Hening. Semua menunggu keputusan akhir dalam sidang perceraian antara Rindu dan Rendra yang akan dibacakan oleh ketua hakim. Tak banyak tanya jawab yang terjadi karena semua sudah dijelaskan di sidang sebelumnya.
Pria yang dalam 3 sidang lalu mengangkat kepala dengan percaya diri yang tinggi kini hanya menunduk terus-menerus mengesah pasrah tak punya nyali. Sampai kemarin Rendra masih memperjuangkan maaf dari Rindu. Namun masih saja jawaban sama yang ia dapat.
Tepat di sampingnya. Rindu juga menatap kosong ke arah lantai. Ribuan kali ia berpikir untuk memaafkan semua yang Rendra lakukan, maka jutaan kali peristiwa menyakitkan itu berputar lagi. Terutama saat Wina dan Rendra membuat ibunya kembali kambuh bahkan menyebabkan penyakitnya semakin parah.
Sejak dulu Rindu sudah tahu karakter Wina dan Hesti seperti apa terhadap orang-orang yang tak sekaya mereka. Namun ia sangat tak percaya ketika dua wanita itu melakukan hal keji untuk membuatnya bercerai dari Rendra. Lalu bodohnya Rendra lebih percaya pada ibu dan kakaknya hanya karena ucapan sampah dari mulut mereka.
Bukan hanya itu, setelah semua terbongkar pun tak ada yang merasa bersalah sama sekali. Wina dan Hesti malah menghinanya dan menuduh memutarbalikkan fakta dengan merekayasa bukti. Bahkan dua wanita gila yang kini duduk di belakang Rendra itu sempat-sempatnya mengatai ibunya parasit karena memoroti uang Rendra. Benar-benar biadab! Hal itu semakin menarik Rindu untuk menjauh dari Rendra.
"Baik. Saya akan membacakan putusan terakhir sidang ini setelah berdiskusi dengan hakim lainnya." Ketua hakim mulai mengumumkan hasil sidang. Rendra dinyatakan bersalah telah menuduh Rindu tanpa bukti. Semua bukti dan saksi yang pihak Rindu berikan adalah benar adanya dan nyata. Terakhir, Rindu tidak menggugat harta gono-gini sepeserpun. Rendra dan Rindu mengembuskan napas berat kala ketua hakim berkata, "Hari ini, penggugat Rendra Aditya Pangestu dan tergugat Rindu Alsava Ayunina resmi bercerai." Kemudian ia mengetuk palu sebanyak tiga kali pertanda kalau keputusan itu adalah sah dan tidak bisa diganggu gugat.
Keduanya menandatangani berkas perceraian untuk melakukan proses pembuatan akta cerai. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mereka. Baik Rendra maupun Rindu sama-sama bergelung dalam rasa hancur dan kecewa.
Rindu mengulurkan tangan kepada Rendra bermaksud mengajak bersalaman. Bukan balasan uluran yang ia dapat, pria itu menarik tubuh Rindu membawanya masuk dalam dekapan, memberinya pelukan perpisahan hangat nan erat. Detik itu juga bulir bening yang sejak tadi Rindu tahan luruh begitu saja.
"Aku minta maaf. Sungguh minta maaf," ujar Rendra tulus dan dalam dengan suara serak. Tatapannya mengabur perlahan dan bisa dipastikan akan menangis dalam satu kedipan. Rendra menatap ke atas guna mempertahankan air matanya agar tak jatuh. Namun mendengar isak Rindu yang semakin mengeras membuatnya tak bisa lagi menahan cairan dalam pelupuk yang sejak jadi berdesakan.
Rindu masih membisu dalam pelukan mantan suaminya. Tak lama. Ia menarik diri setelah merasa cukup memberikan momen perpisahan pada lelaki yang tentu saja masih dia cintai. "Aku harus segera pergi. Terima kasih untuk tiga tahun terakhir ini, Ren. Jaga dirimu," ujar Rindu dengan mata yang basah. Kemudian wanita itu berlalu disusul oleh Pak Hadi setelah bersalaman dengan Rendra kemudian menyalami Dina.
"Saya permisi lebih dulu, Pak Rendra. Maaf untuk hasil yang tidak memuaskan," kata Dina mengulurkan tangan.
"Semua ini bukan salah Anda. Senangbisa bekerja sama dengan Anda, Bu." Rendra membalas uluran tangan pengacarannya.
Wina dan Hesti bersikap tak acuh pada kesedihan anggota keluarganya. Mereka sama-sama menatap malas kala Rindu lewat di depannya. "Semuanya sudah selesai, 'kan, Ren? Ayo. Kita harus menemui calon istrimu," ajak Wina cepat.
Rendra menatap tajam ibunya penuh amarah. Dia baru saja bercerai dan melakukan perpisahan bahkan itupun karena perbuatan ibu dan kakaknya. Tapi mereka seperti tak merasa bersalah apalagi berempati sedikit saja. "Aku akan membatalkan pernikahan."
Ucapan itu bagai petir di siang bolong untuk Wina dan Hesti. Keduanya terkejut bukan main hingga kompak memekik melongo tak percaya. Jika Rendra membatalkan pernikahan, lalu bagaimana nasib mereka kedepannya? Bayangan debt collector yang menagih utang belum lagi kalau mereka benar-benar hidup miskin membuat keduanya bergidik ngeri.
"Aku tidak setuju!" protes Hesti. "Jangan gila, ya, Ren! Tanggal sudah ditetapkan dan undangan akan kita cetak setelah pertemuan ini! Apa kata keluarga Pak Pranoto nanti?"
"Itu semua bukan urusanku," jawab Rendra tak acuh sembari pergi meninggalkan keduanya yang lantas menyusul.
"Rendra. T-tunggu. Dengarkan Ibu, Ren. Itu bukan keputusan baik. Pikirkan lagi dengan matang. Bagaimana perusahaan--"
"Aku sama sekali tidak peduli, Bu!" teriak Rendra berbalik seketika membuat Wina dan Hesti terperanjat dengan degupan jantung menggila karena terkejut. "Satu hal yang harus Ibu ingat. Aku janji akan menikah dengan anak Pak Pranoto kalau Rindu mengizinkan. Tapi nyatanya apa? Kalian malah mengadu domba dan membuat seolah-olah Rindu selingkuh! Sudah bagus tidak ada yang melaporkan perbuatan kalian!"
"Ren, tapi--"
"Jika masih ada yang memaksaku! Kupastikan kasus pembohongan yang kalian lakukan akan sampai ke pengadilan! Camkan itu," ancamnya dengan gigi gemelutuk. Satu sisi Rendra begitu tak tega memenjarakan ibu dan kakaknya sampai harus memohon pada Rindu untuk jangan memperkarakan kasus mereka. Di sisi lain dia sendiri sudah cukup muak akan semua rencana busuk dan ide gila Wina juga Hesti sejak dulu.
Padahal Wina tahu pasti kalau Rendra menikahi Rindu atas dasar cinta bukan karena ingin menguras harta. Namun tetap tega memisahkan mereka karena Rindu dianggap mengahalangi jalannya untuk tetap kaya. Jika saja ia mengetahui kebusukan mereka sejak awal, mungkin Rendra akan memilih melepaskan semuanya dan hidup sederhana dengan Rindu serta sang mertua.
Teringat ucapan Rindu sebelum mereka masuk ke mobil masing-masing pagi tadi. "Tidak mudah menyatukan kepingan gelas yang sudah pecah, Ren. Begitu juga hatiku. Setelah menjatuhkan talak dengan seenaknya. Sekarang kamu ingin membatalkan perceraian karena baru menyadari kalau semuanya salah paham? Ini pernikahan, Rendra. Bukan permainan."
Sementara di bagian dunia lain, Rindu tampak termenung sembari duduk di lantai dan bersandar di tepi ranjang kamar hotel. Ia menekuk kedua lutut dan melingkarkan kedua tangan memeluk kaki. Hatinya hancur, jiwanya hampa. Ingin menangispun rasanya percuma. Tak akan ada yang berubah berkat air mata.
Sejak awal ia tidak ingin datang ke persidangan. Memilih fokus pada pengobatan ibunya di Singapura. Namun semakin dipikirkan semakin ia tak terima. Datang ataupun tidak pasti akan menghasilkan keputusan yang sama yaitu perceraian. Namun kalimat dari Zavin lewat pesan singkat ketika ia meminta saran waktu itu mampu membuat Rindu tergerak dan memutuskan menyanggah semua tuduhan, "Masalahnya bukan kalian bercerai atau tidak, tapi sebagai wanita, kamu harus punya prinsip, kehormatan dan harga diri. Ibumu pasti tidak terima jika kalian bercerai dengan tuduhan keji seperti itu padamu, Ri. Perjuangkan harga dirimu ... demi Ibumu juga tentunya."
Rindu meminta tolong pada Hadi membantunya mengumpulkan bukti dalam waktu beberapa hari. Juga menarik Ridwan dan Sarah guna menjadi saksi. Zavin sendiri sedang ada kesibukan hingga tak bisa datang ke pengadilan.
Kalimat terakhir itu yang selalu terngiang semenjak ia meninggalkan ruangan ibunya minggu lalu. Dadanya kembali sesak mengingat betapa Ani sampai meneteskan air mata sembari menggenggam tangannya begitu erat kala ia meminta izin untuk kembali ke tanah air. Rindu tidak tahu apakah Ani curiga atau tidak kalau putrinya pergi untuk mengurus perceraian bukan mengambil berkas. "Aku sudah selesai berjuang, bu. Semuanya sudah selesai ...." Rindu menggumam dengan tatap menerawang. Setidaknya dia sedikit lega karena bercerai secara terhormat dan mampu membuktikan kalau dirinya sama sekali tak serendah yang dituduhkan oleh Rendra.
Bersambung...