Seminggu kemudian, pukul enam pagi, Adam didorong masuk ke ruang persiapan operasi di Rumah Sakit Medical Center dengan selimut putih sampai ke dada dan senyum yang dibuat-buat supaya istri dan putrinya tidak menangis di lorong.
“Kalau lama,” katanya kepada Aroha, “berarti profesormu teliti. Jangan panik.”
“Aku nggak panik, Yah.”
“Kamu sudah meremas tangan Ayah sejak di lift.”
Aroha melepaskan genggamannya. Ia tidak sadar sudah melakukannya.
Adam menoleh ke laki-laki yang berdiri setengah langkah di belakang Revana. Hari itu Alvar memakai kemeja biasa. Telinganya kosong, tanpa earpiece. Ia bukan lagi ajudan siapa pun; di lorong rumah sakit itu, ia berdiri di dekat Adam tanpa tugas apa pun selain ada di sana.
“Alvar.”
“Iya, Pak.”
“Jaga mereka berdua.”
Alvar terdiam sejenak. Lalu, dengan sengaja, ia menegakkan punggung.
“Siap, Pak. Yang ini boleh siap.”
Adam terkekeh, dan sisa tawanya masih tinggal di wajahnya ketika pintu ruang persiapan menutup di belakang ranjangnya.
***
Ruang tunggu keluarga di lantai empat berisi kursi-kursi biru yang sudah ratusan kali Aroha lewati tanpa pernah sekali pun ia duduki. Dari sisi ini, ruangan itu terasa asing. Jam dinding berdetak lebih keras. Pintu otomatis di ujung lorong membuka dan menutup untuk orang lain. Setiap kali seseorang berbaju hijau keluar dari pintu itu, Aroha berdiri, dan setiap kali orang itu berjalan ke keluarga lain, ia duduk kembali.
Ia tidak memakai jas dokter. Ia memakai kemeja dan celana panjang seperti keluarga pasien mana pun, dan rekan-rekan yang lewat mengangguk kepadanya dengan cara yang hati-hati, seolah ia rapuh. Mungkin memang begitu.
Revana duduk di sebelahnya dengan kedua tangan terkatup di pangkuan, bibirnya bergerak tanpa suara. Alvar duduk di sisi yang lain. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya ada di sana—mengambilkan air ketika gelas Revana kosong, menggeser kursi supaya Aroha tidak terkena angin pendingin ruangan, menjawab telepon dari Tama dengan suara rendah di ujung lorong lalu kembali duduk.
Menjelang pukul sepuluh, Dira dan Nadya muncul dengan dua kantong plastik.
“Penebusan dosa,” kata Dira, menyodorkan satu kantong kepada Aroha dan satu lagi kepada Alvar. “Nasi telur. Sambalnya dipisah. Dari warung yang ada di foto itu.”
Aroha menatapnya. “Kamu ke sana?”
“Jam enam pagi. Ibu warungnya nanya aku siapa. Aku bilang aku teman yang dulu nyebarin fotonya. Aku dimarahin.” Dira mengangkat bahu. “Tapi tetap dikasih bonus kerupuk.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, Aroha tertawa. Nadya menepuk punggungnya sekali, lalu menarik Dira duduk di kursi yang agak jauh, cukup dekat untuk dipanggil dan cukup jauh untuk tidak mengganggu.
Operasi itu dijadwalkan lima jam.
Pada jam ketiga, Aroha pergi ke kamar kecil untuk membasuh muka. Revana menunggu langkah putrinya menghilang di ujung lorong, lalu menoleh kepada laki-laki di sampingnya.
“Kamu tahu, Nak,” katanya. “Waktu Mas Adam pertama kali bilang mau menjodohkan Aroha sama kamu, Ibu pikir dia sudah gila.”
“Saya juga berpikir begitu, Bu.”
Revana tertawa kecil, tawa pertama yang keluar dari mulutnya sejak subuh. “Ajudan. Kaku. Nggak pernah ngomong lebih dari lima kata kalau nggak ditanya. Ibu nggak bisa bayangin kalian berdua di satu meja makan.” Ia memandangi pintu otomatis di ujung lorong. “Sekarang Ibu pikir dia nggak gila. Dia cuma tahu lebih dulu daripada kami semua.”
Alvar tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia hanya mengisi gelas air Revana yang belum kosong, dan Revana membiarkannya.
Pada jam kelima, tidak ada kabar.
Aroha sudah tidak bisa duduk. Ia berdiri di dekat jendela, lalu di dekat pintu otomatis, lalu kembali ke jendela. Kepalanya bekerja seperti yang selalu ia latih—menyusun kemungkinan, mengurutkan risiko, memperkirakan apa yang mungkin sedang terjadi di balik dinding itu—dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kemampuan itu terasa seperti kutukan. Ia tahu terlalu banyak. Ia tahu persis apa saja yang bisa membuat operasi seperti itu berjalan lebih lama.
Ia memeriksa jam dinding. Lalu jam di ponselnya. Lalu jam dinding lagi, seolah dua jam itu bisa saling membantah. Di kepalanya, setiap menit tambahan berubah menjadi satu kemungkinan baru, dan setiap kemungkinan itu punya nama medis yang ia hafal di luar kepala.
Jam keenam.
Bibir Revana berhenti bergerak. Dira berhenti bercanda dengan perawat yang lewat. Nadya menggenggam tangan Dira tanpa menoleh.
Aroha mendapati dirinya berjalan ke arah pintu otomatis itu. Kakinya bergerak sendiri. Ia tahu kode pintunya. Ia tahu lorong di baliknya, tahu di mana ruang operasi tiga, tahu bahwa kalau ia berdiri di balik kaca pengamat ia bisa melihat—
Seseorang berdiri di depannya.
“Aroha.”
Ia berhenti.
Alvar tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri di antara Aroha dan pintu itu, cukup dekat untuk menghalangi, cukup jauh untuk tidak memaksa. Wajahnya tenang dengan cara yang Aroha tahu ia usahakan setengah mati.
“Lihat saya,” katanya pelan. “Kamu sendiri yang bilang Profesor Darmawan orang paling teliti di rumah sakit ini. Kalau lama, berarti beliau teliti. Itu kata Bapak tadi pagi.”
Aroha menatapnya. Napasnya pendek-pendek.
“Kamu sudah menjaga Bapak dua bulan,” lanjut Alvar. “Setiap malam. Dengan tensimeter dan buku catatan. Hari ini giliran orang lain yang menjaga beliau. Tugasmu hari ini cuma satu. Di sini. Sebagai anak.”
Ia mengulurkan tangannya, telapak terbuka, persis seperti yang dulu Aroha lakukan di atas meja kedai yang goyang.
Aroha menatap tangan itu lama. Lalu ia menggenggamnya, dan membiarkan dirinya dituntun kembali ke kursi biru di samping ibunya.
Pada jam ketujuh lewat dua belas menit, pintu otomatis itu terbuka, dan Profesor Darmawan keluar dengan masker diturunkan ke dagu.
Aroha sudah berdiri sebelum ia sadar.
“Selesai,” kata Profesor Darmawan. Ia menatap Aroha lebih dulu, lalu Revana. “Berhasil. Ada perdarahan di tengah jalan yang membuat kami lebih lama, tapi sudah teratasi. Semua jalur yang kami pasang bekerja baik. Bapak sekarang dibawa ke ICU.”
Revana menutup mulut dengan kedua tangan, dan bahunya mulai berguncang. Aroha memeluk ibunya. Lalu, ketika lututnya sendiri akhirnya menyerah, ia merasakan sepasang lengan menahannya dari belakang sebelum ia sempat jatuh.
Ia tidak menangis lama. Ia hanya membiarkan dirinya bersandar di sana sebentar, pada dada yang naik-turun dengan ritme yang sama tenangnya seperti pagi tadi.
Sore harinya, ketika mereka berdua berdiri di depan kaca ICU memandangi Adam yang masih tertidur di balik selang-selang dan monitor, Aroha berkata tanpa menoleh.
“Tadi kamu manggil aku Aroha.”
Alvar terdiam. “Maaf, Mbak. Saya lancang.”
“Jangan minta maaf.” Aroha menyandarkan kepala ke bahunya. “Ulangi.”
Hening sebentar.
“Aroha.”