Rindu melangkah lebar menelusuri lantai dasar di rumah Ridwan. Setelah mendapat telepon dari Sarah, istri muda Ridwan, secepat mungkin Rindu melajukan kendaraannya agar segera sampai ke rumah ini.
"Mbak Rindu?" panggil Sarah yang baru saja ke luar dari salah satu kamar tamu. "Mas Rendra ada di dalam. Haduh! Lumayan berat juga badannya. Untung mabuknya nggak parah jadi masih bisa jalan."
"Rendra mabuk, Mbak?" tanya Rindu dengan mata membulat tak percaya. Selama 3 tahun menikah pria itu sama sekali tidak pernah mabuk atau pergi ke tempat seperti itu.
"Iya, tapi nggak parah. Sepertinya mas Rendra memanjat pagar soalnya gerbang masih dikunci, mobilnya juga masih menyala di depan gerbang. Sudah saya parkir di halaman depan, Mbak."
Sarah meminta Rindu untuk segera melihat keadaan suaminya. Wanita yang masih dilanda panik itu pun masuk ke kamar tamu. Ia bawa langkahnya perlahan mendekati tubuh yang berbaring di atas peraduan. Rindu menatap nanar. Tidak pernah ia melihat Rendra sampai seterpuruk itu.
"Ri ...." Rendra yang memejam kembali bergumam memanggil istrinya. Kondisinya berantakan dengan 2 kancing kemeja bagian atas yang terbuka, rambut yang tak rapi seperti biasa serta wajah yang ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitarnya.
Rindu mendudukkan diri di samping tubuh Rendra seraya mengembuskan napas berat. Tidak tega melihat sang suami yang sebentar lagi akan resmi berpisah dengannya itu dalam keadaan demikian. "Ren ...."
Tangan Rendra menutupi mulut kala rasa mual mulai merambat naik ke pangkal tenggorokkan. Mau tak mau Rendra bangkit dari tidurnya karena pergolakkan di lambung yang menciptakan rasa tak nyaman.
"Ren, kamu kenapa? Ingin muntah?" Rindu sigap menghela suaminya menuju toilet. Begitu sampai di depan closet, Rendra mengeluarkan apa yang sejak tadi mendesak. Wanita yang panik sekaligus sedih itu membantu Rendra dengan menekan tengkuk pria itu berulang.
Rindu tak kuasa menahan air matanya lagi. Sepanjang memapah Rendra sampai ke tempat tidur, ia terisak tanpa suara. Kenapa suaminya harus lari ke minuman keras? Sebenarnya apa yang terjadi? Ia membantu Rendra berbaring kembali sekaligus diselimuti.
Rendra membuka sedikit mata dan menemukan Rindu di depannya. "Ri?" tanya pria itu ragu. Kepala yang terasa pusing menjadikan penglihatannya buram hingga Rindu terlihat berbayang lebih dari satu. Ia spontan memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Efek dari minuman yang tadi ia tenggak ternyata masih bereaksi.
"Ri ... aku minta maaf. Semuanya salah paham," ujarnya bergumam mencoba meraih salah satu bayangan namun tak berhasil. Berbekal rasa tak tega, Rindu mengulurkan tangan membantu Rendra menemukannya. "Ri ... maafkan aku." Ia membawa tangan Rindu untuk didekap, meracau kalimat serupa sebelum terjatuh ke alam mimpinya.
Wanita itu mengulurkan satu tangannya lagi bermaksud merapikan rambut suaminya, namun urung setelah mengingat bahwa mereka sebentar lagi akan resmi bercerai. Jujur saja itu akan semakin membuatnya terluka atau malah kembali bimbang seperti kemarin. Beberapa hari ini ia memilih tidak ingin berhubungan baik melalui telepon ataupun bertemu langsung. Itu lebih baik menurutnya.
Rindu memilih ke luar kamar untuk membuat minuman pereda mabuk. Sekarang sudah hampir pagi. Rindu merasa percuma jika harus tidur lagi.
Saat di ruang tengah, ia kembali disapa oleh sang empunya rumah yang ternyata sejak tadi sedang menikmati tayangan televisi. "Bagaimana keadaan mas Rendra? Sudah baikan?" tanya Sarah seraya mendekati Rindu.
"Saya juga tidak tahu pasti, Mbak, tapi Rendra sudah tidur setelah muntah." Rindu berucap sungkan.
Sarah mengangguk mengerti. "Saya dengar-dengar kalau orang mabuk sudah muntah, berarti sudah normal kembali. Ya, tapi tentu saja efek jangka panjangnya masih ada," jelas Sarah sembari memilin rambut.
Kebiasaan itu yang dilakukannya ketika pertama kali mereka bertemu. Rindu mengira bahwa Sarah sedang menggoda Zavin waktu itu, namun dugaannya salah besar. Ternyata kalimat "don't judge by cover" benar adanya. Jangan sesekali kita hanya menilai perilaku seseorang tanpa mengenal lebih dulu. Bisa jadi orang yang kita sangka buruk malah lebih baik dari orang yang menilai. Rindu semakin tidak enak hati saja pada wanita di depannya.
"Syukurlah kalau begitu, Mbak. Mm, Mbak Sarah nggak tidur lagi? Saya minta maaf, ya, karena kami, tidur Mbak Sarah jadi terganggu."
Sarah terkekeh. "Nggak masalah. Saya cuma kaget tiba-tiba ada pria hampir pingsan setelah saya buka pintu." Ia mengingat peristiwa yang terjadi beberapa waktu tadi. "Setelah dilihat-lihat sepertinya itu mas Rendra yang beberapa hari lalu duduk di samping Mbak Rindu. Dia juga manggil-manggil Mbak terus. Maka dari itu saya telepon Mbak Rindu, tapi karena nggak punya nomornya, saya ambil nomornya dari handphone mas Rendra," jelas Sarah penuh ekspresi.
Rindu terdiam mendengar penjelasan Sarah. Efek mabuk berat yang Rendra alami sepertinya membuat pria itu lupa kalau rumah ini sudah dijual dan untung saja Sarah yang menempati bekas rumahnya ini. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada Rendra.
"Sepertinya mas Rendra sangat terpukul karena keputusan Mbak Rindu yang ingin bercerai, ya? Tapi, kok, aneh? Bukankah mas Rendra yang mendaftarkan cerai? Apa karena tuduhannya tidak benar?" cerca Sarah bertubi dengan dahi berkerut. Jarang ia dapati kasus seperti itu. Biasanya yang akan kacau adalah pihak yang diceraikan, tapi sekarang justru malah sebaliknya.
Rindu menunduk memikirkan ucapan Sarah. Beberapa hari ini Rendra memang mencoba berkomunikasi dengannya, tapi Rindu menjaga jarak karena tidak ingin kembali sakit hati. Lagi pula mereka akan bercerai setelah menjalani sidang terakhir nanti. Mungkin Rendra ingin meminta maaf seperti yang ia racaukan sejak tadi, namun Rindu tak ingin terlalu berharap. Lebih baik menunggu Rendra sadar sepenuhnya saja. Biar pria itu yang menjelaskan semua.
Wanita itu tersenyum getir. "Saya juga kurang tahu, Mbak, soal itu. Oh, ya, Mbak. Saya ... minta izin ingin membuat air jeruk untuk Rendra. Apa boleh saya meminjam dapur?" tanya Rindu sopan nan segan.
"Oh. Tentu saja boleh. Silakan saja, Mbak. Anggap rumah sendiri. Buatkan juga mas Rendra sarapan untuk nanti. Tadi, 'kan, sudah muntah. Pasti lambungnya sedikit banyak mengalami iritasi. Kalau begitu saya juga pamit mau ke kamar." Sarah berlalu setelah Rindu berterima kasih.
Rindu belum beranjak, tatapannya bergeming pada punggung kecil yang kini mulai menghilang di ujung tangga. Ia memaku, mengembuskan napas berat. Ucapan Sarah yang menyebut "anggap rumah sendiri" membuatnya teriris. Masih menyayangkan keputusannya yang harus menjual rumah Ani. Namun apa boleh buat, kembali kesehatan ibunya adalah hal utama.
Beberapa jam berlalu, Rindu telah selesai dengan segala urusan dapur. Ia membuat air perasan jeruk untuk Rendra, memasak sayur soup ayam untuk semua sekaligus membuat jus tomat madu. "Semoga Mbak Sarah suka," harapnya menata ruang makan untuk sarapan mereka bertiga.
Perhatiannya teralihkan saat bunyi bel terdengar. Gegas Rindu membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. "Pak Ridwan?"
"Mbak Rindu. Senang bertemu lagi di sini." Seperti biasa mereka berbincang cukup akrab sembari menuju ruang tengah. "Wah, wah. Harum apa ini? Tidak mungkin istri saya yang masak. Pasti Mbak Rindu yang masak, ya?" kekeh Ridwan mencairkan suasana.
"Benar, Pak. Maaf, ya, saya ...." Rindu menunduk, bingung menjelaskan apa yang telah terjadi sampai ia harus terdampar di rumah yang baru beberapa hari Ridwan beli.
"Tidak apa-apa, Mbak. Sarah sudah cerita semuanya. Saya juga kaget, kenapa mas Rendra bisa seperti itu." Ridwan duduk di salah satu sofa.
"Saya juga, Pak. Selama ini suami saya tidak pernah mabuk. Tidak tahu kenapa sekarang malah begitu."
Ridwan menghidu aroma soup yang menguar menggelitik penciumannya. Letak dapur dan ruang tengah yang cukup dekat membuat aromanya mudah tercium. "Saya boleh ikut sarapan, 'kan?"
"Oh." Rindu sigap berdiri untuk mempersilakan. "Tentu saja boleh, Pak. Ini, 'kan, rumah Bapak," katanya tak enak hati.
"Mengenai mas Rendra. Sepertinya dia menyesal atas keputusannya kemarin. Pria yang mabuk bahkan sampai mencari si wanita, itu pertanda masih cinta Mbak. Apa mas Rendra ingin rujuk?" tanya Ridwan to the point.
Wanita yang ditanyai hanya mematung merasa tercekat masih mencerna seluruh ucapan dari Ridwan. Rujuk? Benarkah Rendra ingin memperbaiki hubungan? Tapi kenapa baru sekarang, setelah tuduhan dan fitnah keji Rendra lontarkan tanpa berpikir panjang?
Bersambung...