Adam membuka mata pada pagi kedua sesudah operasi, ketika matahari baru menyentuh tirai ICU dan Aroha baru saja terlelap di kursi samping ranjangnya.
Yang pertama ia lihat adalah putrinya—rambut diikat seadanya, kepala terkulai ke bahu, satu tangan masih memegang ujung selimutnya seolah takut selimut itu dibawa pergi. Adam menggerakkan jari-jarinya pelan. Itu sudah cukup. Aroha terbangun seperti orang yang selama bertahun-tahun dilatih untuk terbangun oleh sentuhan sekecil apa pun.
“Yah?”
Suara Adam keluar serak, pelan, nyaris tidak terdengar di antara bunyi mesin.
“Ayah masih di sini.”
Aroha menatapnya. Lalu wajahnya runtuh, dan ia menangis dengan cara yang tidak pernah ia biarkan di depan siapa pun sejak masih kecil—tangis yang tidak ditahan, tidak dirapikan, tidak disembunyikan di balik telapak tangan. Ia menangis sambil tertawa, sambil memegangi tangan ayahnya, sambil membaca angka di monitor dengan mata yang buram karena kebiasaan yang tidak bisa ia matikan.
“Iya, Yah,” katanya akhirnya. “Ayah masih di sini.”
“Syaratnya…” Adam menelan ludah dengan susah payah. “Masih berlaku?”
“Masih.”
“Bagus.” Matanya mulai terpejam lagi. “Ayah mimpi… ditegur Alvar. Disuruh turun dari tanggul.”
Tawa Aroha pecah sampai perawat jaga menoleh dari mejanya.
Siang harinya, giliran Revana yang duduk di kursi itu. Aroha memberi mereka ruang dan menunggu di luar kaca, tapi ia masih bisa melihat ibunya menggenggam tangan Adam lama sekali tanpa bicara.
“Marahku sudah habis, Mas,” kata Revana akhirnya. Aroha membaca gerak bibirnya dari balik kaca, kebiasaan yang ia pelajari dari bertahun-tahun memperhatikan keluarga pasien di ruang tunggu. “Habis di ruang tunggu itu. Jam keenam.”
Adam mengatakan sesuatu yang tidak bisa Aroha baca.
“Tapi lain kali kalau kamu menyembunyikan sesuatu lagi dariku,” lanjut Revana, “aku sendiri yang masuk ke ruang operasi. Dan aku tidak akan pakai bius.”
Adam tertawa—Aroha bisa melihatnya dari bahu yang berguncang pelan di balik selimut—lalu meringis karena dadanya masih sakit, lalu tertawa lagi. Revana menunduk dan mencium punggung tangannya.
Empat hari kemudian, Adam dipindahkan ke kamar rawat biasa. Pada hari keenam, dokter mengizinkannya berjalan di lorong. Ia menolak kursi roda, menolak tongkat, dan setelah perdebatan singkat dengan putrinya yang ia kalahkan, akhirnya menerima satu-satunya penopang yang ia mau: lengan Alvar.
Mereka berjalan pelan sekali di lorong lantai lima, dari pintu kamar sampai jendela di ujung lalu kembali, sementara pengawal untuk mantan presiden menjaga jarak di kedua ujung lorong dan pura-pura tidak mendengarkan.
“Kamu tidak sedang bertugas,” kata Adam di putaran kedua.
“Tidak, Pak.”
“Tapi caramu memegang lengan saya seperti sedang mengawal.”
Alvar mengendurkan genggamannya sedikit. “Kebiasaan, Pak.”
“Kamu juga masih memanggil saya Pak.”
“Belum lancar, Pak.”
Adam tersenyum, lalu berhenti sebentar untuk menarik napas di dekat jendela. Di bawah sana, halaman rumah sakit ramai oleh keluarga pasien, pedagang minuman, dan seorang tukang parkir yang sedang bertengkar dengan sopir angkot.
“Tidak usah buru-buru,” katanya. “Saya punya banyak waktu sekarang.”
Kalimat itu tinggal di udara di antara mereka, dan keduanya tahu betapa berbeda bunyinya dibandingkan beberapa bulan lalu.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Adam saat mereka berbalik arah.
“Saya sudah kembali ke satuan asal, Pak. Mulai minggu ini.” Alvar menjaga langkahnya tetap lambat. “Pangkat saya sama. Jabatan saya biasa.”
“Ada yang menawarimu sesuatu? Sebelum saya lengser?”
“Ada yang membicarakannya, Pak. Tidak ada yang berani menawarkan langsung.” Alvar terdiam sebentar. “Kalau ada, saya akan menolak.”
Adam mengangguk puas. “Bagus. Kalau kamu sampai naik pangkat karena saya, yang malu bukan kamu. Saya.”
Mereka sampai lagi di depan pintu kamar. Di dalam, ponsel Adam berdering di meja samping ranjang, dan Revana mengangkatnya, mendengarkan sebentar, lalu menyerahkannya kepada suaminya dengan alis terangkat tinggi.
“Presiden,” bisiknya. “Yang baru.”
Adam menerima ponsel itu sambil duduk perlahan di tepi ranjang. Percakapan itu singkat. Ia mengucapkan terima kasih atas perhatiannya, meyakinkan bahwa ia baik-baik saja, dan sebelum menutup telepon ia menambahkan satu nasihat dengan suara seorang laki-laki tua yang sudah melewati sepuluh tahun yang sama.
“Tidurlah yang cukup, Pak. Dan dengarkan dokter Bapak.”
Ia menyerahkan ponsel itu kembali kepada istrinya, lalu melirik putrinya yang berdiri di ambang pintu.
“Itu nasihat dari pengalaman,” katanya.
***
Kabar itu datang di hari kedelapan, ketika Aroha sedang menyuapi ayahnya bubur yang menurut Adam rasanya seperti kertas basah.
Ponselnya bergetar di saku. Ia mengabaikannya. Bergetar lagi. Ia mengabaikannya lagi. Pada getaran ketiga, Revana menunjuk saku itu dengan dagu, dan Aroha menyerah.
Pesan dari bagian pendidikan departemen. Pendek, resmi, dan hanya berisi satu kata yang penting.
Lulus.
Sendok di tangannya berhenti di udara. Adam melihat wajah putrinya dan menurunkan bubur dari mulutnya sendiri.
“Kenapa? Ada pasien?”
Aroha memutar layar ponsel ke arah ayahnya. Tangannya gemetar.
Adam membaca kata itu, lalu menatap putrinya lama sekali.
“Kamu lulus sendiri,” katanya lirih. “Ayah bahkan tidak tahu kapan jadwal ujianmu.”
“Bohong,” kata Revana dari sofa, tanpa mengangkat mata dari majalah yang sejak tadi tidak ia baca. “Dia nanya Ibu tiap malam. Tiap malam, Aro. Bahkan waktu tensinya sendiri lagi tinggi.”
Adam pura-pura tidak mendengar. Aroha tertawa, lalu menangis, lalu tertawa lagi, dan pada akhirnya meletakkan mangkuk bubur itu di meja karena tangannya tidak bisa diandalkan lagi.
“Ayah lulus duluan,” katanya. “Dari ruang operasi. Aku nyusul.”
Sore itu Alvar datang membawa sesuatu dalam kantong plastik—bukan bunga, karena ia tahu Aroha tidak suka bunga di ruang rawat. Dua gelas es kopi susu, esnya sedikit, dari kedai di belokan dekat pasar.
“Yang ini masih dingin,” katanya. “Saya langsung ke sini.”
Aroha menerima gelas itu, menatapnya, dan merasakan sesuatu di dadanya penuh sampai hampir sakit.
“Kok tahu?”
“Ibu mengirim pesan.” Alvar menatap lantai sebentar, telinganya merah. “Selamat, Mbak. Bukan karena saya ikut menjalaninya. Karena Mbak tidak menyerahkan satu jam pun dari ujian itu kepada siapa pun.”
Adam, yang sedang pura-pura tidur di ranjang, membuka sebelah matanya.
“Mbak lagi,” gumamnya. “Waktu Ayah dioperasi, di ruang tunggu, dia sudah bisa bilang Aroha. Ayah dengar dari perawat.”
Alvar membeku dengan gelas es kopi di tangan. Revana menutup wajah dengan majalah untuk menyembunyikan tawanya. Dan Aroha, untuk kesekian kalinya sejak hari di jalan tanah itu, tertawa sampai perutnya sakit.