Delapan minggu menuju pelantikan berjalan dengan aturan baru di istana alternatif, dan aturan itu ditandatangani sendiri oleh kepala negara.
Kamar Adam dipindah ke ruang tamu belakang di lantai bawah. Agendanya dipangkas separuh; kunjungan ke daerah diganti rapat jarak jauh, dan acara perpisahan yang semula dijadwalkan di dua belas provinsi dipadatkan menjadi tiga. Sejak malam di tangga itu Aroha pulang hampir setiap malam, sedini apa pun yang bisa ia curi dari rumah sakit, lalu duduk di tepi ranjang ayahnya dengan tensimeter dan buku catatan kecil, mencatat angka-angka yang membuatnya lega atau gelisah tergantung hari. Revana tidur lebih ringan dari biasanya. Bi mulai memasak tanpa garam lebih dulu, lalu menaburkannya hanya di piring Aroha.
Hanya sekali Adam melanggar. Aroha memergokinya di anak tangga ketiga suatu sore, dengan satu tangan di pegangan dan wajah bersalah seperti anak yang ketahuan mengambil kue sebelum makan malam.
“Ayah cuma mau ambil buku di ruang kerja.”
“Bukunya yang turun, Yah. Bukan Ayah yang naik.”
Sejak itu Prabu yang naik-turun mengambil buku.
Alvar tetap bertugas seperti biasa, dengan satu perbedaan kecil yang hanya diketahui segelintir orang. Setiap kali Adam tampak terlalu lelah di tengah acara, Alvar menyampaikannya kepada Revana sebelum hari berakhir. Pertama kali ia melakukannya, Adam memanggilnya ke ruang kerja dengan alis berkerut.
“Kamu melapor ke istri saya?”
“Mohon izin, Pak. Saya sudah bilang ke Mbak Aroha, saya akan bilang tidak kalau Bapak menyuruh saya diam soal kesehatan Bapak.”
Adam menatapnya lama, lalu terkekeh dan mengibaskan tangan. Ia tidak pernah membahasnya lagi.
Di hari liburnya, Tama menemukan Alvar di bangku kayu dekat lintasan tembak, kali ini tanpa senapan.
“Ada yang perlu kamu dengar dari aku duluan, sebelum kamu dengar dari orang lain,” kata Tama, duduk di sebelahnya. “Di markas lagi ramai omongan. Katanya kamu bakal dikasih jabatan enak sebelum Pak Adam lengser. Semacam hadiah perpisahan buat calon menantu.”
Alvar tidak langsung menjawab. Rahangnya bergerak sekali.
“Saya tidak minta, Mas. Kalau ditawarkan karena itu, saya tolak.”
“Aku tahu. Aku udah bilang gitu ke yang ngomong.” Tama menyenggol bahunya. “Cuma mau kamu siap. Orang-orang bakal terus nyari tangga di bawah kakimu.”
“Tidak ada tangga di bawah kaki saya, Mas.”
“Makanya mereka penasaran.”
***
Ujian akhir residensi Aroha jatuh tiga minggu sebelum pelantikan, dan dua minggu terakhir menjelang hari itu adalah dua minggu terberat dalam hidupnya.
Ia belajar di sela jaga, di sela operasi, di sela tensi Ayah. Ia belajar di kursi plastik ruang tunggu, di kantin dengan sup yang lagi-lagi dingin, di ranjang tingkat ruang istirahat sampai buku di dadanya jatuh karena ia tertidur. Tidurnya tidak pernah lebih dari empat jam. Matanya merah. Kesabarannya tipis seperti kertas yang terlalu sering dilipat.
Dua malam sebelum ujian, ia meminta Alvar menjemputnya di rumah sakit pukul sepuluh, karena ia tidak lagi percaya pada dirinya sendiri di balik kemudi.
Alvar sudah menunggu di depan lobi ketika ia keluar. Laki-laki itu membukakan pintu mobil, menunggunya memasang sabuk pengaman, lalu bertanya dengan suara hati-hati yang biasa.
“Mbak sudah makan? Dan Mbak mau langsung pulang, atau mampir dulu beli sesuatu?”
Dua pertanyaan. Berdampingan. Sopan. Tidak ada yang salah dengan keduanya. Tapi di telinga Aroha malam itu, keduanya datang seperti dua ketukan di pintu yang sama tepat ketika ia baru bisa duduk.
“Mas. Satu-satu.”
Alvar mengangguk, menyalakan mesin, dan menjawab dengan kebiasaan yang datang tanpa izin.
“Siap, Mbak. Saya catat.”
Sesuatu di dalam diri Aroha pecah.
“Aku bukan atasanmu, Mas!” Suaranya keluar lebih keras dari yang pernah ia pakai kepada siapa pun di luar ruang operasi. “Aku bukan jadwal yang harus kamu catat! Aku capek, dan kamu ngejawab aku kayak ngejawab komandanmu!”
Mobil itu sunyi.
Alvar tidak membalas. Ia mengemudi keluar dari halaman rumah sakit dengan kedua tangan di kemudi, rahangnya terkunci, matanya lurus ke jalan. Aroha memalingkan wajah ke jendela. Lampu-lampu kota lewat seperti garis-garis panjang. Di kepalanya, kalimatnya sendiri terus berulang, dan setiap kali berulang ia makin malu.
Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan gerbang istana alternatif. Penjaga di pos sudah bersiap membuka, tapi Alvar memberi isyarat kecil supaya menunggu. Ia mematikan mesin.
“Saya minta maaf, Mbak.”
Aroha menoleh.
“Kalau saya bingung, saya kembali jadi ajudan,” kata Alvar. Ia masih menatap gerbang, bukan Aroha. “Itu tempat saya tahu harus berdiri di mana. Tapi tadi itu membuat Mbak merasa sendirian di samping orang yang duduk persis di sebelah Mbak. Saya tidak mau begitu.”
Aroha menggigit bibir bawahnya. Matanya panas.
“Aku juga minta maaf, Mas. Aku capek, dan capekku nyari orang buat ditabrak. Kamu yang kena.” Ia menarik napas. “Kamu nggak salah nanya dua kali. Aku yang nggak punya sisa buat dengerin.”
“Dua-duanya saya terima, Mbak.”
“Dua-duanya aku terima juga.”
Ia mengulurkan tangan. Alvar menggenggamnya, kali ini tanpa meminta izin lebih dulu, dan mereka duduk di depan gerbang itu sampai penjaga di pos pura-pura sibuk dengan buku tamunya.
“Mas belum makan juga, kan?” tanya Aroha akhirnya.
“Belum, Mbak.”
“Bi pasti masih nyimpen sesuatu tanpa garam di dapur.”
“Saya suka makanan tanpa garam, Mbak.”
“Bohong.”
“Siap, bohong.” Alvar terdiam, lalu sudut bibirnya bergerak. “Maksud saya, iya. Bohong.”
Aroha tertawa—tawa yang lelah dan basah, tapi tawa.
Mereka makan di dapur hampir tengah malam, berdua di meja kayu yang biasanya dipakai Bi untuk memotong sayur. Sayur bening tanpa garam, tempe goreng yang sudah dingin, dan sambal di cobek kecil yang hanya boleh disentuh Aroha. Alvar makan sambal itu juga, diam-diam, dan pura-pura tidak melihat ketika Aroha memergokinya.
Pintu ruang tamu belakang terbuka. Adam berdiri di sana dengan jubah tidur dan rambut yang berantakan.
“Jam berapa ini?”
“Ayah, tidur!”
“Ayah cuma mau lihat kalian sudah baikan.” Adam menatap dua piring di meja, lalu menatap tangan putrinya yang masih berada di atas tangan Alvar. “Sudah. Bagus. Ayah tidur.”
“Mas.” Suara Revana terdengar dari dalam kamar. “Tidur.”
Pintu itu menutup lagi. Aroha menunduk ke piringnya dan tertawa sampai bahunya berguncang.
Pada pagi ujian, sebuah pesan masuk ketika ia sedang mengantre di depan ruangan dengan kartu peserta di tangan.
“Semoga lancar, Mbak. Saya tidak tahu isi ujiannya dan tidak akan pura-pura tahu. Saya cuma tahu Mbak sudah belajar setiap malam di samping tensimeter Bapak.”
Aroha membaca pesan itu dua kali, menyimpan ponselnya ke dalam loker, dan masuk ke ruang ujian dengan bahu yang sedikit lebih ringan daripada yang ia bawa dari rumah.
Hasilnya baru akan diumumkan sebulan lagi.