Dua hari berikutnya habis untuk berdebat.
Aroha berdebat dengan dokter Hanafi dan tim dokter kepresidenan di ruang medis istana, dengan hasil pemeriksaan terbentang di meja dan suara yang makin lama makin tinggi. Ia berdebat dengan ayahnya di kamar, dengan suara yang sengaja ia turunkan supaya tidak membuat jantung itu bekerja lebih keras. Dan ia kalah di kedua tempat dengan alasan yang sama: kondisi Adam stabil kalau dijaga ketat, dan laki-laki keras kepala itu menolak masuk ruang operasi sebelum ia menyerahkan jabatannya.
Jadi pada Jumat sore, di ruang keluarga yang kini menjadi tempat Adam menghabiskan hampir setiap sorenya, Aroha meletakkan selembar kertas di meja.
“Kalau Ayah tetap mau nunggu pelantikan, Ayah ikut aturanku.”
Adam membaca kertas itu. Agenda dipangkas separuh. Tidak ada kunjungan lapangan. Kamar dipindah ke lantai bawah supaya tidak ada tangga. Pemeriksaan dua kali seminggu. Tensi diukur setiap malam oleh putrinya sendiri, tanpa alasan rapat.
“Ini permintaan atau perintah?” tanya Adam.
“Perintah,” jawab Aroha. “Perintah dokter.”
Adam menatap putrinya lama, lalu tertawa—tawa yang hati-hati, seperti orang yang sedang menjaga dadanya. “Sepuluh tahun Ayah memerintah negara ini. Baru kali ini ada yang memerintah Ayah di rumah sendiri.”
“Bukan baru kali ini,” kata Revana dari kursinya, tanpa mengangkat mata dari rajutan yang sejak tadi tidak bertambah panjang. “Kamu saja yang selama ini nggak pernah mendengarkan.”
Alvar, yang duduk di kursi paling ujung dengan kemeja biasa karena hari itu bukan hari jaganya, menunduk dalam-dalam supaya senyumnya tidak terlihat.
Adam menandatangani kertas itu. Benar-benar menandatanganinya, dengan pena dari saku kemejanya, di bagian bawah, di bawah tulisan tangan putrinya. Lalu ia meletakkan pena itu dan menatap mereka bertiga satu per satu.
“Sekarang Ayah yang mau minta satu hal. Bukan perintah. Permintaan.”
Aroha merasakan sesuatu mengencang di perutnya. Ia sudah mengenal nada itu.
“Ayah ingin melihat kalian menikah sebelum Ayah masuk ruang operasi.” Adam mengatakannya pelan, tanpa desakan, dan justru karena itu kalimatnya terasa lebih berat. “Sederhana saja. Di sini. Ayah tidak minta pesta. Ayah cuma ingin… kalau ada apa-apa di ruang operasi itu, Ayah sudah sempat melihat kamu—”
“Yah.”
“Biar Ayah selesai, Nak.”
“Aku udah jawab Mas Alvar.”
Ruangan itu berhenti.
“Hari Selasa sore,” lanjut Aroha. Suaranya tidak gemetar. “Di kedai yang kursinya goyang. Sebelum aku nemuin Ayah di tangga. Mas Alvar bilang dia mau hubungan ini menuju pernikahan, dan aku bilang iya.”
Revana menurunkan rajutannya. Wajah Adam berubah—terang, terlalu terang, seperti lampu yang dinyalakan sebelum ada yang perlu dilihat. Aroha mengenali cahaya itu. Ia membiarkannya menyala satu detik, lalu meneruskan.
“Justru karena itu aku nggak mau, Yah.”
Cahaya itu goyah. “Nak—”
“Aku udah milih dia sebelum aku tahu Ayah sakit. Itu satu-satunya hal di semua kekacauan ini yang bersih.” Aroha menatap ayahnya lurus-lurus. “Kalau sekarang kami buru-buru nikah supaya Ayah tenang masuk ruang operasi, pernikahanku jadi obat penenang. Jadi urusan yang diberesin sebelum Ayah… sebelum kemungkinan terburuk. Aku nggak mau nikah karena takut Ayah meninggal. Aku mau nikah karena aku mau.”
“Mohon izin, Pak.” Alvar sudah berdiri sebelum menyadarinya, lalu memaksakan diri duduk lagi. “Saya akan melamar Mbak Aroha. Dengan cara yang benar, di rumah, di depan Bapak dan Ibu. Tapi tidak sekarang, dan tidak dengan tenggat.” Ia menarik napas. “Saya akan melamar setelah pelantikan. Setelah Bapak bukan lagi atasan saya. Supaya tidak ada satu orang pun—termasuk saya sendiri—yang bisa bilang saya melamar karena menjalankan perintah.”
Adam menatap laki-laki itu, lalu putrinya, lalu istrinya. Ada luka kecil di wajahnya, luka orang yang permintaannya ditolak, dan ia tidak berusaha menyembunyikannya.
“Kalau Ayah tidak sempat?” tanyanya lirih.
“Makanya Ayah harus sempat,” jawab Aroha.
Ia berlutut di samping kursi ayahnya, seperti malam itu di anak tangga, dan menggenggam tangan yang kini terasa lebih kurus daripada yang ia ingat.
“Ayah operasi. Ayah sembuh. Terus Ayah yang duduk paling depan waktu kami menikah.” Suaranya akhirnya pecah sedikit. “Itu syaratnya, Yah. Satu-satunya.”
Revana bangkit dan berdiri di belakang putrinya. Tangannya mendarat di bahu Aroha, ringan, tapi tidak bisa disalahpahami.
“Aku setuju sama anak-anak, Mas.”
Adam memejamkan mata. Ketika membukanya lagi, matanya basah, tapi ia tersenyum.
“Jadi Ayah harus hidup,” katanya, “supaya bisa datang ke pernikahan anak Ayah sendiri.”
“Iya, Yah.”
“Itu syarat yang aneh.”
“Itu syarat yang paling masuk akal yang pernah aku bikin.”
Adam terkekeh, lalu menepuk punggung tangan putrinya dua kali. “Baik. Satu hal lagi, dan yang ini Ayah tidak akan tawar. Setelah lengser, Ayah bebas memilih rumah sakit. Ayah mau dioperasi di rumah sakit tempat kamu belajar.”
Lalu ia menoleh ke ujung ruangan. “Alvar.”
“Siap, Pak.”
“Malam kamu melamar nanti, saya sudah bukan presidenmu. Saya ingin mendengar kamu bicara tanpa kata itu.”
“Saya akan berlatih, Pak.”
“Di depan kursi kosong lagi?”
Telinga Alvar memerah sampai ke pangkal. “Dari mana Bapak tahu?”
“Prabu menempati kamar di sebelahmu,” jawab Adam ringan, dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Revana tertawa keras.
***
Profesor Darmawan sudah membaca semua berkas itu sebelum Aroha sempat menyerahkannya.
Konsulennya itu duduk di balik meja yang penuh tumpukan jurnal, kacamata baca turun di ujung hidung, dan mendengarkan penjelasan Aroha sampai selesai tanpa memotong. Ia sudah tujuh belas tahun memimpin departemen itu, dan Aroha belum pernah melihatnya terburu-buru menjawab apa pun.
“Saya yang pimpin,” katanya akhirnya. “Kalau keluargamu setuju.”
“Ayah sudah setuju, Prof. Beliau yang minta.”
“Bagus.”
“Dan saya mau ikut di dalam.”
Profesor Darmawan melepas kacamatanya. “Tidak.”
“Prof, saya sudah—”
“Aroha.” Suaranya tidak keras. “Kamu residen terbaik yang saya didik dalam sepuluh tahun terakhir. Justru karena itu kamu tahu kenapa kamu tidak boleh masuk. Tangan yang paling tenang di ruang operasi itu bukan tangan yang paling pintar. Tangan yang paling tenang adalah tangan yang tidak sedang memegang jantung ayahnya sendiri.”
Aroha membuka mulut, lalu menutupnya. Ia tahu konsulennya benar. Ia hanya belum siap mendengarnya. Lima tahun ia belajar di bawah laki-laki ini, dan selama lima tahun itu ia selalu ingin berdiri di sisi meja operasi, sedekat mungkin dengan jantung yang sedang diperbaiki. Baru sekarang ia mengerti bahwa ada satu jantung di dunia ini yang tidak boleh ia sentuh.
“Kamu di luar,” kata Profesor Darmawan, lebih lembut. “Sebagai anak. Itu tugasmu hari itu.”
“Baik, Prof.”
“Satu lagi.” Laki-laki tua itu memasang kembali kacamatanya. “Ujian akhirmu tiga minggu sebelum pelantikan. Jangan coba-coba minta ditunda gara-gara ini.”
“Saya nggak akan minta, Prof.”
“Saya tahu.” Ia kembali menunduk pada jurnalnya. “Makanya saya ingatkan.”