Nama Rendra menyala di layar.
Rindu mengambil ponsel itu sebelum getarannya mengganggu Ani. Ibu jarinya berhenti dekat tombol penerima, begitu dekat sampai satu gerakan kecil saja akan mempertemukan kembali suara mereka.
Namun, ingatan tentang pelukan perpisahan di pengadilan datang lebih cepat.
Rindu menekan tombol untuk membisukan dering, bukan menjawabnya. Ia tetap memegang ponsel sampai panggilan berakhir sendiri, lalu meletakkannya dengan layar menghadap ke bawah.
'Ri?'
Panggilan Ani membuatnya segera menoleh.
'Iya, Bu. Mau minum?'
Ani membuka mata perlahan. Rindu membantu mendekatkan gelas sesuai kebutuhan ibunya, lalu kembali merapikan selimut. Ia sengaja menyibukkan tangan agar ibunya tidak melihat gemetar yang belum sepenuhnya hilang.
'Kamu belum istirahat?'
'Sebentar lagi.'
'Dari tadi jawabnya sebentar.'
Rindu berusaha tersenyum. 'Ibu menghitung, ya?'
'Kalau Ibu tidak memperhatikanmu, siapa lagi?'
Pertanyaan itu sederhana, tetapi Rindu merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya. Ia pernah mempunyai seseorang yang mengingatkan makan dan menegurnya jika terlalu lelah. Ia juga pernah percaya perhatian itu akan menjadi tempat pulang, sampai orang yang sama melemparkan tuduhan yang menghancurkan harga dirinya.
Sekarang ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa dirinya telah kehilangan tempat itu tanpa membuat Ani ikut menanggung sakit.
'Aku bisa menjaga diri, Bu.'
Ani menatap pipi putrinya.
'Kelihatannya tidak begitu.'
Rindu duduk di samping tempat tidur, meraih tangan yang dulu selalu menuntunnya ketika masih kecil.
'Aku hanya ingin Ibu cepat membaik.'
'Ibu juga ingin kamu sehat.'
'Iya. Nanti aku makan.'
'Jangan nanti terus.'
'Kalau aku keluar sebentar, Ibu mau tidur?'
'Kamu pikir Ibu anak kecil yang harus ditawari sesuatu dulu?'
Rindu tersenyum lemah. 'Bukan begitu. Aku cuma takut Ibu memanggil saat aku tidak ada.'
'Makan dekat sini saja. Ibu tidak menyuruhmu pergi jauh.'
'Iya, Bu.'
'Dan jangan menunggu Ibu tidur untuk mengaku lelah. Kamu boleh duduk tanpa melakukan apa-apa.'
Rindu menatap tangan yang digenggamnya. 'Kalau berhenti bergerak, pikiranku ke mana-mana.'
'Kalau begitu duduk bersama Ibu. Tidak perlu selalu ada yang kamu kerjakan supaya Ibu senang ditemani.'
Rindu mengusap punggung tangan ibunya, mengiyakan dengan suara lembut. Ia tidak menyebut telepon tadi. Ani pun tidak menanyakan siapa yang menghubungi. Bagi Rindu, keheningan itu terasa seperti kain tipis yang masih menutupi luka, rapuh tetapi belum sanggup ia singkap.
***
Setelah Ani kembali beristirahat, Rindu keluar sebentar untuk mengambil makanan yang sudah dibelinya. Ia duduk di kursi dekat ruang perawatan, membuka bungkus, lalu memandangi nasi yang mulai dingin.
Ponselnya menunjukkan satu panggilan tak terjawab.
Hanya satu, tetapi cukup untuk membuat seluruh tubuhnya menegang.
Apa yang ingin Rendra katakan lagi? Maaf? Penyesalan? Permintaan agar ia kembali?
Rindu tidak tahu. Justru karena tidak tahu, pikirannya menghadirkan bermacam kemungkinan. Ada bagian dari dirinya yang masih ingin menekan nama itu, mendengar suara yang selama tiga tahun menjadi bagian dari keseharian. Bagian lainnya mengingat bagaimana suara yang sama pernah menyebutnya perempuan menjijikkan.
Ia meletakkan ponsel lebih jauh.
Makanlah, katanya kepada diri sendiri. Ibu akan bertanya lagi.
Baru beberapa suap, sebuah pesan masuk. Kali ini dari Zavin, menanyakan keadaan Ani dan apakah perjalanan kembali ke Singapura berjalan baik. Pria itu tidak menelepon, seolah memahami bahwa Rindu belum tentu mempunyai waktu untuk menjawab.
Rindu membalas singkat. Ia sudah berada di rumah sakit, dan ibunya sedang beristirahat.
'Jangan lupa makan juga, Ri,' tulis Zavin.
Rindu memandangi bungkus di pangkuannya, kemudian membalas bahwa ia sedang makan.
'Bagus. Tidak perlu membalas cepat kalau sedang menemani Ibu.'
Kalimat itu tidak meminta apa-apa darinya. Justru karena itulah kedua mata Rindu kembali terasa panas. Dalam hari yang penuh tuntutan, perhatian yang tidak disertai desakan terasa begitu asing sampai ia hampir lupa bagaimana menerimanya.
'Terima kasih, Pak.'
Ia tidak menceritakan panggilan Rendra kepada Zavin. Tidak semua luka perlu dibawa kepada orang yang baru dikenalnya, sekalipun orang itu telah banyak menolong.
Rindu menghabiskan makanannya perlahan. Sesudah merapikan bungkus, ia membuka percakapan dengan Rendra sekali lagi. Jarinya sempat menuliskan pertanyaan pendek, tetapi ia menghapusnya sebelum terkirim.
Ia belum siap.
Bukan berarti kebersamaan mereka tidak pernah berarti. Bukan pula karena rasa cintanya telah lenyap seketika. Justru sisa perasaan itulah yang membuatnya harus berhati-hati, sebab ia tahu betapa mudah dirinya kembali berharap hanya karena mendengar satu kalimat yang lembut.
Rindu memeriksa pengaturan suara ponsel agar panggilan dari rumah sakit tetap terdengar, kemudian menyimpannya. Ia kembali ke kamar Ani, menarik kursi mendekat, dan membuka buku kecil tempatnya mencatat keperluan sehari-hari.
Malam itu, hal yang bisa dilakukannya adalah tetap hadir untuk ibunya.
***
Di Jakarta, Rendra menatap panggilan yang telah berakhir. Ia menunggu beberapa saat, berharap mungkin Rindu sedang berjalan keluar dari kamar sebelum menelepon balik.
Layar tetap diam.
'Rindu?' tanya Hesti yang baru kembali membawa tas pakaian.
Rendra memasukkan ponsel ke saku.
'Barang Ibu sudah dibawa?'
'Sudah. Bi Darmi yang menyiapkan.'
Hesti meletakkan tas di kursi. Matanya kembali melirik saku Rendra.
'Dia tidak mengangkat?'
'Aku tidak tahu dia sedang apa.'
'Kalau dia tahu Ibu masuk rumah sakit, mungkin dia mau bicara.'
'Jangan mulai, Kak.'
'Aku cuma memberi saran. Katamu ingin rujuk.'
Rendra memandang kakaknya. Kemarahan mulai naik, tetapi ia mengingat pesan Doni dan menurunkan suara.
'Aku tidak ingin Ibu sakit menjadi alasan untuk memaksa Rindu menjawab telepon.'
Hesti mendengkus. 'Kamu sendiri yang menelepon.'
'Iya. Aku sendiri yang menelepon.'
Pengakuan itu membuatnya tidak bisa bersembunyi di balik niat baik. Ia memang ingin suara Rindu menenangkan dirinya, ingin mendapat perhatian yang dahulu selalu tersedia. Tetapi keinginan tersebut datang setelah ia mengabaikan ketakutan Rindu ketika Ani sakit.
Rendra mengusap tengkuk, lalu meminta Hesti menyimpan tas agar jalan tidak terhalang.
Mereka diberi kesempatan melihat Wina bergantian. Hesti masuk lebih dulu. Di samping ranjang, ia merapikan ujung selimut yang sebenarnya sudah rapi, kemudian membisikkan bahwa pakaian ibunya sudah dibawa.
Wina belum menyahut.
Hesti menunggu, kecewa karena tidak ada tangan yang bergerak membalas sentuhannya. Tanpa Wina yang bisa diajak menyusun alasan dan mencari jalan pintas, Hesti merasa berdiri sendirian di depan masalah yang terlalu besar.
Ketika keluar, ia menemukan Rendra sedang menata bukti pembayaran dan keterangan biaya dalam satu lipatan.
'Itu simpan baik-baik,' katanya.
'Iya.'
'Besok kalau ada urusan pembayaran lagi, kamu yang menghadap. Namamu yang tercatat sebagai penanggung jawab.'
Rendra mengangkat wajah. Hesti menarik tasnya lebih dekat, seperti sedang memastikan tidak ada yang bisa diminta dari dirinya.
'Kamu tidak bisa menyerahkan semua kepadaku, Kak,' ujar Rendra.