Sudah pukul 11.46 dan Rendra belum juga bangun. Rindu benar-benar tak enak hati pada sang empunya rumah. Ridwan dan Sarah telah pergi sejak tadi karena akan berkunjung ke yayasan penyalur pekerja untuk mencari asisten rumah tangga.
Awalnya Rindu berniat membangunkan Rendra, tapi Ridwan melarang dan membiarkan mereka tetap berada di rumah. "Saya sama sekali tidak keberatan kalau kalian ada di rumah. Tidak perlu merasa tak enak hati. Lagi pula kasihan mas Rendra kalau dibangunkan," ujar Ridwan sebelum pamit tadi.
Berbekal sedikit keberanian, Rindu masuk ke kamar tamu untuk membangunkan Rendra sekaligus melihat kondisi pria yang masih terlelap itu. "Ren ...." Diguncangkannya pelan bahu Rendra.
Ini yang ia takutkan. Jika melihat wajah Rendra dalam jarak sedekat ini, maka semua kenangan manis mereka selama 3 tahun terakhir kembali terputar. Rindu menghela napas dalam-dalam mengisi rongganya yang mendadak sesak. Ia berniat menarik tangan yang ada di bahu Rendra, namun seketika terkejut karena lengannya digenggam kuat oleh tangan hangat nan kekar.
Kelopak yang sejak tadi terpejam terbuka cepat. Hal pertama yang Rendra tangkap di depannya adalah wajah terkejut Rindu. Tangan hangat yang ia genggam terasa tegang. "Ri ...." Ia menggumam. Kemudian melipat dahi karena kepalanya masih pusing.
"K-kamu sudah bangun." Rindu mencoba menarik tangannya, namun Rendra menahan. "Cepatlah bangun. Kita harus segera pergi."
"Kita? Pergi ke mana?" tanya Rendra bingung. Ia berpikir kalau Rindu ingin mereka pulang ke rumahnya. Tapi bukankah Rindu masih marah?
"Ini sudah bukan rumahku lagi. Aku sudah menjualnya," jawabnya sendu. Rindu kembali teringat pada alasannya sampai harus menjual rumah peninggalan sang ayah. Kembali bagian dari tubuhnya berdenyut nyeri merasa tidak berguna karena tidak bisa mempertahankan harta paling berharga yang tinggal satu-satunya.
Genggaman tangan Rendra yang melemah menjadikan Rindu leluasa menarik diri. Ia memilih menjauh dari suaminya itu demi ketenangan hati. "Aku sudah menyiapkan perasan jeruk. Minumlah, katanya akan mengurangi efek dari mabuk."
Rendra berusaha bangun dari tidurnya. Meski Rindu sudah bergerak untuk membantu, namun urung kala ingatannya kembali memutarkan rentetan peristiwa menyakitkan beberapa minggu lalu. Pria itu duduk di tepi ranjang sembari memegang kepalanya yang terasa berat dengan kedua tangan brrtumpu di lutut.
Rindu membantu mengambilkan segelas bening yang terletak di atas nakas. "Ayo, minum." Mereka saling bertatapan sepersekian detik saat Rendra mengambil gelas dari tangan istrinya sebelum Rindu memutus secara sepihak pandangan keduanya dan menunduk.
Pria itu hanya bisa menghela napas kemudian menghabisan isi dalam gelas itu. Rendra menatap punggung Rindu yang menjauh darinya dan kini hilang di balik pintu. "Maafkan aku, Ri," gumamnya penuh sesal.
Tidak ada obrolan yang tercipta di antara mereka. Lebih tepatnya Rindu menghindar setiap Rendra ingin membahas kesalahpahaman yang terjadi. Rindu masih bungkam bahkan sampai keduanya pergi dari rumah.
Tak kehabisan ide, si pria terpuruk itu mengikuti istrinya sampai ke hotel di mana Rindu tinggal. Namun wanita itu tetap tak ambil peduli saat diminta menyisihkan waktu sebentar. "Aku ingin istirahat, Ren. Aku lelah menungguimu sejak dini hari sampai lewat jam makan siang begini," katanya sebelum menutup pintu kamar.
Tidak pantang menyerah, Rendra memilih menyewa kamar di lantai yang sama dengan Rindu meski tidak bersebelahan karena samping kanan dan kiri sudah terisi. Tak lupa Rendra juga meminta Bi Darmi mengirimkan pakaian ganti untuk beberapa hari ke depan. Tekadnya benar-benar sudah bulat untuk mengurai kesalahpahaman antar mereka.
Hari pertama, Rendra memesan beberapa makanan untuk sarapan dan meminta dikirimkan ke kamarnya. Pria itu menunggu pintu kamar Rindu terbuka dan akan mengajaknya sarapan bersama.
Rendra menyandar di salah satu sisi pintu. Tatapannya tak lepas dari kamar yang terletak di sebrang sebelah kanan. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul 07.13, tapi belum ada tanda-tanda kalau Rindu akan membuka pintu. Ia ingat kalau wanita itu senang memasak karena lebih higienis dan menyehatkan, katanya. Lelaki itu harus menelan kecewa karena hingga siang tiba pun pintu berwarna coklat yang berada di deretan sebrang sama sekali tak terbuka.
Hari kedua di siang hari. Rendra masih setia menunggu di ambang pintu. Ia tak ambil pusing meski mendapat tatapan heran dari setiap tamu dan pegawai yang lewat. Rupanya hari itu ia masih belum bisa menemui Rindu. Istrinya juga menolak setiap Rendra mencoba menghubungi.
Hari ketiga, kini Rendra merubah strategi. Ia memesan makanan untuk dikirim ke kamar istrinya. Senyumnya mengembang saat pintu itu terbuka dan memunculkan sosok yang ia rindukan hampir seminggu ini.
Rendra menutup pintu kamarnya lalu menyusul Rindu dan pegawai hotel diam-diam. Terdengar perdebatan kecil antara Rindu dan pegawai hotel.
"Tapi saya tidak memesan makanan apapun, Mbak. Mungkin Anda salah kamar. Apa sudah diteliti dengan benar?"
"Tapi makanan ini memang dipesan dengan tujuan kamar ini, Bu. Tadi seorang laki-laki yang menelepon," jelas pegawai hotel wanita itu.
"Laki-laki?" tanya Rindu mengeryitkan dahi. "Di kamar ini bahkan tidak ada laki-laki."
"Aku yang memesan," sahut Rendra dari belakang. Kedua wanita di depannya spontan menoleh bersamaan. "Kamu bisa pergi. Terimakasih sudah mengantar makanannya. Saya ada sedikit tips." Rendra memberikan selembar uang yang langsung diterima oleh pegawai itu.
"Kenapa pagi-pagi kamu sudah ada di sini?" tanya Rindu cepat setelah pegawai pergi. Jarak dari rumah Rendra ke hotel ini cukup jauh. Sekarang belum jam 7 tepat, artinya Rendra berangkat dari rumah pagi buta? Begitu pikir Rindu.
"Aku menginap di lantai yang sama denganmu." Rindu sontak melebarkan mata setelah mendengar jawaban Rendra. "Kita hanya beda nomor kamar." Pria itu tersenyum miris. Beberapa minggu lalu mereka masih di satu kamar yang sama, berbagi ranjang yang sama, lalu dalam sekejap ia membuat benteng yang tinggi akibat kebodohannya sendiri.
"Kenapa? Seperti tidak punya rumah saja?" tanya Rindu sinis. Dia mengira kalau Rendra sudah pulang semenjak ia menolak bicara beberapa hari lalu. Nyatanya malah sampai ikut menginap di lantai yang sama.
"Beri aku kesempatan untuk bicara, Ri. Sekali saja. Kumohon." Rendra menatap putus asa. Lusa adalah sidang terakhir di mana hakim akan mengumumkan putusan terakhir. Semua keputusan akan berubah jika Rindu menarik tuntutan cerai. Hanya itu satu-satunya cara karena Rendra sendiri tak percaya diri jika mengajukan banding sekalipun. Pasalnya dalam hal ini semua bukti sangat jelas dan kesalahan ada padanya. "Sekalian kita sarapan bersama. Mungkin saja ini adalah sarapan terakhir. Meskipun aku sama sekali tak mengharapkan hal itu. Please," pintanya lagi.
Rindu menghela napas kemudian berbalik. Dia mengambil duduk di salah satu kursi. Di hadapannya telah tersaji sarapan kesukaannya, nasi goreng seafood dan teh lemon hangat. Meski tak ada ucapan sedikitpun dari bibir mungilnya, tapi Rendra mengerti kalau Rindu mengabulkan permintaannya.
"Jadi kamu mau bicara apa lagi?" tanya wanita itu malas.
"Kamu makan saja. Cukup dengarkan aku." Rendra menatap lekat-lekat Rindu di depannya. Hati Rendra senang sekaligus tersayat melihat betapa lahap Rindu menyantap makanan favoritnya. Ia sampai tak berkedip, semaksimal mungkin merekam momen yang mungkin akan menjadi yang terakhir jika usahanya kali ini tak berhasil. "Aku ... aku minta maaf, Ri."
Rindu melambatkan kunyahannya bahkan menelan dengan susah payah makanan yang jelas-jelas telah lembut. "Maaf untuk apa? Kamu tidak salah." Rindu menghentikan acara makannya. Rasanya percuma jika harus menghabiskan hidangan dilingkupi rasa sesak yang mendera, hambar. Tak berselera. "Aku yang salah. Jadi harusnya aku yang minta maaf. Kamu benar, Ren. Aku berselingkuh dengan Pak Zavin. Berfoya-foya sampai menyewa hotel menggunakan uang darimu--"
"Rindu--"
"Aku menandatangani surat cerai dan pergi tanpa izin. Apalagi yang ingin kamu bicarakan? Apa belum puas?! Masih kurang?! Tuduhan apalagi sekarang?!" Rindu menggebrak meja hingga menimbulkan bunyi berisik terlebih ketika sendok dan garpu memantul dan mengenai piring.
Rendra memejam sebentar. Betapa ia menyadari bahwa perbuatannya sangat menyakiti sang kekasih hati. Belum pernah ia melihat Rindu seemosional sekarang. Pria itu bahkan tak sanggup menatap sorot mata wanita yang kini berkaca-kaca. Sama seperti Rindu yang terlihat terluka, Rendra pun mengalami hal sama.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf--"
"Tapi semuanya tidak akan bisa kembali hanya dengan kata maaf, Ren." Rindu menatap menerawang. Ia menumpahkan segala kegundahan lewat air mata yang luruh tanpa aba-aba.
Rendra mengangguk membenarkan. "Aku tahu semuanya tidak akan kembali. Tapi apa tidak bisa, jika aku memperbaiki kesalahanku atau kita memulai yang baru lagi?" tanyanya penuh harap.
Tak ada jawaban. Rindu termenung sembari menyeka wajah basahnya. Hal itu menumbuhkan setitik harapan dalam hati Rendra. Mirisnya harapan itu hanya bertahan sebentar saja. Semua usai kala wanita di depannya menggeleng lemah dan berkata, "Maaf. Aku tidak bisa."
Bersambung...