'Aku ingin membahagiakan Ibu,' jawab Rendra pelan. 'Tapi aku tidak akan menikahi Padma.'
Tangisan Wina tersendat. Ia menatap putranya seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
'Setelah Ibu memohon seperti ini?'
'Aku tidak bisa memberikan janji hanya supaya Ibu berhenti menangis.'
'Kamu tega, Ren.'
Rendra merasakan jemari ibunya terlepas dari tangannya. Wina memalingkan wajah, meninggalkan telapak kosong yang sesaat lalu masih digenggam erat.
Hesti maju selangkah.
'Sudahlah, Bu. Dia memang tidak mau mendengarkan.'
'Kak, jangan memperkeruh keadaan.'
'Siapa yang memperkeruh? Ibu cuma minta kamu menepati janji!'
'Janji itu kubuat dengan syarat Rindu mengizinkan. Ibu bilang dia setuju, padahal tidak.'
'Kalau memang kamu tidak ingin menikah, kenapa waktu itu ikut menyiapkan semuanya?' tuntut Hesti.
Pertanyaan itu membuat Rendra terdiam. Untuk sekali ini, kakaknya menyentuh kesalahan yang tidak bisa dilimpahkannya kepada orang lain.
'Karena aku tidak berani menolak dari awal,' katanya kemudian. 'Karena aku memilih percaya pada yang ingin kudengar tanpa bertanya langsung kepada Rindu. Itu salahku.'
Wina menoleh sedikit. Ia menunggu kalimat berikutnya, berharap pengakuan itu akan berubah menjadi alasan untuk memenuhi permintaannya.
Namun, Rendra justru berkata, 'Aku tidak mau mengulanginya dengan Padma.'
'Jadi Ibu yang harus menanggung malu?'
'Aku akan menemui mereka. Aku yang membatalkan, aku yang menjelaskan.'
Wina menutup mata. Air mata masih mengalir dari sudutnya, membasahi bantal dengan lambat. Rendra ingin mengusapnya, tetapi ibunya menarik wajah ketika tangannya mendekat.
'Tidak usah,' bisiknya.
Rendra menarik tangan kembali.
Hesti menatapnya dengan amarah yang ditahan karena mereka berada di ruang perawatan. Ia mengambil tisu dan membantu Wina, sambil menggumamkan bahwa ibunya tidak perlu memikirkan apa pun dulu.
Rendra tidak membalas sindiran yang terselip di dalamnya. Ia hanya memastikan air dan keperluan Wina terjangkau, kemudian berdiri.
'Aku di luar. Kalau Ibu perlu sesuatu, panggil aku.'
'Kamu pulang saja,' kata Wina tanpa membuka mata.
'Aku menunggu di luar, Bu.'
Sore itu, pintu yang menutup di belakang Rendra terasa lebih berat daripada pintu rumah yang hendak ditinggalkannya kemarin. Ia tidak menyerah pada tuntutan Wina, tetapi kemenangan bukan sesuatu yang dirasakannya.
Yang tertinggal hanya seorang anak yang mencintai ibunya dan seorang lelaki yang terlambat belajar mengatakan tidak.
***
Keesokan paginya, Rindu membuka tirai kamar hotel di Singapura. Ia baru sempat kembali untuk mandi dan mengganti pakaian setelah memastikan Ani didampingi petugas rumah sakit. Cahaya di luar tampak cerah, bertolak belakang dengan matanya yang masih terlihat lelah di cermin.
Ponselnya tidak menunjukkan panggilan baru dari Rendra.
Rindu membiarkan layar padam, kemudian mengeluarkan pakaian dari koper. Sebagian telah dipakainya berulang kali selama bolak-balik mengurus ibunya dan menghadiri sidang. Ada kebiasaan yang hampir dilakukannya tanpa berpikir: memisahkan pakaian Rendra dari miliknya.
Tangannya berhenti.
Di koper itu hanya ada barang-barangnya sendiri.
Rindu duduk di tepi ranjang, menatap ruang kosong di sampingnya. Ia tidak menyesali keputusan untuk mempertahankan harga diri, tetapi itu tidak berarti perpisahan terasa ringan. Ada hari-hari yang dahulu dibayangkannya bersama Rendra, kini harus dihadapi tanpa tahu ke mana harus meletakkan sisa rindu.
Pesan dari Hadi masuk ketika ia hendak menutup koper. Pengacaranya mengabari bahwa urusan berkas perceraian masih dipantau dan ia akan memberi tahu ketika ada keperluan yang harus ditangani Rindu.
'Baik, Pak. Terima kasih. Saya masih menemani Ibu di Singapura.'
Rindu membaca jawabannya sendiri. Kalimat itu terdengar tenang, seakan yang sedang diurus hanyalah selembar kertas biasa, bukan penegasan bahwa rumah tangganya telah berakhir.
Ia menyimpan ponsel, lalu memeriksa tas sebelum kembali ke rumah sakit.
Ani sedang terjaga ketika Rindu masuk. Wanita itu menatap rambut putrinya yang masih sedikit lembap.
'Kamu sempat sarapan?'
'Belum banyak. Tadi makan roti.'
'Itu saja?'
'Nanti kutambah.'
Ani mendesah. 'Kamu dan kata nanti itu sulit dipisahkan.'
Rindu tersenyum tipis dan mendekatkan kursi.
'Ibu ingin aku duduk atau mencari makan dulu?'
'Duduk. Ceritakan di luar panas atau hujan. Dari tadi Ibu hanya melihat tirai.'
'Panas, Bu. Tapi langitnya cerah.'
Rindu menceritakan hal-hal kecil yang dilihatnya selama perjalanan. Ani mendengarkan, sesekali bertanya, lalu tersenyum ketika putrinya salah mengingat warna payung seseorang.
Percakapan itu tidak menjawab tempat tinggal mereka kelak, tidak pula menyelesaikan luka yang masih disembunyikan Rindu. Namun, selama beberapa menit, ia bisa menjadi seorang putri yang bercerita kepada ibunya, bukan perempuan yang terus-menerus dituntut menjelaskan mengapa dirinya ditinggalkan.
***
Siang hari yang sama, Rendra kembali ke kamar hotel yang sudah disewanya sebelum sidang terakhir. Ia baru pergi setelah Hesti setuju menunggu Wina dan Doni memastikan perawatan tetap dilanjutkan.
Koper yang sejak kemarin terkurung di bagasi akhirnya dibawanya masuk.
Rendra meletakkannya di dekat lemari, membuka ritsleting, lalu memandangi pakaian yang dikemasnya dengan amarah. Lengan kemeja terselip di antara celana, beberapa bagian kusut karena dijejalkan begitu saja. Ia mengeluarkannya satu per satu.
Dulu Rindu sering menegur caranya menyimpan pakaian. Teguran kecil yang pernah dianggapnya bagian biasa dari hidup kini berubah menjadi kenangan yang menyakitkan karena tidak lagi terdengar.
Rendra duduk setelah merapikan beberapa helai. Ia menelepon Pranoto sesuai janji.
'Saya ingin bertemu besok sore, Pak. Kalau Bapak berkenan, di ruang duduk hotel tempat saya menginap.'
'Kenapa tidak di rumahmu?'
'Ibu masih dirawat. Saya ingin pembicaraan ini tidak terganggu.'
'Kamu menyewa hotel sekarang?'
'Iya, Pak.'
Pranoto terdiam. Rendra tidak berusaha menutupi bahwa ia sedang mengambil jarak dari rumah. Ia hanya menyebut waktu dan memastikan Padma dapat hadir.
'Kamu harus tahu Padma juga menunggu kepastian,' kata Pranoto.
'Itu sebabnya saya ingin bicara langsung dengannya.'
'Jangan datang dengan alasan yang dibuat-buat.'
'Saya akan mengatakan yang sebenarnya.'
Sesudah waktu disepakati, Rendra mencatatnya agar tidak ada lagi ruang untuk menghindar. Pesan konfirmasi datang beberapa menit kemudian.
Pranoto akan datang bersama Padma besok sore.
Rendra membalas bahwa ia akan menunggu di sana.