Rendra kembali ke kursi tunggu setelah Doni masuk untuk melanjutkan pemeriksaan. Hesti duduk di sebelahnya, tetapi keheningan di antara mereka tidak membawa ketenangan. Setiap pintu terbuka, keduanya serentak mengangkat kepala, berharap nama Wina disebut dengan kabar yang lebih baik.
'Ambilkan air, Ren,' pinta Hesti akhirnya. 'Tenggorokanku kering.'
Rendra berdiri tanpa membantah. Ia membeli dua botol, menyerahkan satu kepada kakaknya, lalu membuka botol miliknya. Baru seteguk yang masuk, tetapi rasa pahit di mulutnya tidak juga hilang.
'Ponsel Ibu terus bergetar,' kata Hesti.
'Simpan saja dulu.'
'Kalau ada yang penting?'
'Kita sedang menunggu dokter. Nanti kita lihat.'
Hesti memandangi layar yang kembali gelap. Biasanya Wina akan segera mengangkat setiap panggilan yang mungkin membawa keuntungan bagi keluarga mereka. Kini benda itu terdiam di dalam tas, sementara pemiliknya bahkan belum mampu menjawab ketika dipanggil anak-anaknya.
Waktu terasa berjalan terlalu lambat. Rendra beberapa kali melihat jam, kemudian merasa bersalah karena seolah hendak mendesak sesuatu yang tidak bisa dipercepat oleh keinginannya.
Ketika Doni akhirnya memanggil mereka, Hesti bangkit lebih dulu.
'Bagaimana, Dok? Ibu sudah membaik?'
'Keadaannya lebih terkendali dibanding saat datang. Tetapi dari pemeriksaan yang kami lakukan, kemampuan jantung beliau memompa darah sedang menurun.'
Rendra merasakan tenggorokannya menegang.
'Melemah, Dok?'
Doni membenarkan. Ia menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa Wina memerlukan perawatan dan pengawasan, bukan sekadar beristirahat sebentar lalu dibawa pulang. Tekanan fisik dan emosi yang dialami dapat memperberat keadaannya, tetapi pemeriksaan tetap diperlukan untuk menilai persoalan yang mendasarinya.
'Jadi ini karena pertengkaran tadi?' Hesti menoleh kepada Rendra.
'Bukan waktunya menunjuk siapa yang salah,' ujar Doni sebelum Rendra menjawab. 'Ibu membutuhkan suasana yang tenang. Jangan membawa perdebatan ke dekat pasien.'
Hesti mengatupkan bibir, sedangkan Rendra menunduk.
'Berapa lama harus dirawat, Dok?'
'Belum bisa ditentukan sekarang. Kami melihat perkembangannya dari hari ke hari.'
'Bisa di kamar biasa?' tanya Hesti cepat.
'Penempatannya mengikuti kebutuhan pengawasan Ibu. Jangan memilih hanya berdasarkan kamar yang paling kalian sukai.'
Ucapan itu membuat wajah Hesti menghangat. Ia belum mengatakan apa pun tentang kamar mewah, tetapi Doni seolah sudah membaca kebiasaan keluarganya. Padahal kali ini, untuk pertama kali dalam benaknya, Hesti justru takut memilih sesuatu yang tidak sanggup mereka bayar.
Rendra menarik napas.
'Ikuti yang diperlukan Ibu, Dok. Untuk urusan administrasi, saya yang mengurus.'
Hesti langsung menoleh. 'Ren, tunggu.'
Namun, Rendra tetap menatap Doni.
'Saya boleh melihat Ibu sebentar?'
'Boleh, bergantian. Jangan terlalu lama dan jangan memaksanya berinteraksi.'
***
Rendra berdiri di samping tempat tidur Wina dengan kedua tangan menggantung kaku. Ibunya tampak begitu kecil di bawah selimut rumah sakit, jauh dari sosok yang selalu memenuhi rumah dengan perintah dan tuntutan. Kemarahan yang dibawanya sejak pengadilan belum lenyap, tetapi tidak satu pun dari kemarahan itu membuatnya ingin melihat Wina seperti sekarang.
'Bu,' panggilnya lirih.
Tak ada jawaban.
Rendra mengusap punggung tangan ibunya dengan hati-hati. Ia tidak mengucapkan janji untuk pulang, tidak pula menyatakan bersedia menikahi siapa pun. Kata-kata itu sempat muncul, bukan karena berubah pikiran, melainkan karena rasa takut bisa membuat seseorang menawarkan apa saja agar orang yang dicintainya membuka mata.
Ia menelan semuanya.
'Aku akan mengurus perawatan Ibu,' katanya. 'Ibu tidak perlu memikirkan yang lain dulu.'
Dari pintu, Hesti melihat punggung adiknya. Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin percaya bahwa setelah ini Rendra tidak akan pergi. Bahwa sakitnya Wina akan mengembalikan segala sesuatu pada keadaan yang mereka kenal: adik yang bekerja, ibu yang mengatur, dan dirinya yang tidak perlu memikirkan dari mana uang datang.
Akan tetapi, ketika Rendra keluar, yang ditanyakannya hanya tempat mengurus pembayaran.
'Kamu masih punya uang?' bisik Hesti.
'Ada cadangan tabungan pribadi.'
'Kenapa selama ini kamu tidak bilang?'
Rendra berhenti berjalan.
'Untuk apa?'
'Setidaknya kita bisa membicarakan kebutuhan rumah. Aku juga punya banyak tagihan.'
'Kita sedang membicarakan Ibu, Kak.'
Hesti terdiam, merasa ucapan adiknya menamparnya di depan lorong yang sebenarnya sepi. Ia mengejar ketika Rendra kembali melangkah.
'Aku bukan mau mengambil uangmu. Aku cuma bertanya.'
'Kalau begitu, jawabannya ada. Terbatas, tapi cukup untuk pembayaran awal.'
***
Di bagian administrasi, Rendra memeriksa rincian biaya yang diberikan kepadanya. Hesti berdiri begitu dekat sampai ujung rambutnya menyentuh bahu sang adik. Matanya mengikuti angka pada kertas, lalu melebar.
'Itu baru uang muka?'
Rendra tidak langsung menjawab. Ia membaca keterangan sekali lagi sebelum memastikan jumlah yang perlu dibayar sekarang.
'Ren, kalau perawatannya lama bagaimana? Kita belum tahu kapan Ibu pulang.'
'Aku tahu.'
'Perusahaan juga butuh uang. Rumah juga. Kamu pikir aku menanyakan ini karena apa?'
Pria itu mengeluarkan ponsel. Dana yang dipakainya berasal dari rekening cadangan yang terpisah dari kartu yang dulu dititipkannya melalui Hesti. Jumlahnya tidak sebesar yang diharapkan kakaknya, apalagi jika harus menutup lubang di perusahaan.
Ia memeriksa saldo, menahan rasa sesak, lalu melakukan pembayaran yang diminta.
Hesti menatap layar sebelum Rendra menurunkannya.
'Sudah?'
'Sudah.'
'Tanpa dibicarakan dulu?'
Rendra menerima bukti pembayaran dan menyimpannya.
'Apa yang harus dibicarakan? Ibu perlu dirawat.'
'Jangan bicara seolah aku tidak ingin Ibu dirawat!'
'Aku tidak mengatakan itu.'
Hesti memalingkan wajah, malu sekaligus marah. Tidak ada benda yang bisa dibanggakannya dari pengeluaran ini, tidak ada tas baru atau foto yang bisa ditunjukkan kepada teman. Hanya selembar bukti pembayaran, dan kemungkinan tagihan lain yang belum berhenti bertambah.
Rendra memandangi kertas tersebut. Angka-angka itu menyeretnya pada permintaan Rindu tentang biaya operasi Ani, pada suara Wina yang dulu melarang, pada kartu yang tidak pernah sampai menjadi pertolongan.
Ia tidak berhak merasa telah menjadi suami yang baik hanya karena pernah berniat membantu.
'Ren, aku tanya lagi. Kalau uang ini habis, apa yang akan kamu lakukan?'
Rendra memasukkan bukti pembayaran ke dompet.
'Aku akan memikirkan caranya. Tapi jangan jadikan pertanyaan itu alasan untuk menahan perawatan Ibu.'
Ia berjalan kembali ke ruang tunggu. Hesti menyusul dengan langkah cepat, ketakutannya kini mempunyai bentuk lain selain ranjang rumah sakit.
'Kamu tetap mau pergi dari rumah setelah ini?'