'Saya yakin,' jawab Rendra.
Dina tidak segera menutup buku catatannya.
'Kalau harga yang ditawarkan lebih rendah dari perkiraan Anda?'
'Saya akan mempertimbangkannya. Tapi saya tidak akan membatalkan hanya karena malu memakai kendaraan pesanan.'
'Yang saya tanyakan bukan soal malu, Pak. Jangan menjual tanpa memahami yang Anda setujui.'
Rendra menatap jam di atas meja. Teguran itu tidak keras, tetapi cukup untuk mengingatkannya bahwa keputusan yang terdengar baik tetap harus dilakukan dengan pikiran jernih.
'Baik. Saya akan membaca semuanya.'
Mereka menyepakati berkas yang perlu disiapkan dan waktu untuk meninjau transaksi keesokan hari. Sebelum Dina pulang, Rendra memasang kembali jam tangannya. Kali ini benda itu tidak terasa seperti bagian yang selamanya melekat pada dirinya.
Ia menghubungi Hesti untuk memastikan giliran menjaga Wina esok hari. Kakaknya menjawab dengan keluhan, tetapi akhirnya menyatakan akan datang setelah Rendra menunggu pada pagi hari.
Rendra tidak menceritakan percakapannya dengan Dina kepada ibunya malam itu. Wina membutuhkan istirahat, dan ia tidak ingin penjualan dua benda pribadi berubah menjadi pertengkaran lain di sisi ranjang.
***
Keesokan siangnya, Rendra berdiri di samping mobilnya di tempat jual beli kendaraan. Dina berada tidak jauh darinya, memeriksa kembali dokumen sebelum proses penyerahan dilakukan.
Ia telah mengeluarkan semua barang pribadi dari dalam mobil. Tidak banyak: beberapa kertas, pengisi daya, dan barang kecil yang selama ini dibiarkan tersimpan karena selalu merasa akan ada waktu untuk merapikannya.
Saat membuka pintu penumpang untuk terakhir kali, Rendra teringat Rindu pernah duduk di sana sambil memangku tas. Kadang mereka berbicara sepanjang perjalanan, kadang hanya mendengarkan suara jalan. Semua kenangan itu terasa begitu biasa sampai ia kehilangan orang yang berada di dalamnya.
'Pak Rendra?'
Panggilan Dina membuatnya kembali menoleh.
'Sudah tidak ada barang tertinggal?'
'Sudah.'
Ia menutup pintu. Setelah pemeriksaan dan kesepakatan akhir, Rendra membaca dokumen yang diletakkan di hadapannya. Ia meminta waktu untuk memastikan jumlah pembayaran serta hal-hal yang harus diserahkannya.
Tidak semua proses berlangsung secepat yang diinginkan. Ada bagian yang harus dijelaskan kembali, ada penawaran yang tidak langsung diterimanya. Namun, ia tetap duduk sampai memperoleh kepastian yang dapat dipahaminya.
Ketika dana masuk dan penyerahan dilakukan, kunci itu berpindah tangan.
Rendra merasakan telapak tangannya mendadak kosong.
Dina menunggunya merapikan berkas sebelum mereka berjalan keluar.
'Anda baik-baik saja?'
'Saya belum terbiasa.'
'Itu wajar.'
Rendra hampir menjawab bahwa bukan mobilnya yang paling menyakitkan. Yang membuatnya sesak adalah menyadari bahwa selama ini ia mempertahankan begitu banyak benda sementara orang-orang di sekelilingnya diminta bersabar.
Namun, Dina tidak datang untuk mendengarkan seluruh penyesalannya. Ia datang untuk membantu urusan yang harus dibereskan. Rendra mengucapkan terima kasih, lalu memesan kendaraan untuk melanjutkan perjalanan.
***
Di tempat penjualan jam, Rendra kembali melepas benda yang sejak pagi masih melingkar di pergelangan. Bekasnya tampak lebih terang di kulit, sebuah lingkaran kecil yang segera menarik pandangannya.
Dina duduk di sebelahnya. Jam tersebut diperiksa, kemudian penawaran diberikan. Rendra membandingkannya dengan informasi yang telah dikumpulkan, mengajukan pertanyaan, dan tidak langsung menandatangani sebelum keterangannya jelas.
'Masih ada yang ingin Anda pertimbangkan?' tanya Dina.
'Harganya tidak seperti waktu saya membeli.'
'Barang yang sudah dipakai tidak selalu kembali menjadi jumlah yang sama.'
'Saya tahu. Rasanya saja yang belum ikut mengerti.'
Dina memberi waktu. Ia tidak membujuk Rendra agar merasa gagah karena melepaskan sesuatu. Pada akhirnya keputusan itu tetap harus dibuat oleh orang yang menanggung akibatnya.
Rendra menatap jam tersebut sekali lagi, lalu menerima kesepakatan.
Ketika mereka keluar, lengan kemejanya menutupi pergelangan yang kini kosong. Ia menarik ujungnya sedikit, bukan untuk menyembunyikan, melainkan karena tubuhnya masih mencari berat yang biasa terasa di sana.
Dua benda telah dilepas dalam satu hari.
Utang perusahaan belum hilang. Wina masih dirawat. Rindu pun belum kembali. Tetapi hasil penjualan itu setidaknya dapat dipakai untuk sesuatu yang lebih mendesak daripada mempertahankan penampilan.
***
Menjelang sore, Rendra dan Dina kembali ke kantor. Daftar pembayaran telah disiapkan untuk dicocokkan dengan dana yang benar-benar tersedia.
Rendra memeriksa jumlahnya bersama catatan tunggakan. Ia tidak menyentuh amplop sisa uang Hesti yang disimpan terpisah di tas pribadinya. Uang itu mempunyai urusan sendiri yang belum patut dialihkan demi menutup persoalan lain.
'Ini baru menutup sebagian,' katanya.
'Pastikan keterangan pembayarannya juga menyebut demikian,' jawab Dina.
Rendra meminta pencatatan dilakukan dengan jelas. Sesudah pembayaran diproses, ia menemui karyawan yang masih berada di kantor dan memberi tahu bahwa sebagian gaji telah dibayarkan.
'Kapan sisanya, Pak?'
Pertanyaan itu datang tanpa permintaan maaf, sebagaimana yang kemarin ia minta dari mereka.
Rendra menahan dorongan untuk menjawab dengan tanggal yang belum dapat dipastikan.
'Saya akan membicarakan penyesuaian kewajiban perusahaan dengan bank. Saya belum bisa menjanjikan tanggal untuk seluruh sisanya hari ini.'
'Jangan sampai kami harus mengejar lagi hanya untuk mendapat kabar.'
'Saya akan memberi pembaruan. Kalian tetap berhak bertanya.'
Tidak semua wajah berubah lega. Sebagian menghitung kebutuhan yang bisa ditutup, sebagian masih memikirkan kekurangan yang tersisa. Rendra menerima bahwa uang tersebut bukan hadiah, melainkan hak yang terlambat dibayarkan.
Setelah mereka kembali ke pekerjaan masing-masing, ia duduk bersama Dina.
'Besok pihak bank bisa menerima kita,' kata Dina. 'Dokumen yang saya minta sudah Anda lengkapi?'
'Yang tersedia sudah. Ada beberapa catatan yang perlu saya jelaskan.'
'Jelaskan apa adanya. Jangan membuat perusahaan terdengar lebih sehat daripada keadaan sebenarnya.'
Rendra mengusap pergelangan tangannya yang kosong.
'Dulu saya sering mengira menjelaskan masalah berarti mempermalukan diri.'
'Menutupinya juga tidak membuat kewajibannya berkurang.'
Ponsel Rendra bergetar. Hesti mengirim pesan menanyakan apakah kabar mobil sudah dijual itu benar. Ia membalas singkat bahwa transaksi telah dilakukan, lalu meletakkan ponsel agar percakapan dengan Dina tidak terputus.
Dina merapikan dokumen ke dalam map.
'Besok kita meminta keringanan, Pak Rendra. Bukan meminta bank menganggap utang itu tidak pernah ada.'
Rendra menerima map tersebut.
'Saya akan datang membawa keadaan yang sebenarnya.'