'Lalu kamu ingin aku melakukan apa?' tanya Hesti, menatap Rendra dengan mata menyipit. 'Uangku juga tidak banyak.'
'Aku tidak sedang meminta Kakak membayar semuanya.'
'Tadi kamu bilang tidak bisa menyerahkan semua kepadamu.'
'Menemani Ibu juga tanggung jawab. Membawa barangnya, mencari tahu kebutuhannya, bergantian menunggu. Jangan hanya menanyakan biaya lalu merasa tugasmu sudah cukup.'
Hesti tersentak. Ia ingin menunjuk tas pakaian yang baru dibawanya sebagai bukti bahwa dirinya telah membantu, tetapi Rendra lebih dulu menggeser tas itu agar tidak jatuh dari kursi.
'Aku tahu Kakak sudah mengambil pakaian. Besok pagi tunggu Ibu sementara aku ke bagian administrasi.'
'Memangnya harus ada yang menunggu terus? Ada perawat.'
Rendra menatapnya, lama.
Hesti akhirnya membuang muka.
'Iya. Aku tunggu.'
Keduanya kembali diam. Lampu lorong tetap terang, membuat malam terasa tidak pernah benar-benar datang. Rendra bersandar, mencoba memejamkan mata tanpa berhasil. Setiap kali langkah terdengar mendekat, ia terbangun dari lamunan pendek dan melihat ke arah ruang perawatan.
Hesti menggulung ujung selendangnya untuk dijadikan sandaran. Ia mengeluh tentang kursi yang keras, lalu berhenti setelah melihat mata Rendra yang memerah. Adiknya tidak menegur, tetapi kelelahan pada wajah itu membuat keluhan berikutnya tertahan.
Malam berlalu dalam tidur yang terputus-putus. Sesekali mereka bergantian bertanya kepada Irma tentang Wina, kemudian kembali menunggu setelah mendapat penjelasan bahwa pemantauan masih dilanjutkan.
***
Pagi berikutnya, Rendra mencuci wajah sebelum menemui Doni. Ia belum berganti pakaian, padahal koper berisi bajunya berada di mobil. Benda itu terasa jauh, seolah harus melewati kehidupan yang berbeda untuk membukanya.
Doni mengajaknya berbicara sebentar di luar ruang perawatan.
'Sejauh ini keadaan Ibu tidak memburuk. Namun, beliau masih perlu diawasi dan belum bisa dipulangkan.'
Rendra mengembuskan napas. Kabar itu tidak menghapus ketakutannya, tetapi cukup untuk membuat kedua bahunya sedikit turun.
'Jadi perawatannya diteruskan?'
'Iya. Kami akan memberi tahu jika ada perubahan atau pemeriksaan tambahan yang perlu dibicarakan.'
'Baik, Dok.'
Doni memperhatikan wajahnya.
'Anda juga perlu istirahat. Tidak ada gunanya sampai jatuh sakit ketika harus mendampingi keluarga.'
'Kakak saya menunggu sekarang. Saya akan ganti pakaian setelah mengurus pembayaran.'
'Atur bergantian. Jangan semuanya dipaksakan sendiri.'
Rendra mengucapkan terima kasih, lalu berjalan ke bagian administrasi. Di sana ia meminta penjelasan tentang pembayaran awal yang telah dilakukan dan perkiraan kebutuhan berikutnya. Ia membaca kertas yang diberikan sampai memahami mana yang sudah terbayar dan mana yang masih harus disiapkan.
Tidak semuanya jatuh tempo pagi itu. Namun, kenyataan bahwa biaya akan terus berjalan membuatnya menatap saldo di ponsel lebih lama daripada semalam.
Ia menyisihkan sebagian lagi dari cadangan tabungan untuk menambah pembayaran perawatan. Setelah transaksi tercatat, Rendra menyimpan buktinya bersama kertas pertama, lalu duduk sebentar.
Dulu ia mudah mengatakan akan menanggung sesuatu sebelum benar-benar memastikan pertolongan itu sampai. Kepada Rindu, ia pernah menjanjikan uang untuk Ani dengan begitu yakin. Kini janji itu tidak bernilai apa-apa di hadapan rumah yang terpaksa dijual dan operasi yang tertunda.
Rendra menutup ponsel.
Ia belum bisa mengembalikan rumah Rindu, belum bisa memperbaiki seluruh kebohongannya sendiri, apalagi menuntut perempuan itu percaya lagi. Yang ada di hadapannya pagi ini adalah perawatan Wina dan angka yang benar-benar harus ia bayar.
***
Hesti sedang berdiri dekat pintu ketika Rendra kembali. Di tangannya ada botol air yang belum dibuka, sementara tas pakaian Wina telah dipindahkan ke tempat yang diperbolehkan.
'Ibu bagaimana?' tanya Rendra.
'Belum bicara. Tadi perawat sudah memeriksa lagi.'
Rendra menatap kakaknya, kemudian mengucapkan terima kasih karena telah menunggu.
Hesti tampak sedikit terkejut. Ia segera menutupi perubahan wajahnya dengan bertanya tentang pembayaran.
'Kamu menambah uang lagi?'
'Iya. Bukti pembayarannya kusimpan di sini.'
Ia menunjukkan lipatan kertas. Hesti melihat jumlahnya dan langsung mendecakkan lidah.
'Kalau setiap hari begini, tabunganmu tidak akan cukup.'
'Itu sebabnya kebutuhan rumah juga harus dibatasi.'
'Jangan mulai menyuruhku menjual ini dan itu. Mobilku sudah kujual.'
'Aku belum menyuruh Kakak menjual apa pun.'
'Tapi arah bicaramu sudah begitu.'
Rendra menarik napas, menahan dorongan untuk membalas lebih keras. Tidak ada gunanya berdebat tentang tas yang dipeluk Hesti di tempat seperti ini. Masalah uang yang diambil kakaknya masih menunggu, sama seperti banyak persoalan lain yang belum sanggup disentuhnya sekaligus.
'Aku meminta kita memprioritaskan yang perlu,' katanya. 'Itu saja dulu.'
Hesti memutar tutup botol dengan gerakan kasar. Kata perlu selalu terdengar berbeda ketika diucapkan Rendra. Baginya, menjaga penampilan dan kedudukan bukan sesuatu yang bisa begitu saja dihapus dari daftar kebutuhan.
'Aku akan ke mobil sebentar untuk mengambil baju,' kata Rendra.
'Kamu tidak pergi?'
'Aku kembali ke sini. Aku sudah bilang.'
Hesti tidak menjawab. Ia hanya duduk lagi, merasa malu karena ketakutannya ketahuan.
Di parkiran, Rendra membuka bagasi. Kopernya berada di tempat yang sama seperti ketika ia meninggalkan garasi. Ia mengambil pakaian bersih, lalu menutupnya kembali tanpa mengeluarkan seluruh isinya.
Ponsel bergetar di saku. Rendra segera meraihnya dengan harapan yang muncul terlalu cepat.
Bukan Rindu.
Hanya pemberitahuan biasa yang tidak ada hubungannya dengan perempuan itu.
Pria itu memandangi layar, kemudian membuka riwayat panggilan semalam. Ia belum mendapat balasan. Ada keinginan mencoba sekali lagi, tetapi bayangan Rindu yang mengusap air mata di pengadilan membuat tangannya berhenti.
Rindu mungkin sedang mendampingi Ani. Mungkin sedang makan, tidur, atau sekadar mencoba bernapas tanpa mendengar namanya.
Rendra memasukkan ponsel kembali ke saku.
Ia mengganti pakaian setelah kembali ke gedung, lalu mengambil giliran berada dekat Wina. Hesti keluar untuk mencari makanan, meninggalkan tas ibunya di kursi dekat pintu.
Rendra duduk dan memperhatikan wajah Wina. Ia masih menyayangi ibunya, meski rasa sayang itu tidak lagi sanggup membuatnya menyetujui semua permintaan.
'Bu, aku di sini,' bisiknya.
Belum ada jawaban. Namun, sebelum ia sempat melanjutkan, getaran panjang terdengar dari dalam tas Wina.
Hesti yang baru beberapa langkah menjauh kembali mendekat. Ia mengambil ponsel ibunya, menatap layar, lalu kehilangan warna di wajah.
'Ren,' panggilnya pelan.
Rendra menoleh.
Hesti membalikkan layar ke arahnya. Nama Pak Pranoto menyala di sana.