'Masih,' jawab Hesti akhirnya. 'Lalu kenapa?'
Rendra menatap tas yang dipeluk kakaknya.
'Kembalikan.'
'Tidak kubawa. Ada di rumah.'
'Besok aku ke rumah. Siapkan kartunya, juga uang yang sudah Kakak ambil.'
Hesti tertawa pendek, tetapi suaranya terdengar dipaksakan. 'Kamu pikir aku menyimpannya utuh di dalam lemari?'
Rendra merasakan rahangnya mengeras.
'Itu bukan uang belanja Kakak.'
'Aku sudah bilang gajiku belum kamu bayar!'
'Dan aku juga sudah bilang uang itu untuk pengobatan Bu Ani.'
'Dia sudah dibawa ke Singapura, bukan? Berarti ada uang. Kenapa masih mempermasalahkan yang ini?'
Rendra menahan napas. Di seberang lorong, orang-orang berlalu dengan wajah lelah, membawa tas pakaian dan kantong makanan. Ia memandang mereka sebentar sebelum kembali menatap Hesti.
'Rindu menjual rumah ibunya.'
Hesti membuang muka.
'Jadi?'
Satu kata itu membuat Rendra hampir kehilangan kendali. Bukan karena ia baru tahu kakaknya tidak peduli, melainkan karena selama ini ia pernah berdiri di pihak yang sama tanpa merasa sedang melukai siapa pun.
'Jangan mengatakan itu seolah tidak berarti apa-apa.'
'Aku tidak memaksanya menjual rumah.'
'Tapi Kakak mengambil uang yang kutitipkan untuknya, lalu membiarkan aku menuduh dia menghabiskannya.'
Hesti merapatkan bibir. Tuduhan itu tidak bisa dibantah dengan mudah. Namun, mengaku sepenuhnya terasa seperti menyerahkan satu-satunya tempat bersembunyi yang masih dimilikinya.
'Aku tidak menyuruhmu menuduh.'
'Benar. Aku yang menuduh. Sekarang aku sedang meminta uangku kembali.'
Rendra tidak mendekat atau menghalangi jalan. Justru sikap itu membuat Hesti tidak menemukan alasan untuk menyebut dirinya sedang diancam.
'Besok pagi,' katanya lagi. 'Aku ingin melihat berapa yang tersisa.'
Hesti melewatinya tanpa menjawab. Langkahnya cepat, tetapi Rendra tidak mengejar. Ia kembali ke ruang Wina, membawa kemarahan yang harus ditahannya di luar pintu.
***
Wina menoleh ketika putranya masuk.
'Kalian bertengkar lagi?'
'Ada yang perlu kuselesaikan dengan Kak Hesti.'
'Jangan sekarang. Ibu tidak sanggup mendengar keributan.'
'Kami bicara di luar, Bu.'
Wina melihat ke pintu, seolah berharap Hesti menyusul dan memberikan penjelasan yang lebih sesuai dengan keinginannya. Namun, yang datang hanya kesunyian.
'Apa tentang Pak Pranoto?'
'Bukan.'
'Lalu apa?'
Rendra mengambil kursi. Ia tidak ingin menjadikan kamar perawatan sebagai tempat mengadili Hesti, tetapi ia juga lelah menyembunyikan setiap persoalan demi menciptakan ketenangan yang palsu.
'Kartu debit yang dulu kutitipkan untuk biaya operasi Bu Ani belum dikembalikan.'
Wina mengalihkan pandangan.
'Itu bisa dibicarakan nanti.'
'Aku akan membicarakannya besok, di rumah.'
'Jangan menekan kakakmu. Dia juga sedang kesulitan.'
Rendra menatap tangan ibunya yang terletak di atas selimut.
'Aku tahu dia kesulitan. Tapi uang itu bukan miliknya.'
Wina tidak menjawab. Rendra pun tidak memanjangkan perdebatan. Ketika ibunya meminta tas didekatkan, ia mengambilkannya. Ia masih bisa menjadi anak yang membantu tanpa harus mengubah kenyataan menjadi sesuatu yang lebih nyaman didengar.
Sore bergerak lambat di balik jendela. Rendra menanyakan apa yang sudah dimakan Wina, lalu mendengarkan keluhan ibunya tentang rasa makanan rumah sakit. Untuk beberapa saat mereka berbicara seperti ibu dan anak yang sedang menghadapi hari biasa.
Namun, ketika ponselnya menunjukkan pesan pengingat pekerjaan, Rendra kembali teringat jumlah orang yang menunggu sesuatu darinya. Sebagian menunggu uang. Sebagian menunggu keputusan. Rindu, mungkin, tidak lagi menunggunya sama sekali.
Ia meletakkan ponsel tanpa membukanya.
Besok ia harus menghadapi satu hal yang selama ini dibiarkannya menjadi tuduhan terhadap orang yang salah.
***
Di Singapura, pada hari yang sama, Rindu berdiri di samping ranjang ketika Ani bersiap menjalani pemeriksaan lanjutan. Ia merapikan ujung selimut, kemudian memindahkan sandal agar tidak menghalangi jalan.
'Ibu takut?' tanyanya pelan.
Ani tersenyum tipis.
'Kalau Ibu bilang takut, kamu nanti lebih takut lagi.'
'Aku sudah takut, Bu. Jadi Ibu tidak perlu pura-pura hanya untukku.'
Jawaban itu membuat Ani menatapnya lebih lama. Rindu menggenggam tangan ibunya, merasakan kulit yang semakin sering tampak pucat di bawah lampu ruangan.
'Kita dengarkan penjelasannya bersama-sama,' katanya.
Ani melihat buku yang terselip di bawah tangan putrinya.
'Pertanyaanmu sudah ditulis?'
'Sudah. Tapi tadi waktu hendak dibaca, aku malah lupa mau mulai dari mana.'
'Mulai dari yang paling tidak kamu mengerti.'
Rindu membuka halaman pertama. Ada satu kalimat yang dicoret beberapa kali, bekas usahanya membuat pertanyaan terdengar lebih pintar. Ia merobek keinginan itu dari pikirannya, bukan dari kertas.
'Aku takut bertanya sesuatu yang seharusnya sudah kupahami.'
'Kamu putri Ibu, Ri. Bukan dokter yang harus tahu semuanya.'
Rindu mengusap ujung mata, lalu menggeser kursinya lebih dekat agar Ani juga dapat melihat halaman tersebut.
Dokter Adrian, dokter bedah jantung yang ikut menangani Ani di rumah sakit itu, datang setelah persiapan pemeriksaan dikonfirmasi. Rindu pernah melihatnya dalam kunjungan tim, tetapi kali ini ia mendapat kesempatan bertanya lebih tenang.
'Pemeriksaan ini untuk memastikan jantung donor bisa cocok dengan Ibu, Dok?'
'Ini bagian dari penilaian kondisi Ibu dan kebutuhan pencocokannya. Hasilnya membantu tim menentukan langkah berikutnya. Belum berarti sudah ada donor yang sesuai.'
Rindu mengangguk kecil. Harapan yang sempat melonjak harus diturunkannya perlahan, seperti menaruh gelas retak agar tidak pecah di tangan.
'Jadi kami masih harus menunggu?'
'Iya. Perawatan Ibu tetap berjalan selama proses itu.'
Ani menatap putrinya.
'Ri, jangan sampai kamu mengira hari ini Ibu langsung operasi.'
Rindu memaksakan senyum.
'Aku hanya ingin mengerti, Bu.'
Adrian memberi kesempatan kepada mereka untuk mengajukan pertanyaan lain. Rindu membuka buku kecil yang selalu dibawanya, melihat daftar yang sudah ditulis sejak pagi. Beberapa pertanyaan terasa memalukan karena begitu sederhana, tetapi ia tidak ingin pulang dengan dugaan yang keliru.
'Kalau ada hasil yang perlu kami tahu, keluarga akan diberi penjelasan, ya, Dok?'
'Tentu. Jangan menyimpulkan sendiri dari istilah di lembar pemeriksaan. Kita bicarakan bersama.'
'Terima kasih, Dok.'
Ketika Ani dibawa untuk menjalani pemeriksaan, Rindu ikut sampai batas yang diperbolehkan. Ia tidak menangis di depan ibunya. Ia melambaikan tangan dan berjanji menunggu, baru setelah pintu menutup ia merasakan kedua lututnya melemah.
Rindu duduk dengan buku kecil masih terbuka. Pada halaman itu ada daftar kebutuhan, jadwal, dan pertanyaan yang ditulis serapi mungkin. Tidak ada satu pun kotak yang bisa dicentang untuk memastikan ibunya akan tetap hidup.
Adrian keluar beberapa saat kemudian untuk melanjutkan urusannya. Rindu berdiri dan memanggilnya.
'Dok, maaf. Ada satu yang belum saya tanyakan.'
Dokter itu berhenti.
Rindu menggenggam bukunya lebih erat.
'Kalau hasil pemeriksaan ini sudah ada, apakah berarti kami bisa tahu kapan Ibu akan mendapat donor?'