Keesokan sore, Rendra turun ke ruang duduk hotel lebih awal dari waktu yang disepakati. Balasan kepada Pranoto sudah dikirim kemarin; kini tidak ada lagi pesan yang bisa dipakai untuk menunda pertemuan.
Ia memilih tempat yang cukup tenang, lalu menghubungi Hesti untuk menanyakan keadaan Wina.
'Ibu sudah makan sedikit,' jawab kakaknya. 'Tadi juga menanyakanmu.'
'Aku akan ke sana setelah pertemuan.'
'Kamu masih punya waktu membatalkan niatmu, Ren.'
Rendra memandang pintu masuk.
'Aku sudah menunggu mereka.'
'Berarti kamu benar-benar tidak mau mendengar Ibu.'
'Aku mendengar. Aku hanya tidak bisa menyetujuinya.'
Hesti mengembuskan napas dengan keras. 'Nanti jangan menyuruh kami ikut menanggung malu.'
Rendra hendak membalas, tetapi ia menahan diri. Pertengkaran lewat telepon tidak akan mengubah keputusan, hanya membuatnya memasuki pertemuan dengan amarah yang tidak seharusnya ditumpahkan kepada Padma.
'Aku akan menjelaskan sendiri. Tolong temani Ibu dulu.'
Setelah panggilan berakhir, ia meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja. Tangannya terasa dingin meski ruangan tidak terlalu sejuk. Ia merapikan lengan kemeja, lalu sadar telah melakukannya dua kali.
***
Pranoto muncul bersama Padma tepat menjelang waktu pertemuan. Rendra segera berdiri.
'Terima kasih sudah datang, Pak.'
Pranoto menyambut uluran tangannya dengan singkat. Padma hanya memberikan sapaan kecil, kemudian duduk tanpa banyak bicara.
Mereka tidak langsung membahas pernikahan. Pranoto menanyakan Wina, dan Rendra menjelaskan bahwa ibunya sudah sadar tetapi masih harus dirawat. Setelah itu keheningan turun, membuat bunyi cangkir yang diletakkan di meja terasa terlalu jelas.
Pranoto bersandar.
'Baik. Kami sudah datang. Apa yang ingin kamu luruskan?'
Rendra menatap Padma sebelum beralih kepada ayahnya.
'Saya ingin membatalkan rencana pernikahan ini, Pak.'
Wajah Pranoto mengeras.
Padma tidak bergerak, tetapi jemarinya yang semula terletak santai di pangkuan kini saling menggenggam.
'Saya minta maaf karena baru mengatakan langsung sekarang,' lanjut Rendra. 'Seharusnya saya menolak sebelum persiapan sejauh ini.'
'Kamu pikir semuanya sesederhana meminta maaf?' tanya Pranoto.
'Tidak, Pak.'
'Sejak awal kamu datang, ikut bicara, ikut menyiapkan. Kamu sudah dewasa, Rendra. Bukan anak kecil yang bisa bersembunyi di belakang keputusan ibunya.'
'Saya tidak ingin bersembunyi.'
'Lalu apa alasanmu?'
Rendra menelan ludah. Ia tidak bisa meminta Pranoto memahami tanpa mengatakan kebenaran yang selama ini terlalu malu diakuinya.
'Saya masih mencintai Rindu. Saya tidak siap menikah dengan Padma, dan saya tidak ingin menjalani pernikahan hanya karena perusahaan saya membutuhkan bantuan.'
Pranoto meletakkan telapak tangan di meja.
'Jaga ucapanmu. Kamu sedang mengatakan saya membeli seorang menantu?'
'Saya mengatakan keputusan saya waktu itu salah. Saya membiarkan kebutuhan perusahaan menjadi alasan untuk menyetujui sesuatu yang tidak sanggup saya jalani.'
Padma akhirnya mengangkat wajah.
'Waktu kamu menemani aku bertemu Ayah, kamu sudah merasa begitu?'
Rendra menatapnya.
'Iya.'
'Kenapa kamu tidak bilang?'
'Aku takut mengecewakan keluargaku. Aku juga mengira Rindu menyetujuinya.'
Padma tersenyum tipis, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.
'Jadi persetujuan Rindu yang membuatmu berani datang. Bukan karena kamu benar-benar ingin menikah denganku.'
Rendra tidak mencari kalimat yang bisa memperhalus kenyataan itu.
'Iya. Aku minta maaf.'
Pranoto menggeser kursinya, jelas tidak nyaman mendengar putrinya diperlakukan seperti pilihan yang baru dipertimbangkan setelah orang lain melepaskan.
'Kalian sudah bercerai. Apa lagi yang menghalangimu?'
'Perceraian itu tidak membuat saya tiba-tiba bisa memberikan perasaan yang seharusnya dimiliki seorang suami.'
'Kamu mau kembali kepadanya?'
'Saya ingin memperbaiki kesalahan saya. Tetapi Rindu belum mau, dan saya tidak tahu apakah dia akan berubah pikiran.'
'Lalu kamu membatalkan pernikahan yang jelas demi sesuatu yang belum pasti?'
Rendra menunduk sebentar.
'Sekalipun Rindu tidak pernah kembali, saya tetap tidak akan menikahi Padma dalam keadaan seperti ini.'
Kalimat itu membuat Padma menatapnya lebih lama. Ia masih terluka, tetapi setidaknya Rendra tidak sedang menawarkan dirinya sebagai cadangan sambil menunggu perempuan lain bersedia menerima.
'Kalau begitu jangan bilang kamu melakukan ini demi aku,' katanya.
Rendra mengangkat kepala.
'Aku tidak akan bilang begitu.'
'Karena aku tetap dipermalukan. Orang-orang sudah tahu persiapannya. Aku yang harus menjawab pertanyaan mereka.'
'Aku bersedia menjelaskan bahwa keputusan ini dariku.'
'Aku tidak membutuhkanmu mendatangi semua orang dalam hidupku. Aku hanya ingin kamu tidak membuat cerita seolah aku yang menolak atau Ayah meminta terlalu banyak.'
Rendra membenarkan dengan suara pelan.
'Aku tidak akan mengatakan itu.'
Padma menarik napas, berusaha menjaga suaranya agar tidak pecah.
'Kamu tahu apa yang paling membuatku malu? Aku ikut membicarakan persiapan denganmu, tetapi ternyata kita memikirkan dua hal yang berbeda. Aku mengira kita sedang mencoba saling mengenal. Kamu sedang menunggu sesuatu dalam hidupmu menjadi lebih mudah.'
Rendra menatap cangkir di depannya sebelum memberanikan diri kembali melihat Padma.
'Aku seharusnya menghentikan semuanya saat itu.'
'Iya. Bukan setelah aku terlanjur menjelaskan rencana ini kepada orang lain.'
Pranoto berdiri, lalu berjalan beberapa langkah ke sisi ruang duduk. Ia memunggungi mereka sejenak, menahan kemarahan yang tidak ingin ditampilkan terlalu keras di tempat umum.
Padma mengambil gelasnya, tetapi kembali meletakkannya tanpa minum.
'Selama ini aku pikir kamu hanya sedang tertekan karena perusahaan,' katanya. 'Aku tidak tahu aku juga bagian dari tekanan itu.'
Rendra merasakan kata-kata tersebut menghantamnya.
'Kamu bukan kesalahan, Padma. Persetujuanku yang tidak jujur itu yang salah.'
'Kalimatmu bagus. Sayangnya terlambat.'
'Iya.'
Jawaban singkat itu tidak menyembuhkan apa pun. Padma masih mempunyai rasa malu dan pertanyaan yang tidak akan lenyap sesudah mereka pulang. Rendra hanya bisa duduk menerima bahwa penyesalannya tidak memberi kewajiban kepada siapa pun untuk merasa lebih baik.
Pranoto kembali ke meja. Ia tidak duduk lagi.
'Ibumu sudah banyak meminta kepada saya. Saya mendengarkan karena percaya keluarga kalian akan menghormati keluarga saya.'
'Saya mengerti Bapak marah.'
'Jangan bilang mengerti kalau kamu tidak tahu bagaimana rasanya melihat anakmu diperlakukan seperti ini.'
Rendra terdiam.
Padma berdiri di samping ayahnya. Ia mengambil tas, lalu memandang Rendra untuk terakhir kali sebelum pertemuan itu berakhir.
'Aku menerima bahwa pernikahan ini batal. Tapi aku belum bisa menerima caramu sampai pada keputusan itu.'
'Aku mengerti.'
Pranoto menahan langkah putrinya sejenak. Tatapannya kembali tertuju kepada Rendra, kali ini tidak menyisakan kehangatan yang pernah dipakai saat membicarakan masa depan keluarga.
'Satu hal lagi. Jangan berharap janji bantuan untuk perusahaanmu tetap berlaku.'
Rendra berdiri perlahan.
'Seluruh rencana suntikan dana saya tarik,' tegas Pranoto. 'Mulai sekarang, urus sendiri masalah Pangestu.'