"b******k!" Rendra memukul stir mobil untuk yang ke sekian kali guna melampiaskan kemarahannya. Betapa tidak? Semua tuntutan yang telah ia layangkan pada Rindu kini malah berbalik padanya. Kedua sidang ia lalui sendiri dengan begitu percaya diri bahwa Rindu yang pengkhianat tidak mungkin berani menampakkan diri. Kemudian hari ini, kehadiran Rindu bagai badai yang sekali datang sudah mampu memorak-porandakan semuanya.
Rendra sadar kalau semua adalah salahnya yang tidak mencari tahu lebih dulu kebenaran dan malah lebih tunduk pada amarah. Ia melangkah lebar memasuki rumah mewah tempat semua kesalahpahaman terjadi. Begitu tiba di depan 2 wanita yang sedang asyik memilah perhiasan untuk acara pernikahan, Rendra membanting keras jas yang ia bawa ke lantai. "Apa lagi rencana kalian kali ini?!"
Kedua wanita berbeda usia itu terperanjat bersamaan. Mereka saling bertukar pandang merasa bingung atas kemarahan Rendra yang tiba-tiba. Wina menyimpan kotak beludru berbentuk love di tangannya ke atas meja. Mmeberanikan diri beranjak dan bertanya apa yang terjadi pada Rendra.
"Tidak perlu berlagak tidak tahu, Bu. Kalian yang merencanakan semua ini, 'kan?! Jawab!" desak Rendra murka. Sepanjang perjalanan pria itu merangkai kejadian demi kejadian di hari yang sama di mana salah paham terjadi. Kemudian di rumah sakit dan di hotel. Jika diteliti lebih dalam maka yang terjadi antara dirinya dan Rindu adalah miskomunikasi.
"Maksudmu apa, Ren? Kami dari tadi memilih perhiasan untuk pernikahanmu. Memangnya kami melakukan apa?" Wina mengulurkan tangan bermaksud menenangkan putranya namun seketika itu juga tangannya ditepis oleh Rendra. "Ren ...."
"Kalian berdua merencanakan hal busuk untuk membuatku bercerai dengan Rindu. Benar, bukan?" Rendra melonggarkan dasinya karena merasa sesak.
Wina menyunggingkan senyum berusaha menutupi. "Kami nggak melakukan itu--"
"Jangan bohong! Semua kemungkinan mengarah pada kalian! Rindu bahkan mempunyai rekaman cctv dari rumah sakit saat Kak Hesti memberikan selembar surat cerai, iya, 'kan?!" teriaknya pada Hesti.
"Aku tidak tahu apapun," jawab Hesti santai. Hal itu membuat Wina mengembuskan napas lega.
Rendra mengeluarkan ponselnya guna menunjukkan video rekaman cctv di rumah sakit yang ia minta dari pengacara Rindu sebelum pulang. "Apa yang kamu berikan pada Rindu, huh?! Surat cerai yang katamu dariku, iya?!"
Wanita berusia 34 tahun itu berdiri memasang wajah marah bertolak pinggang menantang adiknya. "Kalau iya memang kenapa?! Untuk apa mempertahankan parasit di rumah ini? Nggak ada gunanya!"
"Rindu bukan parasit! Dia istriku!" desis Rendra benar-benar murka. Kini amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun terlebih setelah mendengar Hesti menyebut istrinya parasit. "Dia tidak mengambil sepeserpun uang dariku. Pasti kamu yang mengambilnya. Sekarang kembalikan!"
"Gajiku saja tidak dibayar olehmu dan kamu malah memberikan uang pada parasit itu secara cuma-cuma! Apa namanya kalau bukan parasit?! Jangan percaya padanya. Siapa tahu ibunya hanya pura-pura sakit!"
"Hesti!" Tangan Rendra terangkat tak lagi terkendali. Wina sigap menahannya atau akan terjadi perang besar atas anak-anaknya. "Lepaskan, Bu!"
"Sabar, Ren. Ingat Hesti itu kakakmu!" tahan Wina sekuat tenaga.
"Kakak macam apa yang menghancurkan rumah tangga adiknya?! Aku memberi uang tentu saja untuk operasi ibunya! Mertuaku! Gaji karyawan belum dibayar, kamu tahu sendiri apa yang terjadi pada perusahaan!"
"Mertua atau siapapun! Utamakan keluargamu dulu, baru orang asing. Aku kakak yang baik, yang membantu adikku keluar dari lingkungan orang-orang parasit yang akan menguras hartamu," jawab Hesti lantang.
"Orang asing?" tanya Rendra sinis. Dia merangsek lebih dekat pada Hesti. "Kamu tidak akan pernah tahu apa arti hubungan karena yang ada di otakmu hanya uang dan kekuasaan," katanya telak menuding pelipisnya sendiri.
"Rendra!" Hesti kini mendorong tubuh kekar itu kuat-kuat merasa tak terima atas ucapan adiknya. "Jangan lupa kamu bisa kaya karena bantuanku!"
"Ya! Aku akui itu! Tapi kamu harus tahu satu hal!" Rendra menatap nyalang. Sejatinya ia sudah muak selalu diingatkan tentang hal sama terus-menerus. "Aku menyesal! Sangat menyesal mengikuti semua rencana busukmu waktu itu!"
Setelahnya Rendra berlalu tanpa perlawanan dari Hesti karena Wina menahannya. "Sudahlah, Hes. Kamu itu kenapa malah mengaku pada Rendra," bisik Wina marah, memelototkan kedua mata.
"Biar dia sadar, Bu. Kalau di rumah ini tidak ada tempat untuk parasit! Kita bekerja keras untuk cepat kaya, dia malah menghambur-hamburkan uang untuk parasit," ujarnya menatap tajam punggung Rendra yang menghilang di ujung tangga.
Pria itu masuk ke kamarnya kemudian membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan bunyi berisik. Rendra melangkah lebar menuju meja rias lalu melayangkan tinjunya ke arah cermin beberapa kali guna menyalurkan kekesalannya sekaligus merutuki kebodohan. Pecahannya berserak di atas meja rias serta sebagian memenuhi lantai di sekitar kaki.
"Sial!" Bisa-bisanya dia mempercayai Hesti padahal sudah tahu perilakunya sejak dulu seperti apa. Rasa sayang sebagai seorang adik pada kakaknya membuat Rendra tak curiga sama sekali dan menilai jika seseorang pasti akan bisa berubah seiring berjalannya waktu. Tapi tidak! Sekarang semua pemikiran itu sudah luluh-lantak tak bersisa. Seorang Hesti tidak akan pernah berubah menjadi baik.
Ditatapnya diri sendiri lewat pantulan kaca yang masih tersisa sedikit, itupun retak parah. Wajah penuh penyesalan nan bodoh terlihat di sana. Tanpa disadari lelehan air mata luruh begitu saja. Betapa malang nasibnya. Mempunyai keluarga yang hanya memikirkan bahwa uang dan kuasa merupakan sumber bahagia. Melakukan segala cara untuk bisa mewujudkan ambisi termasuk merusak rumah tangganya dan Rindu. Benar-benar kesialan baginya karena harus lahir dalam keluarga semacam ini. "Apa ini karma darimu? Apa kamu mengadu pada Tuhan untuk menghukumku?" gumamnya menerawang pada kejadian beberapa tahun lalu.
Rendra memilih duduk di lantai, menyandarkan punggungnya di ujung tempat tidur. Sekali lagi yang bisa ia lakukan hanya menyesal. Padahal Rindu sudah berusaha menjelaskan, tapi amarah yang tak bisa ia kendalikan membawanya sampai ke pengadilan. Belum lagi Hesti dan Wina yang selalu membisikkan ucapan yang membuatnya berpikir kalau perselingkuhan itu adalah kebenaran.
Pagi hari yang menyingsing tak membuat Rendra beranjak dari posisinya. Semalaman ia sibuk merutuk diri hingga tak sadar luka yang ia ciptakan sendiri kini telah belur.
"Astaga, Rendra! Kenapa kamarmu berantakan begini?!" pekik Wina terkejut luar biasa disuguhi penampakkan kamar milik putranya yang hampir depresi, wajah kusut dan tatapannya kosong. Kepanikan mulai menyergap kala Wina menemukan luka di tangan yang telah membengkak.
Nalurinya sebagai seorang ibu bekerja amat cepat untuk mengobati luka fisik yang tampak tanpa memedulikan luka hati yang secara sengaja telah ia ciptakan untuk anak lelakinya itu.
Berhari-hari Rendra menjadi pemurung sekaligus pemarah. Seisi rumah tak satupun terlewat terkena amukan terlebih lagi Hesti. Rumah yang beberapa minggu lalu masih nyaman kini berubah gelap nan dingin. Tak ada lagi canda tawa di kamarnya. Tidak ada yang bisa ia ajak bicara dan mendengar keluh kesah. Semua hampa serupa hatinya.
Satu-satunya jalan terakhir bagi Rendra adalah menenggelamkan diri dalam hiruk-pikuk dunia malam. Minuman haram ia pilih berharap hatinya yang retak kembali pulih. Nyatanya tidak. Bayangan kebersamaannya dengan Rindu malah semakin menjadi. Kenangan indah itu datang silih berganti.
Berbekal kesadaran yang masih sisa separuh, Rendra melajukan kendaraannya susah payah menuju rumah Rindu karena berulang kali sang istri ia hubungi namun tak pernah ditanggapi. Pria itu meninggalkan mobil yang masih menyala di depan gerbang. Ia memanjat pagar dengan setengah memejam. Meski berulang kali gagal, setelah 20 menit pria itu berhasil sampai di halaman depan.
Diketuknya pintu setengah menggedor padahal bell terpampang jelas di sampingnya. Begitu terus berulang sampai seorang wanita mengenakan baju tidur seksi membukakan pintu dengan wajah yang masih tampak mengantuk.
"Cari siapa-eh, eh!" pekiknya karena tubuh Rendra langsung limbung begitu pintu dibuka.
Bersambung...