'Aku tetap tidak akan tinggal di rumah,' jawab Rendra.
Hesti berhenti di tengah langkah. Tatapannya berubah tidak percaya, seolah pembayaran yang baru dilakukan adiknya semestinya disertai kesediaan untuk kembali menjadi putra penurut.
'Ibu sedang seperti ini, Ren.'
'Dan aku ada di sini.'
'Itu bukan jawaban.'
'Aku bisa menjaga Ibu tanpa kembali tinggal bersama kalian. Malam ini aku menunggu di rumah sakit. Setelah itu kita atur siapa yang menemani.'
Hesti membuka mulut, lalu menutupnya lagi ketika melihat Irma berjalan melewati mereka. Ia menunggu sampai perawat itu menjauh sebelum kembali mendesis.
'Kamu selalu membuat semuanya sulit.'
Rendra menatap pintu ruang perawatan.
'Aku sedang mencoba supaya kita tidak bertengkar di depan Ibu. Dokter sudah mengingatkan.'
Ucapan itu memaksa Hesti menelan bantahannya. Ia mendudukkan diri dengan kasar, meraih tas, lalu memeriksa ponsel. Beberapa pesan dari teman-temannya menunggu dibaca. Kemarin ia masih bisa membalas dengan foto tas baru, membuat mereka iri dan memujinya tanpa henti. Sekarang ia bahkan tidak punya keberanian membuka percakapan itu.
'Ambilkan pakaian Ibu dari rumah,' kata Rendra setelah beberapa lama.
'Kamu menyuruhku pulang?'
'Ibu akan dirawat. Kita perlu menyiapkan barangnya. Minta Bi Darmi membantu.'
'Mobilku sudah tidak ada, kamu tahu sendiri.'
'Pakai mobilku. Kuncinya ini.'
Hesti menerima kunci, lalu teringat sesuatu.
'Kopermu masih di bagasi.'
'Biarkan.'
Satu kata itu terasa lebih keras daripada bentakan. Rendra benar-benar belum berubah pikiran.
***
Lampu ruang keluarga masih menyala ketika Hesti kembali ke rumah. Bi Darmi menunggu di dekat sofa dengan wajah cemas. Wanita itu segera berdiri, berharap melihat Wina di belakang putrinya.
'Bagaimana keadaan Ibu, Non?'
'Dirawat. Dokter bilang jantungnya melemah.'
'Ya ampun.'
'Siapkan pakaiannya. Bawa yang nyaman, jangan terlalu banyak.'
Bi Darmi bergerak cepat menuju kamar Wina. Hesti mengikuti sampai depan pintu, lalu berhenti melihat meja rias ibunya. Botol perawatan wajah, sisir, dan kotak perhiasan masih tersusun seperti biasa. Semuanya tampak begitu tenang, tidak peduli bahwa pemilik kamar kini terbaring di rumah sakit.
Di atas meja kecil ada beberapa kertas yang berkaitan dengan persiapan pernikahan Rendra. Hesti memalingkan wajah. Ia belum sanggup melihatnya, tetapi juga tidak sanggup membuangnya.
'Non Hesti mau sekalian membawa baju ganti?' tanya Bi Darmi.
'Ambilkan saja satu.'
'Makan dulu, Non. Dari siang belum makan, bukan?'
'Aku tidak lapar.'
Bi Darmi tidak memaksa. Ia hanya menyiapkan air dan meletakkannya di dekat Hesti sebelum kembali melipat pakaian. Perhatian sederhana itu justru membuat Hesti kesal tanpa alasan yang jelas. Rumah ini selalu menyediakan segala sesuatu untuk mereka, tetapi malam ini segelas air pun terasa tidak cukup untuk menenangkan ketakutannya.
'Den Rendra masih menunggu Ibu?'
'Iya.'
'Syukurlah. Ibu tidak sendiri.'
Hesti menatap wanita itu.
'Kamu pikir dia akan membiarkan Ibu sendirian?'
'Bukan begitu, Non. Bibi hanya lega.'
'Semua orang seperti menganggap aku yang paling tidak peduli.'
Bi Darmi menunduk, tidak menjawab. Ia merapatkan tas pakaian Wina, kemudian menyerahkannya. Hesti menyambut tas itu dengan gerakan kaku, tiba-tiba menyadari bahwa tidak seorang pun tadi menuduhnya apa-apa.
Sebelum pergi, ia berhenti di depan anak tangga. Dari tempat itulah beberapa jam lalu ia melihat Rendra memasukkan koper ke mobil. Ia masih ingat keyakinannya bahwa adiknya hanya sedang marah dan pada akhirnya akan kembali menuruti ibu mereka.
Sekarang yang dibawanya bukan adik yang luluh, melainkan pakaian untuk Wina yang harus bermalam di rumah sakit.
Hesti menekan tombol kunci mobil. Lampu kendaraan menyala, memperlihatkan bahwa bagasi masih tertutup rapat. Ia tidak membukanya untuk mengembalikan koper Rendra ke kamar.
***
Di rumah sakit, Rendra menghabiskan makanan yang dibelinya tanpa benar-benar merasakan apa pun. Ia duduk sendirian, dengan bungkus yang diletakkan di pangkuan. Beberapa suap terakhir harus ditelannya bersama air karena tenggorokannya terasa kering.
Doni menghampiri setelah memeriksa Wina.
'Kakak Anda belum kembali?'
'Sedang mengambil pakaian, Dok.'
'Baik. Saya sudah memberi tahu perawat untuk mengabari jika ada perubahan.'
Rendra berdiri dan merapikan bungkus makanan.
'Dok, Ibu masih belum bisa diajak bicara?'
'Belum. Biarkan beliau beristirahat dan tetap dalam pengawasan.'
Rendra mengusap wajah. Ada pertanyaan lain yang mendesak sejak ia bertemu Doni, tetapi ia merasa malu untuk mengucapkannya di saat ibunya sendiri sedang dirawat.
'Dokter masih berhubungan dengan keluarga Bu Ani?'
Doni menatapnya lebih lama.
'Terkait perawatan, iya.'
'Rindu ... dia sudah kembali mendampingi ibunya?'
'Saya sarankan Anda menanyakan langsung kepadanya. Kalau yang ingin Anda sampaikan urusan pribadi, sebaiknya tidak melalui saya.'
Rendra menunduk. Ia mengerti. Doni bukan jembatan yang bisa dipakainya untuk menembus jarak setelah Rindu memilih menjauh.
'Saya tidak bermaksud meminta Dokter membujuknya.'
'Kalau begitu, sampaikan sendiri. Tapi beri dia kesempatan menentukan apakah dia siap mendengar.'
Doni meninggalkannya dengan pesan agar keluarga tidak saling menyalahkan di dekat pasien. Rendra kembali duduk, kali ini tanpa makanan di tangan.
Ia mengeluarkan ponsel.
Nama Rindu masih tersimpan seperti dulu. Tidak ada perubahan pada nama kontak itu, seakan layar kecil tersebut tidak mengenal ketukan palu hakim, tangan yang terlepas, atau ucapan perpisahan yang sejak siang terus bergema di kepalanya.
Rendra membuka percakapan mereka. Pesan-pesan lama terlihat di sana, termasuk kata-katanya sendiri yang kini terasa asing sekaligus memalukan. Ia pernah begitu mudah menuduh, begitu yakin bahwa perempuan yang tidak menjawab berarti menyembunyikan kesalahan.
Malam ini ia tidak mempunyai keyakinan itu lagi.
Jarinya bergerak menyusun pesan bahwa Wina sedang dirawat, lalu berhenti. Ia tidak ingin sakit ibunya berubah menjadi cara lain untuk membuat Rindu merasa wajib kembali.
Rendra menghapus tulisan tersebut. Ia ingin mendengar suara Rindu, tetapi keinginan itu tidak sama dengan hak untuk mendapatkannya.
Setelah lama menatap layar, akhirnya ia menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar.
Di sebuah kamar rumah sakit di Singapura, ponsel Rindu bergetar di samping segelas air. Wanita yang sedang merapikan selimut Ani itu menoleh, dan jemarinya membeku ketika melihat nama yang muncul.