Tiga bulan sesudah pernikahan, di dinding dapur sebuah rumah kontrakan kecil sepuluh menit dari Rumah Sakit Medical Center, tertempel selembar kertas dengan dua kolom jadwal yang hampir tidak pernah bertemu.
Kolom kiri milik dr. Aroha, Sp.BTKV—gelar yang baru sebulan lalu ia terima lewat sumpah di aula fakultas, dengan Adam duduk di barisan keluarga memegang tongkat dan Revana memegang tisu. Isinya jadwal operasi, jaga, dan poliklinik yang tidak lebih ringan daripada waktu ia masih residen. Kolom kanan milik Letkol Alvar Mahardian, yang kembali ke satuan asalnya dengan pangkat yang sama seperti hari ia pertama kali diminta menjadi menantu. Isinya apel pagi, latihan, dan tugas-tugas yang tidak bisa ia ceritakan isinya.
Di antara dua kolom itu, sekali dalam sebulan, ada satu hari yang dilingkari dengan spidol merah. Hari itu tidak boleh diisi siapa pun.
Pagi hari yang dilingkari bulan itu, Aroha bangun oleh bau telur dadar. Ia keluar kamar dengan rambut berantakan dan kaus kebesaran, dan mendapati suaminya berdiri di depan kompor dengan celemek bergambar kucing oranye yang dibelikan Revana sebagai lelucon pernikahan, karena cerita tentang kucing yang tidak pernah muncul di taman itu tidak pernah berhenti membuatnya tertawa.
“Selamat pagi, Istri,” kata Alvar tanpa menoleh.
“Masih kayak pengumuman, Mas.”
“Saya masih berlatih.” Ia meletakkan dua piring di meja kecil dekat jendela. Nasi, telur dadar dengan pinggiran garing, dan sambal di mangkuk terpisah. “Tiga bulan lagi mungkin lancar.”
Aroha duduk dan menatap rambutnya sendiri yang terpantul di kaca jendela—kusut, mencuat ke segala arah, persis seperti pagi di lorong bercermin itu. Kali ini ia tidak berteriak menyuruh siapa pun berbalik.
“Mas nggak mau ngalihin pandangan?”
Alvar akhirnya menoleh, menatapnya dari ujung rambut yang kusut sampai kaki yang tidak beralas, dan menggeleng pelan.
“Tidak, Aroha. Saya sudah cukup lama berbalik.”
Mereka berangkat sesudah sarapan dengan mobil Alvar, menempuh dua jam perjalanan ke arah perbukitan. Alvar menyetir. Aroha tertidur di kursi penumpang sebelum mereka keluar dari tol, dan baru bangun ketika kebun teh mulai bergulir di luar jendela. Ponselnya bergetar sekali. Pesan dari Ayah.
“Jangan lupa pakai helm. Dan jangan ajak siapa-siapa menikah di sana.”
Tawa Aroha meledak sampai Alvar menoleh.
“Ayah,” katanya, menunjukkan layar.
Alvar membaca pesan itu sekilas di lampu merah, dan sudut bibirnya naik. “Bilang ke Ayah, saya sudah diajak. Satu kali cukup.”
Aroha mengetik balasan sambil menahan tawa. “Tenang, Yah. Dulu yang ngajak kan aku. Hari ini nggak ngajak siapa-siapa.”
Balasan Adam datang secepat kilat. “Bagus. Ibumu titip pesan: pulang sebelum magrib, dan bawakan jagung bakar.”
Petugas penyewaan di bawah terpal biru masih orang yang sama. Ia mengangkat wajah dari buku catatannya, melihat Aroha, lalu melihat laki-laki di belakangnya, dan wajahnya langsung cerah.
“Mbak Aroha! Bawa teman lagi?”
“Bawa suami, Pak.”
“Oh!” Petugas itu menunjuk Alvar dengan pulpennya. “Yang gespernya macet itu!”
“Betul, Pak,” jawab Alvar dengan sangat sopan.
Petugas itu menyipitkan mata, seperti baru teringat sesuatu dari layar televisi atau ponsel cucunya. “Lho, sebentar. Mas ini yang di berita itu, ya? Yang menantu presiden?”
Alvar menerima tali pengaman yang disodorkan kepadanya dan mulai memasangnya. Kali ini gespernya terkunci dalam satu kali tekan.
“Menantu Pak Adam, Pak,” katanya. “Itu sudah cukup.”
***
Mereka terbang berdampingan di bawah langit yang bersih. Hamparan perkebunan, lahan pertanian, dan rumah-rumah warga kembali mengecil di bawah sana sampai terlihat seperti kotak korek api. Lewat HT, Aroha berteriak bahwa angin hari ini lebih bagus daripada angin hari itu. Alvar menjawab bahwa ia tidak ingat anginnya hari itu, karena waktu itu ia sibuk memikirkan perempuan di paralayang sebelah yang tidak bisa dihentikan siapa pun.
“Sekarang?” tanya Aroha.
“Sekarang saya tidak ingin menghentikannya.”
Dari ketinggian itu, Aroha bisa melihat semuanya mengecil—jalan yang membawa mereka dari kota, kebun teh, atap-atap rumah, dan di kejauhan, kabut tipis di atas tempat yang mungkin rumah sakitnya, mungkin juga bukan. Masalah-masalah ikut mengecil, seperti dulu. Bedanya, kali ini ia tidak sedang lari dari apa pun. Ia hanya ingin melihat dunia dari atas bersama seseorang yang juga bisa melihatnya.
Mereka mendarat di lapangan yang sama, dengan jarak beberapa puluh meter seperti dulu. Seragam sewaan masih melekat di tubuh mereka ketika mereka berjalan menyusuri jalan tanah menuju parkiran kendaraan penanggung jawab, dengan debu tipis yang naik setiap kali tumit menyentuh tanah. Angin sore menggeser tali yang longgar di bahu Aroha.
Di satu titik di jalan itu, Aroha berhenti.
Alvar ikut berhenti. Ia tidak perlu bertanya kenapa. Ia mengenali tempat itu sama baiknya seperti Aroha—tempat kerikil kecil dulu ditendang oleh sepatu yang sama, dengan parkiran yang tampak di ujung, di bawah langit yang mulai jingga.
“Di sini,” kata Aroha.
“Saya ingat. Tali helm saya jatuh.”
“Dan mukamu kayak orang baru ditembak.”
“Saya belum pernah ditembak, jadi saya tidak bisa membandingkan.”
Aroha tergelak, lalu membuka tas pinggang kecil yang ia bawa terbang. Dari dalam dompetnya ia mengeluarkan sesuatu dan membukanya pelan-pelan di telapak tangan: selembar serbet kertas yang sudah lusuh di bagian lipatan, dengan tulisan tangan tegak yang rapi sekali.
Mbak Aroha, saya senang Mbak menghubungi saya. Saya ingin bertemu.
Alvar menatap serbet itu lama.
“Kamu masih menyimpannya.”
“Masih.” Aroha melipatnya kembali dengan hati-hati, persis di lipatan yang sama. “Buat bukti kalau kamu bisa.”
Angin bertiup lagi, membawa bau rumput kering dan sisa hangat matahari. Di ujung jalan, seseorang membanting pintu mobil, sama seperti hari itu. Alvar memandangi istrinya—rambut yang lepas dari kunciran, debu di ujung sepatu, dagu yang sedikit terangkat seperti orang yang tidak pernah bisa dihentikan—dan untuk sekali ini ia tidak menyusun kalimatnya lebih dulu.
“Aroha.”
“Hm?”
“Ayo pulang.”
Aroha menatapnya, lalu tertawa sampai matanya basah. “Dulu aku ngajak kamu nikah di sini. Sekarang kamu ngajak aku pulang.”
“Saya tidak pandai mengajak yang besar-besar.”
“Itu udah besar, Mas.” Aroha menyelipkan tangannya ke tangan suaminya. “Itu udah besar banget.”
Mereka berjalan menuju parkiran berdampingan, pelan, dengan tali helm sewaan yang berayun di tangan Alvar dan kali ini tidak terjatuh. Di belakang mereka, debu tipis naik setinggi mata kaki, lalu turun lagi ke jalan tanah, tempat dua kata pernah jatuh dan menunggu lama sekali sampai ada yang memungutnya.
TAMAT