"Biar hakim ketua yang memutuskan nanti," ujar Hadi pada Rendra. Kemudian Hadi melanjutkan penyampaian sanggahan pada tuduhan kedua.
"Perihal tergugat yang dinilai pergi dari rumah tanpa izin setelah menandatangani surat, itu semua tidak benar, Pak hakim. Justru tergugat mendapati kedua kopernya telah siap dan tak ada satupun barang milik tergugat di kamarnya sendiri." Hadi menatap Rendra tajam penuh intimidasi. "Dan pelaku pengusiran secara halus itu adalah suaminya sendiri karena berpikir bahwa istrinya pasti menerima uang dan memilih berpisah."
"Jaga ucapan Anda! Jangan mengada-ngada! Saya sama sekali tidak melakukan itu!" murka Rendra sampai berdiri akibat kekesalan yang menyeruak. Bukankah itu namanya fitnah? Seharian itu dia dan Padma menemui calon mertuanya untuk membicarakan kelanjutan pernikahan. Itu juga terpaksa karena menunaikan janjinya pada Wina di mana jika Rindu setuju untuk dimadu, maka Rendra akan bersedia menikah lagi.
"Silakan duduk kembali saudara Rendra," pinta salah satu hakim anggota.
Mau tidak mau Rendra kembali duduk sembari merutuk dalam hati. Tidak menyangka kenapa malah jadi dirinya yang tertuduh? Sial!
"Tapi asisten rumah tangga Anda sendiri yang berkata begitu. Bi Darmi diminta oleh Anda untuk mengemasi semua pakaian tergugat waktu itu." Kembali Hadi menghadap jajaran hakim. "Alasan tergugat meninggalkan rumah karena merasa harga dirinya sebagai seorang istri telah direndahkan, Pak hakim."
"Apa Anda pikir saya sudah gila? Kenapa saya harus mengusir istri saya sendiri?" tutur Rendra membela diri.
"Itu benar," timpal Dina. "Penggugat bahkan tidak tahu menahu tentang surat cerai. Bagaimana mungkin saudara Rendra melakukan hal itu pada istrinya sendiri?"
"Karena saudara Rendra akan menikah lagi," jawab Hadi menohok.
"Saya siap menikah lagi setelah mendapatkan izin dari Rindu dan--"
"Tapi saya tidak pernah memberikan izin pada suami saya untuk menikah lagi," sambar Rindu cepat. Dia menoleh menatap suaminya dengan sorot dingin. "Waktu itu saya malah menolak mati-matian ide dari mertua saya untuk mengizinkan saudara Rendra menikah lagi, Pak hakim."
Damn! Rendra semakin ingin gila saja sekarang. Semua yang ia ketahui malah berbanding terbalik dari apa yang dituturkan Rindu serta pengacaranya. Pria itu menyugar rambut ke belakang disusul mengusap kasar wajahnya, resah.
Logika yang telah berlayar cukup lama kini perlahan mulai menepi. Pikirannya yang sempit mulai melebar seiring penjelasan demi penjelasan yang terlontar. Rendra mengesah frustasi bersamaan dengan munculnya percikan rasa takut dalam hati.
"Masalah tentang isu perselingkuhan, itu juga tidak benar, Pak hakim. Tergugat mendatangi hotel bersama pria yang bernama Zavin. Mereka melakukan janji temu dengan Bapak Ridwan untuk membicarakan tentang akad jual beli," jelas Hadi lagi. Pria itu juga menunjukan bukti surat jual beli yang ditandatangani oleh Rindu, Ridwan dan Zavin sebagai kesepakatan.
Tak hanya itu, rekaman cctv hotel dan saksi pun akan dipanggil jika diperlukan. Rindu ikut buka suara menjelaskan awal pertemuannya dengan Zavin dan kenapa bisa berakhir mengantarnya menemui bapak Ridwan.
Tak sampai di sana, bukti cctv yang diputar menambah kegusaran dalam diri Rendra yang kini semakin tak tenang. Bahkan detak jantung lelaki itu semakin tak karuan setelah kedua orang yang bersangkutan memasuki ruang pengadilan, Ridwan dan istri mudanya.
Pria paruh baya berperut buncit itu mengenalkan diri dan menjelaskan sedikit relasinya dengan Zavin. "Kami hanya membicarakan tentang jual beli rumah, Pak. Sebagaimana yang tertera dalam surat sementara yang Mbak Rindu bawa. Saya juga menyimpannya."
"Kenapa harus membuat surat sementara? Bukankah seharusnya akad jual beli rumah harus ada surat-surat lengkap dan resmi?" tanya Dina pada Ridwan. Sebagai tim Rendra, tugasnya adalah membuktikan bahwa saksi memang berkata benar dan jujur. "Bahkan kalian melakukan transaksi jual beli rumah tanpa didampingi pihak berwenang."
"Itu memang benar. Akan tetapi saya berani mengambil risiko karena Zavin yang akan menjamin keamanan uang saya."
"Seberapa dekat relasi Anda dengan saudara Zavin hingga percaya begitu mudah padahal nominal yang Anda gelontorkan itu tidak sedikit." Kembali Dina mencari celah.
Ridwan menatap tegas. "Hubungan kami cukup baik beberapa tahun ini. Selain itu, Zavin dikenal sebagai pria yang bertanggung jawab. Kami para klien sangat nyaman bekerja sama dengannya. Lagi pula saya semakin percaya kalau Mbak Rindu waktu itu memang membutuhkan dana untuk membayar biaya perawatan ibunya karena saya diminta untuk mengirim uang tersebut langsung ke nomor rekening salah satu rumah sakit besar di mana ibunya Mbak Rindu dirawat," jelas Ridwan rinci.
"Baik. Apa Anda punya bukti transfer untuk meyakinkan kami bahwa memang semua itu adalah fakta." Dina kembali melayangkan pertanyaan.
Ridwan tersenyum tipis kemudian mengangguk pasti. "Tentu saja saya menyimpannya. Itu juga adalah salah satu bukti yang akan saya gunakan jika terjadi sesuatu hal di kemudian hari."
Setelah Ridwan menunjukkan bukti, Dina kembali ke tempatnya dengan wajah frustasi. Desahan pasrah berembus kala ia mendudukan diri di samping Rendra yang tampak melamun panjang. Pria itu sedang merangkai semua cerita dan hal yang dialaminya hari itu.
Beralih pada saksi kedua yaitu sang istri muda dari Ridwan. Peryataan sama terucap jelas di jam dan hari yang serupa. "Saya yang membukakan pintu dan mengizinkan mereka masuk karena suami saya sudah melakukan janji temu dengan Mas Zavin. Bahkan saya menawarkan mereka untuk makan atau minum sebelum pulang. Tapi Mas Zavin menolak karena ada urusan penting."
Pencocokan cctv dan perjelasan dari masing-masing saksi pun dilakukan. Benar adanya bahwa waktu yang tertera di cctv sama persis dengan keterangan para saksi. Bahkan keributan yang terjadi di depan lift pun terpampang nyata disaksikan semua orang di sana.
Rendra menunduk menekan pelan pangkal hidungnya. Merutuki semua yang terjadi terlebih saat menuduh istrinya sedang melakukan jual beli dalam artian lain. Sementara Dina menggeleng tak percaya kalau Rendra tidak menceritakan aksinya itu hingga sekarang pengacarannyalah yang mendapat PR kalau-kalau Zavin dan Rindu malah menuntut balik pada kliennya.
"Bagaimana pihak penggugat apakah ingin menyanggah kembali?" tanya salah satu hakim.
Dina kembali berdiri masih ingin berusaha untuk memenangkan kasus. "Lalu bagaimana dengan uang di kartu debit penggugat yang sudah berkurang? Di lain sisi saudari Rindu menjual rumah untuk biaya perawatan. Sementara uang sudah berkurang sesuai nominal permintaan tergugat untuk biaya operasi."
"Seharusnya tergugat yang bertanya perihal itu. Kenapa bisa-bisanya menuduh tanpa bukti? Mengatakan kalau tergugat berfoya-foya menggunakan uang itu sementara saudari Rindu sendiri malah menjual rumah untuk membayar biaya perawatan." Hadi lantas menjegal tak memberikan sedikitpun celah untuk pihak lawan membela diri. "Kalian harus tahu kalau operasi tidak jadi dilakukan. Oleh karenanya tergugat membutuhkan dana untuk melunasi biaya pengobatan juga melakukan perawatan di Singapura."
"Saya sudah mengembalikan kartu debit itu pada Kak Hesti sebelum saya meninggalkan rumah suami saya," tambah Rindu agar semuanya lebih jelas.
"Pak Rendra, apa Anda punya bukti kalau yang mencairkan dana itu adalah istri Anda?" bisik Dina pada kliennya.
Rendra menggeleng pelan. "Saya tidak punya."
"Kesimpulan dari penjelasan pihak kami adalah tergugat tidak pernah menerima sepeserpun uang dari penggugat. Selain itu, tergugat menandatangani surat cerai karena merasa harga dirinya sebagai seorang istri direndahkan. Sudah hanya dihargai sebatas biaya operasi, suaminya ingin menikah lagi, lalu diusir secara halus. Bahkan sekarang dituduh berselingkuh. Wanita mana yang terima diperlakukan seperti itu? Hal itu yang menjadi dasar kepergiannya yang katanya tanpa izin itu padahal tidak demikian. Semua penjelasan kami cukupkan."
Semua terdiam mendengar penjelasan Hadi Handoko sang pengacara yang cukup terkenal di tanah air. Sepak terjangnya sudah tak diragukan lagi terutama jika mendapatkan klien yang berada di pihak yang benar seperti Rindu.
"Baik. Terakhir, apa keputusan tergugat setelah menyanggah semua tuduhan?" tanya hakim membuat Rindu tersentak.
Ia tidak menyangka secepat ini sampai pada penghujung proses di mana keputusannya dipertanyakan untuk menutup persidangan sekaligus melakukan tahap musyawarah.
"Saudari Rindu."
"Iya. Mm. Saya ...." Semua mata tertuju pada wanita yang beraut bimbang itu. Masih berat ia mengambil keputusan. Satu sisi tentu saja menyayangkan hubungannya bersama Rendra selama ini. Sisi lainnya dipenuhi kecewa atas sikap yang ia terima juga fitnah dari suaminya. "Saya memilih bercerai."
Bersambung...