Rendra mengambil ponsel dari tangan Hesti dan berjalan keluar agar suara percakapan tidak mengganggu Wina. Ia menekan tombol penerima sebelum panggilan itu terputus.
'Selamat siang, Pak. Saya Rendra.'
'Kenapa kamu yang menjawab? Ibumu ke mana?'
'Ibu sedang dirawat di rumah sakit. Sejak kemarin.'
Ada keheningan singkat di seberang. Pranoto kemudian menanyakan keadaannya, tetapi pertanyaan berikutnya segera beralih pada pertemuan yang tertunda dan persiapan yang belum mendapat kepastian.
'Saya perlu bicara langsung dengan Bapak dan Padma,' kata Rendra.
'Masalah apa?'
'Tentang rencana pernikahan. Saya tidak ingin menyampaikannya lewat telepon seperti ini.'
'Rendra, jangan membuat saya menebak-nebak. Ibumu bilang semuanya sudah beres.'
Rendra memandang Hesti yang berdiri di ambang pintu.
'Ada yang harus saya luruskan sendiri, Pak. Besok saya hubungi Bapak untuk memastikan waktunya.'
'Kamu yang menghubungi. Saya tidak mau terus mengejar jawaban.'
'Baik, Pak.'
Panggilan berakhir sebelum Rendra sempat menambahkan apa pun. Ia menatap layar yang gelap, kemudian menyerahkan ponsel kembali kepada Hesti.
'Apa yang kamu bilang?' tanya kakaknya.
'Kakak mendengarnya.'
'Kamu bisa bilang menunggu Ibu sehat. Kenapa malah ingin menemui mereka?'
'Karena mereka berhak mendengar langsung dariku.'
Hesti mengatupkan bibir. Ia mengenali ketegasan itu, ketegasan yang biasanya membuatnya merasa aman karena Rendra akan membereskan urusan perusahaan. Kali ini justru suara yang sama membuat perutnya terasa dingin.
'Jangan ambil keputusan saat pikiranmu sedang kacau.'
'Keputusan ini sudah kuambil sebelum Ibu dirawat.'
'Dan sekarang keadaan berubah!'
Rendra hendak menjawab ketika Irma keluar dari ruang perawatan dan memanggil mereka. Wina mulai memberikan respons. Seketika seluruh pertengkaran terputus, digantikan langkah keduanya yang tergesa mengikuti perawat itu.
***
Kelopak mata Wina terbuka perlahan. Pandangannya bergerak tanpa arah sebelum berhenti pada wajah Rendra yang mendekat. Ia tampak kebingungan melihat ruangan dan alat di sekitarnya.
'Ren?'
'Iya, Bu. Aku di sini.'
Wina berusaha menggerakkan tangan. Rendra segera menyambutnya tanpa menarik tubuh ibunya dari posisi berbaring.
'Ibu di mana?'
'Di rumah sakit. Kemarin Ibu pingsan.'
Hesti berdiri di sisi lain ranjang. Matanya berair, meski bibirnya berusaha membentuk senyum.
'Ibu membuat kami takut.'
Wina memandangnya sebentar, kemudian kembali mencari Rendra. Jemarinya mengerat dengan tenaga yang tidak seberapa, seperti takut putranya akan hilang kalau ia lengah.
'Kamu belum pergi?'
'Belum, Bu. Aku menemani Ibu.'
Kelegaan melintas pada wajah pucat itu. Namun, sebelum Wina mengajukan pertanyaan lain, Irma mengingatkan agar percakapan tidak terlalu panjang. Rendra mengiyakan, meminta ibunya beristirahat sementara Doni akan datang memeriksa.
Wina menurut, tetapi tangannya tidak segera melepaskan jemari Rendra.
Pria itu duduk di kursi yang ditarik Hesti. Melihat ibunya membuka mata membuat sesuatu yang menyesakkan sejak kemarin perlahan mengendur. Ia bersyukur, begitu bersyukur sampai harus menunduk untuk menyembunyikan mata yang panas.
Hanya saja, rasa lega tidak serta-merta membuat seluruh persoalan menjadi sederhana.
Doni datang tidak lama kemudian. Setelah pemeriksaan, ia menjelaskan bahwa Wina tetap perlu dirawat dan keluarga harus menjaga suasana tetap tenang. Hesti mendengarkan dengan serius, sedangkan Rendra bertanya tentang kebutuhan pendampingan tanpa mendesak tanggal kepulangan.
'Jangan memaksakan pembicaraan yang melelahkan,' pesan Doni sebelum pergi.
Rendra menatap ibunya.
'Ibu dengar sendiri. Istirahat dulu.'
'Pakaian Ibu?'
'Sudah dibawa,' jawab Hesti, mengangkat tas agar terlihat. 'Bi Darmi yang menyiapkan.'
Wina memandang tas itu, lalu ruangan yang tidak dikenalnya. Di rumah, semua benda berada di tempat yang ia tentukan. Di sini bahkan waktu untuk berbicara harus menunggu izin. Ia menatap Rendra lebih lama, ingin memastikan masih ada sesuatu yang bisa dipegangnya ketika tubuhnya sendiri tidak mau menurut.
'Jangan jauh-jauh,' pintanya.
'Aku masih di rumah sakit, Bu.'
Wina tidak menjawab. Ia menoleh ke arah tas yang dibawa Hesti, lalu memejamkan mata dengan wajah yang ternyata belum juga tenang.
***
Menjelang sore, Wina meminta Rendra mendekat. Hesti sedang merapikan pakaian di sudut ruangan. Ponsel ibunya telah diletakkan di atas tas, cukup dekat untuk terlihat ketika layarnya menyala.
'Pak Pranoto menelepon?' tanya Wina.
Rendra menarik kursi.
'Tadi siang. Aku sudah memberi tahu Ibu sedang dirawat.'
'Apa katanya?'
'Menanyakan keadaan Ibu.'
'Selain itu?'
Rendra terdiam sesaat. Wina mengenal putranya cukup lama untuk mengetahui bahwa diam itu berarti ada sesuatu yang tidak ingin didengarnya.
'Ren, jangan membuat Ibu terus berpikir.'
'Beliau menanyakan persiapan pernikahan. Aku bilang perlu bertemu.'
Wina menghela napas, lalu tiba-tiba mengusap sudut matanya. Gerakan kecil itu membuat Rendra menegang.
'Ibu sudah memikirkan semuanya sejak kemarin,' katanya lemah. 'Kamu marah kepada Ibu. Ibu tahu.'
'Aku tidak ingin membahas pertengkaran sekarang.'
'Tapi Ibu tidak bisa tenang kalau kamu masih akan membatalkan semuanya.'
Hesti menghentikan kegiatannya. Ia menoleh, berharap sakit dan air mata Wina akhirnya dapat melakukan sesuatu yang tidak sanggup dilakukan kemarahannya.
Rendra melihat kedua mata ibunya mulai basah.
'Bu, dokter meminta Ibu beristirahat.'
'Bagaimana Ibu mau istirahat? Rumah kita, perusahaan, semua bisa hilang. Ibu ini sudah tua, Ren. Ibu harus ke mana nanti?'
Rendra menunduk. Ia pernah mendengar ketakutan itu berkali-kali, tetapi mendengarnya dari ranjang rumah sakit membuat rasa bersalah datang dengan bentuk yang lebih tajam.
'Aku tidak akan menelantarkan Ibu.'
'Kalau begitu tepati janjimu.'
Wina menarik napas sebelum melanjutkan, seakan setiap kalimat harus dipungut dengan tenaga yang tersisa.
'Ibu tidak meminta orang asing. Padma anak baik. Bapaknya juga sudah mau menolong. Kamu hanya perlu melanjutkan yang sudah kita bicarakan.'
'Aku sudah mengatakan alasanku.'
'Rindu sudah menceraikanmu!'
Rendra mengangkat wajah. Kata-kata itu melukai bagian yang sejak kemarin belum sempat mengering.
'Aku yang mendaftarkan perceraian itu, Bu.'
'Ibu tidak sedang membahas siapa yang mendaftarkan. Sekarang kalian sudah berpisah. Untuk apa menghancurkan kesempatan yang masih ada?'
Hesti mendekat, tetapi Rendra mengangkat tangan agar ia tidak ikut menyela. Ia menatap Wina, melihat ketakutan yang nyata di wajah ibunya, sekaligus tuntutan yang masih sama seperti sebelum tubuh itu terjatuh di garasi.
'Ibu takut kehilangan semuanya,' bisik Wina. Air matanya turun. 'Apa permintaan Ibu terlalu besar untuk kamu kabulkan?'
Rendra menahan napas. Tangan yang digenggamnya terasa hangat, tangan yang dahulu merawatnya ketika sakit dan kini meminta dirinya menyerahkan hidup agar rumah mereka tetap berdiri.
Wina memegangnya lebih erat.
'Menikahlah dengan Padma, Ren. Buktikan kalau kamu masih mau membahagiakan Ibu.'