Di seberang telepon, Bi Darmi terdiam begitu lama sampai Rendra mengira sambungannya terputus.
'Bi? Bibi masih mendengar?'
'Iya, Den.'
'Aku ingin mendengar dari Bibi sendiri. Besok kita bicara di rumah.'
'Baik, Den. Bibi menunggu.'
Rendra mengakhiri panggilan tanpa mendesak penjelasan saat itu juga. Ada kegugupan yang jelas pada suara wanita tersebut, kegugupan yang seharusnya sudah diperhatikannya ketika dulu ia berusaha menanyakan kepergian Rindu.
Ia menyalakan mobil dan kembali ke hotel. Malam itu, tidur tidak mudah datang. Akan tetapi, ia tidak menelepon Rindu untuk mengadukan akibat keputusannya atau meminta perempuan itu mengakui bahwa dirinya sudah berubah.
Satu pembatalan pernikahan tidak menghapus fitnah.
Satu malam menjaga Wina juga tidak membayar ketakutan Rindu ketika Ani sakit.
Menjelang pagi, Rendra akhirnya tertidur sebentar. Ia bangun dengan kepala berat, mandi, lalu memeriksa kabar ibunya sebelum berangkat. Hesti membalas pendek bahwa keadaan Wina masih sama dan perawatan dilanjutkan.
Rendra mengabari ia akan datang siang hari. Pagi itu ia perlu menemui Bi Darmi terlebih dahulu.
***
Rumah keluarga Pangestu terasa lebih sunyi ketika Rendra masuk. Tanpa suara Wina dan Hesti, derap sepatunya terdengar jelas sampai ke ruang tengah.
Bi Darmi berdiri di dekat meja, tampak telah menunggunya sejak tadi. Di atas nampan ada segelas air yang belum disentuh.
'Silakan duduk, Bi,' kata Rendra.
'Tidak apa-apa, Den. Bibi berdiri saja.'
'Aku ingin bicara, bukan memarahi. Duduklah.'
Wanita itu akhirnya mengambil tempat di ujung kursi. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan.
Rendra duduk berhadapan dengannya.
'Hari Rindu pulang dari rumah sakit dan menemukan pakaiannya sudah di koper, siapa yang meminta Bibi membereskannya?'
Bi Darmi menelan ludah.
'Non Hesti, Den.'
Rendra merasakan rahangnya mengeras, tetapi ia membiarkan wanita itu melanjutkan.
'Non Hesti bilang itu permintaan Den Rendra. Bibi disuruh mengemas pakaian Non Rindu.'
'Apakah aku pernah menghubungi Bibi untuk itu? Menelepon atau mengirim pesan?'
'Tidak, Den.'
'Jadi Bibi hanya mendengar dari Kak Hesti?'
'Iya.'
Rendra menunduk, menatap kedua tangannya. Jawaban tersebut tidak mengejutkannya seperti saat mendengar bukti di persidangan. Yang menyakitkan justru betapa mudahnya kebenaran itu didapat jika dahulu ia mau berhenti dan mendengarkan.
'Kenapa Bibi mengatakan kepada Rindu bahwa aku yang menyuruh?'
'Karena Bibi percaya pada Non Hesti. Bibi kira beliau hanya menyampaikan pesan.' Suara Bi Darmi bergetar. 'Bibi tidak tahu Non Rindu belum diberi tahu. Waktu beliau melihat lemari, Bibi juga takut.'
'Takut kepadaku?'
'Takut salah bicara. Takut ada masalah yang Bibi tidak mengerti.'
Rendra menarik napas. Bi Darmi telah bekerja di rumah itu belasan tahun. Ia tahu bagaimana suara Wina bisa memenuhi ruangan dan bagaimana Hesti tidak suka pertanyaannya dibantah. Ia juga tahu Rendra lebih sering meminta persoalan rumah ditangani orang lain daripada mendengarkan sendiri.
'Rindu bilang apa waktu itu?'
'Beliau terkejut. Bertanya ke mana pakaiannya. Setelah Bibi menjawab, Non Rindu marah sekali. Beliau mencoba menghubungi Den Rendra.'
Rendra memejam. Ia ingat hari yang sibuk, pertemuan yang dipenuhinya dengan setengah hati, dan telepon yang dianggapnya hanya bagian dari urusan yang bisa ditunda.
Sementara di rumah, istrinya sedang melihat hidupnya dipindahkan ke dalam koper.
'Setelah itu?'
'Non Hesti datang. Beliau membawa kertas, tapi Bibi tidak tahu isinya. Lalu Bibi disuruh keluar.'
'Bibi melihat Kak Hesti menukar atau menyerahkan surat?'
Bi Darmi menggeleng.
'Tidak, Den. Bibi tidak melihat apa yang terjadi setelah keluar kamar.'
Rendra mengangguk pelan.
'Kalau tidak melihat, jangan menebak. Aku hanya ingin tahu yang Bibi alami.'
Wanita itu menyeka matanya dengan ujung jari.
'Malamnya Bibi mau menjawab waktu Den Rendra bertanya. Tapi Non Hesti sudah menjelaskan lebih dulu, lalu menyuruh Bibi pergi.'
'Aku ingat.'
'Maafkan Bibi, Den. Seharusnya Bibi tetap mengatakan yang sebenarnya.'
Rendra menatap wajah yang menua di hadapannya. Ia bisa marah karena Bi Darmi tidak berani bicara. Namun, jauh lebih mudah menyalahkan ketakutan seorang pekerja daripada mengakui bahwa dirinya tidak pernah memberinya ruang untuk menjelaskan.
'Aku juga seharusnya mendengarkan,' katanya.
Bi Darmi menunduk. Bahunya bergetar kecil, tetapi tidak ada lagi kalimat yang dipaksakannya untuk membuat Rendra merasa lebih baik.
Pria itu mengambil gelas, meneguk air, lalu bertanya sekali lagi tentang urutan waktu. Ia tidak meminta jawaban yang berbeda. Ia hanya memastikan tidak mencampurkan kesaksian Bi Darmi dengan hal-hal yang telah diketahuinya dari Rindu.
Sesudah semuanya jelas, Rendra berdiri.
'Terima kasih sudah bicara.'
'Non Rindu bagaimana, Den?'
'Masih menemani ibunya di Singapura.'
'Kalau suatu hari Bibi bisa bertemu, Bibi ingin minta maaf sendiri.'
Rendra menatap wanita itu.
'Nanti, kalau Rindu bersedia. Jangan merasa harus menghubunginya sekarang.'
Bi Darmi menerima jawaban tersebut, lalu mengantar Rendra sampai pintu.
***
Siang harinya, Rendra tiba kembali di rumah sakit. Hesti sedang bersiap meninggalkan ruang perawatan untuk beristirahat. Ia melihat adiknya datang tanpa koper, hanya membawa tas kecil dan ponsel.
'Dari rumah?' tanyanya.
'Iya.'
'Untuk apa?'
'Bicara dengan Bi Darmi.'
Gerakan Hesti berhenti. Ia membetulkan tali tas, tetapi matanya tidak lagi menatap Rendra dengan leluasa.
'Perlu apa kamu merepotkan Bibi? Dia sudah cukup banyak pekerjaan.'
'Aku menanyakan pakaian Rindu.'
Hesti mendecakkan lidah.
'Lagi-lagi Rindu.'
Rendra menunggu sampai mereka berada agak jauh dari pintu Wina.
'Bibi mengatakan Kakak yang memintanya mengemas pakaian itu. Mengatasnamakan aku.'
'Memangnya itu akan mengubah apa? Kalian sudah bercerai.'
Rendra merasakan amarah bergerak naik, tetapi kali ini ia tidak mengangkat tangan atau membiarkan suaranya memenuhi lorong.
'Itu mengubah apa yang selama ini kusebut kesalahpahaman,' katanya.
Hesti menatapnya tajam.
'Jangan menyuruh semua orang menyalahkanku. Kamu sendiri yang membawa masalah kalian ke pengadilan.'
'Iya. Aku yang melakukannya. Dan aku harus tahu apa saja yang kuabaikan sebelum menuduh Rindu.'
Hesti hendak berjalan melewatinya. Rendra bergeser, tidak menghalangi, tetapi suaranya membuat langkah kakaknya tertahan.
'Ada hal lain yang belum Kakak kembalikan.'
Hesti mencengkeram tali tas.
Rendra menatapnya tanpa berpaling.
'Kartu debitku masih ada pada Kakak, bukan?'