Rindu masuk dan menemukan Ani mencoba meraih gelas di meja kecil. Ia segera mendekatkannya, lalu membantu ibunya minum tanpa tergesa.
'Maaf, Bu. Tadi aku di luar.'
'Ibu tahu. Tidak perlu minta maaf karena makan.'
Ani menatap pintu yang masih terbuka.
'Pak Zavin sudah pergi?'
'Masih menunggu sebentar. Ibu perlu sesuatu lagi?'
'Tidak. Sampaikan terima kasih. Jangan ditahan terlalu lama.'
Rindu mengiyakan. Setelah memastikan ibunya kembali nyaman, ia keluar untuk menemui Zavin. Pria itu masih berdiri di tempat yang sama, tidak mencoba masuk tanpa dipersilakan.
'Ibu hanya ingin minum,' jelasnya. 'Beliau menitipkan terima kasih.'
'Sama-sama. Saya pamit dulu kalau begitu.'
'Terima kasih sudah datang, Pak.'
Zavin membalas dengan senyum singkat. Ia tidak meminta kapan mereka bisa bertemu lagi atau membuat Rindu menjanjikan kabar setiap hari. Setelah mengatakan akan menghubungi lebih dulu jika ingin menjenguk, ia berjalan menuju lift.
Rindu memperhatikan sampai pintu lift menutup, kemudian kembali ke kamar.
Di dalam tasnya kini ada ruang kecil yang sebelumnya ditempati sapu tangan. Barang itu sudah kembali kepada pemiliknya, tetapi kalimat yang menyertainya sejak pertemuan pertama tetap tinggal dalam ingatan.
Kuatlah sebentar lagi.
Ia masih belum tahu seberapa lama sebentar itu akan berlangsung.
***
Tiga hari setelah kunjungan Zavin, Rindu kembali duduk berhadapan dengan Dokter Adrian untuk mendengarkan penjelasan tentang rangkaian pemeriksaan Ani. Selama jeda itu, perawatan tetap berjalan; belum ada pemberitahuan bahwa donor yang sesuai telah tersedia.
Rindu membawa buku kecilnya. Kali ini ia tidak langsung bertanya kapan operasi dapat dilakukan.
'Apa yang perlu saya pahami dari hasil pemeriksaan kali ini, Dok?'
Adrian menjelaskan bahwa penilaian kondisi Ani dan proses pencocokan tetap dilanjutkan. Ia menerangkan perkembangan yang perlu dipantau dengan bahasa yang dapat dimengerti Rindu, lalu berhenti untuk memastikan tidak ada bagian yang disalahpahami.
'Jadi bukan berarti Ibu ditolak untuk mendapat pertolongan?'
'Bukan begitu. Menunggu hasil penilaian dan kecocokan berbeda dengan menghentikan perawatan.'
Rindu mengembuskan napas perlahan.
'Saya kadang terlalu cepat menyimpulkan hal yang buruk.'
'Itu sebabnya kita membicarakannya langsung. Kalau ada pertanyaan, catat dan tanyakan.'
Ia melihat halaman bukunya, lalu mengajukan satu pertanyaan lagi tentang jadwal penjelasan berikutnya. Setelah mendapatkan jawaban, Rindu menutup buku dengan tangan yang lebih tenang, meskipun ketakutannya belum hilang.
Saat kembali ke kamar, Ani memperhatikan wajahnya.
'Apa kata dokter?'
'Perawatannya diteruskan, Bu. Belum ada kepastian donor yang cocok.'
Ani menatap jendela beberapa saat.
'Jadi Ibu masih tinggal di sini.'
'Iya.'
'Kamu jangan menghitung hari sambil merasa semua waktumu hilang.'
Rindu menarik kursi mendekat.
'Waktuku tidak hilang karena menemani Ibu.'
'Ibu tahu. Tapi hidupmu juga tidak boleh hanya berisi rasa takut.'
Kalimat itu membuat Rindu terdiam. Ia ingin mengatakan bahwa bukan hanya kondisi Ani yang menakutinya. Ada kehidupan setelah perceraian, ada tempat tinggal yang belum jelas, dan ada perasaan kepada Rendra yang belum tahu harus dibawa ke mana.
Namun, Ani belum mengetahui perceraian itu.
Rindu hanya meraih tangan ibunya dan duduk sampai keheningan tidak lagi terasa harus diisi dengan jawaban.
***
Menjelang sore, Rindu keluar untuk membeli air. Ia membawa ponsel yang selama beberapa hari terakhir lebih sering diperiksa untuk urusan rumah sakit daripada percakapan pribadi.
Pesan Rendra masih belum dibalas.
Ia sudah membaca pengakuannya tentang kartu dan uang berkali-kali. Ada bagian dari dirinya yang lega karena akhirnya tidak dituduh lagi, tetapi ada juga kemarahan yang muncul setiap mengingat betapa mahal harga yang dibayar sebelum Rendra percaya.
Rindu berhenti di dekat jendela.
Ia tidak harus membalas dengan memaafkan. Ia juga tidak harus terus membiarkan ketidaksiapannya menjadi sesuatu yang hanya bisa ditebak oleh orang lain.
Dengan gerakan lambat, ia mengetik.
'Pesanmu sudah kubaca, Ren. Aku sedang fokus menemani Ibu. Aku belum siap membicarakan hubungan kita. Tolong beri aku waktu.'
Rindu membaca ulang kalimat itu. Ia tidak menulis bahwa semuanya baik-baik saja, tidak pula menjanjikan suatu hari akan kembali.
Setelah menekan kirim, ia memasukkan ponsel ke tas.
Langkah menuju kamar Ani masih terasa berat, tetapi setidaknya kali ini ia tidak membawa kalimat yang belum diucapkan.
***
Di Jakarta, Rendra membaca pesan tersebut ketika berada di kamar hotel. Ia baru kembali dari rumah sakit setelah memastikan Wina mendapat pendampingan bergantian dengan Hesti.
Selama beberapa detik ia hanya menatap sapaan Ren di awal pesan.
Betapa mudahnya satu panggilan lama membuat harapan tumbuh terlalu cepat.
Namun, kalimat berikutnya tidak memberinya ruang untuk berpura-pura tidak mengerti. Rindu belum siap. Itu bukan teka-teki atau undangan untuk mencoba cara lain.
Rendra membalas singkat.
'Baik, Ri. Aku mengerti.'
Ia tidak menambahkan kabar tentang Wina atau meminta Rindu memikirkan kembali keputusannya. Setelah pesan terkirim, ia meletakkan ponsel dan membuka berkas pekerjaan yang dibawa ke hotel.
Daftar gaji karyawan menunggu di antara tagihan lain.
Nama-nama itu bukan angka yang bisa dipindahkan ke halaman berikutnya sampai keadaan membaik. Mereka mempunyai rumah, kebutuhan, dan keluarga yang tidak mungkin disuruh menunggu hanya karena pemilik perusahaan sedang kehilangan arah.
Rendra memeriksa satu per satu catatan yang ada. Bantuan Pranoto telah ditarik. Cadangan pribadinya menipis karena perawatan Wina. Uang yang kembali dari Hesti terlalu kecil dan tidak akan dipakainya untuk menutupi bahwa dulu ia telah menuduh Rindu tanpa dasar.
Ia bersandar, menutup mata sebentar.
Tidak ada lagi calon pernikahan yang bisa dijadikan jawaban untuk semuanya.
Ponselnya berdering. Hesti menanyakan apakah ia akan datang ke rumah sakit malam itu.
'Aku datang sebentar,' jawabnya. 'Besok pagi aku harus ke kantor.'
'Untuk apa?'
'Menemui karyawan.'
'Mau mengatakan apa? Uangnya saja belum ada.'
'Aku tidak akan menjanjikan uang yang belum ada.'
'Lalu kamu mau mempermalukan diri di depan mereka?'
Rendra memandang daftar di meja.
'Aku sudah membiarkan mereka menunggu terlalu lama. Setidaknya aku harus datang dan mendengar.'
Hesti tidak memberikan jawaban yang mendukung. Ia mengakhiri panggilan setelah mengingatkan bahwa Wina juga membutuhkan perhatian.
Rendra menyiapkan pakaian untuk esok hari, lalu mengirim pemberitahuan kepada kantor agar pertemuan dengan karyawan dijadwalkan pagi. Ia menyimpan daftar gaji di bagian paling atas berkas, bukan lagi di bawah persoalan yang dianggap lebih mendesak.
Balasan masuk beberapa menit kemudian.
Pertemuan sudah dijadwalkan.
Rendra meraih berkas itu dan memasukkannya ke tas yang akan dibawanya besok.