'Saya mengerti, Pak,' jawab Rendra.
Pranoto menatapnya tajam.
'Mengerti saja tidak akan membayar utangmu.'
'Saya tahu.'
Rendra ingin mengatakan bahwa ia akan menanggung semuanya, tetapi kalimat itu terasa terlalu mudah. Ia belum mempunyai jawaban untuk tunggakan perusahaan, belum pula tahu bagaimana mengganti bantuan yang baru saja ditarik. Mengucapkan janji besar di depan Pranoto hanya akan menjadi kebohongan lain.
'Maaf atas waktu dan persiapan yang sudah Bapak keluarkan,' katanya akhirnya.
Pranoto tidak membalas. Ia mengajak Padma pergi, meninggalkan dua gelas yang belum habis dan kursi yang bergeser jauh dari meja.
Rendra tetap berdiri sampai keduanya menghilang dari pandangan.
Pembatalan itu telah diucapkan. Ia tidak lagi terikat pada rencana yang tidak sanggup dijalaninya, tetapi kebebasan yang diperolehnya tidak terasa ringan. Di belakangnya ada perusahaan yang limbung, ibunya yang sedang sakit, dan seorang perempuan lain yang kini harus menghadapi rasa malu karena ketidakjujurannya.
Rendra mengambil ponsel. Ia hendak memberi kabar kepada Hesti sebelum kembali ke rumah sakit, tetapi nama kakaknya lebih dulu muncul.
'Dia menarik semua bantuan?' Suara Hesti terdengar tinggi begitu panggilan dijawab.
'Pak Pranoto sudah menghubungi Kakak?'
'Ibu! Dia menghubungi Ibu. Kamu puas sekarang?'
'Aku sedang menuju rumah sakit. Kita bicara di sana.'
'Jangan berani menghindar!'
Rendra menunggu sampai panggilan terputus, lalu meninggalkan ruang duduk hotel. Di perjalanan, ia tidak memutar musik. Ia membutuhkan keheningan untuk memikirkan apa yang akan dihadapinya, bukan untuk berpura-pura semua keputusan yang benar selalu berakhir menyenangkan.
***
Hesti menunggunya di lorong sebelum ruang perawatan Wina. Ia melangkah cepat begitu melihat Rendra, sampai tali tas di bahunya melorot.
'Apa sebenarnya yang ada di kepalamu?'
'Kak, pelankan suara.'
'Jangan mengatur suaraku! Kamu baru saja menghancurkan satu-satunya jalan keluar kita!'
Rendra melihat pintu di belakangnya. Ia meminta Hesti ikut menjauh beberapa langkah agar pertengkaran tidak terdengar oleh Wina. Kakaknya mengikuti, tetapi gerakannya tetap penuh kemarahan.
'Berapa lama kita bisa bertahan?' desak Hesti. 'Berapa kali lagi kamu mau membayar rumah sakit dari tabunganmu? Kamu pikir setelah bilang cinta kepada Rindu, semua tagihan akan hilang?'
'Aku tidak mengatakan begitu.'
'Tapi kamu bertindak begitu!'
Rendra menahan napas. Pukulan Hesti kali ini bukan pada tubuhnya, melainkan pada kenyataan yang memang tidak dapat disanggah: uang mereka terbatas, dan keputusan tadi membuat masa depan perusahaan lebih tidak pasti.
'Aku tetap akan mengurus perusahaan,' katanya.
'Dengan apa?'
'Aku belum punya seluruh jawabannya.'
Hesti tertawa pendek, keras dan getir.
'Bagus. Kamu menghancurkan rencana yang sudah ada, tetapi tidak punya jawaban!'
'Rencana itu menuntutku menikahi seseorang yang tidak kucintai.'
'Jutaan orang bisa hidup tanpa cinta sebesar cintamu kepada Rindu!'
'Padma juga berhak tahu siapa yang akan menjadi suaminya.'
'Jangan sok memikirkan Padma. Kamu hanya memikirkan Rindu!'
Rendra terdiam sesaat. Nama itu selalu ditarik ke tengah pertengkaran seperti perempuan yang sedang merawat ibunya di negara lain merupakan penyebab semua kegagalan mereka.
'Rindu tidak memintaku membatalkan apa pun,' katanya. 'Dia bahkan tidak menjawab teleponku.'
Hesti memandangnya, lalu tersenyum sinis.
'Jadi kamu sudah tahu dia tidak peduli, tapi tetap begini?'
'Jangan pakai penolakannya untuk membenarkan keputusan kita yang salah.'
'Kita? Sekarang kamu mau menyeretku?'
'Aku mengatakan keputusan kita karena aku juga ikut. Aku tidak sedang menganggap diriku tidak bersalah.'
Jawaban itu sejenak membuat Hesti kehilangan bahan bantahan. Ia terbiasa menghadapi amarah Rendra yang meledak, lalu memanfaatkan ledakan tersebut untuk menyebut adiknya tidak berpikir jernih. Kali ini Rendra masih marah, tetapi ia tidak menyangkal perannya sendiri.
Hesti merapatkan tas di depan tubuh.
'Kalau perusahaan jatuh, jangan bilang aku tidak memperingatkanmu.'
'Aku mendengarnya.'
'Dan jangan harap aku akan minta maaf kepada Rindu karena kamu memilih menghancurkan keluarga.'
Rendra mengusap wajah. Ia belum meminta permintaan maaf itu hari ini, tetapi Hesti sudah menolaknya seperti sesuatu yang paling mengancam kedudukannya.
'Aku ingin menemui Ibu sekarang.'
***
Wina tidak menyambut ketika Rendra masuk. Ia memandang ke arah jendela, dengan ponsel tergeletak di samping bantal.
'Ibu sudah bicara dengan Pak Pranoto?' tanya Rendra.
'Dia marah. Sangat marah.'
'Aku sudah menjelaskan langsung.'
'Dia bilang Ibu tidak bisa dipercaya.'
Rendra menarik kursi, tetapi tidak langsung duduk.
'Keputusan pembatalan itu dariku. Aku sudah mengatakan kepada beliau.'
'Menurutmu itu membuat Ibu tidak malu?'
'Tidak, Bu.'
Wina menoleh. Ada air mata di matanya, namun kali ini Rendra tidak membiarkan rasa bersalah mengubah jawaban yang telah diucapkan kepada Padma.
'Ibu ingin aku melakukan apa sekarang?'
'Hubungi dia lagi. Minta maaf. Katakan kamu sedang kacau.'
'Aku memang sudah meminta maaf. Tapi aku tidak akan mengatakan pembatalannya tidak sungguh-sungguh.'
Wina memalingkan wajah kembali.
Rendra duduk dan menunggu. Ia tidak menuntut ibunya memahami saat itu juga. Ketika Wina meminta air, ia membantu mengambilkannya. Ketika ibunya menolak berbicara lagi, ia tidak memaksakan penjelasan.
Hesti masuk beberapa saat kemudian. Ketegangan di antara ketiganya membuat ruangan terasa sempit, tetapi mereka menahan suara ketika Irma datang memeriksa keperluan pasien.
Malam mulai turun ketika Rendra meninggalkan rumah sakit untuk berganti giliran. Wina tetap dirawat, dan Hesti akan menemaninya malam itu.
***
Di dalam mobil yang belum dinyalakan, Rendra memeriksa pesan-pesan pekerjaan yang menumpuk. Ia membaca beberapa permintaan kepastian tanpa sanggup langsung memberi jawaban yang pantas. Semua itu harus dihadapi, tetapi ada satu persoalan lain yang sejak sidang terus mengganjal.
Koper Rindu.
Ia pernah hendak bertanya kepada Bi Darmi malam ketika menemukan kamar mereka kosong. Hesti menyela, dan Rendra membiarkan penjelasan yang paling keras mengalahkan suara orang yang sebenarnya berada di sana.
Pria itu membuka daftar kontak.
Bi Darmi menjawab setelah beberapa nada sambung.
'Den Rendra? Ibu bagaimana?'
'Masih dirawat, Bi. Kak Hesti menemani malam ini.'
'Semoga segera membaik, Den.'
'Aku ingin datang besok. Ada yang perlu kutanyakan kepada Bibi.'
'Tentang keperluan Ibu?'
'Bukan.' Rendra merapatkan jemari di sekitar ponsel. 'Tentang hari pakaian Rindu dimasukkan ke koper.'