Pagi berikutnya, Rendra membawa berkas yang telah disiapkannya ke kantor. Jadwal pertemuan tidak dibatalkan, meskipun sepanjang perjalanan ia beberapa kali membayangkan wajah-wajah yang akan menunggu jawaban darinya.
Ia datang dengan mobil yang sama, mengenakan kemeja rapi dan jam tangan yang masih melingkar di pergelangan. Baru ketika memasuki ruang pertemuan, ia menyadari betapa semua itu dapat terlihat berbeda dari kursi orang-orang yang belum menerima gaji.
Percakapan mereda saat Rendra mengambil tempat.
'Saya meminta pertemuan ini karena tunggakan gaji tidak bisa terus dibiarkan,' katanya.
Tak ada tepuk tangan atau sambutan lega. Beberapa orang hanya saling memandang, seolah kalimat serupa pernah mereka dengar dan tidak ingin lagi menaruh harapan terlalu cepat.
'Kapan dibayar, Pak?'
Pertanyaan itu datang sebelum Rendra sempat meneruskan penjelasan.
'Saya sedang menyiapkan dana untuk pembayaran sebagian.'
'Sebagian itu berapa? Kami juga perlu memberi jawaban di rumah.'
Rendra membuka berkas. Untuk sesaat ia ingin menjelaskan bahwa ibunya sakit, bantuan yang dijanjikan telah ditarik, dan rumah tangganya baru saja berakhir. Namun, tidak satu pun dari persoalan itu dapat dijadikan alasan agar kebutuhan para karyawan ikut berhenti.
'Saya belum akan menyebut jumlah sebelum dananya tersedia. Tapi saya ingin memastikan catatan tunggakan ini benar dan tidak ada hak yang terlewat.'
'Catatannya sudah berulang kali diperiksa, Pak.'
'Iya. Dan yang belum dilakukan adalah pembayarannya.'
Jawaban itu membuat ruangan terdiam. Rendra menatap orang-orang di depannya, menerima bahwa pengakuan tersebut bukan sesuatu yang membuatnya layak dipuji.
'Saya minta maaf karena selama ini terlalu lama memberi kepastian.'
'Kalau kami meminta gaji, bukan berarti kami tidak memikirkan perusahaan.'
'Saya tahu.'
'Kadang rasanya kami harus merasa bersalah setiap menanyakan uang sendiri.'
Rendra menunduk sebentar. Ia tidak pernah mengucapkan kalimat itu secara langsung kepada mereka, tetapi membiarkan pertanyaan berulang tanpa jawaban juga merupakan sebuah sikap.
'Kalian tidak perlu meminta maaf karena menanyakan hak kalian.'
Ia mendorong berkas ke tengah meja dan meminta catatan pembayaran sebelumnya dicocokkan sekali lagi. Bukan untuk mencari alasan mengurangi jumlah, melainkan agar tidak ada pembayaran yang kelak dijadikan seolah seluruh tunggakan telah beres.
Pertemuan itu berlangsung lebih lama daripada yang dibayangkannya. Ada pertanyaan yang bisa dijawab, ada pula yang harus diterimanya tanpa berpura-pura tahu jalan keluar. Beberapa orang masih terlihat marah ketika keluar dari ruangan.
Rendra tidak menahan mereka untuk mendengar pidato tentang kesetiaan.
Sebelum pertemuan ditutup, ia mengatakan akan kembali memberi kabar setelah transaksi penjualan aset pribadinya memperoleh kepastian.
'Aset pribadi, Pak?'
'Mobil dan jam tangan saya.'
Ruangan kembali hening. Rendra melihat pandangan yang bergerak ke pergelangan tangannya, lalu turun ke meja.
'Saya menyampaikan itu bukan supaya kalian berhenti menanyakan gaji,' katanya. 'Saya hanya ingin kalian tahu dana yang sedang diusahakan berasal dari mana.'
***
Hesti masuk ke ruangan Rendra menjelang siang, sesudah mendengar kabar pertemuan dari suasana kantor yang berbeda. Ia meletakkan tas di kursi tanpa menunggu dipersilakan.
'Kamu benar-benar bilang mau menjual mobil?'
'Iya.'
'Di depan semua orang?'
'Aku mengatakan sumber dana untuk pembayaran sebagian.'
Hesti tertawa pendek.
'Bagus. Sekarang semua orang tahu keadaan kita separah itu.'
'Mereka sudah tahu sejak gajinya tidak dibayar.'
'Kamu tidak perlu mempermalukan keluarga sendiri.'
Rendra meletakkan pena. Ia sudah lelah melihat setiap usaha untuk mengatakan yang sebenarnya diperlakukan sebagai penghinaan.
'Mobil itu tidak lebih penting daripada kebutuhan mereka.'
'Kamu bisa mengatakan begitu karena kamu tidak memikirkan penampilan perusahaan. Bagaimana kalau orang melihat pemilik Pangestu datang tanpa mobil?'
'Mereka sudah melihat pemilik Pangestu tidak membayar gaji.'
Hesti mengatupkan bibir. Untuk beberapa detik ia tidak menemukan jawaban yang bisa menutupi kenyataan itu.
'Lalu kamu pergi ke mana-mana bagaimana?'
'Aku bisa memakai kendaraan pesanan.'
'Dan Ibu? Ibu masih dirawat. Nanti siapa yang mengantarnya pulang?'
'Aku akan mengatur kendaraan saat dokter mengizinkan Ibu pulang.'
'Kamu membuat semuanya serba sulit.'
Rendra memandang kakaknya. Ia ingat Hesti juga pernah menjual mobil, bukan untuk membayar karyawan atau perawatan Wina, melainkan menutup utang yang tidak ingin diketahui teman-temannya. Akan tetapi, ia tidak mengangkat persoalan itu untuk membalas.
'Aku sedang mencoba membayar yang memang menjadi kewajibanku.'
Hesti berdiri, meraih tas dengan gerakan kasar.
'Kalau semua barang dijual, nanti tidak ada yang tersisa.'
Rendra tidak menjawab sampai kakaknya keluar. Setelah pintu tertutup, ia membuka laci dan mengambil amplop tipis yang berisi sisa uang dari kartu debit. Amplop itu dipindahkannya ke tas pribadi, terpisah dari berkas perusahaan.
Uang itu belum menemukan jalan kembali kepada tujuan semula. Ia tidak akan memakainya untuk membuat dirinya terlihat lebih bertanggung jawab di hadapan orang lain.
***
Sore itu, Dina Kania datang setelah Rendra menghubunginya. Mereka pernah duduk berdampingan di pengadilan dengan tujuan memenangkan perkara. Kini Rendra justru meminta bantuan agar ia tidak kembali menutup-nutupi keadaan.
'Saya perlu mendampingi Anda untuk urusan apa, Pak?' tanya Dina.
'Penjualan barang pribadi dan pembicaraan dengan bank. Saya ingin dokumennya jelas. Saya tidak mau mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya penuhi lagi.'
Dina membuka buku catatannya.
'Kalau begitu kita pisahkan dulu. Yang hendak dijual benar-benar milik pribadi, bukan aset yang sedang terkait kewajiban lain?'
Rendra menyerahkan berkas yang telah disiapkannya untuk diperiksa. Ia tidak memotong ketika Dina meminta melihat keterangan lain. Beberapa pertanyaan terasa menyudutkan, tetapi ia tahu ketidaksabaran bukan jawaban.
Mereka memeriksa sampai matahari mulai turun. Dina mencatat apa saja yang harus dibawa dan mengingatkan bahwa hasil penjualan tidak otomatis menutup seluruh persoalan perusahaan.
'Saya tahu,' jawab Rendra. 'Saya hanya bisa mulai dari sebagian.'
'Dan karyawan harus menerima informasi yang sama. Jangan menyebut pembayaran sebagian sebagai pelunasan.'
'Itu sudah saya katakan tadi.'
Dina melihat daftar tunggakan yang terbuka di meja. Wajahnya tidak menunjukkan kekaguman, hanya keseriusan yang justru membuat Rendra lebih tenang.
Ia melepas jam tangan dan meletakkannya di samping kunci mobil.
Dina memandang kedua benda itu, lalu menatapnya.
'Anda sudah yakin ingin melepas keduanya?'