Pagi itu Aroha bangun sebelum alarm, di kamar masa kecilnya di rumah lama, dengan suara ibu Alvar dan Revana yang sudah bertengkar kecil soal takaran garam dari arah dapur.
Kebaya putih itu tergantung di pintu lemari. Potongannya sederhana, tanpa payet berlebihan, dipilih sendiri dalam satu sore di toko kain dekat pasar yang sama dengan kedai berkursi goyang. Aroha menatapnya lama dari ranjang, lalu tertawa sendiri karena tiba-tiba teringat piyama kusut dan teriakan di lorong bercermin, berbulan-bulan yang lalu, di rumah yang lain.
Revana masuk dengan sisir di tangan.
“Rambutmu mau digerai atau dirapikan? Ibu tanya, bukan Ibu yang menentukan.”
“Dirapikan aja, Bu.”
Revana berdiri di belakangnya di depan cermin dan mulai menyisir dengan gerakan yang sama seperti waktu Aroha masih SD, ketika setiap pagi adalah perang melawan rambut yang kusut. Ibu Alvar menyusul tidak lama kemudian dengan untaian melati di tangan, dan kedua perempuan itu menyematkannya bersama-sama, tanpa banyak bicara, seperti orang yang sudah lama bekerja dalam satu dapur.
Sebelum keluar kamar, Aroha memindahkan isi dompetnya ke tas tangan kecil yang serasi dengan kebayanya. Selembar serbet kertas yang sudah dilipat dua kali, warnanya mulai kekuningan di bagian lipatan, ikut berpindah ke sana.
Di halaman, di bawah pohon mangga, lima puluh kursi sudah berjajar. Satu kursi di barisan paling depan ditandai pita kecil.
Tamu-tamu datang sejak pukul sembilan. Dira dan Nadya, yang tangannya bertaut sepanjang waktu dan tidak lagi berusaha menyembunyikannya. Tama dengan batik yang terlalu ketat di bahu. Prabu, yang langsung membantu mengatur parkir karena tidak bisa berdiri diam. Pak Najim dan Bi, yang duduk berdampingan di barisan kedua dan sudah menangis sebelum acara dimulai. Gabby, yang datang dengan wajah tegang seperti hendak ujian. Profesor Darmawan dan dokter Hanafi, yang ternyata kawan satu angkatan dan saling meledek sejak di gerbang. Dan ibu pemilik warung nasi di seberang taman, dengan kebaya hijau dan rantang besar berisi telur balado, yang diundang Alvar sendiri dengan surat yang ditulis tangan.
Adam duduk di kursi berpita. Tongkatnya disandarkan di samping. Ia sudah menolak dua kali ketika Revana menawarinya bantal tambahan.
***
Setengah jam sebelumnya, di dalam mobil yang diparkir di ujung gang, Tama memandangi juniornya dengan raut orang yang sedang menahan tawa sekuat tenaga.
“Ini pertama kalinya aku lihat kamu gemetar, Al.”
“Saya tidak gemetar, Mas.”
“Kancing kemejamu salah masuk dua.”
Alvar menunduk, melihat kancingnya, dan menutup mata dengan pasrah. Tama membetulkannya tanpa berkomentar lagi, seperti dulu ia membetulkan kerah seragam taruna yang terlalu gugup di hari pertama mereka di barak.
Alvar berdiri di depan petugas pencatat dengan kemeja putih dan jas yang dirapikan Tama sampai tiga kali di dalam mobil. Ketika Aroha berjalan keluar dari rumah dengan Revana di sisi kirinya, ia lupa bahwa ia sedang berdiri tegak. Bahunya turun dengan sendirinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tubuhnya tidak tahu harus mengambil sikap apa, dan ia tidak peduli.
Aroha berdiri di sebelahnya. Ia harus sedikit menengadah, seperti biasa.
“Mas,” bisiknya. “Napas.”
“Saya sedang mencoba.”
Petugas pencatat membacakan susunan acara dengan suara yang tenang. Lalu tiba saatnya.
Alvar mengucapkan janjinya lebih dulu. Ia tidak membaca dari kertas. Suaranya rendah dan rata, seperti selalu, tapi tidak ada satu kata pun yang terdengar seperti laporan.
“Saya, Alvar Mahardian, bersedia menjadi suami Aroha.” Ia berhenti sebentar, dan semua orang di halaman itu mendengar bahwa nama itu, kali ini, ia ucapkan tanpa apa pun di depannya. “Saya memilih dia. Tidak ada yang menyuruh saya. Dan saya akan terus memilih dia, termasuk pada hari-hari saya kaku dan harus minta maaf lagi.”
Aroha menelan sesuatu yang besar di tenggorokannya.
“Saya, Aroha, bersedia menjadi istri Alvar Mahardian. Saya memilih dia sendiri.” Ia tersenyum kecil. “Dan saya tidak akan pernah memintanya berhenti menjadi orang yang berani bilang tidak.”
Mereka menandatangani berkas pernikahan. Pena di tangan Alvar goyah di huruf pertama, lalu stabil. Tepuk tangan yang menyusul tidak panjang, tidak riuh, dan terasa jauh lebih hangat daripada seribu tepuk tangan yang pernah Adam dengar di gedung-gedung besar.
Lalu Adam meraih tongkatnya.
Revana sudah setengah bangkit untuk menahannya. Adam menggeleng, dan Revana duduk kembali. Mantan presiden itu berdiri dengan bertumpu pada tongkat, di depan lima puluh orang yang tiba-tiba menjadi sangat sunyi.
“Saya tidak akan lama,” katanya. “Dokter putri saya sangat galak.”
Tawa kecil menyebar di antara kursi-kursi.
“Beberapa bulan lalu, di kamar putri saya, saya meminta sesuatu yang tidak adil. Saya meminta karena saya takut. Saya bilang itu permintaan pertama dan terakhir saya sebelum saya mati.” Adam diam sebentar. Di barisan depan, Aroha menggenggam tangan Alvar sampai buku-buku jarinya memutih. “Ternyata saya tidak mati. Dan ternyata mereka tidak menuruti permintaan saya. Mereka memilih sendiri, dengan cara mereka sendiri, dan menyuruh saya hidup supaya bisa duduk di kursi ini.”
Ia menoleh kepada putrinya, lalu kepada laki-laki di sampingnya.
“Hari ini saya tidak meminta apa-apa lagi. Saya cuma menyaksikan. Dan saya bersyukur masih bisa berdiri untuk menyaksikannya.”
Ia duduk kembali. Tidak ada yang bertepuk tangan selama beberapa detik, karena terlalu banyak orang yang sedang menyeka mata.
Sesudah acara resmi selesai, sebelum makan siang dimulai, Alvar berjalan ke barisan depan. Ia berlutut di samping kursi berpita itu supaya matanya sejajar dengan mata Adam.
“Terima kasih,” katanya. Lalu, setelah jeda yang sangat singkat, “Ayah.”
Adam tidak menjawab. Ia hanya menatap laki-laki itu dengan mata yang langsung basah, lalu menepuk pipinya dua kali, pelan, seperti menepuk pipi anak laki-laki yang tidak pernah ia punya.
“Coba sekali lagi,” katanya akhirnya, serak.
“Ayah.”
“Nah. Itu sudah lebih lancar daripada siap.”
Di belakang mereka, Dira berdiri dengan gelas teh di tangan dan mengetuknya dengan sendok.
“Saya cuma mau bilang satu hal,” katanya keras-keras. “Saya janji tidak menyebarkan satu foto pun dari hari ini.”
“Ponselnya sudah saya sita sejak di gerbang,” sahut Nadya.
Halaman itu pecah oleh tawa. Ibu pemilik warung mulai membagikan telur balado. Ibu Alvar dan Revana menyendokkan pecel ke piring-piring tamu dengan kekompakan yang membuat Tama bersumpah keduanya sudah berlatih. Dan Adam, di kursi berpita di barisan paling depan, tertidur di bawah pohon mangga sebelum sore benar-benar tiba, dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya.
Aroha menyelimutinya dengan selendang. Alvar menggeser kursi itu sedikit, supaya matahari tidak jatuh ke wajah ayah mertuanya.