Pagi hari pelantikan, Adam berpamitan kepada istana alternatif lebih dulu daripada kepada negara.
Para pekerja rumah tangga berbaris di serambi samping tanpa ada yang menyuruh—tukang kebun dengan topi di tangan, para juru masak dengan celemek yang belum dilepas, penjaga-penjaga yang selama sepuluh tahun membukakan gerbang. Adam menyalami mereka satu per satu, pelan, dengan tongkat yang kini ia bawa ke mana-mana atas perintah putrinya. Ia tahu nama setiap orang. Ia menanyakan kabar anak tukang kebun yang baru masuk SMA dan lutut juru masak yang bulan lalu terkilir.
Bi menangis sebelum gilirannya tiba. Ketika Adam akhirnya berdiri di depannya, perempuan tua itu menyodorkan sebuah toples kaca.
“Sambal, Pak. Yang tidak terlalu pedas. Sudah saya kurangi garamnya, sesuai perintah Mbak Aroha.”
Adam menerima toples itu dengan dua tangan, seperti menerima tanda jasa.
Pak Najim berdiri paling ujung, di samping mobil berplat merah yang pagi itu akan membawa Adam untuk terakhir kalinya. Laki-laki itu sudah menyetir untuknya sejak hari pertama masa jabatan.
“Sepuluh tahun Bapak menyetir saya,” kata Adam, “dan belum pernah sekali pun telat.”
“Pernah, Pak. Sekali.” Pak Najim menunduk, matanya merah. “Waktu hujan dan macet itu. Bapak yang menolak pengawalan.”
Adam terdiam sejenak, lalu tertawa keras sampai harus bersandar pada tongkatnya. Di belakangnya, Alvar mengingat malam yang sama—kursi depan mobil itu, kaca yang basah, seorang ayah yang melindungi putrinya dari cipratan di emperan toko, dan sebuah pertanyaan yang waktu itu ia kira gurauan.
“Itu salah saya, Pak Najim,” kata Adam. “Bukan salahmu.”
Upacara di gedung parlemen berlangsung seperti yang sudah ribuan kali dilatih protokol. Alvar menyaksikannya dari posisinya di sisi ruangan, earpiece di telinga, mata tidak pernah lepas dari punggung yang selama dua tahun ini ia jaga. Ia melihat Adam menyerahkan jabatannya dengan tangan yang tidak gemetar. Ia melihat presiden yang baru mengucapkan sumpah. Ia melihat tepuk tangan yang panjang, dan di tengah tepuk tangan itu, ia melihat bahu Adam turun—pelan, sangat pelan—seperti orang yang baru meletakkan beban yang ia pikul sepuluh tahun.
Ketika Adam berjalan keluar dari gedung itu, ia berjalan sebagai warga biasa.
Pengawalan terakhir Alvar adalah perjalanan dari gedung parlemen ke rumah lama keluarga itu—rumah dua lantai di pinggir kota yang sudah mereka miliki jauh sebelum Adam mencalonkan diri, rumah yang selama sepuluh tahun hanya ditempati untuk menghindar. Revana dan Aroha sudah memindahkan barang-barang sejak tiga hari sebelumnya.
Mobil berhenti di depan pagar besi yang catnya sudah mulai pudar. Alvar keluar lebih dulu, memeriksa jalan dengan kebiasaan yang tidak bisa ia hentikan dalam satu hari, lalu membukakan pintu belakang.
Adam turun dengan bantuan tongkatnya. Ia berdiri di depan pagar rumahnya sendiri, menatap pohon mangga di halaman yang dulu ditanam waktu Aroha masih SD, lalu berbalik menghadap Alvar.
“Terima kasih, Letkol Alvar. Tugasmu bersama saya selesai.”
Alvar memberi hormat. Adam tidak membalas hormat itu—ia tidak lagi berhak membalasnya—dan sebagai gantinya ia mengulurkan tangan. Mereka berjabat tangan di depan pagar yang catnya pudar, seperti dua laki-laki biasa.
“Mulai sekarang saya bukan presidenmu,” kata Adam. “Saya bukan atasanmu. Kalau kamu datang lagi ke rumah ini, kamu datang sebagai apa?”
Alvar melepas earpiece dari telinganya. Ia menatap benda kecil itu sebentar, lalu memasukkannya ke saku jas.
“Mohon izin, Pak. Nanti malam saya datang sebagai orang yang ingin melamar putri Bapak.”
Adam mengerjap. “Malam ini?”
“Malam ini, Pak. Ibu saya sudah di kereta dari Purworejo sejak subuh.”
Untuk beberapa detik mantan presiden itu hanya berdiri di sana dengan mulut sedikit terbuka. Lalu ia tertawa, tawa yang hati-hati karena dadanya masih harus dijaga, tapi tawa yang sampai ke matanya.
“Kamu ini,” katanya, menepuk lengan Alvar dua kali. “Bahkan melamar pun kamu jadwalkan.”
***
Ruang tamu rumah lama itu tidak besar. Sofanya sudah berumur, karpetnya sedikit pudar di bagian yang paling sering diinjak, dan di dinding masih tergantung foto Aroha kecil memakai seragam merah putih dengan gigi depan ompong. Revana memasak sendiri sejak sore. Tidak ada katering, tidak ada dekorasi, tidak ada tamu lain.
Alvar datang pukul tujuh tepat dengan kemeja batik cokelat. Di sebelahnya berdiri seorang perempuan kecil berkebaya sederhana yang menenteng kaleng rempeyek, dan di belakang mereka Tama, yang hari itu bertugas sebagai sopir, pengawal, sekaligus satu-satunya wakil keluarga yang bisa datang mendadak.
Ibu Alvar menyalami Revana, lalu Adam, lalu berhenti di depan Aroha. Ia menatap calon menantunya dari kepala sampai kaki, lalu menggenggam kedua tangan Aroha dengan tangan yang kasar dan hangat.
“Jadi ini dokternya,” katanya lembut. “Anak saya cerita, kerjanya lebih berat dari kerja dia.”
Aroha tersenyum, dan entah kenapa matanya langsung basah.
Mereka duduk. Teh dituang—gulanya sudah dikurangi, Revana memastikannya dua kali. Lalu ruang tamu itu menjadi sunyi dengan cara yang membuat semua orang tahu bahwa saatnya sudah tiba.
Alvar tidak berdiri. Ia duduk di sofa, kedua tangannya di lutut, dan menatap Adam dan Revana lebih dulu.
“Bapak, Ibu. Malam ini saya datang bersama ibu saya untuk memohon izin melamar Mbak Aroha.” Suaranya rendah dan tidak goyah. “Saya tidak membawa apa-apa selain diri saya dan pekerjaan saya, yang mulai minggu depan kembali ke satuan asal saya. Tidak ada yang berubah dari pangkat saya, dan tidak akan ada.”
Lalu ia menoleh kepada Aroha.
“Mbak Aroha, saya melamar Mbak bukan karena perintah. Malam ini tidak ada lagi orang di rumah ini yang bisa memerintah saya.” Ia menarik napas. “Saya datang karena saya memilih Mbak. Dan saya akan terus memilih Mbak, termasuk pada hari-hari saya kaku dan harus minta maaf lagi.”
Aroha tidak menunggu lebih lama.
“Aku terima, Mas.”
Ibu Alvar menyeka mata dengan ujung selendangnya. Revana meraih tangan perempuan itu dan menggenggamnya. Tama berdeham keras-keras ke arah jendela.
Adam yang memecah keheningan. Suaranya serak.
“Silakan duduk yang enak, Alvar. Kamu dari tadi duduk seperti mau dilantik.”
“Siap, Pak!”
Kata itu meledak di ruang tamu kecil itu, keras dan tegas—kata yang dua bulan lalu diminta Adam untuk tidak ia ucapkan malam ini. Alvar sendiri yang paling terkejut. Wajahnya memerah dari leher sampai dahi.
Revana yang lebih dulu bicara, dengan suara yang sangat tenang. “Di rumah ini nggak ada lagi yang perlu bilang siap, Nak. Presidennya sudah pensiun tadi siang.”
“Pensiunan presiden masih boleh disiapin sedikit,” kata Adam.
“Le,” kata ibu Alvar, menepuk paha anaknya. “Mbok ya jangan kayak di barak.”
Tawa pecah di ruangan itu—tawa Tama yang paling keras, tawa Aroha yang paling basah, dan tawa Alvar yang paling malu. Adam tertawa sambil memegangi dadanya, dan untuk sekali ini tidak ada yang khawatir.
“Seminggu lagi Ayah masuk rumah sakit,” katanya setelah tawa itu reda, menatap putrinya. “Sekarang Ayah punya alasan yang sangat bagus untuk keluar dari sana.”