti sering berubah menjadi kepastian sebelum ia sempat menghitung akibatnya.
'Saya akan menanganinya langsung.'
'Baik. Lengkapi yang masih kurang. Sesudah itu permohonan dapat ditelaah lebih lanjut.'
Pertemuan berakhir tanpa ucapan bahwa semua akan segera baik. Rendra keluar dengan daftar pekerjaan tambahan, bukan surat yang menghapus masalah.
Namun, kali ini ia tidak bisa mengatakan tidak tahu apa yang harus dihadapi.
***
Di luar ruang pertemuan, Dina berhenti untuk merapikan map.
'Anda kecewa?' tanyanya.
'Saya berharap ada jawaban yang bisa langsung dibawa pulang.'
'Ada jawaban. Permohonan diterima untuk ditelaah, bukan disetujui. Itu dua hal yang berbeda.'
Rendra menarik napas.
'Saya paham.'
'Pastikan keluarga Anda juga mendengar kalimat yang sama.'
Rendra hampir tersenyum, tetapi tidak jadi. Ia tahu betapa mudah kata sedang diurus akan berubah menjadi sudah aman ketika sampai kepada Wina atau Hesti.
Mereka kembali ke kantor. Di perjalanan, Rendra menghubungi Hesti untuk menanyakan keadaan ibunya. Kakaknya menjawab bahwa Wina sedang beristirahat, lalu segera bertanya tentang hasil pertemuan.
'Masih ditelaah.'
'Berarti ada keringanan?'
'Belum ada keputusan.'
'Tapi kamu datang bersama pengacara. Tidak ada hasil sama sekali?'
Dina duduk di sebelahnya, mendengar sebagian percakapan tanpa menyela.
'Ada kelengkapan yang harus kuberikan. Aku akan mengurusnya.'
'Jadi kita masih harus menunggu?'
'Iya. Jangan bilang kepada Ibu bahwa bank sudah menyetujui.'
Hesti mendengus dan mengakhiri percakapan setelah mengatakan akan pulang sebentar untuk berganti pakaian.
Rendra menurunkan ponsel.
'Itu yang tadi Anda maksud,' katanya kepada Dina.
Dina hanya membenarkan. Ia tidak memberi komentar tentang keluarga Rendra, tetapi membuka kembali catatan yang perlu diselesaikan.
***
Menjelang sore, meja kerja Rendra dipenuhi berkas. Dina membantu menandai bagian yang perlu diperjelas, sementara Rendra memeriksa catatan tugas yang beberapa kali tertunda karena ia selalu mengambil alih persoalan yang seharusnya ditangani Hesti.
Ia berhenti pada satu rangkaian pekerjaan yang dahulu berada di tangan Rindu.
Rindu bukan pegawai yang tidak pernah keliru. Ada masa ketika ia pulang lelah atau perlu memperbaiki sesuatu. Namun, Rendra ingat bagaimana perempuan itu menyampaikan masalah sebelum berubah menjadi beban orang lain.
Kemudian ia memberikan posisi itu kepada Hesti dengan alasan kakaknya perlu belajar bertanggung jawab.
Selama ini ia terus menunda mengakui bahwa kesempatan tersebut tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
Dina melihatnya terdiam.
'Ada dokumen yang tidak jelas?'
'Bukan dokumennya. Orang yang selama ini saya biarkan memegang tugasnya.'
'Kalau ada persoalan pengelolaan, itu perlu diputuskan. Tetapi jangan mencampurkannya dengan kemarahan pribadi.'
Rendra menatapnya.
'Saya marah kepada kakak saya karena yang dia lakukan kepada Rindu.'
'Itu urusan lain. Kalau Anda akan mengubah tanggung jawabnya di perusahaan, dasarnya harus pekerjaan dan kebutuhan perusahaan.'
Rendra menarik satu berkas mendekat. Ia membaca catatan yang selama ini hanya dijadikannya keluhan ketika pulang ke rumah. Pekerjaan yang tertunda, keputusan yang dialihkan, dan tanggung jawab yang pada akhirnya selalu jatuh kembali kepadanya.
Ia bukan baru melihat semua itu hari ini.
Ia hanya baru berhenti mencari alasan untuk membiarkannya.
'Saya tidak akan menghapus hak gaji yang memang tercatat,' katanya. 'Tapi saya tidak bisa terus mempertahankan posisinya hanya karena dia kakak saya.'
Dina meminta Rendra menyiapkan keputusan dengan jelas, termasuk tugas yang harus diserahterimakan. Mereka membicarakan urutan yang diperlukan tanpa mengubahnya menjadi hukuman untuk mempermalukan Hesti di depan karyawan.
Sesudah Dina pergi, Rendra menelepon kakaknya.
'Besok pagi datang ke ruanganku. Ada urusan jabatanmu yang harus kita bicarakan.'
Hesti terdiam di seberang.
'Maksudmu apa, Ren?'
'Besok kita bicara langsung, Kak.'