Keesokan siangnya, sapu tangan putih itu sudah berada di bagian tas yang mudah dijangkau ketika Zavin mengabari bahwa ia tiba di rumah sakit. Rindu memeriksa keadaan Ani, lalu menunggu di luar kamar sesuai tempat yang telah diberitahukannya.
Zavin datang membawa kantong makanan. Wajahnya tampak sedikit lelah, tetapi senyumnya tetap tenang ketika melihat Rindu berdiri di dekat pintu.
'Sudah lama menunggu?'
'Baru sebentar, Pak.'
'Ini untuk kamu. Saya belum tahu kamu suka apa, jadi memilih yang sederhana saja.'
Rindu melihat kantong di tangannya.
'Bapak datang jauh-jauh masih repot membawa makanan.'
'Kalau datang tanpa apa-apa, kamu mungkin tetap bilang saya repot.'
Rindu tersenyum, meski rasa sungkan belum sepenuhnya hilang.
'Ibu sedang bangun. Silakan masuk.'
Zavin menunggu sampai Rindu membuka pintu dan meminta izin kepada Ani. Ia tidak langsung mendekat ke ranjang, memberi kesempatan kepada wanita itu untuk melihat siapa tamunya.
'Bu, ini Pak Zavin. Yang membantu aku waktu Ibu masih dirawat di Jakarta.'
Zavin menyapa dengan sopan.
'Selamat siang, Bu Ani. Maaf kalau kedatangan saya mengganggu.'
'Tidak. Silakan duduk.'
Rindu menarik kursi untuknya. Kantong makanan diletakkan di meja kecil, terpisah dari makanan yang disediakan rumah sakit untuk Ani.
Ani memandang Zavin, kemudian putrinya.
'Rindu pernah bilang ada yang banyak membantu. Terima kasih sudah menolong anak saya.'
'Saya membantu sebisanya, Bu.'
'Anak ini kadang tidak mau bilang kalau sudah kesulitan.'
'Ibu,' protes Rindu pelan.
'Memang begitu. Kamu baru cerita setelah semuanya menumpuk.'
Zavin menatap Rindu sekilas, lalu kembali kepada Ani.
'Saya pikir dia sedang berusaha menjaga Ibu supaya tidak ikut khawatir.'
'Menjaga Ibu bukan berarti memikul semua sendiri.'
Rindu menunduk. Kalimat itu menyentuh sesuatu yang tidak bisa dibahasnya di depan tamu, sesuatu yang tidak berkaitan dengan makanan atau pemeriksaan hari ini.
Zavin seolah menangkap perubahan wajahnya. Ia tidak bertanya lebih jauh, melainkan beralih menanyakan apakah Ani nyaman dengan ruangan dan apakah siang hari biasanya bisa beristirahat.
Percakapan bergerak perlahan. Ani bercerita bahwa suara roda tempat tidur di lorong kadang membuatnya terbangun, lalu tersenyum ketika Rindu mengaku ikut terkejut meski sedang duduk dengan mata terbuka.
Zavin mendengarkan tanpa berusaha menjadi orang yang mempunyai jawaban untuk semuanya. Ketika Ani berhenti untuk mengambil napas, ia juga berhenti bicara, tidak menuntut percakapan harus terus berjalan agar kunjungannya berarti.
Beberapa menit kemudian, Rindu melihat ibunya mulai lelah.
'Ibu istirahat dulu, ya.'
Ani mengiyakan, kemudian memandang kantong makanan.
'Ajak tamunya duduk di luar. Makananmu juga jangan dibiarkan dingin.'
'Ini memang untuk Rindu, Bu,' kata Zavin.
'Bagus. Tolong ingatkan dia. Kalau Ibu yang menyuruh, jawabnya selalu nanti.'
Rindu menghela napas pura-pura kesal. Zavin hanya tersenyum, lalu berpamitan kepada Ani sebelum mengikuti Rindu keluar.
***
Mereka duduk di tempat yang tidak jauh dari ruang perawatan. Rindu membuka makanan setelah Zavin memastikan ia tidak perlu kembali ke kamar saat itu juga.
'Bapak tidak ikut makan?'
'Saya sudah makan sebelum ke sini.'
'Kalau begitu rasanya aneh saya makan sendiri sementara Bapak melihat.'
'Saya bisa melihat ke arah lain.'
Ucapan itu membuat Rindu tertawa kecil. Suaranya mengejutkan dirinya sendiri karena beberapa hari terakhir ia lebih sering berbicara pelan, takut kegembiraan sekecil apa pun terasa tidak pantas di tengah keadaan ibunya.
Zavin tidak mengomentari tawanya. Ia mengambil ponsel, memeriksa sebentar, kemudian menyimpannya kembali saat Rindu mulai berbicara.
'Tadi Dokter Adrian menjelaskan pemeriksaan berikutnya. Tapi belum ada kabar donor yang cocok.'
'Saya ikut berharap ada perkembangan baik.'
'Saya kadang bingung harus berharap seberapa banyak. Kalau terlalu berharap, saya takut jatuh lagi. Kalau tidak berharap, rasanya seperti menyerah pada Ibu.'
Zavin menatap tangannya yang memegang sendok.
'Kamu tidak harus menentukan semuanya hari ini.'
Rindu menghela napas.
'Orang sering bilang begitu. Tapi besok datang lagi, Pak.'
'Benar. Saya tidak bisa membuat penantian ini jadi mudah hanya dengan kalimat.'
Jawaban itu membuat Rindu mengangkat wajah. Ia tidak mendapat nasihat panjang, juga tidak diberi janji bahwa seluruh penderitaan akan segera dibalas. Yang duduk di hadapannya hanyalah seseorang yang mengakui ketidakmampuannya, tetapi tetap datang.
Rindu kembali makan. Kali ini beberapa suap terasa lebih mudah ditelan.
Sesudah merapikan wadah, ia teringat barang yang sejak tadi disiapkannya. Ia membuka tas dan mengeluarkan sapu tangan yang dilipat kecil.
'Pak, ini punya Bapak.'
Zavin memandang kain putih di telapak tangannya.
'Masih kamu simpan?'
'Sudah lama ingin saya kembalikan. Tapi setiap bertemu, ada saja yang terjadi.'
Ia meratakan salah satu sudutnya. Dua huruf yang dulu membuatnya bertanya-tanya tampak jelas: ZE.
'Sudah dicuci,' tambah Rindu cepat. 'Saya juga menyetrikanya. Kalau ada bagian yang berubah, saya bisa mengganti—'
'Tidak perlu, Ri.'
Zavin menerima sapu tangan itu dengan hati-hati. Jemarinya hanya menyentuh kain, tidak mencoba menahan tangan Rindu lebih lama.
'Terima kasih sudah merawatnya.'
'Seharusnya saya yang berterima kasih. Waktu itu saya bahkan tidak sempat melihat wajah Bapak.'
'Saya ingat.'
'Saya menangis sampai tidak memperhatikan apa-apa.'
Rindu tersenyum getir. Waktu itu ia masih mengira persoalan terbesarnya adalah mencari biaya operasi. Ia belum tahu bahwa hari-hari sesudahnya akan merenggut rumah dan pernikahan yang selama ini dianggap tempat berpijak.
'Kamu tidak perlu malu karena menangis,' kata Zavin.
'Saya bukan malu. Hanya ... banyak sekali yang berubah sejak hari itu.'
Zavin melipat kembali sapu tangannya, tidak mendesak Rindu menjelaskan perubahan yang belum sanggup diucapkannya.
'Kalau hari ini kamu belum ingin bercerita, tidak apa-apa.'
Rindu menatapnya beberapa saat.
Ia bisa saja mengatakan bahwa Rendra baru meminta maaf melalui pesan, bahwa Ani menanyakan kabar menantunya, bahwa dirinya berbohong karena tidak tahu bagaimana menyampaikan perpisahan. Namun, semua itu masih terlalu dekat dengan luka yang belum siap disentuh.
'Terima kasih karena tidak memaksa,' katanya.
Zavin memasukkan sapu tangan ke sakunya.
'Saya datang untuk menjenguk, Ri. Kamu tidak perlu membayar kunjungan ini dengan cerita.'
Rindu menunduk, merapikan tasnya yang sebenarnya sudah rapi. Untuk sesaat ia ingin tetap duduk di sana, di dekat orang yang tidak meminta lebih banyak daripada yang sanggup diberikannya.
Dari kamar, terdengar Ani memanggil pelan.
Rindu segera berdiri.
'Saya masuk dulu, Pak.'
Zavin ikut bangkit dan memberi jalan.
'Iya. Saya tunggu sampai kamu memastikan Ibu tidak membutuhkan sesuatu.'