'Belum, Bu Rindu,' jawab Adrian. 'Pemeriksaan ini tidak bisa memberi tanggal pasti tersedianya donor.'
Rindu menunduk. Ia sebenarnya sudah menduga jawaban itu, tetapi tetap berharap ada sesuatu yang dapat dipegang selain kata menunggu.
'Jadi belum ada kepastian sama sekali?'
'Yang bisa kami pastikan adalah pemantauan dan perawatan Ibu tetap dilakukan. Setiap perkembangan yang berkaitan dengan beliau akan kami jelaskan kepada Anda.'
'Saya mengerti, Dok.'
Adrian tidak menyuruhnya berhenti khawatir. Ia hanya mengingatkan agar Rindu juga beristirahat dan bertanya jika ada penjelasan yang belum dipahami. Sesudah dokter itu pergi, Rindu kembali duduk di kursi tunggu.
Beberapa saat kemudian Ani kembali ke ruang perawatan. Rindu segera mendekat, membantu merapikan barang-barang tanpa mengganggu petugas yang masih bekerja.
'Sudah, Bu?'
'Sudah. Kamu menunggu sambil menangis?'
Rindu menyentuh pipinya, lalu tersenyum lemah.
'Tidak. Aku cuma banyak bertanya.'
'Bagus. Jangan pulang membawa pertanyaan yang malah bikin tidak tidur.'
Kata pulang membuat senyum Rindu sedikit memudar. Ia belum tahu rumah mana yang akan menampung mereka setelah perawatan ini. Akan tetapi, hari itu bukan saatnya membawa kekhawatiran lain ke hadapan Ani.
'Aku tetap di sini dulu,' katanya.
Ani mengulurkan tangan. Rindu menyambutnya, lalu duduk sampai napas ibunya kembali tenang. Ia masih belum memperoleh tanggal, tetapi setidaknya kini ia tahu bahwa harapan tidak boleh dibangun dari jawaban yang hanya ingin didengarnya sendiri.
***
Keesokan paginya, Rendra datang ke rumah keluarga Pangestu untuk menepati pembicaraan dengan Hesti. Sebelum berangkat ia sudah memastikan Wina tetap mendapat perawatan dan bahwa Hesti dapat meninggalkan rumah sakit sebentar.
Kakaknya berada di ruang tengah, masih mengenakan pakaian yang kusut setelah bermalam di rumah sakit. Di sampingnya terletak tas yang selama beberapa hari terakhir hampir tidak pernah lepas dari tangannya.
'Kartunya?' tanya Rendra setelah duduk.
Hesti mengeluarkan benda kecil itu dari dompet dan meletakkannya di meja. Tidak ada permintaan maaf, bahkan tidak ada penjelasan sebelum Rendra mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
'Uangnya?'
Hesti menyandarkan punggung.
'Sudah kukatakan tidak utuh.'
'Aku ingin tahu sisanya.'
'Kamu baru saja menghabiskan uang untuk Ibu. Kenapa yang ini harus dihitung seperti aku orang asing?'
'Karena uang itu diberikan dengan tujuan yang jelas.'
'Dan aku sudah memberikannya kepada Rindu!'
'Lalu dia mengembalikannya kepada Kakak sebelum pergi.'
Hesti menatap tajam, tidak menyukai betapa tenang Rendra mengulang sesuatu yang dahulu berhasil dikaburkannya.
'Dia sendiri yang tidak mau menerima.'
'Dia menolak karena mengira uang itu diberikan dengan syarat bercerai.'
'Itu urusan kalian.'
Rendra meletakkan kartu di atas meja, sejajar dengan tangannya. Ia menatap kakaknya tanpa mengangkat suara.
'Kakak yang membawa surat itu.'
Hesti mengalihkan pandangan ke jendela.
Rendra melanjutkan, 'Dan Kakak yang tahu uangnya tidak dipakai Rindu. Tapi ketika aku menuduhnya menghabiskan uang, Kakak tidak meluruskan.'
'Kamu percaya karena kamu sendiri melihat dia bersama laki-laki lain!'
'Aku melihat sesuatu lalu membuat kesimpulan. Aku salah. Itu tidak membuat uang yang Kakak ambil menjadi milik Kakak.'
Hesti menarik napas dengan keras. Ia meraih tas, mengeluarkan sebuah amplop, kemudian melemparkannya ke meja.
'Nih! Ambil! Itu sisanya!'
Amplop tipis tersebut mengenai tepi gelas dan terbuka. Beberapa lembar uang keluar, sebagian jatuh ke lantai di dekat sepatu Rendra.
Pria itu tidak segera bergerak.
Jumlahnya terlalu kecil dibandingkan uang yang dulu disiapkannya untuk operasi Ani. Ia tidak perlu menghitung untuk mengetahui bahwa hampir seluruhnya telah berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah menolong ibu Rindu.
'Itu saja?'
'Kalau kamu mau lebih, tunggu aku punya uang!'
'Ke mana yang lain?'
Hesti meraih tasnya kembali. Gerakan itu membuat pandangan Rendra berhenti pada benda yang sejak tadi berada di sebelah kakaknya.
'Untuk kebutuhan,' jawab Hesti.
'Kebutuhan apa?'
'Jangan mengatur hidupku! Aku juga perlu membeli barang. Aku punya pergaulan, aku punya nama baik yang harus dijaga.'
Rendra menatap tas itu, lalu wajah Hesti.
'Dengan uang yang ditujukan untuk orang sakit?'
Hesti berdiri.
'Jangan bicara seolah semua salahku. Kalau kamu membayar gajiku tepat waktu, aku tidak perlu memakai uang ini.'
'Kalau gaji belum dibayar, Kakak berhak menanyakannya. Bukan mengambil uang ini dan membiarkan Rindu disalahkan.'
Mata Hesti berkilat. Ia tidak lagi mampu menahan rasa malu, tetapi kemarahan masih lebih mudah dikeluarkan daripada pengakuan.
'Aku sudah mengembalikan yang tersisa. Mau apa lagi?'
Rendra membungkuk untuk mengambil uang yang jatuh. Ia memungutnya satu per satu, merapikan lembar yang terlipat, lalu memasukkannya kembali ke amplop.
Hesti menatapnya dengan napas memburu.
Gerakan sederhana itu terasa lebih menghina daripada jika Rendra membentaknya. Ia ingin adiknya marah, ingin pertengkaran mereka kembali dipenuhi tuduhan sehingga kesalahannya tenggelam di antara suara keras.
Namun, Rendra hanya berdiri sambil membawa kartu dan amplop.
'Aku tidak akan mengatakan kepada Rindu bahwa dia pernah memakai uang ini lagi.'
'Dia juga tidak akan kembali hanya karena kamu membelanya sekarang!'
Rendra berhenti di dekat pintu.
'Aku tahu.'
***
Di dalam mobil, Rendra membuka amplop di atas pangkuan. Ia menghitung isinya dengan perlahan, lalu menghitung sekali lagi untuk memastikan. Nilainya tidak berubah.
Ia menyimpan catatan jumlah itu bersama kartu yang baru kembali. Tidak ada kegembiraan karena sebagian uangnya berhasil diperoleh. Yang ia pegang justru bukti betapa mudah sesuatu yang dimaksudkan sebagai bantuan berubah menjadi alat untuk melukai.
Ponselnya menampilkan percakapan lama dengan Rindu ketika ia membukanya. Ada pesan tentang rumah sakit, ada jawaban pendek yang pernah dianggapnya dingin, dan ada kalimatnya sendiri yang ditulis tanpa memberi kesempatan kepada istrinya untuk menjelaskan.
Rendra membaca tuduhan tentang uang itu.
Waktu mengirimkannya, ia merasa sedang membela harga diri. Kini, dengan amplop tipis di tangan, ia tidak menemukan satu pun bagian dari kalimat tersebut yang dapat dibenarkan.
Ia menekan kolom pesan, lalu mengetik bahwa kartunya telah kembali.
Jarinya berhenti sebelum mengirim.
Apakah Rindu membutuhkan kabar itu sekarang, atau ia sendiri yang ingin segera didengar setelah mengetahui kebenaran?
Rendra menatap tulisan yang belum terkirim tersebut sampai layar meredup.