Alvar tiba di pos samping istana pukul enam kurang sepuluh, seperti setiap hari jadwal jaganya dimulai. Ia langsung tahu ada yang berbeda.
Mobil dokter Hanafi terparkir di halaman dalam, padahal hari itu tidak ada jadwal pemeriksaan. Dua staf rumah tangga berbisik di dekat dapur dan berhenti ketika ia lewat. Di ruang pengarahan, Prabu menyerahkan susunan agenda yang sudah dicoret separuhnya.
“Bapak tidak keluar kamar pagi ini,” kata Prabu setengah berbisik. “Semua agenda sampai siang dibatalkan. Alasannya flu.”
“Flu?”
Prabu menatapnya dengan raut yang mengatakan ia juga tidak percaya.
Alvar sedang memasang earpiece ketika melihat Aroha berdiri di ujung lorong samping. Wanita itu masih memakai kemeja yang kemarin ia pakai ke kedai. Rambutnya diikat seadanya. Matanya merah dan bengkak, seperti orang yang tidak tidur semalaman.
“Mas. Ikut aku sebentar.”
Alvar melepas lagi earpiece-nya dan menyerahkannya kepada Prabu. “Sepuluh menit,” katanya. Prabu menerimanya tanpa bertanya.
Mereka berhenti di serambi belakang dekat kebun cengkih, tempat yang sama di mana hari Minggu lalu Alvar menyatakan perasaannya. Aroha tidak duduk. Ia berbalik menghadap Alvar dengan tangan terkepal di sisi tubuh.
“Kamu tahu Ayah sakit?”
Alvar mengerjap. Kebingungan di wajahnya terlalu jujur untuk dibuat-buat.
“Bapak sakit, Mbak?”
“Jantung, Mas.” Suara Aroha pecah di tengah kata. “Pembuluh darahnya nyempit. Udah hampir lima bulan. Semalam Ayah hampir… di tangga, aku nemu Ayah di tangga—”
Ia tidak sanggup meneruskan. Alvar berdiri membeku, dan untuk pertama kalinya Aroha melihat warna menghilang dari wajah laki-laki itu.
“Ayah bilang kamu yang manggil dokter waktu di bendungan,” lanjut Aroha, memaksa suaranya kembali utuh. “Kamu tahu dari awal?”
“Saya tahu hari itu Bapak hampir pingsan di podium, Mbak.” Alvar menjawab dengan setiap kata dipilih hati-hati. “Saya memanggil dokter, padahal Bapak melarang. Malamnya Bapak bilang itu kelelahan dan kurang minum. Lalu Bapak memerintahkan saya diam. Kepada siapa pun, termasuk keluarga beliau.”
“Termasuk aku.”
“Termasuk Mbak.”
“Dan kamu diem.”
“Saya diam.” Alvar tidak menunduk. “Itu bukan rahasia saya, Mbak. Itu rahasia Bapak.”
“Di tanggul juga?” Aroha melangkah maju. “Ayah bilang dia kambuh di tanggul. Kamu ada di sana, kan? Kamu lihat?”
“Saya melihat Bapak berhenti dan memasukkan sesuatu ke mulut. Saya meminta Bapak turun dan melanjutkan dari mobil.” Rahang Alvar mengeras. “Saya tidak tahu itu obat jantung, Mbak. Saya seharusnya curiga. Saya memang curiga, tapi saya memilih percaya pada kata dokter dan kata Bapak. Itu salah saya.”
“Kalau kamu bilang ke aku dari awal—”
Kalimat itu menggantung di udara, tidak selesai.
Karena tiba-tiba Aroha teringat seorang pasien bulan lalu, di bangsal lantai empat. Laki-laki tua dengan tumor di paru-parunya, yang menggenggam tangannya di pagi hari sebelum operasi dan memohon agar anak-anaknya tidak diberi tahu seberapa parah, karena ia sendiri yang ingin bilang kalau sudah siap. Dan ia, dokter Aroha, residen tahun kelima, mengangguk. Ia diam di depan tiga anak laki-laki itu ketika mereka bertanya di lorong. Ia diam karena itu bukan rahasianya.
Aroha duduk di bangku kayu dengan lutut yang tiba-tiba lemas.
“Aku juga pernah diem,” bisiknya. “Buat pasien. Aku diem di depan anak-anaknya.”
Alvar tidak menjawab. Ia duduk di sampingnya, menjaga jarak sejengkal, dan menunggu.
Tangis itu datang tanpa suara. Bahu Aroha bergetar, wajahnya tertunduk, kedua tangannya menutupi mata. Alvar tidak menyentuhnya. Ia hanya ada di sana, cukup dekat untuk dijangkau, sampai tangan Aroha akhirnya mencari tangannya di atas bangku dan menggenggamnya terlalu kuat.
“Aku takut, Mas.”
“Saya tahu, Mbak.”
“Ayah nunda operasinya sampai lengser. Dua bulan. Kamu tahu apa artinya dua bulan buat jantung kayak gitu?”
“Saya tidak tahu, Mbak.” Alvar menggenggam balik. “Tapi Mbak tahu. Dan sekarang Bapak tidak bisa lagi menyembunyikannya dari orang yang tahu.”
Mereka duduk di sana sampai sepuluh menit yang Alvar janjikan kepada Prabu berubah menjadi dua puluh. Prabu tidak menelepon. Ketika Alvar akhirnya kembali ke pos, juniornya itu menyerahkan earpiece tanpa sepatah kata pun, hanya menepuk lengannya sekali.
***
Siang harinya, setelah giliran jaga Alvar selesai, Adam memanggil mereka berdua ke kamarnya.
Ia setengah duduk di ranjang dengan bantal-bantal menopang punggung. Wajahnya sudah tidak sekelabu semalam, tapi ada sesuatu yang hilang dari matanya—sesuatu yang selama ini selalu ada di depan kamera dan podium. Revana duduk di kursi samping ranjang dengan mata sembap dan rahang yang terkunci.
“Kamu sudah dengar, Alvar.”
“Siap. Sudah, Pak.”
“Kamu marah karena saya membohongimu soal kelelahan itu?”
“Tidak, Pak.” Alvar berdiri di kaki ranjang, punggung tegak, tangan di sisi tubuh. “Saya menyesal karena saya percaya.”
Adam tersenyum tipis. Ia menatap putrinya yang berdiri di samping Alvar, lalu kembali kepada laki-laki itu.
“Waktu itu kamu tanya kenapa kamu,” katanya. “Di teras. Malam kalian pulang dari bukit. Sekarang saya bisa jawab.” Ia menarik napas, pelan, menjaga dadanya. “Hari itu semua orang menurut kepada saya. Menteri, gubernur, protokol, ajudan yang pangkatnya lebih tinggi darimu. Cuma kamu yang bilang tidak. Kalau kamu menurut, mungkin saya jatuh di podium itu, di depan kamera. Mungkin di mobil. Mungkin malam itu juga.”
Revana memalingkan wajah ke jendela.
“Sejak hari itu saya tahu waktu saya mungkin tidak banyak,” lanjut Adam. “Dan yang paling saya takutkan ternyata bukan mati. Yang paling saya takutkan adalah meninggalkan Aroha tanpa ada orang yang berani bilang tidak kepada siapa pun demi dia. Termasuk kepada saya.”
Hening.
Alvar menatap lantai sebentar. Ketika ia mengangkat wajah, suaranya tetap rendah dan tetap rapi, tapi ada sesuatu di bawahnya yang bergetar.
“Saya tidak membantah Bapak hari itu, Pak. Saya memilih Bapak tetap hidup.”
“Itu yang saya maksud.”
“Ayah.” Aroha maju setengah langkah. “Mas Alvar bukan hadiah buat aku karena dia nyelametin Ayah.”
“Dan saya tidak memilih Mbak Aroha sebagai balasan, Pak,” tambah Alvar.
Adam memandang mereka berdua lama sekali. Lalu ia tertawa—tawa yang lemah dan serak, tapi tawa sungguhan.
“Lihat mereka,” katanya kepada Revana. “Bahkan untuk menerima pujian saja mereka membantah bersama-sama.”
Revana tidak ikut tertawa. Tapi ia menoleh dari jendela, dan sudut bibirnya bergerak sedikit, untuk pertama kalinya sejak semalam.
Ketika mereka keluar dari kamar itu, Alvar berhenti di lorong. Ia menatap pintu yang baru saja ia tutup, lalu menatap Aroha.
“Mbak. Mulai hari ini, kalau Bapak memerintahkan saya diam soal kesehatan beliau, saya akan bilang tidak.”
“Kalau Ayah marah?”
Alvar menyentuh telinganya yang kosong tanpa earpiece, kebiasaan yang belum juga hilang. “Saya sudah pernah membantah beliau sekali. Ternyata saya masih di sini.”