Keributan masih melingkupi keluarga Pangestu di rumah mewah itu. Baik Wina dan Hesti sama-sama tak setuju pada keputusan sepihak dari Rendra. Mereka terus berusaha membujuk pria itu untuk mau menikah dengan anak gadis dari Pak Pranoto.
Wina semakin kelimpungan saat Pranoto menelepon. Ia membiarkan anak-anaknya berdebat sembari menapakki tangga menuju lantai atas. Sementara wanita paruh baya itu memilih masuk ke kamarnya untuk menerima telepon.
Di atas sana, tepatnya di lantai 2. Hesti belum menyerah, terus saja membujuk cenderung memaksa adik lelakinya untuk mau melakukan pertemuan. Tidak ada jalan ke luar lagi selain menikah dengan putri satu-satunya dari Pranoto.
Gaji karyawan beberapa bulan terakhir belum dibayar, tagihan lain bekas keperluan kantor telah menumpuk bahkan hutang perusahaan ke beberapa bank yang telah menunggak belum dilunasi satupun. Wina sudah susah payah merayu Pranoto agar setuju menikahkan anak gadisnya dengan Rendra, entah mantra apa yang ibunya pergunakan. Lalu sekarang pria itu malah ingin menutup jalan yang telah terbuka lebar untuk menyelamatkan hidup mereka begitu saja.
Kebutuhannya selama ini bisa tertutupi karena meminjam uang dari teman. Kemarin Hesti bahkan sampai menjual mobil untuk melunasi utang-utangnya. Gengsi, itu yang mendorongnya melakukan hal itu. Image-nya sebagai putri dari keluarga Pangestu yang terkenal kaya raya tentu akan buruk jika teman-temannya tahu kalau seorang Hesti Sabila meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan harian. Saat itu ia beralasan dompetnya tertinggal dan harus membayar belanjaannya segera. Temannya tentu saja percaya karena selama ini Hesti selalu mengenakan pakaian modis dan mentraktir mereka di setiap pertemuan.
Uang dari hasil menipu Rendra waktu itu juga sudah habis dibelanjakan tas keluaran terbaru. Beberapa teman yang baru pulang liburan membawa tas branded dengan berbagai macam merk dan harga. Tentu saja hal itu membuat Hesti kepanasan dan nekad membeli tas dengan harga di atas teman yang lain. Hesti mengira Rendra akan setuju menikah karena ia dan Wina telah merencanakan dengan matang ide gila itu. Berbagai sanjungan dan pujian yang didapat membuatnya berpuas diri tanpa memikirkan masa depannya nanti. Boom. Rencana mereka gagal karena ternyata Rindu tak sebodoh yang keduanya pikirkan dan sekarang ia bingung mau menaruh di mana wajahnya ketika mereka dinyatakan bangkrut nanti?
"Rendra jangan keras kepala! Tolong. Perusahaan sedang diujung tanduk sekarang! Banyak hutang yang harus dilunasi dan kamu hanya memikirkan diri sendiri!" selosor Hesti marah. Sudah lelah rasanya berbicara panjang lebar sejak dari pengadilan sampai ke rumah, tapi yang diajak bicara menulikan diri sama sekali tak merespons apapun.
"Aku sudah bilang itu bukan urusanku! Kalian yang memikirkan diri sendiri, bukan aku! Seenaknya menyuruhku menikah lagi dengan melakukan rencana busuk dan memisahkanku dari Rindu! Apa kalian pikir pernikahan adalah permainan?!" desis Rendra marah hingga giginya gemeletuk. Jika saja yang melakukan hal itu adalah orang lain, percayalah mungkin Wina dan Hesti sudah ia jebloskan agar mendekam di balik jeruji besi. Pria malang itu masih menahan diri karena sialnya yang berbuat jahat tak lain ialah kakak kandung bahkan wanita yang telah melahirkannya.
"Lalu kamu mau lari dari tanggung jawab?! Perusahaan punya banyak hutang. Tidak ingat? Kamu ingin dipenjara? Atau ingin kita benar-benar menjadi gelandangan?!"
"Lebih baik aku menjadi gelandangan atau mati saja sekalian! Hidup bersama kalian hanya membuatku menjadi seorang pengecut!" teriaknya murka. Rendra berbalik meninggalkan Hesti dan masuk ke kamarnya. Ia membuka lemari besar, mengeluarkan koper dan mulai mengemasi barang-barang.
Hesti mendadak panik melihat adiknya mondar-mandir dari lemari ke ranjang di mana kopernya terbuka di atas sana. Rendra memasukkan seluruh pakaian yang ada di lemari ke dalam koper secara serampangan. "Kamu mau ke mana, Ren? Mau pergi dari rumah ini?" tanya Hesti cepat.
"Rumah?" Rendra menghentikan gerakannya. Ia menatap Hesti dengan pakaian terakhir yang ada di kedua tangan. "Ini bukan rumah melainkan neraka," katanya sarkas. Kemudian memasukkan semua bajunya dan menarik resleting koper hingga tertutup sempurna.
"Lalu kamu mau ke mana? Kemarin tidak tidur di rumah beberapa hari dan sekarang ingin pergi?"
"Kenapa tidak? Aku sudah tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan kalian. Soal perusahaan tidak perlu khawatir, aku akan menangani sendiri ... tanpa harus menikah lagi," tegasnya menatap tajam. Sepanjang jalan menuju pulang ia memikirkan apa yang akan dilakukannya. Rendra berpikir lebih baik berpisah saja dengan keluarganya agar hidupnya tak lagi disetir terus-menerus.
Semenjak ayahnya meninggal, Wina memang hanya punya Rendra satu-satunya yang bisa diandalkan untuk mengurus perusahaan Pangestu yang hampir bangkrut. Mereka bertiga berusaha bertahan hidup lebih tepatnya mempertahankan gaya hidup dengan berbagai cara. Sialnya di sini Rendra yang berulang kali menjadi korban.
Saat akan menikahi Rindu, Wina setuju-setuju saja karena keadaan Rindu dan Ani waktu itu setara dengan mereka. Bukan seperti sekarang yang bahkan tak punya apa-apa. Merasa menikahi Rindu tak menguntungkan untuk mereka, keduanya mulai memusuhi Rindu dan berusaha membuat istrinya ke luar dari rumah ini. Dulu secara halus, tapi sekarang terang-terangan. Kegilaan Wina dan Hesti pada kekayaan membuat hati keduanya mati. Sampai-sampai tak peduli pada perasaan pria itu padahal mereka tahu betapa Rendra teramat mencintai Rindu.
"Rendra ... kamu mau ke mana?" tanya Wina tercenung ketika melihat Rendra menuruni tangga dengan menenteng koper besar di tangannya.
"Dia mau pergi, Bu. Memilih tidak menganggap kita sebagai keluarga demi membela wanita parasit itu," ucap Hesti sinis. Ia mengikuti Rendra dengan melipat tangan dan melangkah malas.
"Apa?! Ta-tapi, Ren ...."
"Dia bukan parasit! Berapa kali harus kukatakan padamu?! Siapa yang tidak menganggap keluarga di sini? Aku? Kalian yang tidak menganggapku sebagai keluarga!" tunjuknya pada Wina dan Hesti bergantian. "Dengan tega menjadikanku boneka demi kepentingan kalian."
"Aku justru menjauhkanmu dari wanita buruk itu, Ren. Kenapa kamu tidak sadar-sadar, sih!" gerutu kakaknya kesal. Jujur saja setelah Rendra menikah dengan Rindu, adiknya tak bisa lagi diajak kompromi. Perkara keuangan dan kepunyaan, semua harus atas persetujuan istrinya. Hesti tak bisa lagi leluasa meminta uang sejak 3 tahun lalu.
"Sepertinya ideku untuk pergi dari rumah ini adalah keputusan yang tepat." Rendra berbalik lagi menghadap mereka setelah melangkah menuju garasi. "Untuk apa tetap berada di tempat yang bahkan arti keluarga saja kalian tidak paham. Rindu itu istriku. Artinya dia juga bagian dari keluarga ini. Baik atau buruk. Sebagai keluarga kita harus saling menerima dan Rindu bukan wanita buruk. Justru kalian yang buruk. Sama sekali tidak sadar telah berbuat salah apalagi minta maaf pada Rindu. Sudah cukup kalian menyetir hidupku terus-menerus. Aku ingin rujuk dengannya."
"Aku tidak setuju!" tolak Hesti cepat menatap tajam.
"Aku tidak peduli!" jawab adiknya tegas.
Rendra berbalik melangkah lebar tepat menuju garasi. Ia memasukkan koper ke bagasi. Hesti masih berdiam diri di dekat tangga. Hanya melihat gerak-gerik adiknya dari kejauhan. Tak seperti Wina yang mengejar putra bungsunya guna kembali membujuk Rendra.
"Rendra ... dengarkan Ibu. Kami akan minta maaf pada Rindu. Kalian silakan rujuk, kalau perlu sekarang juga."
Hesti membelalak mendengar ucapan ibunya di sana. "Ibu! Jangan mengada-ngada!" pekiknya tak terima. Minta maaf adalah kalimat yang paling dihindari olehnya. Hesti akan merasa harga dirinya jatuh ketika harus mengucap kalimat itu apalagi kepada Rindu. Tidak mungkin. Rujuk? Itu ide buruk.
"Sudahlah kamu diam saja!" balas Wina melotot galak. "Ren ... Ibu janji tidak akan mencampuri hidupmu lagi. Tapi sekali saja, Ibu mohon menikahlah dengan putri dari teman Ibu," pinta Wina memohon sembari menggenggam tangan Rendra yang hendak masuk ke dalam mobilnya. "Ibu janji tidak akan ikut campur rumah tanggamu lagi setelah ini, Ren," sambungnya lagi.
Rendra belum menjawab, masih mematung di tempat. Jika menilik dari masa lalu, Wina memang mengatakan hal yang sama seperti yang diucapnya sekarang. Akan tetapi endingnya sama saja. Dia berbalik dan melepaskan genggaman tangan Wina. "Maafkan aku, Bu. Kali ini aku tidak bisa melakukan apa yang Ibu mau."
Wina tercengang mendengar jawaban putranya. Untuk pertama kali seorang Rendra menolak permintaannya. Kemarin pria tampan itu masih seperti putranya yang penurut, tapi sekarang Rendra bahkan tak mempertimbangkannya dulu dan langsung menolak begitu saja. Pria itu bukan Rendra yang ia kenal.
Wanita paruh baya itu memegang jantungnya. Napasnya mulai sesak tak beraturan. Wina menyandar pada badan mobil untuk menopang tubuhnya yang hampir limbung. Rendra dan Hesti melebarkan mata begitu terkejut melihat Wina yang kesulitan bernapas dan tampak kesakitan.
"Ibu!" pekik mereka bersamaan ketika ibunya tergeletak di lantai garasi tak sadarkan diri.
Bersambung...