Rendra menghapus pesan yang belum terkirim itu. Ia tidak ingin sekadar mengabarkan kartu telah kembali, seolah yang terjadi hanyalah urusan barang yang sempat salah tempat.
Ia menulis lagi, lebih lambat.
'Aku sudah menerima kembali kartu dan sisa uang dari Kak Hesti. Aku tahu kamu tidak pernah memakai uang itu. Tuduhanku kepadamu salah. Aku minta maaf.'
Rendra membaca kalimat tersebut beberapa kali. Tidak ada permintaan agar Rindu membalas, tidak ada cerita tentang Wina yang sakit, dan tidak ada janji bahwa penyesalan itu akan mengubah semuanya.
Kali ini ia mengirimnya.
Setelah itu, ia memasukkan amplop ke dalam tas dan menyalakan mobil. Uang yang tersisa belum akan digunakannya untuk keperluan lain. Ia perlu memikirkan cara mengembalikannya kepada tujuan semula tanpa menjadikannya alasan untuk membeli sebuah percakapan.
Di rumah sakit, Hesti sudah kembali lebih dulu. Kakaknya duduk dengan wajah tertutup ketika Rendra masuk, sedangkan Wina memandang keduanya bergantian.
'Kalian sudah selesai menghitung uang?' tanya Wina.
Rendra tahu ibunya telah mendengar cerita dari Hesti.
'Kartunya sudah kembali.'
'Jangan mempermalukan kakakmu terus.'
'Aku tidak mengatakannya di depan orang lain, Bu.'
'Tapi kamu membuat dia merasa seperti pencuri.'
Rendra menarik kursi. Ia lelah menghadapi kenyataan yang selalu diubah menjadi masalah cara menyampaikan.
'Aku meminta milikku dikembalikan. Aku juga sudah meminta maaf kepada Rindu karena menuduhnya.'
Hesti menoleh cepat.
'Kamu menghubungi dia?'
'Aku mengirim pesan.'
'Sudah dijawab?'
'Belum.'
Senyum kecil muncul di sudut bibir Hesti, tetapi Rendra tidak memberinya kesempatan menjadikan diam Rindu sebagai ejekan. Ia mengambil botol air dan menanyakan kepada Wina apakah ada keperluan yang perlu dibawa besok.
Percakapan beralih dengan kaku. Tidak ada yang tiba-tiba merasa lega atau saling memahami. Hanya satu tuduhan yang akhirnya diakui salah, meski pengakuan itu datang setelah rumah tangga mereka runtuh.
***
Pagi berikutnya di Singapura, Rindu membaca pesan Rendra saat sedang menunggu Ani bangun. Pesan itu masuk kemarin ketika ia sibuk menemani ibunya, dan baru sekarang ia sanggup membukanya tanpa tergesa.
Matanya berhenti pada kalimat bahwa uang itu tidak pernah dipakainya.
Ia sudah mengatakannya di persidangan. Ia sudah mengatakannya jauh sebelum itu, ketika Rendra masih lebih percaya pada kemarahan daripada penjelasannya.
Sekarang kebenaran tersebut datang kembali dengan nama pengirim yang dulu menolaknya.
Rindu tidak menangis keras. Ia hanya menekan ponsel ke pangkuan, menatap selimut ibunya dengan pandangan yang perlahan mengabur.
'Ri?'
Ani telah membuka mata.
Rindu segera meletakkan ponsel dan mendekat.
'Iya, Bu?'
'Kamu sedang membaca apa?'
'Pesan.'
'Dari Rendra?'
Pertanyaan itu membuat Rindu terdiam sesaat. Ani melihat keterlambatan jawabannya dan mengulurkan tangan.
'Memang dari Rendra, ya?'
'Iya.'
Wajah Ani sedikit melunak.
'Bagaimana dia? Sudah lama Ibu tidak mendengar kabarnya.'
Rindu merasakan sesuatu menyempit di tenggorokan. Ia bisa mengatakan bahwa Rendra baik-baik saja, tetapi bahkan hal itu tidak benar-benar diketahuinya. Mereka hanya bertukar luka, bukan lagi cerita tentang hari yang dilalui.
'Dia sedang banyak urusan perusahaan, Bu.'
'Masih sulit?'
'Iya.'
Ani menghela napas.
'Dulu kalau lelah dia tetap menyempatkan menelepon. Sekarang kenapa tidak pernah bicara dengan Ibu?'
Rindu menunduk untuk merapikan ujung selimut yang sebenarnya tidak berantakan.
'Belum sempat.'
'Belum sempat selama ini?'
Ada keheranan dalam suara Ani, belum menjadi tuduhan tetapi cukup untuk membuat jantung Rindu berdetak lebih cepat.
'Jadwalnya sedang kacau. Dia harus mengurus banyak hal,' jawabnya.
Kalimat itu meluncur begitu saja, sebuah kebohongan yang dibangun dari sesuatu yang mungkin benar. Perusahaan memang bermasalah, tetapi bukan itulah seluruh alasan Rendra tidak lagi hadir dalam hidup mereka.
Ani memperhatikan wajah putrinya.
'Kalian masih baik-baik saja?'
Rindu menggenggam tangan ibunya.
'Ibu jangan memikirkan kami dulu.'
'Itu bukan jawaban, Ri.'
Rindu ingin menangis. Ia lelah menyembunyikan sesuatu yang mengubah seluruh hidupnya, tetapi bayangan Ani terkejut dan kembali kesulitan bernapas membuat keberaniannya surut.
'Kami hanya sedang sama-sama sibuk, Bu.'
Ani terdiam. Rindu tidak tahu apakah ibunya percaya atau hanya memilih tidak mendesak. Yang pasti, tangan di dalam genggamannya tidak bergerak menjauh.
'Nanti kalau dia punya waktu, bilang Ibu ingin mendengar suaranya,' ujar Ani.
Rindu mengiyakan dengan gerakan kepala yang nyaris tidak terlihat.
Ia baru saja membuat janji yang tidak tahu bagaimana harus dipenuhinya.
***
Siang itu, Rindu keluar setelah Ani kembali beristirahat. Ia duduk di kursi dekat jendela, membawa ponsel dan buku kecil yang sudutnya mulai tertekuk.
Pesan Rendra masih terbuka.
Ia mengetik bahwa Ani menanyakan kabarnya, kemudian berhenti. Jika pesan itu dikirim, apakah Rendra akan menganggapnya sebagai kesempatan mendekat? Apakah ia akan diminta menjelaskan mengapa masih menyembunyikan perceraian?
Rindu menghapus tulisan itu.
Ia tidak ingin mempertahankan kebohongan dengan meminta mantan suaminya ikut bermain peran. Namun, ia juga belum sanggup mengucapkan kebenaran kepada Ani.
Panggilan dari Zavin muncul ketika ia masih memandangi layar.
Rindu menarik napas sebelum menjawab.
'Halo, Pak.'
'Saya mengganggu?'
'Tidak. Ibu sedang istirahat.'
'Bagaimana pemeriksaannya?'
'Masih berjalan. Dokter bilang belum bisa memastikan kapan ada donor yang sesuai.'
'Saya mengerti.'
Zavin tidak menyambungnya dengan janji kosong bahwa semua pasti segera membaik. Ia menanyakan apakah Rindu sempat tidur dan makan, lalu menunggu jawabannya tanpa tergesa.
'Saya ingin menjenguk Ibu besok,' katanya kemudian. 'Kalau kamu tidak keberatan.'
Rindu terkejut.
'Ke sini, Pak?'
'Iya. Tapi kalau waktunya tidak cocok, katakan saja. Saya tidak mau mengganggu pemeriksaan atau waktu istirahat.'
Rindu memandang pintu kamar Ani. Sudah lama seluruh percakapannya hanya berisi jadwal, biaya, dan jawaban yang disimpan setengah.
'Besok siang biasanya Ibu terjaga,' katanya. 'Saya akan memberi tahu kalau ada perubahan.'
'Baik. Saya hubungi kamu sebelum datang.'
'Terima kasih, Pak.'
Sesudah panggilan berakhir, Rindu membuka tas untuk menyimpan ponsel. Di bagian dalam, sapu tangan putih yang telah dicuci dan dilipat rapi terlihat di antara barang-barangnya.
Ia mengambilnya sebentar, menyentuh dua huruf kecil di ujung kain.
Besok, setidaknya ada satu barang yang bisa dikembalikannya tanpa harus berpura-pura bahwa ia tidak pernah membutuhkan pertolongan.