Rendra menjatuhkan kunci mobil dan berlutut di samping Wina. Wajah yang beberapa detik lalu masih menatapnya dengan penuh tuntutan kini pucat, sementara bibir ibunya tidak lagi sanggup menyebut namanya.
'Bu! Ibu dengar aku?'
Hesti berlari dari dekat tangga. Kedua tangannya gemetar ketika melihat tubuh Wina tergeletak di lantai garasi. Semua bantahan yang tadi hendak dilontarkannya mendadak menguap, berganti ketakutan yang membuat kakinya terasa kehilangan pijakan.
'Ren, kenapa Ibu? Tadi Ibu masih bicara!'
'Panggil bantuan, Kak. Sekarang!'
Hesti merogoh tas dengan gerakan kacau. Ponselnya terselip di antara dompet dan tempat kosmetik, benda yang biasanya mudah ditemukan tetapi kini seperti sengaja bersembunyi. Bi Darmi datang setelah mendengar teriakan mereka. Wanita itu segera membantu menghubungi layanan darurat, menyampaikan alamat rumah dengan suara yang berusaha dibuat tenang.
Rendra tetap berada di dekat ibunya, mengikuti arahan yang diberikan melalui telepon. Ia tidak lagi melihat koper di dalam bagasi atau pintu mobil yang terbuka. Keinginannya pergi belum hilang, tetapi tubuh lemah Wina telah menahannya di tempat dengan cara yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan.
'Bu, aku di sini,' katanya berulang. 'Tolong bertahan.'
Hesti menutup mulutnya. Kini bukan wajah marah Rendra yang menakutinya, melainkan cara adiknya memanggil Wina seperti anak kecil yang tersesat.
'Ini gara-gara kamu mau pergi,' gumamnya.
Rendra menoleh. Sorot matanya tajam, tetapi suaranya tertahan.
'Kalau Kakak masih ingin menyalahkanku, lakukan nanti. Sekarang bantu Ibu.'
Hesti menggigit bibir. Ia ingin membantah, mengatakan bahwa semua ini tidak akan terjadi jika Rendra mau mengalah sekali saja. Akan tetapi, napas Wina yang terdengar berat mematahkan keberaniannya. Untuk saat itu, Hesti hanya bisa berdiri dengan tangan saling meremas.
Ketika bantuan tiba, halaman rumah yang biasanya sepi mendadak dipenuhi gerakan tergesa. Rendra memberi jalan bagi penanganan Wina, lalu menjelaskan bahwa ibunya tiba-tiba sesak sebelum jatuh. Ia menyebut rumah sakit tempat Dokter Doni bertugas saat tujuan perawatan dibicarakan.
'Aku ikut Ibu,' ujar Hesti, mendekati kendaraan yang akan membawa Wina.
Rendra mengambil kunci yang terjatuh.
'Aku menyusul dengan mobil. Bawa tas Ibu. Identitasnya ada di dalam.'
Bi Darmi menyerahkan tas Wina setelah mengambilnya dari kamar. Rendra sempat menatap wanita paruh baya itu, hendak meminta sesuatu, tetapi pikirannya terlalu penuh untuk menyusun kalimat.
'Rumah biar Bibi jaga, Den. Den Rendra segera berangkat.'
Pria itu mengangguk sekali. Sebelum masuk ke mobil, ia menutup bagasi. Kopernya tetap berada di sana, seolah menjadi saksi bahwa keputusan yang diucapkannya tadi belum dicabut, hanya tertahan oleh ketakutan.
***
Rendra tiba di rumah sakit beberapa saat setelah Wina dibawa masuk. Ia menemukan Hesti berdiri dekat pintu ruang penanganan, menggenggam tas ibunya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
'Bagaimana Ibu?'
'Masih diperiksa. Aku tidak boleh masuk.'
Rendra mencoba melihat ke dalam, tetapi pintu kembali menutup. Hanya bunyi langkah dan percakapan singkat yang terdengar dari baliknya, tidak cukup jelas untuk memberinya jawaban.
'Duduk dulu, Kak.'
'Aku tidak bisa duduk, Ren!'
'Aku juga tidak bisa tenang.'
Kalimat itu membuat Hesti memandang adiknya. Wajah Rendra tampak lebih kusut daripada saat mereka meninggalkan rumah. Dasinya masih longgar sejak pulang dari pengadilan, lengan kemejanya terlipat tidak sama tinggi. Hari yang dimulai dengan kehilangan seorang istri kini menghadapkan pria itu pada ketakutan kehilangan ibunya juga.
Hesti akhirnya duduk, tetapi lututnya terus bergerak gelisah.
'Seharusnya kamu tidak bicara sekeras itu.'
Rendra memejam sebentar.
'Aku tidak ingin Ibu sakit.'
'Tapi kamu membuatnya kecewa.'
'Kak, tolong.'
Hanya dua kata, namun kelelahan yang terkandung di dalamnya membuat Hesti menghentikan ucapan. Rendra berjalan beberapa langkah menjauh, bukan untuk pergi, melainkan karena ia tidak sanggup menerima tuduhan lain saat pikirannya sedang berkejaran dengan kemungkinan terburuk.
Di ujung lorong, ia mengenali seorang perawat.
'Suster Irma?'
Wanita itu berhenti, menatapnya sebentar sebelum mengenali wajah pria yang pernah datang menemui Ani.
'Pak Rendra?'
'Ibu saya dibawa ke sini. Dokter Doni ada?'
'Ada, Pak. Beliau sedang di dalam. Bapak menunggu dulu, nanti keluarga dipanggil.'
Rendra mengucapkan terima kasih dengan suara nyaris tidak terdengar. Nama Doni membawa ingatannya ke ruang perawatan lain, ketika Rindu menangis dan meminta penjelasan tentang ibunya. Waktu itu ia datang membawa kemarahan, tidak memahami betapa menakutkannya berdiri di depan pintu yang memisahkan seseorang dari orang tua yang sedang sakit.
Sekarang ia berada di sisi yang sama.
Ponselnya terasa berat di saku. Ada satu orang yang dulu selalu ia cari ketika keadaan di rumah membuatnya sesak. Namun, hari ini ia sendiri telah menandatangani berkas yang memutus haknya untuk menganggap perempuan itu akan selalu berada di sana.
'Ren!'
Panggilan Hesti membuatnya berbalik. Pintu terbuka, dan Dokter Doni melangkah keluar. Rendra segera mendekat, begitu pula Hesti yang hampir tersandung kaki kursi.
'Dok, ibu saya bagaimana?'
Doni memandang keduanya bergantian.
'Penanganan awal sudah dilakukan. Ibu masih harus dipantau. Saya perlu memastikan beberapa hal mengenai keluhan sebelumnya.'
Hesti langsung menjawab, 'Ibu tadi cuma marah, Dok. Lalu tiba-tiba sesak. Biasanya tidak sampai begini.'
'Apakah sebelumnya pernah mengeluh mudah lelah atau sesak?'
Rendra menatap kakaknya. Hesti tampak berpikir, kemudian menyebut bahwa Wina beberapa kali meminta istirahat setelah naik tangga. Selama ini mereka menganggapnya kelelahan biasa. Rendra menunduk, merasa ada begitu banyak hal di rumah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ia perhatikan.
Doni mendengarkan tanpa menyela.
'Jangan menyimpulkan ini hanya karena pertengkaran tadi,' katanya. 'Kami masih perlu melihat keadaan Ibu secara menyeluruh.'
'Ibu bisa sadar lagi, Dok?' tanya Rendra.
'Kondisinya sedang kami awasi. Saya belum bisa menjanjikan waktu. Yang penting sekarang perawatannya dilanjutkan.'
Hesti memegang lengan Rendra, kali ini bukan untuk menahannya pergi, melainkan karena ia sendiri membutuhkan pegangan.
'Jadi Ibu tidak bisa pulang malam ini?'
Doni menggeleng.
'Ibu harus dirawat. Setelah pemeriksaan berikutnya, saya jelaskan keadaan jantung beliau kepada kalian.'
Rendra menatap pintu di belakang Doni. Ia baru hendak meninggalkan rumah, tetapi kini bahkan untuk melihat wajah ibunya saja ia harus menunggu izin.
'Baik, Dok,' jawabnya serak. 'Kami tunggu penjelasannya.'