Enam minggu sesudah operasi, Adam sudah bisa berjalan mengelilingi halaman rumah lamanya dua kali tanpa berhenti, dan ia merayakannya dengan membuka buku catatan kecil yang sudah lama tidak ia sentuh.
“Ayah sudah mulai menyusun,” katanya pada suatu sore di teras, ketika Aroha dan Alvar datang membawa sekotak kue lapis untuk Revana dan sekantong jeruk untuk Adam, satu-satunya oleh-oleh yang lolos dari daftar larangan putrinya. “Jangan marah dulu. Ini baru gambaran.”
Aroha duduk dan menatap buku itu dengan curiga. “Gambaran apa, Yah?”
“Putri tunggal mantan presiden menikah.” Adam mengucapkannya seperti membaca judul berita. “Ayah membayangkan gedung yang besar. Lampu-lampu. Seribu tamu, mungkin lebih. Mantan menteri, kawan lama, gubernur-gubernur yang pernah bekerja sama dengan Ayah. Kemarin saja sudah tiga orang menelepon menawarkan tempat. Ada satu stasiun televisi yang—”
“Ayah.”
“Ayah tahu. Ayah tahu.” Adam mengangkat kedua tangan, tapi senyumnya tidak hilang. “Ayah cuma bilang ada yang menawarkan.”
Revana keluar dari dalam rumah membawa teko, duduk, dan menuang teh tanpa ikut bicara. Itu tanda yang lebih berbahaya daripada kalau ia membantah.
Aroha menatap Alvar. Mereka sudah membicarakan ini berminggu-minggu, sejak Adam masih di kamar rawat, dengan pena dan selembar kertas buram di kedai yang kursinya goyang. Alvar mengangguk kecil, memberi giliran.
“Ayah,” kata Aroha. “Kami juga sudah punya gambaran.”
Ia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan meletakkannya di meja, di sebelah buku catatan ayahnya. Tulisannya campur—sebagian tulisan tangannya yang miring, sebagian tulisan Alvar yang tegak seperti barisan.
Di halaman rumah ini. Di bawah pohon mangga. Keluarga dan teman yang memang ada dalam hidup mereka, tidak lebih dari lima puluh orang. Satu kali makan siang. Selesai sebelum sore, sebelum Ayah capek.
“Lima puluh,” ulang Adam.
“Lima puluh, Yah.”
“Ayah punya kawan yang sudah kenal kamu sejak kamu masih di perut ibumu.”
“Kalau kawan itu memang dekat, dia masuk lima puluh.” Aroha tidak meninggikan suara. “Tapi aku nggak mau hari itu jadi tempat aku berdiri berjam-jam menyalami orang yang datang cuma karena penasaran. Dan aku nggak mau Ayah berdiri berjam-jam juga. Jantung Ayah baru enam minggu dibetulin.”
Adam menatap kertas itu. Jarinya mengetuk lutut sekali, kebiasaan lama ketika pikirannya sudah berlari ke daftar nama.
“Dua puluh orang lagi saja,” katanya akhirnya. “Kenalan lama. Beberapa.”
“Mas,” kata Revana, tanpa mengangkat mata dari cangkirnya. “Dua puluh yang kamu sebut beberapa itu biasanya nggak berhenti di dua puluh.”
Adam membuka mulut, lalu menutupnya lagi, tertangkap basah. Alvar menunduk sangat dalam untuk menyembunyikan wajahnya.
“Pak,” kata Alvar setelah beberapa saat. Suaranya hati-hati. “Saya juga sempat khawatir. Saya takut Bapak dan Ibu kecewa kalau acaranya kecil. Saya bawa kekhawatiran itu ke Mbak Aroha, bukan saya putuskan sendiri.” Ia menarik napas. “Lalu kami sadar, yang paling ingin kami lihat di hari itu bukan seribu orang. Kami ingin melihat Bapak duduk di depan. Tidak capek. Tidak harus menyalami siapa pun yang tidak ingin Bapak salami. Hanya duduk dan menyaksikan.”
Adam terdiam lama. Matahari sore jatuh miring di halaman, di antara daun-daun mangga, di atas tempat yang di kertas itu sudah ditandai dengan tulisan Alvar yang tegak: kursi Ayah.
“Kalian menulis kursi Ayah,” katanya.
“Paling depan,” kata Aroha. “Itu syaratnya. Ingat?”
Adam menutup buku catatannya pelan-pelan, lalu meletakkannya di bawah kertas mereka.
“Ayah sudah bukan presiden,” katanya. “Ayah cuma mau duduk di sana sebagai ayah. Dan masih cukup kuat untuk berdiri waktu kalian mengucapkan janji.” Ia menoleh kepada istrinya. “Lima puluh.”
“Lima puluh,” ulang Revana, dan untuk pertama kalinya sore itu ia tersenyum.
***
Sesudah itu, persiapan berjalan dengan cara yang kecil dan ramai sekaligus. Ibu Alvar datang dari Purworejo dua minggu sebelum hari itu, membawa dua adik perempuan Alvar yang langsung memeluk Aroha seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun, dan bersikeras memasak pecel sendiri untuk seluruh tamu. Revana menawarkan katering. Ibu Alvar menolak dengan sopan. Revana menawarkan membantu. Ibu Alvar menerima. Pada hari ketiga, keduanya sudah menghabiskan sore di dapur sambil bertukar resep sambal dan cerita tentang anak-anak mereka yang sama-sama keras kepala.
“Dulu waktu SD, Alvar pernah berdiri di depan kelas satu jam penuh,” kata ibu Alvar suatu sore. “Bukan dihukum. Dia sendiri yang berdiri, karena gurunya lupa menyuruh dia duduk lagi.”
Revana tertawa sampai harus bersandar ke meja dapur. Di ruang tengah, Alvar menutup wajah dengan kedua tangan.
Dira dan Nadya datang membantu menulis nama-nama di kartu undangan yang dicetak sederhana di percetakan dekat pasar. Dira menulis dengan huruf yang sangat jelek dan bersumpah tidak akan memotret apa pun di hari itu. Nadya mengambil alih pena darinya setelah kartu kelima. Tama datang dengan meteran untuk mengukur halaman, karena menurutnya tenda yang dipasang tanpa diukur adalah penghinaan terhadap ilmu medan.
Ada satu hal yang Adam kerjakan sendiri, tanpa diminta siapa pun. Selama tiga sore berturut-turut, ia duduk di teras dengan buku catatan kecilnya dan menelepon satu per satu kawan lama yang namanya tidak masuk ke dalam lima puluh itu. Mantan menteri, kawan seangkatan, gubernur yang pernah bekerja bersamanya bertahun-tahun. Ia tidak menyuruh staf mana pun. Ia menjelaskan sendiri, dengan suaranya sendiri, bahwa anaknya menikah di halaman rumah dengan tamu yang sedikit, bahwa ia sendiri baru sembuh dari operasi, dan bahwa ia akan sangat senang kalau mereka berkenan mendoakan dari jauh.
“Tidak ada yang tersinggung?” tanya Aroha pada sore ketiga.
“Dua orang tersinggung,” jawab Adam. “Satu orang malah lega karena tidak perlu memakai jas.” Ia menutup buku catatannya. “Sisanya bilang, akhirnya Pak Adam belajar bilang tidak.”
Sesekali Adam masih membuka mulut di tengah persiapan—untuk menambahkan satu nama, satu meja, satu lampu. Setiap kali, ia menutupnya lagi sendiri sebelum Revana sempat menoleh. Kemajuan itu tidak diumumkan. Semua orang di rumah itu hanya pura-pura tidak melihatnya, dan semua orang diam-diam merasa bangga.
Pada malam sebelum hari itu, Adam memanggil Alvar ke teras.
“Besok, sesudah semuanya selesai,” katanya, “jangan Pak lagi.”
Alvar menatap halaman yang sudah dipasangi tenda putih, kursi-kursi yang berjajar rapi, dan satu kursi paling depan yang ditandai dengan pita kecil.
“Saya usahakan, Pak.”
“Itu masih Pak.”
“Besok, Pak.”
Adam terkekeh dan menepuk lututnya sendiri. “Baik. Besok.”